Hari Sabat VS Hari Tuhan


Sebagian umat Kristen merayakan Sabat pada hari Minggu, kita sebut mereka kaum mingguis. Sebagian lainnya merayakan Sabat pada hari Sabtu, kita sebut mereka kaum sabtuis. Sebagian lainnya lagi karena tuntutan pekerjaan merayakan Sabat tidak pada hari Sabtu juga tidak pada Hari Minggu, kita sebut mereka kaum maknais. Saat ini kaum sabtuis-lah yang paling getol mengkampanyekan agar umat Kristen merayakan Sabat pada hari Sabtu. Menurut mereka merayakan Sabat pada hari lain selain hari Sabtu adalah dosa karena melanggar perintah keempat dari Sepuluh Perintah Allah. Kaum mingguis tenang-tenang saja dengan kampanye kaum sabtuis karena yakin bahwa kampanye demikian tidak akan pernah berhasil. Tulisan ini merupakan tulisan ketiga dari trilogi Hari Sabat sedangkan dua tulisan sebelumnnya adalah: Hari Sabat Bukan Hari Sabtu dan Hari Sabat Bukan Hari Minggu.

Nama Hari Kalender Yahudi

shabbat kodesh – hari ke 0 – Sabtu – Allah belum mencipta dan Allah berhenti mencipta
yom rishon – hari ke 1 – Minggu – Allah menciptakan terang
yom sheni – hari ke 2 – Senin – Allah menciptakan cakrawala
yom sh’lishi – hari ke 3 – Selasa – Allah menciptakan tumbuhan
yom revi’i – hari ke 4 – Rabu – Allah menciptakan benda-benda langit
yom chamishi – hari ke 5 – Kamis – Allah menciptakan binatang
yom shishi – hari ke 6 – Jumat – Allah menciptakan manusia

Sabat Adalah Hari Ke 0 Atau Hari Ke 7?

Kaum Sabtuis mengimani bahwa hari Sabtu adalah hari Sabat, hari Allah berhenti setelah menggenapi karya penciptaan alam semesta. Dasar iman mereka dibangun di atas ayat Alkitab berikut ini.

Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Kejadian 2:2

Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya. Keluaran 20:8-11

Dalam kalender Yahudi 1 hari dimulai dari matahari tenggelam hingga mata hari tenggelam keesokannya. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah satu hari. Kapan hari ke 1 dimulai? Hari ke 1 dimulai sejak mata hari tenggelam pada hari ke 0. Kenapa hari ke 0 dibutuhkan? Hari ke 0 dibutuhkan karena tanpa hari ke 0 maka hari ke 1 tidak sempurna, itu berarti hari ke 1 dimulai dari matahari terbit hingga matahari tenggelam. Tanpa hari ke 0 kalimat “Jadilah petang dan jadilah pagi,” tidak sempurna. Kapan Allah berhenti mencipta? Allah berhenti mencipta ketika matahari tenggelam pada hari ke 6, itulah permulaan hari ke 7. Bukankah setelah hari ke 7 seharusnya kembali ke hari ke 0, sebab bila tidak, maka hari ke 1 tidak akan sempurna?

Di dalam kalender Yahudi hanya ada 7 hari. Sedangkan untuk memenuhi teori para sabtuis dibutuhkan 8 hari. Hari ke 0 adalah hari sebelum Allah mencipta dan hari ke 7 adalah hari Allah berhenti mencipta. Namun karena hanya ada 7 hari dalam seminggu, maka yang dimaksudkan dengan hari ke 7 itu bukan hari yang ke 7 (the 7th day), namun hari ke 7 di luar keenam hari yang lain. Hari ke 7 itu adalah hari ke 0.

Hari Sabat dan Perayaan Hari Sabat

Hari Sabat adalah hari Allah berhenti mencipta setelah mencipta alam semesta selama 6 hari. Hari itu adalah hari ke 7 atau hari ke 0. Bangsa Israel MERAYAKAN hari Sabat untuk mengenang Allah berhenti mencipta alam semesta dalam perayaan HARI SABAT setiap hari ketujuh dan setiap tahun ke tujuh yang disebut TAHUN SABAT serta setiap 50 tahun yang disebut tahun Yobel.

