Belajar Tanpa Berpikir, Sia-sia


Belajar tanpa berpikir, sia-sia. Berpikir tanpa belajar, berbahaya! Lun Yu II:15

Itulah yang diajarkan oleh Kongzi (Khonghucu), seorang nabi Tiongkok kuno yang hidup antara tahun 551-479SM.

Coba anda perhatikan kalimat di bawah ini.

saya sempat berdebat lama dengan pendeta saya dari HKBP… saya dulu juga sempat di Gpdi, lalu saya juga sempat di Tiberias… terus terang saya MENOLAK pengkotak-kotak-kan aliran Gereja seperti ini… saya terus terang lebih menghargai orang-orang yang mau berbagi tanpa memandang dari Gereja mana… karena nanti akan tiba saatnya kita bersama-sama melawan si jahat di akhir jaman… akankah kita bisa survive dengan cara berkotak-kotak seperti ini..

Penulis kalimat tersebut sesungguhnya tidak sedang berbicara tentang gereja, dia sedang berbicara tentang para pengkotbah. Dia sedang menceritakan bahwa dia sudah belajar kepada berbagai Pengkotbah. Lebih lanjut dia menyatakan bahwa semua ajaran yang dipelajarinya dari para pengkotbah yang diajarkan di berbagai mimbar tersebut adalah kebenaran. Walaupun kotbah para pengkotbah tersebut saling bertentangan, namun semuanya mengaku sedang mengajarkan kebenaran sejati Alkitab, oleh karena itu semuanya harus diterima sebagai kebenaran sejati Alkitab. Memilah-milah ajaran-ajaran tersebut, membanding-bandingkan ajaran-ajaran tersebut tidak Kristiani.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada penulis kalimat tersebut, namun inilah contoh orang yang belajar tanpa berpikir, SIA-SIA. Dia hanya belajar, namun tidak memikirkan apa yang dipelajarinya. Mungkin dia berpikir bagaimana mewujudkan semua ajaran-ajaran tersebut dalam hidupnya, namun tidak pernah mempertimbangkan kenapa ajaran-ajaran tersebut saling bertentangan, sebab bila dia memikirkannya, maka dia akan segera tahu mana yang sejati dan mana yang palsu, tentu saja semuanya harus ditelaah di bawah ajaran sejati Alkitab. Untuk mampu melakukan hal itu, maka dia harus belajar dulu cara belajar Alkitab dengan cara yang benar.

Belajar tanpa berpikir, SIA-SIA. Tidak Peduli berapa lama belajar, tak peduli kepada berapa guru belajar, orang-orang demikian tidak akan pernah mengerti dan memahami ajaran sejati Alkitab. Dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu!

Coba perhatikan pula kalimat di bawah ini:

Tuhan menguji hati, bukan menguji tempat ibadah, cara beribadah, cara ber-liturgi…

Kalimat tersebut nampak indah, benar, logis dan masuk akal. Apabila anda hanya memikirkan kalimat tersebut, maka anda akan memuji kebijaksanaan penulis kalimat tersebut dan menerima kalimat tersebut sebagai keenaran. Benarkah demikian? Sekali lagi, tanpa mengurangi rasa hormat kepada penulis kalimat tersebut, namun inilah contoh orang yang berpikir tanpa belajar, BERBAHAYA. Dia menggunakan penilaiannya (Judgement) sendiri sebagai standar kebenaran, dia hanya menggunakan penilaian manusia (orang banyak) sebagai standar kebenaran. Kalau orang ini, selain berpikir juga mau belajar, maka dia akan mengetahui bahwa kalimat yang ditulisnya tersebut bertentangan dengan ajaran sejati Alkitab. orang yang berpikir tanpa belajar, BERBAHAYA, karena dia akan memahami ajaran palsu sebagai kebenaran.

