Hari Sabat VS Hari Tuhan


Sebagian umat Kristen merayakan Sabat pada hari Minggu, kita sebut mereka kaum mingguis. Sebagian lainnya merayakan Sabat pada hari Sabtu, kita sebut mereka kaum sabtuis. Sebagian lainnya lagi karena tuntutan pekerjaan merayakan Sabat tidak pada hari Sabtu juga tidak pada Hari Minggu, kita sebut mereka kaum maknais. Saat ini kaum sabtuis-lah yang paling getol mengkampanyekan agar umat Kristen merayakan Sabat pada hari Sabtu. Menurut mereka merayakan Sabat pada hari lain selain hari Sabtu adalah dosa karena melanggar perintah keempat dari Sepuluh Perintah Allah. Kaum mingguis tenang-tenang saja dengan kampanye kaum sabtuis karena yakin bahwa kampanye demikian tidak akan pernah berhasil. Tulisan ini merupakan tulisan ketiga dari trilogi Hari Sabat sedangkan dua tulisan sebelumnnya adalah: Hari Sabat Bukan Hari Sabtu dan Hari Sabat Bukan Hari Minggu.

Nama Hari Kalender Yahudi

shabbat kodesh – hari ke 0 – Sabtu – Allah belum mencipta dan Allah berhenti mencipta
yom rishon – hari ke 1 – Minggu – Allah menciptakan terang
yom sheni – hari ke 2 – Senin – Allah menciptakan cakrawala
yom sh’lishi – hari ke 3 – Selasa – Allah menciptakan tumbuhan
yom revi’i – hari ke 4 – Rabu – Allah menciptakan benda-benda langit
yom chamishi – hari ke 5 – Kamis – Allah menciptakan binatang
yom shishi – hari ke 6 – Jumat – Allah menciptakan manusia

Sabat Adalah Hari Ke 0 Atau Hari Ke 7?

Kaum Sabtuis mengimani bahwa hari Sabtu adalah hari Sabat, hari Allah berhenti setelah menggenapi karya penciptaan alam semesta. Dasar iman mereka dibangun di atas ayat Alkitab berikut ini.

Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Kejadian 2:2

Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya. Keluaran 20:8-11

Dalam kalender Yahudi 1 hari dimulai dari matahari tenggelam hingga mata hari tenggelam keesokannya. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah satu hari. Kapan hari ke 1 dimulai? Hari ke 1 dimulai sejak mata hari tenggelam pada hari ke 0. Kenapa hari ke 0 dibutuhkan? Hari ke 0 dibutuhkan karena tanpa hari ke 0 maka hari ke 1 tidak sempurna, itu berarti hari ke 1 dimulai dari matahari terbit hingga matahari tenggelam. Tanpa hari ke 0 kalimat “Jadilah petang dan jadilah pagi,” tidak sempurna. Kapan Allah berhenti mencipta? Allah berhenti mencipta ketika matahari tenggelam pada hari ke 6, itulah permulaan hari ke 7. Bukankah setelah hari ke 7 seharusnya kembali ke hari ke 0, sebab bila tidak, maka hari ke 1 tidak akan sempurna?

Di dalam kalender Yahudi hanya ada 7 hari. Sedangkan untuk memenuhi teori para sabtuis dibutuhkan 8 hari. Hari ke 0 adalah hari sebelum Allah mencipta dan hari ke 7 adalah hari Allah berhenti mencipta. Namun karena hanya ada 7 hari dalam seminggu, maka yang dimaksudkan dengan hari ke 7 itu bukan hari yang ke 7 (the 7th day), namun hari ke 7 di luar keenam hari yang lain. Hari ke 7 itu adalah hari ke 0.

Hari Sabat dan Perayaan Hari Sabat

Hari Sabat adalah hari Allah berhenti mencipta setelah mencipta alam semesta selama 6 hari. Hari itu adalah hari ke 7 atau hari ke 0. Bangsa Israel MERAYAKAN hari Sabat untuk mengenang Allah berhenti mencipta alam semesta dalam perayaan HARI SABAT setiap hari ketujuh dan setiap tahun ke tujuh yang disebut TAHUN SABAT serta setiap 50 tahun yang disebut tahun Yobel.

Enam tahun lamanya engkau harus menaburi ladangmu, dan enam tahun lamanya engkau harus merantingi kebun anggurmu dan mengumpulkan hasil tanah itu, Imamat 25:3

tetapi pada tahun yang ketujuh haruslah ada bagi tanah itu suatu sabat, masa perhentian penuh, suatu sabat bagi TUHAN. Ladangmu janganlah kautaburi dan kebun anggurmu janganlah kaurantingi. Imamat 25:4

Dan apa yang tumbuh sendiri dari penuaianmu itu, janganlah kautuai dan buah anggur dari pokok anggurmu yang tidak dirantingi, janganlah kaupetik. Tahun itu harus menjadi tahun perhentian penuh bagi tanah itu. Imamat 25:5

Hasil tanah selama sabat itu haruslah menjadi makanan bagimu, yakni bagimu sendiri, bagi budakmu laki-laki, bagi budakmu perempuan, bagi orang upahan dan bagi orang asing di antaramu, yang semuanya tinggal padamu. Imamat 25:6

