Di Seberang Langit Biru


Rasa sedih ketika ditinggalkan orang yang disayangi tidak ditentukan oleh tujuan orang itu pergi dan apa yang dikatakannya ketika mau pergi. Kesedihan itu muncul begitu saja di hati, itu sebabnya dikatakan bahwa kesedihan adalah masalah hati, bukan akal. Manusia dengan akal dapat mengendalikan rasa sedih namun tidak dapat mencegahnya muncul atau mengenyahkannya.

Ketika ditinggal mati oleh orang yang disayangi, semua orang merasa sedih. Kesedihan ditinggal mati orang yang disayangi sangat unik dan berbeda dengan kesedihan-kesedihan lainnya. Ketika ditinggal mati orang yang disayangi, tidak muncul perasaan marah, dikhianati, ditolak, direndahkan, dihina. Alasan almarhum meninggalkan kita bukan karena tidak membutuhkan kita lagi, tidak mencintai kita lagi atau menemukan seseorang atau sesuatu yang lebih berharga, menemukan cinta lain yang lebih indah, tetapi semata hanya karena waktunya sudah tiba.

Ketika ditinggal mati orang yang disayangi, muncul perasaan tidak berdaya karena tahu tidak ada kekuatan apapun yang dapat mencegahnya. Ada perasaan putus asa karena tahu seumur hidup takkan pernah bertemu dan berinteraksi lagi dengan almarhum. Ada perasaan haru yang trenyuh. Bagi sebagian orang, muncul samar-samar pertanyaan dalam hati, “Apa yang akan terjadi dengan almarhum setelah ini? Bagaimana dia akan melewati waktu-waktu selanjutnya?” Muncul rasa takut yang suci, kesadaran yang pasrah bahwa suatu saat kita juga akan mati. Ada perasaan bersalah karena merasa belum memberikan yang terbaik bagi almarhum, belum berbuat maksimal untuk mencegah kematian yang menjemputnya, belum berbuat maksimal untuk menyatakan rasa sayang kita baik secara perbuatan maupun perkataan dan tidak ada kesempatan lagi. Ada perasaan bersalah dan jengkel, karena merasa almarhum pantas mendapatkan cinta yang lebih besar dari kita dan dunia sebelum dia meninggalkan dunia ini. Perasaan sedih ditinggal mati orang yang disayangi, sulit dijelaskan apalagi untuk dimengerti, hanya orang-orang yang pernah mengalaminya dapat benar-benar mengerti perasaan ini.

Ketika berhadapan dengan jenasah almarhum yang kita sayangi, muncul perasaan hambar yang mistik. Perasaan ini membuat bingung, bagaimana harus memperlakukan almarhum. Ada perasaan gentar yang asing, walau mengenali wajah dan sosoknya dengan baik, tetapi dia telah menjadi seseorang yang asing, bahkan sesuatu yang asing. Kita tak dapat lagi merasakan dirinya apalagi cintanya. Kita merasa gentar dan tidak nyaman untuk memperlakukannya seolah-olah dia masih hidup dan merasa tidak tega dan tidak pantas bila memperlakukan dia seolah-olah benda mati atau bangkai binatang.

Perasaan ketika ditinggal mati orang yang disayangi sangat dasyat. Begitu dasyatnya perasaan ini sehingga banyak orang yang tidak mampu untuk menyalurkannya dengan wajar. Orang-orang demikian mungkin nampak tenang dan tak terpengaruh namun dengan berlalunya waktu, perasaan itu akan muncul kepermukaan, bahkan meledak. Contohnya aku, ketika ditinggal mati salah satu adikku, empat hari kemudian baru perasaanku meledak nggak karu-karuan, sulit dikendalikan.

Para nabi Tiongkok kuno memahami perasaan dasyat tersebut dengan baik, maka dengan bimbingan Tian (Allah), mereka membuat pedoman bagaimana memperlakukan almarhum dan bagaimana mengungkapkan perasaan tanpa melanggar Jalan Suci Allah.

Setiap hari kita membaca tentang orang mati di media masa, mendengar tentang orang mati dan menonton di televisi berita-berita tentang orang mati. Semua berita kematian itu, walau membangkitkan rasa kasihan, namun tidak menyakitkan, karena kita tidak memiliki hubungan dengan orang-orang yang mati itu, tidak ada ikatan cintakasih.