Katekismus adalah ringkasan penjelasan pokok-pokok ajaran Alkitab. Saat ini, banyak gereja yang mengabaikan penggunaan Katekismus sebagai bahan pelajaran katekisasi dan banyak orang Kristen yang menganggap enteng pelajaran-pelajaran dalam Katekismus. Hal ini mengakibatkan banyak sekali orang Kristen yang tidak memiliki pemahaman yang benar akan Alkitab walaupun sudah bertahun-tahun belajar Alkitab, bahkan tidak jarang terjadi, para Sarjana Theologia yang sudah berkotbah selama bertahun-tahun akhirnya ketahuan, tidak memiliki pemahaman akan iman Kristen yang benar.

Katekismus mengajarkan bahwa hukum-hukum di dalam Alkitab dapat dibedakan menjadi: Hukum moral, hukum masyarakat dan tata ibadah. Hukum masyarakat dan tata ibadah hanya diperuntukan bagi bangsa Israel, namun hukum moral diperuntukan bagi umat manusia sepanjang zaman. Ke 10 hukum moral itu disebut Sepuluh Perintah Allah. Yesus meringkas ke Sepuluh Perintah Allah menjadi dua hukum yaitu, pertama, Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Kedua, Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Mengasihi Allah dengan segenap hati meliputi 4 perintah dari Sepuluh Perintah Allah yaitu: Perintah pertama, tentang obyek penyembahan sejati, hanya Allah yang hidup dan benar, tidak ada yang lain yang boleh disembah dan dilayani oleh manusia. Perintah kedua, tentang cara menyembah Allah yang benar. Perintah ketiga, tentang sikap yang benar ketika menyembah Allah. Perintah keempat, tentang waktu yang benar untuk menyembah Allah.

Mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri meliputi 6 perintah dari Sepuluh Perintah Allah yaitu: Perintah kelima, tentang menghormati orang tua. Perintah keenam, tentang tidak boleh membunuh siapapun. Perintah ketujuh, tentang tidak boleh berzinah. Perintah kedelapan, tentang tidak boleh mencuri milik orang lain. Perintah kesembilan, tentang tidak boleh bersaksi dusta. Perintah kesepuluh, tentang keharusan manusia untuk menjaga kesucian dan ketulusan hatinya dalam menjalankan perintah pertama hingga kesembilan. Di dalam perintah kesepuluh ini Allah menuntut manusia untuk menjalankan perintah pertama hingga kesembilan secara lahiriah dan batiniah.

Sepuluh Perintah Allah ini mengikat seluruh umat manusia sepanjang sejarah, termasuk di dalamnya umat Kristinani. Mengingat pentingnya Sepuluh Perintah, maka Allah secara pribadi menuliskannya di dua loh batu lalu diberikan kepada Musa. Untuk berkenan kepada Allah, maka semua manusia harus menaati Sepuluh Perintah Allah. Kematian Yesus di atas kayu salib, kebangkitanNya pada hari ketiga, kenaikanNya ke surga pada hari keempat puluh, turunnya Roh Kudus pada hari kelima puluh tidak meniadakan Sepuluh Perintah Allah juga tidak meniadakan kewajiban manusia untuk menaatinya.

Allah menuntut manusia untuk HANYA menyembahNya, tidak boleh menyembah yang lain, menyembahNya dengan CARA, SIKAP dan pada WAKTU yang benar. Masih beranikah anda berpendapat, Tuhan menguji hati, bukan menguji tempat ibadah, cara beribadah, cara ber-liturgi…??? Saya benar-benar tidak berani, terserah anda.

Advertisements

2 thoughts on “Belajar Tanpa Berpikir, Sia-sia

  1. bagus sekali analisa anda. saya sangat setuju dgn anda.
    itu mengapa al quran mengisahkan orang2 yg hanya menikitu hawanafsunya, dia akan sesat selama lamanya.
    semoga kita selamat didunia dan akhirat.
    ” berfikir tanpa belajar, BERBAHAYA….
    belajar tanpa berfikir, SIA SIA…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s