Juga bagi ternakmu, dan bagi binatang liar yang ada di tanahmu, segala hasil tanah itu menjadi makanannya. Imamat 25:7

Selanjutnya engkau harus menghitung tujuh tahun sabat, yakni tujuh kali tujuh tahun; sehingga masa tujuh tahun sabat itu sama dengan empat puluh sembilan tahun. Imamat 25:8

Lalu engkau harus memperdengarkan bunyi sangkakala di mana-mana dalam bulan yang ketujuh pada tanggal sepuluh bulan itu; pada hari raya Pendamaian kamu harus memperdengarkan bunyi sangkakala itu di mana-mana di seluruh negerimu. Imamat 25:9

Kamu harus menguduskan tahun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya. Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, dan kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya dan kepada kaumnya. Imamat 25:10

Tahun yang kelima puluh itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, jangan kamu menabur, dan apa yang tumbuh sendiri dalam tahun itu jangan kamu tuai, dan pokok anggur yang tidak dirantingi jangan kamu petik buahnya. Imamat 25:11

Karena tahun itu adalah tahun Yobel, haruslah itu kudus bagimu; hasil tahun itu yang hendak kamu makan harus diambil dari ladang. Imamat 25:12

Dalam tahun Yobel itu kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya. Imamat 25:13

Kita sudah belajar bahwa ada tiga cara bagi bangsa Israel merayakan HARI SABAT, hari Allah berhenti mencipta setelah 6 hari menciptakan alam semesta. Kaum Sabtuis tidak pernah mempermasalahkan Tahun Sabat dan Tahun Yobel, mereka hanya mempermasalahkan HARI SABAT atau perayaan SABAT MINGGUAN.

Haris Sabat adalah hari shabbat kodesh dalam kalender Yahudi dan hari Sabtu dalam kalender Masehi. Bangsa Israel merayakan Sabat sejak matahari tenggelam pada hari Jumat hingga matahari tenggelam pada hari Sabtu. Mari kita mengumpamakan bahwa hari Sabat dimulai pada jam 18.00 hari Jumat dan berkahir pada jam 18.00 hari Sabtu.

Walaupun setiap orang Kristen di dunia merayakan Sabat pada hari Sabtu namun sebenarnya mereka tidak merayakannya pada hari yang sama. Ketika orang Indonesia merayakan Sabat, pada saat itu orang Amerika dan Kanada baru memasuki hari Jumat. Ketika orang Amerika dan Kanada merayakan Sabat, pada saat itu orang Indonesia sudah memasuki hari Minggu.

Kaum Sabtuis menyatakan bahwa kita harus merayakan Sabat pada hari Sabtu karena Allah berhenti mencipta pada hari itu. Pertanyaannya adalah pada hari Sabtu di belahan dunia mana tepatnya Allah berhenti mencipta? Dengan asumsi Israel adalah standardnya, maka orang Jakarta harus merayakan Sabat sejak hari Jumat jam 23.00, karena waktu di Israel lebih lambat 5 jam dari waktu di Jakarta. Dengan waktu yang berbeda-beda di belahan dunia ini, mustahil kita mempertahankan doktrin bahwa Allah berhenti mencipta pada hari Jumat jam 18.00.

Hari Sabat VS Hari Tuhan

Bangsa Yahudi sejak purbakala merayakan Sabat untuk memperingati hari Allah berhenti setelah menggenapi karya penciptaan alam semesta. Mereka merayakan hari sabat pada hari shabbat kodesh, dalam kalender Masehi hari itu disebut hari Sabtu. Hal yang sama juga berlaku bagi para sabtuis, mereka merayakan Sabat pada hari Sabtu untuk memperingati hari Allah berhenti setelah menggenapi karya penciptaan alam semesta.

Hari Sabat adalah hari Allah berhenti setelah menggenapi karya penciptaan alam semesta sedangkan hari perayaan Sabat adalah hari untuk memperingati hari Allah berhenti setelah menggenapi karya penciptaan alam semesta. Bangsa Yahudi sejak purbakala merayakan Sabat pada hari Sabtu. Yesus Kristus selama di dunia merayakan Sabat pada hari Sabtu. Para rasul merayakan Sabat pada hari Sabtu. Orang-orang Kristen mula-mula merayakan Sabat pada hari Sabtu. Namun kenapa dalam perkembangannya sebagian besar orang Kristen lalu merayakan Sabat pada hari Minggu?

Selama ini perdebatan tentang hari Sabat dimulai dengan tuduhan dari kaum sabtuis bahwa kaum mingguis dan maknais telah melanggar Sepuluh Perintah Allah karena merayakan Sabat pada hari Minggu dan hari lainnya. Yang lebih keras bahkan menuduh bahwa kaum mingguis dan maknais telah mencemari perayaan Sabat karena tidak merayakannya seperti bangsa Yahudi merayakannya selama berabad-abad. Atas tuduhan itu, maka kaum mingguis dan maknais membela diri dengan menyatakan bahwa perayaan Sabat yang mereka lakukan adalah Sabat Perjanjian Baru, sedangkan kaum sabtuis merayakan Sabat Perjanjian Lama. Di samping itu kaum mingguis dan maknais juga menyerang balik dengan menyatakan bahwa hari Sabtu bukan hari Sabat, hari Sabtu adalah hari perayaan Sabat untuk memperingati Sabat, hari Allah berhenti setelah menggenapi karya penciptaan alam semesta yang dilakukan oleh bangsa Yahudi sejak purbakala.

