Perceraian Di Mata Seorang Tionghoa Kristen


Bang Nelson, sayang sekali, setelah membaca ratusan buku, anda menjadi sombong, keras kepala dan merasa benar sendiri serta meremehkan orang lain. Ini hanya spekulasi, siapa tahu, setelah merasa diberkati Tuhan secara berkelimpahan, merasa Tuhan berbicara sendiri secara langsung kepada anda, menemukan sendiri kebenaran-kebenaran ajaran Alkitab dan kiat-kiat hidup berkelimpahan, anda mulai merasa sedikit erlalu percaya diri? Sekali lagi, ini hanya spekulasi, bukan menuduh, apalagi menghakimi. Sama sekali saya tidak berani.

Bang Nelson, saya hanya ingin memperkenalkan diri lebih lanjut kepada anda dan kepada teman-teman di sabdaspace. menurut para ahli, Alkitab selesai ditulis sekitar tahun 90 Masehi. Sejak Alkitab selesai ditulis hingga hari ini, telah berlalu + 1900 tahun. Jumlah orang Kristen sejak abad pertama hingga generasi ini, saya tidak tahu jumlah pastinya.

Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. Adakah sesuatu yang dapat dikatakan: “Lihatlah, ini baru!”? Tetapi itu sudah ada dulu, lama sebelum kita ada. Pengkotbah 1:9-10

Saya tidak tahu bagaimana anda memahami kedua ayat tersebut di atas. Saya suka pepatah, sebab bagi saya yang tahu diri saya nggak pinter, maka pepatah sangat membantu saya untuk mengingat. Ada pepatah, namun saya lupa siapa yang menulisnya, bunyinya adalah.

Orang pinter belajar dari pengalaman, orang bijaksana belajar dari pengalaman orang lain.

Saya mengenal diri sendiri, saya melihat peluangnya tipis bagi saya untuk menjadi orang pinter, namun saya menemukan peluang untuk menjadi orang bijaksana, maka sayapun mulai belajar dari pengalaman orang lain. Saya memulainya dengan pengalaman para nabi dan para rasul penulis Alkitab. Saya percaya, sebelum saya, sudah ada ribuan, mungkin ratusan ribu bahkan ratusan juta orang yang menghadapi masalah seperti yang saya hadapi. Mungkin fenomenanya berbeda dalam setiap generasi, namun esensinya tetap sama. Di antara orang-orang dari generasi sebelumnya, maupun dari generasi ini, pasti ada yang menuliskan pergumulan mereka sebagai orang Kristen. Nah, saya tinggal menemukan orang-orang demikian, yang dipakai oleh Tuhan untuk bergumul dan menuliskan kebenaran.

Seperti yang saya katakan, bang Nelson, saya orang Tionghua, dari suku Hokian, kakek saya adalah seorang petani di Tiongkok. Ketika menghadapi bencana kekeringan, banjir terutama tanah yang tidak subur, suatu hari dia mendengar bahwa bumi ini bulat, utara ada di atas dan selatan ada di bawah. Kakek saya bukan orang bodoh, dia hanya tidak pinter, maka dengan cara pikirnya yang sederhana, dia lalu mengajak dua orang sahabatnya untuk pergi ke selatan. Menurutnya, semua kesuburan tanah pasti sudah mengendap ke bawah, ke selatan. Dengan berbekal beberapa karung beras dan masing-masing sepotong ikan asin, maka kakek saya lalu menumpang kapal yang berlayar ke selatan. Ketika mendarat di Indonesia, mereka menemukan hal yang luar biasa, tanah yang subur loh jinawi. Ketika kakek saya meninggal, pada saat itu ayah saya baru berumur 2 tahun, dia berpesan kepada handai taulannya demikian, “Tanah yang memberi engkau makan, itulah negerimu, jagalah baik-baik.” Nenekku membesarkan ke 8 anaknya, 7 laki-laki dan 1 perempuan sebagai petani.

Sim sio dalam bahasa hokian artinya berpikir. Sim artinya hati, sio artinya berpikir. Ketika orang hokian berpikir dengan otaknya, dia juga menggunakan hatinya, ketika orang hokian merasakan dengan hatinya, dia juga berpikir dengan otaknya. Ajaran ini adalah sebuah ajaran yang agung. Ajaran ini bukan saja tidak bertentangan dengan ajaran Alkitab, namun sesuai dengan ajaran Alkitab.

