Bercerai Dalam Nama Allah


BERCERAI. Umumnya para pengkotbah mengajarkannya sebagai perbuatan dosa dan kebanyakan orang Kristen meyakininya sebagai dosa. Bagaimana orang Kristen harus menyikapi perceraian dan memperlakukan orang-orang Kristen yang bercerai? Di dalam Sepuluh Perintah Allah, tidak ada perintah, “JANGAN BERCERAI.” Pada jaman Perjanjian Lama, Musa mengizinkan perceraian asal suami memberikan surat cerai kepada istri yang diceraikannya. Yesus Kristus mengizinkan seorang suami menceraikan istrinya yang berzinah. Paulus mengizinkan perceraian dengan orang yang tidak seiman, bila suami atau istri yang tidak seiman itu menghendakinya.

Hampir semua orang memasuki perkawinan dengan harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih bahagia dan 20 tahun terakhir ini, kebanyakan orang menikah dengan pasangannya secara sukarela, atas dasar saling mencintai. Buku-buku Kristen yang membahas tentang kehidupan perkawinan yang penuh kemenangan jumlahnya terus bertambah. Seminar pembinaan pranikah di gereja-gereja semakin canggih, para pembinanya semakin ahli. Tingkat pendidikan para jemaat juga semakin tinggi. Dengan kondisi seperti itu, seharusnya peluang suami istri Kristen yang menikah dalam 20 tahun terakhir ini untuk menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia lebih baik dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Namun, nampaknya, yang terjadi adalah hal sebaliknya. Persentase suami istri Kristen yang bercerai dewasa ini justru meningkat begitupun dengan jumlah keluarga Kristen yang walaupun tidak bercerai namun terpaksa menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh kepahitan, saling menyalahkan bahkan saling menyakiti.

Berdasarkan pengamatan saya selama ini, Kebanyakan suami istri yang bermasalah senantiasa menjadikan gereja sebagai tempat terakhir untuk mencari pertolongan dan pendeta sebagai orang terakhir yang diajak diskusi, bahkan, umumnya mereka datang ke pendeta bukan untuk minta bantuan, tetapi meminta izin untuk bercerai. Saya bukan aktivis gereja, bahkan di mata banyak teman-teman Kristen, penampilan dan pergaulan saya cukup bagi mereka untuk menuduhnya sebagai prilaku orang Kristen duniawi.

Bagi teman-teman, dalam masa-masa kelimpahan, saya adalah orang terakhir yang dicari, namun ketika selingkuh, ketika merencanakan perceraian, saya adalah orang yang dicari sebelum mereka menghadap para hamba Tuhan. Ketika saya menasehati orang-orang ini untuk mencari pertolongan kepada pendetanya, kebanyakan mereka tertawa dan bilang, “pendeta paling akan menasehati untuk sabar, berdoalah kepada Tuhan, berimanlah, Tuhan pasti buka jalan!” Lebih lanjut mereka akan menambahkan, bahwa hal itulah yang mereka lakukan selama ini tanpa hasil. Di masa kelimpahan orang-orang Kristen menyaksikan kemenangannya di gereja, di masa-masa paling gelap dalam kehidupannya, orang-orang Kristen berpaling pada dunia untuk mencari pertolongan, bahkan dukungan. Kenapa hal demikian terjadi?

Mungkin, karena di kebanyakan gereja, para pengkotbah mengajarkan, bahwa kehidupan Kristiani adalah kehidupan yang penuh kemenangan, gereja adalah tempat berkumpulnya para pemenang, para putera raja yang hidup berkelimpahan dan penuh kemenangan. Para pecundang tidak berhak menyebut dirinya putera raja, sebab mereka adalah budak-budak iblis yang ada di bawah kuasa iblis dan roh-roh jahatnya. Anda pernah melihat seorang pecundang bersaksi di atas mimbar? Dia menyaksikan kemiskinannya, kegagalan-kegagalannya, kerja kerasnya dan dia menjalani semuanya dengan tabah, karena yakin, itulah jalan yang harus dilaluinya selama ini dan dia tetap akan menjalaninya dengan tabah bila harus melaluinya hingga mati, namun sebagai orang Kristen, dia berkewajiban untuk mengusahakan talenta yang Tuhan berikan kepadanya. Saya sudah sering mendengar kesaksian demikian secara pribadi, namun belum pernah mendengarnya disaksikan dari mimbar gereja.