Kenapa kaum Mingguis merayakan Sabat pada hari Minggu?

Sejarah gereja mencatat bahwa Yesus Kristus bangkit dari kematian pada hari Minggu menurut kalender Masehi. Hari kebangkitan itu disebut Hari Tuhan, hari Yesus Kristus berhenti setelah menggenapi karya penyelamatan manusia. Umat Kristen mula-mula merayakan Hari Tuhan pada hari Minggu.

Umat Kristen mula-mula selain merayakan Sabat (hari Allah berhenti setelah menggenapi karya penciptaan alam semesta) pada hari Sabtu juga merayakan Hari Tuhan (hari Yesus Kristus berhenti setelah menggenapi karya penyelamatan manusia) pada hari Minggu. Dalam perkembangannya perayaan Sabat dan Hari Tuhan lalu dilakukan dalam satu hari yaitu hari Minggu dan menyebutnya sebagai hari Sabat sedangkan Hari Tuhan lalu digunakan untuk menyebut hari kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya atau hari penghakiman terakhir atau hari kiamat. Ayat-ayat berikut ini menjelaskan tentang Sabat Perjanjian Baru atau Sabat Baru atau Sabat mingguis.

Dan setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani. Kisah Para Rasul 18:4

Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam. Kisah Para Rasul 20:7

Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing — sesuai dengan apa yang kamu peroleh — menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang. I Korintus 16:2

Kaum sabtuis menyatakan bahwa di dalam Alkitab perjanjian baru tidak ada perintah untuk merayakan Hari Tuhan. Karena tidak ada perintah, maka umat Kristen tidak perlu merayakannya. Alasan ini nampak masuk akal, namun sayangnya kaum sabtuis tidak mempraktekkan sistematika pemikiran ini dengan konsisten. Kaum sabtuis mengajarkan bahwa sebelum Allah menuliskan Sepuluh Perintah pada dua loh batu di gunung sinai, Sepuluh Perintah itu sudah ada dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari bangsa Israel. Alkitab, walaupun mencatat praktek-praktek Sepuluh Perintah sebelum peristiwa gunung Sinai, namun sama sekali tidak mencatat Sepuluh Perintah itu sebelumnya. Bukankah itu berarti bahwa bangsa Israel sudah merayakan Sabat sebelum perintah Allah di catat?

Alkitab Perjanjian Baru memang tidak mencatat perintah untuk merayakan Hari Tuhan, namun mencatat bahwa umat Kristen mula-mula mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari, gereja lalu membakukannya. Apakah gereja memaksa jemaat mempraktekkan perayaan Hari Tuhan? Tidak, gereja hanya membakukannya karena praktek perayaan Hari Tuhan (Sabat baru) sudah ada sejak jaman para rasul.

Kenapa umat Kristen mula-mula menyatukan perayaan Sabat lama untuk memperingati hari Allah berhenti setelah menggenapi karya penciptaan alam semesta dan Sabat Baru (Hari Tuhan) untuk memperingati hari Yesus Kristus berhenti setelah menggenapi karya penyelamatan manusia menjadi satu hari dan merayakannya pada hari minggu? Karena dalam Sepuluh Perintah Allah, hanya satu hari yang digunakan untuk merayakan Sabat. Kenapa dipilih hari Minggu untuk merayakan Sabat? Karena Tuhan Yesus bangkit pada hari Minggu dan Tuhan Yesus datang untuk menggenapi hari Sabat. Penggenapan Sabat terjadi pada Hari Tuhan, hari Minggu, itu sebabnya dipilih hari Minggu untuk merayakan Sabat.

Bagaimana dengan umat Kristiani yang hanya merayakan Sabat untuk memperingati hari Allah berhenti setelah menggenapi karya penciptaan alam semesta dan merayakannya pada hari Sabtu? Itu berarti mereka tidak mengakui bahwa Tuhan Yesus sudah menggenapi Sabat Perjanjian Lama. Orang demikian ibarat orang yang membuat perjanjian baru dengan menempelkan meterai lama.

Bagaimana dengan umat Kristiani yang merayakan Sabat Perjanjian Baru tidak pada hari Minggu? Sebagian kaum mingguis mengimani bahwa perayaan Sabat Perjanjian baru harus dilakukan pada hari Minggu, merayakannya pada hari lain berarti melanggar atau dosa. Kaum maknais menanggapi tuduhan itu dengan mengajarkan, bahwa yang terpenting adalah makna perayaan Sabat itu sendiri, bukan hari merayakannya. Yang terpenting adalah merayakan Sabat itu sendiri, bukan kapan merayakannya. Lebih lanjut mereka membela diri dengan menyatakan bahwa murid-murid Yesus pernah melanggar ketentuan Sabat, bahkan Yesus sendiri melanggar ketentuan Sabat. Kalau para rasul boleh memetik gandum pada hari Sabat, kalau Yesus boleh menyembuhkan orang pada hari Sabat dan orang yang disembuhkanNya bekerja pada hari Sabat, orang Yahudi boleh menyalamatkan nyawa binatang peliharaan mereka pada hari Sabat, kenapa umat Kristen tidak boleh mencari nafkah pada hari Tuhan, hari minggu? Bukankah Sabat diciptakan untuk manusia namun manusia tidak diciptakan untuk hari Sabat?

