Khonghucu Agama Atau Kebudayaan?


Khonghucu adalah kebudayaan atau agama? Banyak orang bilang, menjadikan Khonghucu agama ibarat memaksa balon besar masuk ke kotak yang kekecilan sehingga harus dikempeskan dulu supaya muat.

I. DEFINISI AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Berikut ini adalah definisi kebudayaan dan agama yang tercatat dalam kamus bahasa Indonesia yang disusun oleh W.J.S. Poerwadarminta.

KEBUDAYAAN adalah peradaban manusia atau hasil kegiatan dan penciptaan batin dan akal budi manusia yang meliputi KEPERCAYAAN, kesenian, adat istiadat dan ilmu pengetahuan.

AGAMA adalah segenap kepercayaan (kepada Tuhan, Dewa dsb) serta dengan ajaran kebaktian dan KEWAJIBAN-KEWAJIBAN yang bertalian dengan kepercayaan itu.

II. KEBUDAYAAN LEBIH AGUNG DARI AGAMA

Mereka yang berpendapat “Menjadikan Khonghucu sebagai agama berarti mengurangi keagungan ajaran Khonghucu,” melandaskan kesimpulannya pada definisi AGAMA dan KEBUDAYAAN tersebut di atas. Menurut mereka, AGAMA adalah bagian dari kebudayaan. Mengakui Khonghucu sebagai agama, berarti hanya mengambil satu unsur dari empat unsur yang dimiliki kebudayaan Khonghucu. Mengakui Konghucu sebagai agama, berarti menutup akses bagi orang-orang bukan pemeluk agama Khonghucu.

Kitab Sisu (kitab yang empat) dan Wujing (lima kitab) diakui sebagai kitab suci agama Khonghucu. Kanonisasi (mengumpulkan dan menyeleksi) kitab-kitab tersebut pertama kali dilakukan oleh Kongzi (Khonghucu). Apabila Khonghucu bukan agama, apakah kesembilan kitab tersebut akan dibaca oleh lebih banyak orang? Belum ada penelitian mengenai hal itu, namun berdasarkan pengamatan pribadi, kusimpulkan bahwa dewasa ini jarang sekali orang mempelajari ajaran Kongzi dengan mempelajari kitab Sisu dan Wujing. Hal itu bukan karena kesembilan kitab tersebut diakui sebagai kitab suci umat Konghucu, juga bukan karena ketidak mampuan berbahasa mandarin, tetapi karena terlalu memandang enteng ajaran Khonghucu. Orang-orang demikian tidak menyangka bahwa ajaran Khonghucu adalah salah satu ajaran paling agung di dunia ini yang harus dipelajari secara serius untuk dapat memahaminya.

Saya sering sekali bertemu dengan orang-orang yang setelah membaca bab “Agama Khong Hu Cu” dari buku “Agama-Agama Manusia” yang ditulis oleh Huston Smith yang edisi bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia, langsung mengklaim dirinya mengerti tentang agama Khonghucu. Berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari buku tersebut, mereka menghakimi agama Khonghucu, bahkan yang paling nekad malah menulis buku dan memberikan seminar dari mimbar ke mimbar. Sungguh memalukan dan tidak masuk akal.

Walaupun ajaran Khonghucu selama ribuan tahun dijadikan ajaran resmi Negara, namun Kebudayaan Tiongkok kuno jelas jauh lebih luas daripada ajaran Khonghucu. Ajaran Khonghucu adalah bagian kebudayaan Tiongkok kuno, namun kebudayaan Tiongkok kuno tidak terbatas hanya pada ajaran Khonghucu. Di luar Khonghucu, masih banyak guru agung lainnya dengan ajaran-ajaran yang sama agungnya. Dua tokoh yang paling berpengaruh adalah Laozi dengan kitab Dao De Jing dan Mozi dengan kitab Mozi.

Menganggap Khonghucu sebagai agama jelas tidak menutup akses untuk mempelajari ajaran Khonghucu, tetapi justru meningkatkan sistematika pembelajarannya.

KEBUDAYAAN adalah peradaban manusia atau hasil kegiatan dan penciptaan batin dan akal budi manusia yang meliputi KEPERCAYAAN, kesenian, adat istiadat dan ilmu pengetahuan.

AGAMA adalah segenap kepercayaan (kepada Tuhan, Dewa dsb) serta dengan ajaran kebaktian dan KEWAJIBAN-KEWAJIBAN yang bertalian dengan kepercayaan itu.

Coba perhatikan kedua definisi tersebut di atas. Di mata seorang budayawan, Agama adalah bagian dari kebudayaan. Di mata seorang Agamawan, Kebudayaan adalah bagian dari ibadah. Di jaman kuno, agama dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan. Kebudayaan adalah agama dan agama adalah kebudayaan. Pemisahan antara kebudayaan dan agama baru terjadi di jaman modern ini.

III. KHONGHUCU DI MATA KONGZI

Apakah Khonghucu adalah KEBUDAYAAN atau AGAMA? Siapa yang paling berhak menentukan? Menurutku yang paling berhak menentukan adalah Kongzi (Khonghucu) sendiri. Apakah Khonghucu di mata Kongzi adalah agama atau kebudayaan? Mari kita perhatikan ayat-ayat dalam kitab Liji VII – Liyun (Gerak Perkembagan Kesusilaan) di bawah ini.