Firman Tuhan tentang perceraian sangat jelas dan tegas.

Lalu kata-Nya kepada mereka: “Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Markus 10:11

Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah.” Markus 10:12

Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya. I Korintus 7:11

Menurut saya, bercerai bukan dosa, namun apa yang dilakukan setelah bercerailah yang menentukan anda berdosa atau tidak. Silahkan bercerai bila anda menganggap itu adalah langkah terakhir untuk menyelamatkan perkawinan anda. Bercerailah, lalu mulailah membina diri, ketika anda merasa siap, mulailah dari awal lagi, anda pernah memenangkannya sekali dan peluang anda untuk menang lagi sekarang jauh lebih besar. Ketika anda cerai, anda tahu kenapa anda menang dulu dan kenapa kalah sekarang. Ketika anda memulainya lagi, anda adalah seorang pemenang yang pernah kalah namun telah membina diri. Saya menyebut perceraian demikian sebagai, Bercerai Dalam Nama Allah, dalam bahasa sehari-hari saya menyebutnya, Mengalah Untuk Menang.

Kenapa Yesus Kristus MERESTUI lelaki menceraikan istrinya yang berzinah, namun tidak pernah menyebutkan istri yang menceraikan suaminya yang berzinah?

Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.” Matius 19:9

Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah.” Lukas 16:18

Lalu kata-Nya kepada mereka: “Barang siapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Markus 10:11

Apakah Yesus Kristus pilih kasih, berpihak kepada lelaki? Suami selingkuh, istri harus sabar, istri selingkuh, langsung diganjar cerai dan sang suami dengan bebas mencari penggantinya? Sungguh tidak adil dan berat sebelah! Saya ingat, beberapa tahun yang lalu mendiskusikan ketidak adilan tersebut dengan beberapa orang pendeta, mereka memberikan jawaban yang panjang, namun bisa disimpulkan dalam tiga kata, “ITULAH FIRMAN TUHAN,” kemudian mereka menambahkan, bahwa saya harus menaatinya tanpa kecuali, seperti Ayub menaati Tuhan. Saya juga pernah mendiskusikan hal itu dengan beberapa orang teman yang sarjana Theologia. Setelah lama berdiskusi, akhirnya kebanyakan dari mereka justru menyuruhku untuk melakukan penelitian sendiri.

Ini bukan hasil penelitian ilmiah, namun hanya pengamatan yang dilakukan di sela-sela waktu luang. Istri-istri selingkuh yang saya kenal, merasa terheran-heran ketika saya mengajukan pertanyaan yang harus dijawab dengan “ya” atau “tidak”.

“Semakin sering selingkuh dengan kekasihmu, rasa bersalah itu semakin hilang, sebagai gantinya, ketika bersetubuh dengan suamimu, engkau justru merasa telah berkhianat kepada kekasihmu?”

Pada awalnya, jawaban-jawaban “ya” membuat saya heran, lalu membuat saya menyimpulkan, bahwa wanita adalah makluk yang benar-benar sadis dan mengerikan. Ini hanya salah satu contoh, Pangeran Charles hanya selingkuh dengan satu wanita, namun Lady Dy? Umumnya seorang suami yang selingkuh, dia melakukannya demi melampiaskan nafsu birahi, tanpa komitmen sama sekali kepada selingkuhannya. Kebanyakan istri yang selingkuh, dia melakukannya demi cinta dan melakukannya dengan segenap hati. Alasan kenapa mereka tidak meninggalkan suaminya adalah karena kekasihnya tidak mau komitmen atau karena pertimbangan ekonomi. Pengamatan inilah yang mendorong saya untuk melakukan penelitian Alkitab sehingga melahirkan tulisan Birahi Wanita untuk membacanya, silahkan klik di sini.

Kenapa Yesus Kristus MERESTUI lelaki menceraikan istrinya yang berzinah, namun tidak pernah menyebutkan istri yang menceraikan suaminya yang berzinah? Hingga saat ini, bagi saya pribadi, alasan tersebut di atas cukup memuaskan. Apabila anda tidak setuju, silahkan mencari jawaban lainnya.