About these ads

12 thoughts on “Hari Sabat VS Hari Tuhan

  1. ckckckck,… Saluuut, bener-bener saluuut !
    ko hai hai lebih pintar daripada yang mengilhamkan sampai ALKITAB itu jadi seperti yang dapat kita baca sekarang ini.
    Tulis buku deh ko,.. mungkin judulnya Resensi ALKITAB, atau Polemik dalam ALKITAB, atau apa saja. Setelah bukunya best seller (PASTI) lalu buat seminar-seminar, ceramah-ceramah dsb,dst. Mungkin saja Ko Hai Hai akan menobatkan (atau bisa jadi menyesatkan?! what everlah) banyak orang kristen.

    • @Enri Patuli, santai saja. bila waktunya tiba pasti bukunya terbit dan kalau anda mau ikut seminar yang dipimpin hai hai, BAYARANNYA mahal lho. ha ha ha ha … untuk saat ini biarlah hai hai MENYESATKAN banyak orang ke jalan yang BENAR lewat Internet saja. ha ha ha ha …

      • @ koh beng mohn petunjuk, gimana dgn firman Yesus di matius 5 ayat 17-19. tentang tidak ada setitit (hehe) pun dari hukum Taurat yang boleh di hapus. berarti nyang 10 itu masih harus dipertahankan dong.

        • @“Ebet”, bukankah sampai hari ini HUKUM Taurat masih TERTULIS dengan LENGKAP dan nggak akan HILANG? ha ha ha ha ….. MEMBATALKAN hukum TAURAT tidak dilakukan dengan MENGHAPUSNYA dari dunia namun dengan KEMATIAN Yesus.

          • LUKAS 16 : 17
            Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal.

            • sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan (katargeo) hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, Efesus 2:15

              Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal (pipto). Lukas 16:17

              @ahazia netanya, KEBENARAN yagn plintat plintut mustahil kebenaran sejati. Ha ha ha ha ha ….

        • Mateus 5 : 17 & 18
          (17) Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.

          (18) Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

    • BERAPA PENTINGKAH HARI SABAT ITU UNTUK DIKUDUSKAN?
      Mengapa hari Sabat begitu penting untuk dikuduskan?
      Dosa ialah pelanggaran Hukum Tuhan (1 Yoh 3:4)..Upah dosa ialah maut (Roma 6:23). Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya (Yak 2:10). Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya (1 Petrus 2:21). Yesus menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepadaNya (Ibrani 5:9)