Yanyan kembali bertanya, “Demikian pentingkah Li (kesusilaan) itu?” Kongzi berkata, “Li digunakan oleh para raja terdahulu untuk menempuh jalan Tian (Tiandao). Untuk mengendalikan hati manusia. Yang melanggar akan mati. Yang menaati akan hidup. Pepatah mengatakan, “Tikus punya tubuh, manusia tidak punya Li. Manusia yang tidak punya Li, kenapa tidak lekas mati?” Sesungguhnya Li pasti berpokok pada Tian dan menjadi nyata di dalam Di guna memuliakan Guishen. Meliputi perkabungan, sembahyang korban, lomba memanah, lomba kereta, upacara mengenakan topi, perkawinan, audiensi dan hubungan diplomatik. Karena sejak dulu para nabi menjalankan Li di kolong langit ini negara dan keluarga menerima kebajikan dan kebenaran serta keadilan. Liji VII:I:4 – Liyun

Bila ada yang meninggal, orang naik ke atap rumah dan berteriak memanggil berkali-kali. Setelah itu, mereka menyertakan nasi dan daging serta memakaikan pakaian. Menghadap Tian meninggalkan Di. Tubuh  dan nyawa turun ke bawah, sementara zhiqi (roh yang cerdas) naik ke atas. Jenasah dimakamkan di utara sementara orang hidup tinggal di selatan, di desa. Hal ini berlaku sejak purbakala. Liji VII:I:7 – Liyun

Para raja purbakala tidak memiliki istana dan kuil. Pada musim dingin mereka tinggal di dalam gua, dimusim semi tinggal di dalam sarang yang dibuat dari ranting dan dedaunan. Mereka belum mampu membuat dan memanfaatkan api, makan rerumputan dan buah-buahan mentah. Burung dan binatang liar dimakan dagingnya, diminum darahnya bahkan bulunyapun turut dimakan. Kain sutra dan rami belum ditemukan, mereka hanya menutupi tubuh dengan bulu dan kulit binatang. Liji VII:1:8 – Liyun

Kemudian muncullah Nabi yang mengajarkan cara membuat api dan memanfaatkannya; Melebur logam dan membuat peralatan dari tanah liat, membangun menara, rumah, istana dengan berbagai ruangan yang dilengkapi dengan jendela dan pintu, membangun mesin, memasak dengan cara memanggang, mengukus dan merebus, membuat minuman anggur dan mentega, menanam rami dan memelihara sutera, menenun kain rami dan sutra, merawat bayi dan menguburkan orang mati. Bersembahyang kepada Guishen (Maharoh) dan Shangdi  (Raja Segenap Raja) setiap awal bulan. Liji VII:1:9 – Liyun

Menurut saya, berdasarkan ayat-ayat tersebut di atas, Khonghucu di mata Kongzi adalah AGAMA.

VI. AGAMA dan KEBUDAYAAN MENURUT KITAB SUCI LAIN

Alkitab mencatat:

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1:28

TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Kejadian 2:15

Apabila kita mempelajari kitab Weda, Tripitaka dan Alquran maka kita akan menemukan ayat-ayat yang membahas hal yang sama. Apakah ayat-ayat tersebut di atas sedang berbicara tentang agama atau kebudayaan? Menurutku ayat-ayat tersebut di atas sedang membicarakan keduanya, agama dan kebudayaan.

VI. NALURI AGAMA dan KEBUDAYAAN

Agama Khonghucu, Islam dan Kristen mengajarkan bahwa manusia adalah makluk paling mulia di jagad raya ini dan sang PENCIPTA adalah penguasa mutlak alam semesta.

Apa yang membedakan manusia dengan makluk-makluk lain di jagad raya ini? Manusia memiliki akal dan budi, kecerdasan dan hati nurani, manusia memiliki naluri budaya dan agama.

Naluri BUDAYA memungkinkan manusia untuk MENAKLUKAN alam dan berkuasa atas binatang dan tumbuhan, Alkitab mendefinisikannya dengan: MENGUSAHAKAN dan MEMELIHARA. Naluri AGAMA memungkinkan manusia untuk MENAKLUKAN diri kepada sang PENCIPTA, sang ADIKUASA.

Mustahil memisahkan naluri BUDAYA dan naluri AGAMA manusia. Naluri BUDAYA berkembang dalam wujud AKAL; Naluri AGAMA berkembang dalam wujud HATI NURANI. Apabila kebudayaan dikembangkan tanpa agama akan memuncak pada kehancuran. Apabila agama dikembangkan tanpa kebudayaan akan memuncak pada kehancuran. Apabila manusia hanya berusaha menaklukan alam tanpa pada waktu yang sama menaklukan diri pada sang PENCIPTA, akan memuncak pada kehancuran, apabila manusia menaklukan diri pada sang Pencipta tanpa berusaha menaklukan alam, itu berarti mengingkari perintah sang Pencipta dan akan memuncak pada kehancuran.

Teknologi adalah hasil kebudayaan. Bila teknologi digunakan tanpa menaklukan diri kepada sang Pencipta, maka akhirnya akan membawa kehancuran. Penggundulan hutan adalah contoh penggunaan teknologi tanpa menaklukan diri pada sang Pencipta, bila itu terus dilakukan maka akan memuncak pada penghancuran alam semesta dan manusia. Tahyul dan fanatisme adalah hasil agama tanpa mengembangkan kebudayaan, bila itu diteruskan maka akan membuat manusia bodoh dan hancur karena ditaklukan alam.

Agama yang baik harus mengajar manusia untuk MENAKLUKAN diri pada sang Pencipta dan MENGUSAHAKAN serta MEMELIHARA alam. Agama yang baik harus mengajar manusia untuk mengembangkan naluri BUDAYA dan naluri AGAMA secara harmonis.

Advertisements

3 thoughts on “Khonghucu Agama Atau Kebudayaan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s