Beberapa orang teman yang mendapati istrinya selingkuh bertanya kepada saya, apa yang harus dilakukan? Bahkan beberapa di antaranya mengatakan, bahwa istrinya memaksa minta cerai. Tidak ada satu jawaban untuk semua teman-teman tersebut, karena kasusnya sangat unik, satu dengan lainnya sangat berbeda. Namun, saya tetap pada kayakinan saya, bahwa perceraian adalah langkah terakhir untuk menyelamatkan perkawinan. Apabila anda memiliki pendapat lain, silahkan dinyatakan agar saya dan para pembaca lainnya dapat mengetahuinya.

Bagaimana Nasib Istri Yang Diceraikan Suaminya Yang Telah Kawin Lagi?

Apakah seorang istri yang telah diceraikan oleh suaminya yang telah menikah lagi boleh menikah lagi? Apakah lelaki Kristen boleh menikahi janda yang mantan suaminya telah menikah?

Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah.” Lukas 16:18

Lalu kata-Nya kepada mereka: “Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Markus 10:11

Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.” Matius 19:9

Ketiga ayat tersebut di atas mencatat peristiwa sama, namun baik Matius, Markus maupun Lukas mencatatnya dengan penekanan yang berbeda. Penulis Katekismus mengajarkan, bila kita tidak mampu memahami sebuah ayat, maka kita harus mencari ayat-ayat lain dengan thema yang sama untuk memahami ayat tersebut. Hingga saat ini saya belum menemukan ayat-ayat lain yang dapat menjelaskan ayat Lukas 16:18 tersebut di atas. Bila saya berkeras menyatakan pendapat saya, maka itu tetap saja pendapat saya pribadi, orang-orang Kristen yang lain, mungkin memiliki pendapat yang berbeda, bahkan mungkin ada yang sudah memahaminya dengan baik. Karena hingga saat ini belum ada janda yang ditinggal kawin lagi oleh suaminya bertanya kepada saya, maka itu berarti masih ada waktu bagi saya untuk belajar sebelum mengajar. Jadi, silahkan anda semua yang membaca tulisan ini untuk menyatakan pendapatnya setelah mempelajari thema ini dengan baik.

Kesimpulan

Untuk mencegah perceraian tidak cukup hanya dilakukan dengan mengajarkan, bahwa apa yang sudah dipersatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan manusia. Semua suami istri Kristen yang menikah di gereja pasti telah mengetahui hal itu. Menakut-nakuti atau mengiming-imingi tidak akan menyelesaikan masalah, mereka harus diajak selangkah demi selangkah melihat masalah mereka dan menyelesaikannya selangkah demi selangkah.

Perceraian adalah langkah terakhir untuk menyelamatkan perkawinan, bila hal itu tidak dapat dicapai, maka biarlah langkah itu diambil demi menghindarkan suami istri hidup saling menyakiti. Bila suami istri hidup saling menyakiti, mustahil tidak menyakiti anak-anaknya. Tentu saja ini hanya pendapat pribadi hai, bila anda punya pendapat lain, kenapa tidak diungkapkan?

Advertisements

32 thoughts on “Bercerai Dalam Nama Allah

  1. Shalom koh Hai.. Saya sudah baca artikel nya dan bsa nambah pengatahuan.. ada satu kasus abng sepupu saya yg pernikahannya udah mau cerai.. kasusnya simpel, istrinya berat sebelah dengan keluaga si cowok dan pernah berantam istri abng sepupu saya dengan mamah nya abang sepupu saya sampai jambak-jambakan.. dan abng sepupu saya mw menceraikan istrinya karena mamahnya telah dijambak.. yg saya tanyakan sama koh Hai, apakah langkah abng sepupu saya tepat untuk menceraikan istrinya itu.. di firman Tuhan mengatakan pada Titah ke 5 : ” Hormatilah ayah dan ibumu supaya lanjut umurmu di bumi dan diberikan Allah kepadamu”.. dan saya mau tanya koh Hai klo mw cerai ke pengadilan agama kan harus ada Akta Nikah dan lucunya akta nikah Abng sepupu saya g ada Dan KTP nya pun sttsnya Belum nikah.. gimana penyelasainnya koh.?? Kamsia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s