  2. Pernyataan Pembuka Diskusi Sabat Sabtu vs Sabat Minggu – Saudara Snover
    UMAT KRISTEN DAN SEMUA ORANG HARUS MEMELIHARA SELURUH HUKUM ALLAH (10 HUKUM ALLAH) DAN JANGAN HANYA MENURUTI 9 HUKUM SAJA DARI 10 HUKUM ITU
    Alkitab menyatakan: “DOSA adalah Pelanggaran Hukum Allah” (I Yoh 3:4). Ada tertulis bahwa Ke-10 Firman Allah dalam Keluaran 20:3-17 yang ditulis oleh jari Allah pada kedua loh batu itu disebut Hukum Allah (Keluaran 31:18). Melanggar satu dari hukum itu adalah sama dengan melanggar seluruhnya (Yakobus 2:10-11). Upah dosa/pelanggaran Hukum Allah adalah maut (Roma 6:23). Dalam iman kepada Yesus Kristus, kita harus menuruti semua perintah Allah termasuk 10 Perintah yang juga dikenal dengan 10 Hukum-Nya. 10 Hukum Allah adalah standar penghakiman Allah (Yakobus 2:12) dan menghakimi semua manusia (Penghotbah 12:13,14) .
    Jutaan pendeta dan miliaran umat Kristen mengabaikan Hukum Allah yang keempat tentang hari Sabat, yaitu hari yang Allah perintahkan untuk diingat dan dikuduskan sebagai peringatan bahwa Dia telah menciptakan langit dan bumi selama 6 hari dan pada hari ketujuh/Sabat/Sabtu Ia berhenti dari penciptaan langit dan bumi itu, kemudian memberkati dan menguduskan hari ketujuh dan menjadikan hari ketujuh sebagai hari perhentian atau hari Sabat Tuhan Allah (Keluaran 20:8-11). Allah, Pencipta langit dan bumi berfirman agar semua umat ciptaan-Nya mengingat dan menguduskan hari ketujuh karena ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya karena pada hari itulan Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu (Kejadian 2;2-3). Itulah sebabnya maka hari ketujuh disebut hari perhentian atau disebut hari Sabat. Hari Sabat adalah hari Tuhan (Markus 2:28 dan Keluaran 20:10) atau hari kudus Tuhan (Yesaya 58:13) karena Tuhan telah menguduskannya.
    Samuele Bacchiocchi (almarhum) adalah seorang Profesor Sejarah Gereja dan Teologi di Andrews University, Berrien Spring, Michigan, Amerika Serikat adalah salah satu mahasiswa non Katolik pertama yang mengambil studi doktoral di salah satu universitas Katolik ternama di dunia yang berada di Roma yang bernama Pontifical Gregorian University dalam bukunya yang berjudul “Sabbath, Divine Rest for Human Restlessness” menyatakan bahwa peraturan anti Yahudi yang keras dari Hadrian (sekitar thn 135) menyebabkan orang orang Kristen membedakan diri mereka dari orang Yahudi dengan meninggalkan perayaan perayaan khas Yahudi seperti Paskah dan hari Sabat.
    Profesor Bacchiocchi yang ketika menjadi mahasiswa program doktor (S3) di Pontifical Gregorian University pernah mendapat medali emas dari Paus Paulus VI atas penelitian dan prestasi akademiknya (summa cum laude) dalam bukunya yang merupakan buku pertama yang ditulis oleh non –Katolik yang merupakan terjemahan dan penyesuaian dari disertasinya yang juga diterbitkan oleh Pontifical Gregorian University tahun 1977 dengan judul “FROM SABBATH TO SUNDAY” (buku itu ada dalam bentuk hard copy di tangan saya dan juga dalam bentuk soft copy atau file) menulis: “Penyelidikan membuktikan bahwa perubahan hari perhentian dari hari Sabtu ke Minggu mulai kira-kira satu abad setelah kematian Kristus sebagai akbiat dari pengaruh faktor-faktor politik, sosial, penyembah berhala dan Kristen”.
    W.R.F Browning seorang pengarang Kamus Alkitab (Kamus ini ada di hampir semua pendeta Kristen dan mahasiswa jurusan teologi dan PAK) menulis tentang kata “Minggu: Bagi orang Kristen, hari pertama dalam sepekan dan juga menyatakan bahwa semula orang Kristen menggunakan nama-nama hari yang sama dengan orang Yahudi. Dan sejak abad IV, gereja mengambil alih nama-nama itu atau dengan kata lain mengubahnya. Lebih jauh ditambahkan oleh H. Berkhof dan I.H. Enklaar dalam buku karangan mereka yang berjudul ‘SEJARAH GEREJA” (buku ini ada di hampir semua pendeta Kristen dan mahasiswa jurusan teologi dan PAK) yang diterbitkan oleh BPK. Gunumg Mulia bahwa negara dan gereja pada saat itu (awal abad IV) telah bekerja sama, yaitu agar negara mendapat berkat-berkat gereja, maka gereja diberi hak dan keuntungan untuk menerima warisan, sokongan uang untuk membangun gedung-gedung gereja dan untuk membuat undang-undang penyucian hari Minggu (Berkhof dan Enklaar 2011, hlm 49).
    Jim Pinkoski (1998, hlm 16 dan 42) dalam bukunya yang berjudul “The Truth about Sabbath” (buku ini ada di tangan penulis baik dalam bentuk hard copy maupun soft copy) menyatakan bahwa secara resmi, Kaisar Roma yang bernama Constantine mengubah hari Sabat ke hari Minggu.
    Isi UU Hari Minggu Constantine yang diterbitkan 7 Maret 321 M
    “Pada hari pemujaan matahari (venerabilis dies solis) atau Sunday (sun: matahari dan day:hari) hendaknya para hakim dan penduduk yang tinggal di kota-kota beristrahat dan tempat-tempat kerja ditutup. Di pedesaan, penduduk yang berhubungan dengan pertanian dapat dengan bebas dan didukung undang-undang meneruskan usaha mereka” (Pinkoski 1998, hlm 16)
    Undang-undang ini memerintahkan rakyat untuk melanggar Hukum Keempat dari 10 Hukum.
    Anton Silalahi (2008) dalam bukunya berjudul “Hari Perhentian Mengapa Hari Sabtu? dan Shelthon and Quinn (2007) dalam bukunya yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia yang berjudul “10 Hukum Allah Disingkirkan Dua Kali’ menyatakan bahwa kepausan telah memaksa ketentuan yang mengharuskan memelihara hari Minggu dalam Canon 29 Konsili Laodekia Tahun 364 M.
    “Orang-orang Kristen tidak boleh men-Yahudikan diri mereka sendiri dan bermalas-malas pada hari Sabtu tapi harus bekerja pada hari itu; tapi Hari Tuhan harus mereka hormati secara istimewa, dan sebagai orang Kristen harus, jika mungkin tidak bekerja pada hari itu. Jika seandainya, mereka didapati men-Yahudikan diri sendiri, mereka akan ditolak Kristus.” (Charles J. Hefele, A History of the Christian Councils, Vol 2, hal 316 dikutip dalam Shelthon and Quinn 2007, hlm 94; Pinkoski 1998, hlm 42)
    Catatan: yang disebut Paus sebagai Hari Tuhan adalah Hari Minggu. Hari Tuhan yang Asli adalah Hari Sabtu (Keluaran 20:10; Yesaya 58:13 dan Markus 2:28). Dekrit ini membuktikan bahwa orang Kristen sejati masih beribadah pada hari Sabtu selama 300 tahun setelah kenaikan Yesus ke Sorga.