Enam tahun lamanya engkau harus menaburi ladangmu, dan enam tahun lamanya engkau harus merantingi kebun anggurmu dan mengumpulkan hasil tanah itu, Imamat 25:3

tetapi pada tahun yang ketujuh haruslah ada bagi tanah itu suatu sabat, masa perhentian penuh, suatu sabat bagi TUHAN. Ladangmu janganlah kautaburi dan kebun anggurmu janganlah kaurantingi. Imamat 25:4

Dan apa yang tumbuh sendiri dari penuaianmu itu, janganlah kautuai dan buah anggur dari pokok anggurmu yang tidak dirantingi, janganlah kaupetik. Tahun itu harus menjadi tahun perhentian penuh bagi tanah itu. Imamat 25:5

Hasil tanah selama sabat itu haruslah menjadi makanan bagimu, yakni bagimu sendiri, bagi budakmu laki-laki, bagi budakmu perempuan, bagi orang upahan dan bagi orang asing di antaramu, yang semuanya tinggal padamu. Imamat 25:6

Juga bagi ternakmu, dan bagi binatang liar yang ada di tanahmu, segala hasil tanah itu menjadi makanannya. Imamat 25:7

Selanjutnya engkau harus menghitung tujuh tahun sabat, yakni tujuh kali tujuh tahun; sehingga masa tujuh tahun sabat itu sama dengan empat puluh sembilan tahun. Imamat 25:8

Lalu engkau harus memperdengarkan bunyi sangkakala di mana-mana dalam bulan yang ketujuh pada tanggal sepuluh bulan itu; pada hari raya Pendamaian kamu harus memperdengarkan bunyi sangkakala itu di mana-mana di seluruh negerimu. Imamat 25:9

Kamu harus menguduskan tahun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya. Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, dan kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya dan kepada kaumnya. Imamat 25:10

Tahun yang kelima puluh itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, jangan kamu menabur, dan apa yang tumbuh sendiri dalam tahun itu jangan kamu tuai, dan pokok anggur yang tidak dirantingi jangan kamu petik buahnya. Imamat 25:11

Karena tahun itu adalah tahun Yobel, haruslah itu kudus bagimu; hasil tahun itu yang hendak kamu makan harus diambil dari ladang. Imamat 25:12

Dalam tahun Yobel itu kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya. Imamat 25:13

Kita sudah belajar bahwa ada tiga cara bagi bangsa Israel merayakan HARI SABAT, hari Allah berhenti mencipta setelah 6 hari menciptakan alam semesta. Kaum Sabtuis tidak pernah mempermasalahkan Tahun Sabat dan Tahun Yobel, mereka hanya mempermasalahkan HARI SABAT atau perayaan SABAT MINGGUAN.

Haris Sabat adalah hari shabbat kodesh dalam kalender Yahudi dan hari Sabtu dalam kalender Masehi. Bangsa Israel merayakan Sabat sejak matahari tenggelam pada hari Jumat hingga matahari tenggelam pada hari Sabtu. Mari kita mengumpamakan bahwa hari Sabat dimulai pada jam 18.00 hari Jumat dan berkahir pada jam 18.00 hari Sabtu.

Walaupun setiap orang Kristen di dunia merayakan Sabat pada hari Sabtu namun sebenarnya mereka tidak merayakannya pada hari yang sama. Ketika orang Indonesia merayakan Sabat, pada saat itu orang Amerika dan Kanada baru memasuki hari Jumat. Ketika orang Amerika dan Kanada merayakan Sabat, pada saat itu orang Indonesia sudah memasuki hari Minggu.

Kaum Sabtuis menyatakan bahwa kita harus merayakan Sabat pada hari Sabtu karena Allah berhenti mencipta pada hari itu. Pertanyaannya adalah pada hari Sabtu di belahan dunia mana tepatnya Allah berhenti mencipta? Dengan asumsi Israel adalah standardnya, maka orang Jakarta harus merayakan Sabat sejak hari Jumat jam 23.00, karena waktu di Israel lebih lambat 5 jam dari waktu di Jakarta. Dengan waktu yang berbeda-beda di belahan dunia ini, mustahil kita mempertahankan doktrin bahwa Allah berhenti mencipta pada hari Jumat jam 18.00.

Hari Sabat VS Hari Tuhan

Bangsa Yahudi sejak purbakala merayakan Sabat untuk memperingati hari Allah berhenti setelah menggenapi karya penciptaan alam semesta. Mereka merayakan hari sabat pada hari shabbat kodesh, dalam kalender Masehi hari itu disebut hari Sabtu. Hal yang sama juga berlaku bagi para sabtuis, mereka merayakan Sabat pada hari Sabtu untuk memperingati hari Allah berhenti setelah menggenapi karya penciptaan alam semesta.