Seorang ibu merasa sedih ketika melepas anaknya pergi sekolah ke luar negeri. Percuma menghibur, mengatakan sekolah ke luar negeri itu demi masa depan anaknya, sebab dia sudah tahu tujuan anaknya pergi dan kenapa anaknya pergi dan untuk berapa lama mereka berpisah. Seorang istri merasa sedih harus berpisah dengan suaminya yang ke kota lain untuk memangku jabatan yang lebih tinggi. Walaupun tahu itu hanya untuk sementara, dan demi kebaikan semua, tetap saja dia merasa sedih ketika suaminya pergi. Ketika rindu tak tertahankan, mungkin dia akan memeluk dan membelai barang-barang pribadi suaminya, atau sekedar memasak makanan-makanan kesukaan sang suami dan membayangkan memakannya bersama-sama. Setahuku, banyak istri melakukan itu dan tak ada yang salah dengan hal itu, itu hal yang wajar.

Ketika Yakub menerima berita kematian Yusuf anaknya, dia berkabung berhari-hari, bahkan Yakub bilang akan berkabung sampai mati. Apakah Yakub kurang iman? Apakah Yakub tidak yakin, bahwa kalaupun benar Yusuf mati, akan masuk surga?

Tidak merasa sedih, malah senang ketika ditinggal mati mamanya? APA HEBATNYA? Mungkin, begitu sedihnya sehingga tidak dapat menyalurkan kesedihannya dengan wajar? Mungkin pula memang tidak ada ikatan cintakasih antara keduanya? Kalau benar setiap orang Kristen merasa senang ketika ditinggal mati sanak saudaranya, kenapa dewasa ini begitu banyak orang Kristen yang ketika sakit, dengan penuh semangat berdoa agar sembuh? Dengan penuh semangat tengking sana tengking seni agar sembuh? Merasa sedih ketika ditinggal mati orang yang disayangi, tidak berhubungan dengan kemana orang itu pergi, itu adalah perasaan wajar manusia. Mungkin yang harus dilakukan adalah mengatur agar ungkapan rasa duka itu dilakukan dengan wajar. Menurutku, menjadi pemimpin pujian di gereja, padahal mamanya baru meninggal malam harinya, tidak wajar dan terlalu dipaksakan! Nggak bagus dilihat orang lain! Dilihat oleh orang Kristen yang paling rohani sekalipun!

Aku punya 6 orang adik, 3 perempuan, 3 laki-laki. Salah seorang adik perempuanku orang Kristen yang baik, meninggal pada usia 37 tahun, setelah menderita sakit dan kesakitan selama 17 tahun. Selama sakit dia tidak pernah menyalahkan Allah bahkan terus memuliakan Allah. Ia meninggal tepat hari tahun baru imlek, aku sendiri lahir pas tahun baru imlek. Aku mengasihinya sebab dia adikku dan menghormatinya karena ketabahannya menghadapi kesulitan hidup dan ketakwaannya kepada Allah.

Pagi itu adikku berkata kepada mamaku yang menjaganya di rumah sakit, “Aku mau tidur!” Setelah tidur dia tak pernah bangun lagi. Ketika mendorong jenazah adikku ke ruang jenazah, aku mendengar mamaku meratap, “dia bohong sama mama! Kenapa bohong sama mama? Kalau mau pergi, bilang pergi, kenapa harus bohong? Kenapa bilang mau tidur?”

Mamaku adalah seorang wanita cerdas dan tabah, selama 17 tahun, dia menjaga setiap adikku kambuh penyakitnya. Selama 17 tahun, dia menangis diam-diam di hadapan Allah. Selama 17 tahun, dia menanggung sendiri semua kesedihannya. Selama 17 tahun, tanpa daya dia melihat anaknya kesakitan dan menahan rasa sakit. Mamaku adalah seorang wanita beriman yang tabah.

Suatu hari mamaku berkata, mendapat panggilan untuk menjadi orang Kristen. Beberapa saat setelah menguji hatinya dan yakin dengan panggilannya, ia menurunkan semua peralatan sembahyang dari altar, membungkusnya dengan rapih dan menyimpannya dalam lemari. Setahun kemudian, dia mengadakan perjalanan ke kampungku dan mengembalikan semua peralatan sembahyang tersebut ke klenteng darimana peralatan sembahyang itu dia dapat. Di hadapan banyak saksi, kepada roh-roh yang dipuja di klenteng itu, dia menyalakan hio dan berkata kira-kira begini, “Aku terpanggil untuk menyembah Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus. Aku mendapatkan barang-barang ini baik-baik, aku mengembalikannya baik-baik. Setelah ini, tidak ada hubungan dan tidak ada hutang piutang lagi di antara kita, terima kasih!” Banyak orang Kristen bilang apa yang dilakukannya salah, banyak orang bilang itu sebabnya anak terkasihnya sakit tak tersembuhkan. Ketika dia bertanya padaku, apakah yang dilakukannya salah? Aku berkata, “kalau bisa menyelesaikan masalah dengan santun, kenapa harus melakukannya dengan kasar? Bila tak menghormati yang roh, setidaknya harus menghormati yang hidup”

Sebagai orang Kristen kami percaya kemana adikku pergi setelah meninggal. Sebagai seorang ibu yang menyayangi anaknya, mamaku tahu, meninggal adalah pilihan terbaik bagi adikku, daripada sepanjang hidup menahan rasa sakit. Sebagai orang beriman, mamaku bukannya tidak beriman bahwa Allah sanggup menyembuhkan adikku, selama bertahun-tahun mamaku memohon agar adikku disembuhkan. Sebagai orang beriman kami pasrah akan kehendak Allah, namun sebagai orang beriman pula kami tidak menyerah untuk terus berusaha mencari pengobatan dan membujuk Allah.