    Tanya Jawab Apakah Benar Gereja Katolik Mengubah Sabat (Dikutip dari Silalahi (2008, hlm 177-178) dan Shelton dan Quinn (2007, hlm 103-104)
    Pertanyaan Kepada Paus Pius XII
    Apakah tuduhan itu benar, yang dilancarkan kaum Protestan terhadap Anda sekalian? Mereka katakan Anda mengubah Sabat Hari Ketujuh menjadi apa yang disebut hari Sunday umat Kristiani; yang merupakan hari pertama tiap pekan. Kalau memang benar, kapan Anda mengubahnya, dan atas wewenang siapa?-Hormat saya J. L Day, Thomaston, Georgia 22 Mei 1954.
    Jawaban yang Disetujui Paus Pius XII (telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia)
    Mengenai penggantian hari perbaktian dari Hari Sabat ke Hari Minggu, saya ingin menarik perhatian Anda pada fakta-fakta berikut:
    1. Bahwasanya kaum Protestan, yang mendasarkan iman dan agama mereka pada Alkitab saja, seharusnya kembali memelihara Sabat. Tapi fakta bahwa mereka tidak melakukannya, sebaliknya malah memelihara Hari Minggu, merendahkan diri mereka di mata semua orang yang punya akal.
    2. Kami orang Katolik tidak menganggap Alkitab sebagai satu-satunya dasar iman. Selain Alkitab, kami punya gereja (Vatikan) yang hidup sebagai petunjuk untuk membimbing kami. Gereja ini, didirikan oleh Kristus untuk mengajar dan membimbing manusia sepanjang hidup mereka, punya hak untuk mengganti hukum-hukum upacara Perjanjian Lama dan karena itu, kami menerima perubahan hari perbaktian yang dibuat Gereja (Vatikan) dari Sabat ke Minggu. Kami dengan jujur berkata “ya” Gereja (Vatikan) telah membuat perubahan itu, membuat hukum ini, sebagaimana telah membuat banyak hukum, misalnya Friday Absistence pengekangan diri pada hari Jumat, keimaman yang tidak menikah, hukum mengenai pernikahan antara Katolik dengan non Katolik, peraturan mengenai pernikahan dua mempelai Katolik, dan ribuan hukum lainnya.
    3. Kami juga utarakan, bahwa dari semua golongan Protestan, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh adalah satu satunya kelompok yang memilki dasar yang benar (Alkitab) dan konsisten dengan ajaran-ajaran mereka. Memang selalu lucu bila melihat gereja-gereja Protestan, di mimbar dan pemerintahan, menuntut perayaan hari Minggu yang sama sekali tidak ada dasarnya di Alkitab untuk posisi iman ini.-Hormat kami, Peter R. Tramer. Editor.-
    Setidaknya, seperti itulah seharusnya. Tapi tahukah anda bahwa Vatikan mencibir pada orang-orang Protestan pemelihara hari Minggu karena praktik ibadah hari Minggu sebetulnya tidak sesuai Alkitab? Baca kutipan berikut dari Revered John O’Brien:
    “…Mereka (orang Protestan) telah melestarikan tradisi ibadah hari Minggu walaupun hal itu berdasar pada otoritas Vatikan dan bukan pada ayat Alkitab. Ibadah hari Minggu itu tetap merupakan pengingat mereka akan gereja induk darimana golongan-golongan non-Katolik memisahkan diri, ibarat seorang anak yang kabur dari ibunya tapi masih membawa foto ibunya di dompet atau segenggam rambut sang ibu” (The Faith of Million, hal 421,422 dalam Shelthon dan Quinn,2007:98)
    Pertanyaan yang harus kita renungkan adalah apakah gereja Katolik memiliki kekuasaan untuk mengubah 10 Hukum Allah yang ditulis langsung oleh jari-Nya pada 2 loh batu itu? Apakah Gereja lebih tinggi dari Alkitab?
    Jawab: Allah tidak pernah memberi wewenang kepada manusia siapapun atau organisasi gereja manapun atau pemerintah manapun, kepada pendeta manapun atau majelis jemaat manapun betapapun berkuasanya orang itu untuk mengubah 10 Hukum-Nya. Allah itu kekal (Kejadian 21:33) dan hukum-hukum-Nya kekal (Mazmur 11:7,8); Allah itu sempurna (Matius 5:48) dan 10 Hukum Allah yang biasa disebut Taurat Tuha sempurna (Mazmur 19:8) sehingga tidak perlu perubahan atau revisi; Allah itu kudus (Yesaya 5:16) dan hukum-hukum-Nya kudus (Roma 7:12); Allah itu adil (Ulangan 32:4) dan hukum-hukum-Nya adil (Mazmur 19:10). Allah itu tidak berubah (Yakobus 1:17) dan hukum-hukum-Nya tidak berubah (Matius 5:18). Sebelum Allah memberikan kesepuluh firman atau 10 Hukum-Nya dalam Keluaran 20:3-17 kepada Musa dalam bentuk tertulis di atas 2 loh batu itu, Ia mengucapkannya di depan Jemaat Israel di Gunung Sinai. Alkitab mengatakan bahwa Apa yang keluar dari bibir Allah tidak akan diubah-Nya (Mazmur 89:35). Yesus pun tidak datang untuk mengubah 10 Hukum Allah (Lukas 16:17).