Sejak kecil saya diajar untuk berpikir secara sederhana, untuk melihat fakta-fakta secara cermat, untuk mempertimbangkan segala sesuatu dengan hati dan akal. Sebenarnya, suku-suku bangsa di Indonesia juga telah mengajarkan hal yang sama sejak purbakala. Akal dapat dipisahkan dari budi, namun ketika berbicara tentang seorang ksatria, maka selalu digunakan kata akal budi. Budi pekerti adalah bukti lainnya. Ketika suku-suku lainnya menggunakan elang, gajah, harimau dan lainya sebagai simbol, orang-orang Batak justru menggunakan cecak sebagai simbol. Nah, sebagai seorang penyandang marga Panjaitan, menurut saya anda lebih pantas untuk menjelaskan ajaran agung di balik simbol cecak tersebut.

Dalam 9 tahun terakhir ini, cinta dan perceraian adalah salah satu hal yang paling banyak saya renungkan dan gumulkan. Dari perenungan-perenungan dan pengalaman pribadi dan teman-teman, lalu saya menuliskannya, beberapa di antaranya telah saya upload di blog ini, apabila anda membaca tulisan secara teliti, maka anda akan menemukan, bahwa hampir semuanya berbicara tentang cinta, berbagai bentuk cinta. Mungkin banyak pembaca yang kecewa, karena sistematika dan terutama gaya bahasa yang saya gunakan adalah gaya bahasa yang biasa digunakan di pasar, di jalanan, di terminal, bukan bahasa yang digunakan di dalam gereja di atas mimbar, di persekutuan-persekutuan. Itulah kelemahan saya, ketidak mampuan saya. Itulah akibatnya bila ADIDAS, anak desa ingin dasyat.

Perkawinan, kapan sebuah perkawinan menjadi sah? Ketika dua anak manusia mengambil keputusan untuk hidup bersama lalu meminta doa restu Tuhan melalui Gereja dan atau ketika pejabat Catatan Sipil menandatangai dokumen perkawinan? Menurut saya, Crucial Point atau titik terpenting dari sebuah perkawinan adalah keika dua anak manusia mengambil keputusan untuk hidup bersama dan sepakat untuk memproklamasikannya kepada dunia di hadapan Tuhan. Kondisi ini sama seperti ketika kita bertanya, kapan seseorang dianggap sah sebagai orang Kristen? Ketika dia berdoa secara pribadi menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, atau ketika dia dibaptis dan atau di Sidhi? Apa yang menjadikan sebuah baptisan menjadi sah? Kalimat “aku membaptis engkau dalam nama Bapa Putera dan Roh Kudus”, dari seorang pendeta atau jumlah air yang digunakannya?

Perceraian, kapan sebuah perceraian disebut perceraian? Kebanyakan orang menganggap perceraian adalah ketika suami istri menandatangi surat cerai yang disahkan pengadilan. Itukah perceraian yang dilarang Tuhan? Menurutku, perceraian sudah terjadi ketika salah satu atau keduanya dari sepasang suami istri yakin di dalam hatinya, bahwa dia tidak mungkin hidup bahagia lagi dengan pasangannya. Walaupun tetap tidur dalam satu ranjang, tinggal dalam satu rumah, keduanya akan menjalani hidupnya dengan saling menyakiti dan akhirnya saling membenci. Inilah yang kumaksudkan dengan musuh dalam selimut. Mungkin pada waktu-waktu tertentu, suami istri tersebut masih melakukan hubungan sex, namun, maaf, menurut pengalamanku dan kesaksian banyak teman, maka aku menyimpulkannya sebagai hubungan sex, melampiaskan nafsu birahi, bukan bersetubuh, itulah yang kusebut selingkuh dengan istri sendiri.

Daripada hidup dalam kemunafikan, untuk menjaga nama baik, lalu hidup dalam kepura-puraan, walaupun tinggal bersama, namun saling menyakiti, lebih baik hidup berpisah, bila perlu nyatakan itu kepada dunia melalui surat perceraian. Perpisahan atau perceraian secara legal adalah pilihan terakhir untuk menyelamatkan perkawinan.

Dalam frustasi saya pernah bilang, “Gereja tidak berhak untuk mencegah sebuah perceraian, karena gereja tidak pernah mengajar dengan benar tentang cara berpacaran yang benar dan menjalani pernikahan yang benar kepada jemaatnya.” Ketika saya menyampaikan kritik tersebut kepada Tuhan, terlintas tanya dalam hati saya, kenapa saya tidak memulainya dulu? Maka sayapun memulainya, karena tidak ada teman-teman yang mau turut serta, maka saya memulainya sendiri.