Dua tahun lebih kami mempersiapkan diri menghadapi hari perpisahan itu. Selama itu, kami pikir kami telah siap menghadapi hari itu, namun ketika hari itu benar-benar datang, tak seorangpun yang siap menghadapinya. Hari itu sudah berlalu 4 tahun, hingga hari ini aku masih sering merindukan adikku itu, mungkin, sepanjang hidupku aku akan merindukannya. Ada saat-saat tertentu, aku begitu merindukannya, sehingga sering aku berkata sambil menatap ke langit.

“Hei, apa gua bilang, negeri di seberang langit biru itu indah kan? Di sana daun-daun nggak pernah layu, langit selalu biru. Kadang gua suka ngiri, lu udah happy di sana sedang gua masih harus belajar. Hei, enjoy your life! Di sini semua ok-ok aja, kalau lagi ngumpul, kita suka kangen sama lu. Gua sering bertanya-tanya, kapan ya kita ketemu lagi?”

Aku tak tahu apakah adikku dapat mendengar kata-kataku itu, sering terpikir, kalau suara dari neraka dapat terdengar di surga, mungkin suara dari dunia terdengar juga? Yang aku tahu adalah aku merindukannya walau telah 4 tahun berpisah, dan mungkin aku akan merindukannya seumur hidupku. Berbicara kepadanya adalah caraku untuk melepas rindu. Aku tak pernah ke makamnya, sejak menguburkan jasadnya karena merasa nggak tega membayangkan jasadnya terkubur di bawah tanah, lebih mudah mengingat rohnya pergi ke negeri di seberang langit biru, untuk sebuah nama yang lebih baik, aku menyebutnya surga.

Khusus untuk Raissa Eka Fedora, sahabat kecilku.

Advertisements

12 thoughts on “Di Seberang Langit Biru

  1. Sangat menyentuh. Membayangkan kehilangan seseorang yg kita kasihi saja sudah membuat mata berkaca-kaca, apalagi mengalaminya sendiri.Trims Koh atas share-nya.

    • sijoni, seperti yang saya tulis. Apa yang anda pahami menjadi tidak berarti ketika anda menghadapinya sendiri. Persiapkan diri anda untuk menghadapi hal demikian namun ketahuilah bahwa kita tidak pernah SIAP menghadapinya. Kematian. …..

  2. Sy ingin bertanya koh,begini kenapa ya semenjak m2h pergi sy tdk pernah memimpikan dia,sedangkan adik dan suami sy sudah pernah memimpikannya,jujur ingin sekali sy bermimpi bertemu dngnya? Dan 1 lg m2h (m2h angkat sy) bukan kristen apakah nanti bila waktunya tiba sy bisa bertemu kembali dngnya?? Bagi sy dia benar2 sudah jd m2h kandung,karena sy diambil sejak sy msih berumur 3bln dlm kandungan jd biaya kelahiran sy pun ditanggung olehnya,menurut sy dia org yg sabar dan baik koh.

  3. Wew ngelamun?? Ngga ah takut kesambet…^^

    koh sy bisa ketemu lg dgn m2h tidak yah nanti,dinegri seberang langit biru? šŸ™‚

    • Kesambet? Mimpi aja nggak kesambet apalagi ngelamun? Mey, hubungan dengan almarhum itu sama dengan hubungan dengan yang masih hidup. Nggak perlu direkayasa. Bila memang nggak kangen ya nggak apa-apa.

  4. Kesambet=kasurupan šŸ˜€

    jd kalo ga memimpikan almarhum itu teh tandanya ga kangen ya?….tp kdng2 sy kangen,atau apa almarhum nya yg ga kangen ya? šŸ˜¦

    • Mey Weh, nggak setiap kali kamu kangen dengan seseorang lalu memimpikannya bukan? Almarhum? Kita nggak tahu. blom pernah ngobrol dengan para almarhum. Ha ha ha ha ha …

  5. Jd bertanya2 lg…..hmmm apakah bila waktunya nanti tiba,dpt kah kiranya aku sampai di negeri seberang langit biru itu ya? Kok jd rindu gene seh koh sprti rindu nya seseorg pd kampung halamannya getu? šŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s