    APA YANG TERJADI SEKARANG INI?
    Mayoritas umat Kristen lebih suka menuruti ajaran manusia untuk menguduskan hari Minggu daripada hari Sabat, suatu tradisi atau kebiasaan yang lebih menuruti ajaran manusia daripada perintah Allah. Perubahan hari Sabat ke hari Minggu secara resmi telah berlangsung selama 1693 tahun (321-2014) dan telah menjadi suatu tradisi yang diikuti sampai hari ini. Ketika umat Kristen lebih suka memelihara hari Minggu dari hari Sabat/Sabtu sebagai hari perhentian maka mereka lebih suka menuruti perintah manusia yang bernama Constantine dan kepausan daripada perintah Allah. Yesus pernah menegur orang yang lebih meninggikan ajaran manusia daripada perintah Allah (hukum kelima):
    “Percuma mereka beribadah kepada-Ku. Sedangkan ajaran yang mereka ajarkan adalah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia”….”Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri” (Markus 7:7-9).
    Berdasarkan perkataan Yesus di atas, apakah anda mau dikatakan percuma pergi ke gereja hari Minggu?
    Rasul Petrus menasihatkan agar kita harus lebih taat kepada perintah Allah daripada perintah manusia (Kisah 5:29).
    Ditinjau dari Sepuluh Hukum Allah, pemeliharaan hari Minggu sebagai hari perhentian tidak memiliki dasar hukum tetapi sebaliknya pemeliharaan hari Sabat sebagai hari untuk memperingati penciptaan langit dan bumi memiliki dasar hukum yang jelas, yaitu diatur dalam 10 Hukum Allah. Karena pemeliharaan hari Minggu tidak memiliki dasar hukum, yaitu Hukum Allah maka sesuatu yang dilakukan karena melanggar atau menentang hukum disebut ilegal menurut Hukum Allah. Sedangkan sesuatu yang dilakukan sesuai dengan hukum disebut legal atau sah sesuai Hukum Allah. Ini bukan berdasarkan pendapat pribadi saya tetapi orang yang taat hukum akan mengerti hal ini.
    Meskipun Yesus bangkit pada hari Minggu, hal itu tidak berarti mengubah hari Sabat ke hari Minggu karena Yesus tidak pernah memerintahkannya. Memang maksud manusia adalah baik untuk memperingati kebangkitan Yesus tetapi baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah. Manusialah yang harus menurut kepada Penciptanya dan bukan sebaliknya meminta Pencipta untuk menuruti pendapatnya.
    Kita menuruti 10 Hukum Allah bukan untuk mendapat keselamatan (seperti yang dimengerti oleh orang Yahudi/penurutan yang legalis) tetapi kita menuruti 10 Hukum Allah karena kita sudah diselamatkan (sudah mendapat kasih karunia). Mengapa kita masih menuruti 10 Hukum Allah padahal kita sudah diselamatkan?Jawab: Karena orang yang telah diselamatkan perlu bertobat dari dosa-dosa (pelanggaran Hukum Allah) mereka.
    Allah telah lebih dahulu mengasihi kita dengan mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16). Karena kita telah memperoleh keselamatan melalui kasih karunia/anugerah maka kitapun harus mengasihi Allah dengan menuruti perintah-perintah-Nya termasuk 10 perintah-Nya. Kasih antara Allah dan umat-Nya harus terjadi bolak balik atau dengan kata lain harus saling mengasihi. Alkitab katakan bahwa kasih kepada Allah adalah menuruti perintah-perintah-Nya (1 Yoh 5:3; Yoh 14:15).
    Kami umat Kristen pemelihara hari Sabat akan menguduskan hari Minggu sebagai sesama umat Kristen lainnya sekiranya Yesus pernah memerintahkan pemeliharaan hari Minggu sebagai hari kebangkitan-Nya menggantikan hari Sabat tetapi hal itu tidak pernah kita temukan di Alkitab walau millyaran rupiah ditawarkan kepada orang-orang untuk menemukan ayat-ayat tentang perintah Allah dalam Alkitab untuk memelihara hari Minggu.

    • sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, Efesus 2:15

      HuKuM taurat dengan segala perintah dan ketentuannya SUDAH DIBATALKAN! Itu sebabnya hanya orang Kristen DUNGU yang masih mengajarkan orang kristen untuk menaati Hukum Taurat. Di samping, itu, Hukum Taurat hany berlaku bagi orang YAHUDI, bukan orang Yahudi alias KAFIR mana boleh menyembah YHWH? Baca alkitab baik-baik dulu baru mengajar, kisanak. ha ha ha

      • sejarah hari minggu menjadi tanggal merah,!!!
        Mungkin saudara pernah bertanya, sejak kapan hari minggu menjadi hari merah dan diliburkan dari segala pekerjaan? Apakah karena hari minggu hari kebangkitan Yesus sehingga untuk menghormatinya umat kristen beribadah ke gereja pada hari minggu?? Ternyata bukan demikian, Begini sejarahnya, hari minggu dalam bahasa arab disebut ahad atau hari pertama, sebenarnya hari minggu adalah hari pertama dalam satu minggu, bukan hari ketujuh. Hari minggu dalam bahasa inggris disebut sun-day yang artinya hari matahari, berdasarkan sejarah, hari minggu sebenarnya adalah hari di mana agama kekafiran dewa matahari mengadakan peribadatan dan perhormatan dewa matahari, makanya diambil hari pertama sebagai bentuk penghormatan ( orang-orang penting selalu ditempatkan di tempat yang utama kan? ),seperti yang kita ketahui bahwa kalender masehi yang kita pakai saat ini merupakan warisan dari kerajaan Roma yang merupakan penyembah dewa matahari, makanya hari minggu disucikan untuk menghormati dewa matahari sembahan orang roma.
        Hari minggu pertama kali diundang-undangkan pada tahun 321 Masehi, tanggal 7 maret, isinya:

        “ Hendaklah semua hakim-hakim dan masyarakat kota serta semua pedagang berhenti pada hari matahari yang patut dimuliakan. Tetapi biarlah mereka yang bermukim di perdesaan secara leluasa dan dengan kebebasan penuh melanjutkan kebiasaan mereka bercocok tanam; karena sering terjadi tidak ada hari lain yang lebih cocok untuk menabur benih atau menanam anggur; karena itu, waktu yang menguntungkan hendaknya tidak dilewatkan, agar berkat sorgawi jangan sampai hilang.”

        Jadi pada waktu itu kegiatan di perkotaan dihentikan pada hari minggu, tetapi di perdesaan tetap berlangsung, karena menurut tradisi roma, hari minggu adalah hari penuh berkat sorgawi.
        Sejak kaisar konstatin mendadak menjadi kristen dan mengkristenkan kekaisaran roma, berbagai macam undang-undang dikeluarkan untuk menguatkan undang-undang kesucian hari minggu, salah satu alasannya yang paling sukses adalah karena hari minggu, hari kebangkitan Yesus sehingga akhirnya diterima dengan baik oleh orang kristen, dan tentunya bagi penganut agama dewa matahari di kekaisaran roma, menganut kristen tidak masalah karena sistem peribadatan tidak jauh berbeda apalagi hari yang disucikan sama. Siasat kaisar konstantin berhasil dengan baik, penganut agama dewa matahari dan penganut kristen akhirnya bersatu membentuk agama baru yang kita kenal sekarang.

        Lalu apa hubungannya dengan freemason, illuminati, dan organisasi hitam lainnya?? Roma adalah akar dan leluhur dari semua organisasi ini, mereka sama sama penyembah dewa matahari, dan mengkultuskan yang namanya hari minggu sebagai salah satu lambang kekuasaan mereka. Ketika pertama kali amerika serikat berdiri, mereka belum berani terlalu terang-terangan bertindak, masih banyak reformis reformis kristen sejati di dalam kongres, tetapi lambat laun penyusupan-penyusupan dilakukan selama bertahun-tahun untuk mencapai tujuan new world order dengan amerika sebagai pionnya. Dalam undang-undang dasar amerika serikat terdapat dua pilar utama kebebasan yaitu kebebasan beragama dan kebebasan berpendapat. Semua undang-undang yang dikeluarkan oleh amerika serikat tidak boleh melanggar undang-undang dasar ini. Pada tahun 1889, undang undang hari minggu hampir dikeluarkan, tetapi akhirnya ditunda karena ada somasi dari beberapa reformis kristen

        Tetapi untuk mencapai new world order (Tatanan Dunia Baru)yang diimpikan, undang undang hari minggu hari dikeluarkan sebagai tanda kekuasaan mereka yang absolute, sebagai lambang dewa matahari berkuasa di bumi ini. Ketika undang undang hari minggu dikeluarkan, maka kedua pilar utama amerika serikat hancur. Amerika serikat akan memaksa warga negaranya untuk menyucikan hari minggu dengan ancaman hukuman sipil dan penghilangan hak hak ekonomi kewarganegaraan bahkan pada saatnya nanti dengan ancaman hukuman mati. Maka kegenapan tanda binatang 666 dalam wahyu 13 akan tergenapi, orang yang tidak memakai tanda binatang pada dahi dan tangan kanannya tidak akan bisa membeli atau menjual, waspadalah saudara-saudara, jangan terkecoh opini publik bahwa tanda binatang itu berupa chip atau sejenisnya. New world order akan selalu menggunakan lambang lambang kekafiran dalam menunjukan kuasanya, undang-undang hari minggu adalah lambang yang sempurna, lambang yang mengandung unsur penyembahan dewa matahari, dan tentunya suatu lambang yang akan dianggap remeh oleh orang banyak karena dianggap bukan sesuatu yang penting.

    • sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan (katargeo) hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, Efesus 2:15

      di Perjanjian Lama, hanya orang Yahudi yang boleh memyembah YHWH dan mempraktekkan Hukum Taurat dan segala perintah dan ketentuannya. Orang Asing yang berani menyembah YHWH PASTI di-HUKUM. Kematian Yesus sudah MEMBaTALKAN alias MEMUSNAHKAN Hukum Taurat. itu sebabnya mereka yang MENGAJARKAN untuk mempraktekkan Hukum Taurat, adalah PENYESAT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s