Hari Sabat adalah hari Allah berhenti setelah menggenapi karya penciptaan alam semesta sedangkan hari perayaan Sabat adalah hari untuk memperingati hari Allah berhenti setelah menggenapi karya penciptaan alam semesta. Bangsa Yahudi sejak purbakala merayakan Sabat pada hari Sabtu. Yesus Kristus selama di dunia merayakan Sabat pada hari Sabtu. Para rasul merayakan Sabat pada hari Sabtu. Orang-orang Kristen mula-mula merayakan Sabat pada hari Sabtu. Namun kenapa dalam perkembangannya sebagian besar orang Kristen lalu merayakan Sabat pada hari Minggu?

Selama ini perdebatan tentang hari Sabat dimulai dengan tuduhan dari kaum sabtuis bahwa kaum mingguis dan maknais telah melanggar Sepuluh Perintah Allah karena merayakan Sabat pada hari Minggu dan hari lainnya. Yang lebih keras bahkan menuduh bahwa kaum mingguis dan maknais telah mencemari perayaan Sabat karena tidak merayakannya seperti bangsa Yahudi merayakannya selama berabad-abad. Atas tuduhan itu, maka kaum mingguis dan maknais membela diri dengan menyatakan bahwa perayaan Sabat yang mereka lakukan adalah Sabat Perjanjian Baru, sedangkan kaum sabtuis merayakan Sabat Perjanjian Lama. Di samping itu kaum mingguis dan maknais juga menyerang balik dengan menyatakan bahwa hari Sabtu bukan hari Sabat, hari Sabtu adalah hari perayaan Sabat untuk memperingati Sabat, hari Allah berhenti setelah menggenapi karya penciptaan alam semesta yang dilakukan oleh bangsa Yahudi sejak purbakala.

Kenapa kaum Mingguis merayakan Sabat pada hari Minggu?

Sejarah gereja mencatat bahwa Yesus Kristus bangkit dari kematian pada hari Minggu menurut kalender Masehi. Hari kebangkitan itu disebut Hari Tuhan, hari Yesus Kristus berhenti setelah menggenapi karya penyelamatan manusia. Umat Kristen mula-mula merayakan Hari Tuhan pada hari Minggu.

Umat Kristen mula-mula selain merayakan Sabat (hari Allah berhenti setelah menggenapi karya penciptaan alam semesta) pada hari Sabtu juga merayakan Hari Tuhan (hari Yesus Kristus berhenti setelah menggenapi karya penyelamatan manusia) pada hari Minggu. Dalam perkembangannya perayaan Sabat dan Hari Tuhan lalu dilakukan dalam satu hari yaitu hari Minggu dan menyebutnya sebagai hari Sabat sedangkan Hari Tuhan lalu digunakan untuk menyebut hari kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya atau hari penghakiman terakhir atau hari kiamat. Ayat-ayat berikut ini menjelaskan tentang Sabat Perjanjian Baru atau Sabat Baru atau Sabat mingguis.

Dan setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani. Kisah Para Rasul 18:4

Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam. Kisah Para Rasul 20:7

Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing — sesuai dengan apa yang kamu peroleh — menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang. I Korintus 16:2

Kaum sabtuis menyatakan bahwa di dalam Alkitab perjanjian baru tidak ada perintah untuk merayakan Hari Tuhan. Karena tidak ada perintah, maka umat Kristen tidak perlu merayakannya. Alasan ini nampak masuk akal, namun sayangnya kaum sabtuis tidak mempraktekkan sistematika pemikiran ini dengan konsisten. Kaum sabtuis mengajarkan bahwa sebelum Allah menuliskan Sepuluh Perintah pada dua loh batu di gunung sinai, Sepuluh Perintah itu sudah ada dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari bangsa Israel. Alkitab, walaupun mencatat praktek-praktek Sepuluh Perintah sebelum peristiwa gunung Sinai, namun sama sekali tidak mencatat Sepuluh Perintah itu sebelumnya. Bukankah itu berarti bahwa bangsa Israel sudah merayakan Sabat sebelum perintah Allah di catat?

Alkitab Perjanjian Baru memang tidak mencatat perintah untuk merayakan Hari Tuhan, namun mencatat bahwa umat Kristen mula-mula mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari, gereja lalu membakukannya. Apakah gereja memaksa jemaat mempraktekkan perayaan Hari Tuhan? Tidak, gereja hanya membakukannya karena praktek perayaan Hari Tuhan (Sabat baru) sudah ada sejak jaman para rasul.