Bang Nelson, bagi saya, perceraian hanyalah gejala, bukan inti masalah. Minimal, perceraian adalah suatu pengakuan jujur sepasang suami istri bahwa mereka telah memulai perkawinan dengan cara yang salah dan atau menjalani perkawinan dengan cara yang salah. Kalau saja sepasang suami istri mau mengakui hal itu sejak dini dan mencari bantuan pada orang-orang yang tepat, itu bagus, namun biasanya keduanya berusaha menyembunyikannya dan saling menyalahkan pihak lainnya.

Bang Nelson, kebanyakan teman-teman bilang saya gila, karena saya bercita-cita dan perlahan-lahan mewujudkannya. Tulisan-tulisan saya tentang cinta bukan hasil analisa dari buku-buku yang saya baca semata, namun juga adalah kesimpulan dari pengalaman saya, pengalaman ratusan orang, seratus lebih pasangan suami istri, puluhan pasangan cerai yang saya amati dan saya ajak diskusi. Bila Tuhan berkenan, suatu saat nanti, dan saya berusaha untuk mewujudkannya segera, saya akan mengajak sesama anak Tuhan untuk membentuk sebuah kantor konsultan pranikah untuk melayani anak-anak Tuhan, di mana minimal 60% pasangan yang datang akan menunda atau membatalkan rencana pernikahannya atau mereka memasuki pernikahan dengan kesadaran penuh akan resiko yang akan dihadapinya dalam pernikahan.

Dalam frustasi saya pernah bilang, “Gereja tidak berhak untuk mencegah sebuah perceraian, karena gereja tidak pernah mengajar dengan benar tentang cara berpacaran yang benar dan menjalani pernikahan yang benar kepada jemaatnya.” Ketika saya menyampaikan kritik tersebut kepada Tuhan, terlintas tanya dalam hati saya, kenapa saya tidak memulainya dulu? Maka sayapun memulainya, karena tidak ada teman-teman yang mau turut serta, maka saya memulainya sendiri.

Bang Nelson, saya bukan orang hebat seperti anda, ketika mendaki gunung, saya melakukannya selangkah demi selangkah. Saya dan teman-teman melakukannya pada malam hari, supaya tidak perlu melihat rintangan-rintangan yang harus kami tempuh. Kami hanya melihat sejauh cahaya senter, namun kami yakin, takkan lari gunung di kejar, gunung lari takkan terkejar. Cara demikian cocok buat saya, karena yang perlu saya lakukan hanya terus melangkah, selangkah demi selangkah. Saya adalah cucu petani, anak petani, sejak kecil saya belum pernah melihat ada tumbuhan yang sejak ditanam langsung berbuah dalam waktu semalam, tumbuhan itu harus dirawat hari demi hari. Semakin lambat tumbuhan itu tumbuh, maka semakin kokoh dia nantinya.

Untuk mencegah perceraian tidak cukup hanya dilakukan dengan mengajarkan, bahwa apa yang sudah dipersatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan manusia. Semua suami istri Kristen yang menikah di gereja pasti telah mengetahui hal itu. Menakut-nakuti atau mengiming-imingi tidak akan menyelesaikan masalah, mereka harus diajak selangkah demi selangkah melihat masalah mereka dan menyelesaikannya selangkah demi selangakah.

Advertisements

4 thoughts on “Perceraian Di Mata Seorang Tionghoa Kristen

  1. Org Batak memakai simbol cicak melambangkan kejujuran…
    itu yg pernah saya tanya dari orang tua, namun bagaimana sejarahnya saya memang belum mengetahuinya.

    • tulang, CECAK adalah lambang orang Batak yang luar biasa. Silahkan bertanya kepada orang-orang tua tentang hal itu. Namun, satu hal yang perlu saya ingatkan adalah, kebanyakan orang Batak generasi ini sudah tidak memahami ajaran CECAK dengan lengkap lagi. Saya pernah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mempelajari hal itu di SAMOSIR.

  2. Semoga cita2 mambangun kantor konsultan pranikah segera tercapai ya koh. Tulisan ini sangat membantu pemahaman orang2 yg belum menikah untuk berpikir lebih matang tentang pernikahan. GB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s