Kenapa umat Kristen mula-mula menyatukan perayaan Sabat lama untuk memperingati hari Allah berhenti setelah menggenapi karya penciptaan alam semesta dan Sabat Baru (Hari Tuhan) untuk memperingati hari Yesus Kristus berhenti setelah menggenapi karya penyelamatan manusia menjadi satu hari dan merayakannya pada hari minggu? Karena dalam Sepuluh Perintah Allah, hanya satu hari yang digunakan untuk merayakan Sabat. Kenapa dipilih hari Minggu untuk merayakan Sabat? Karena Tuhan Yesus bangkit pada hari Minggu dan Tuhan Yesus datang untuk menggenapi hari Sabat. Penggenapan Sabat terjadi pada Hari Tuhan, hari Minggu, itu sebabnya dipilih hari Minggu untuk merayakan Sabat.

Bagaimana dengan umat Kristiani yang hanya merayakan Sabat untuk memperingati hari Allah berhenti setelah menggenapi karya penciptaan alam semesta dan merayakannya pada hari Sabtu? Itu berarti mereka tidak mengakui bahwa Tuhan Yesus sudah menggenapi Sabat Perjanjian Lama. Orang demikian ibarat orang yang membuat perjanjian baru dengan menempelkan meterai lama.

Bagaimana dengan umat Kristiani yang merayakan Sabat Perjanjian Baru tidak pada hari Minggu? Sebagian kaum mingguis mengimani bahwa perayaan Sabat Perjanjian baru harus dilakukan pada hari Minggu, merayakannya pada hari lain berarti melanggar atau dosa. Kaum maknais menanggapi tuduhan itu dengan mengajarkan, bahwa yang terpenting adalah makna perayaan Sabat itu sendiri, bukan hari merayakannya. Yang terpenting adalah merayakan Sabat itu sendiri, bukan kapan merayakannya. Lebih lanjut mereka membela diri dengan menyatakan bahwa murid-murid Yesus pernah melanggar ketentuan Sabat, bahkan Yesus sendiri melanggar ketentuan Sabat. Kalau para rasul boleh memetik gandum pada hari Sabat, kalau Yesus boleh menyembuhkan orang pada hari Sabat dan orang yang disembuhkanNya bekerja pada hari Sabat, orang Yahudi boleh menyalamatkan nyawa binatang peliharaan mereka pada hari Sabat, kenapa umat Kristen tidak boleh mencari nafkah pada hari Tuhan, hari minggu? Bukankah Sabat diciptakan untuk manusia namun manusia tidak diciptakan untuk hari Sabat?

About these ads

4 thoughts on “Hari Sabat VS Hari Tuhan

  1. ckckckck,… Saluuut, bener-bener saluuut !
    ko hai hai lebih pintar daripada yang mengilhamkan sampai ALKITAB itu jadi seperti yang dapat kita baca sekarang ini.
    Tulis buku deh ko,.. mungkin judulnya Resensi ALKITAB, atau Polemik dalam ALKITAB, atau apa saja. Setelah bukunya best seller (PASTI) lalu buat seminar-seminar, ceramah-ceramah dsb,dst. Mungkin saja Ko Hai Hai akan menobatkan (atau bisa jadi menyesatkan?! what everlah) banyak orang kristen.

    • @Enri Patuli, santai saja. bila waktunya tiba pasti bukunya terbit dan kalau anda mau ikut seminar yang dipimpin hai hai, BAYARANNYA mahal lho. ha ha ha ha … untuk saat ini biarlah hai hai MENYESATKAN banyak orang ke jalan yang BENAR lewat Internet saja. ha ha ha ha …

      • @ koh beng mohn petunjuk, gimana dgn firman Yesus di matius 5 ayat 17-19. tentang tidak ada setitit (hehe) pun dari hukum Taurat yang boleh di hapus. berarti nyang 10 itu masih harus dipertahankan dong.

        • @“Ebet”, bukankah sampai hari ini HUKUM Taurat masih TERTULIS dengan LENGKAP dan nggak akan HILANG? ha ha ha ha ….. MEMBATALKAN hukum TAURAT tidak dilakukan dengan MENGHAPUSNYA dari dunia namun dengan KEMATIAN Yesus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s