Wisely dan Jeram Cicatih


Sejak tiga bulan yang lalu istri saya sudah bilang, dia dan teman-teman kantornya akan pergi arung jeram pada tanggal 17 Agustus 2007 dan mengajak saya untuk ikutan. Tanggal 14 Agustus, istriku kembali mengajakku untuk ikut arung jeram dengannya. Saya menanggapinya suam-suam, sebab menurutku biaya yang dibebankan terlalu tinggi, jauh di atas normal, di samping itu, air sungai pada musim kemarau ini pasti di bawah normal, arung jeram pada saat kemarau, kurang asyk. Saya memberitahu dia ancer-ancer biaya yang wajar dan menawarkan bantuan bila operator arung jeram tidak mau menurunkan harga yang mereka tetapkan.

Tanggal 15 Agustus, anakku Wisely memastikan diri untuk ikut arung jeram, dia ngotot untuk ikut walaupun sekedar untuk nonton mamanya arung jeram. Berkali-kali dia membujukku ikut mengantar mamanya yang akan arung jeram. “Nanti kita nonton aja papa!” Katanya. Tentu saja pemikiran untuk menonton orang arung jeram itu salah. Mustahil menyusuri sungai untuk menonton orang arung jeram.

Tanggal 16 pagi, saya telepon istri di kantornya meminta dia untuk memastikan agar anak kami boleh ikut arung jeram, walaupun umurnya baru 6 tahun. 10 tahun adalah syarat yang dipatok oleh operator arung jeram. “Is, bilang sama operatornya, saya cukup berpengalaman dalam hal arung jeram dan benar-benar mengenal karakter sungai Cicatih dengan baik, saya akan mengawal anak sendiri untuk pengarungan pertamanya.” Tanggal 16 sore, istri saya memastikan, bahwa wisely anak kami boleh ikut arung jeram. Saya meyampaikan berita itu kepada Wisely dan minta dia untuk mempersiapkan diri menghadapi pengarungan pertamanya. Dia menerima berita itu dengan penuh semangat.

Tanggal 17 Agustus 2007 jam 04.00, rasa kantuk mulai menjemput, aku membaringkan diri dengan harapan segera tertidur. Teman istriku janji akan menjemput jam 05.30 pagi. 1,5 jam tidur lebih dari lumayan bagiku. Beberapa bulan terakhir ini, saya sedang memasuki masa tidur pendek. Aku terlelap dan terbangun oleh dering Telepon, aku melihat jam, pukul 04.15. Teman istriku bilang dia sudah ada di depan gerbang komplek perumahan kami. Aku segera cuci muka dan membaringkan diri untuk tidur kembali. Jam 04.30, istriku membangunkanku lalu kami berangkat ke Mall Taman Anggrek, tempat bus menunggu. Jam 05.45 bus kami berangkat jumlah peserta 21 orang, Wisely satu-satunya anak kecil. Menurut perhitunganku perjalanan ke start point akan memakan waktu 3 jam.

Dalam perjalanan, setelah keluar dari jalan Tol Jagorawi, berkali-kali kami bertemu dengan rombongan pawai. Suasana 17 Agustus-an benar-benar terasa meriah. Anak-anak sekolah dan penduduk berbaris sangat antusias menuju lapangan upacara. Bus kami berhenti di kolam renang Deri, kami lalu melanjutkan perjalanan menembus jalan kampung dengan mobil kecil selama 30 menit menuju desa Bojongkerta, tempat pengarungan akan dimulai.

Wisely dengan antusias memakai jaket pelampung dan helm. Sia-sia istriku membujuknya untuk menanggalkan kaca mata hitamnya. Tentu saja dia berkeras untuk tetap mengenakannya, sebab dia tahu, dengan kaca mata hitam, dia nampak gagah. Aku memandang istriku, dengan sedikit gelengan kepala dan kedutan alis mata kiri, aku menghentikan usahanya membujuk anak kami.

Penuh perhatian wisely ikut mendengarkan instruktur yang sedang memberi pengarahan kepada para peserta bagaimana cara memegang dan menggerakan dayung. Dengan penuh semangat dia ikut menggerakkan dayung sesuai petunjuk. Setelah pengarahan selesai, kami melakukan foto bersama, lalu berjalan menuju sungai. Kembali istriku melakukan kesalahan, dia membujuk agar Wisely tidak usah membawa dayung yang lebih tinggi dari tubuhnya. Kali ini Wisely berlaku bijaksana, daripada berdebat dengan mamanya, dia langsung bertanya padaku, “papa, aku boleh bawa dayung kan?” Aku menganguk sambil mengepalkan tinjuku.

Ketika memasuki sungai untuk naik ke atas perahu karet, istriku kembali melakukan kesalahan, dia bertanya, “Samuel takut?” Wisely memandangnya dengan tatapan sedikit kesal. Walaupun nampak sedikit gentar, namun dia melangkah dengan mantap dan naik ke dalam perahu karet. Billy Joe duduk di depan kiri, Wisely duduk di depan kanan, Istriku duduk di belakang billyjoe aku duduk di belakang wisely dan Maya (lelaki) duduk di belakang istriku sebagai instruktur dan pengendali perahu. Dari caranya menempatkan diri, nampaknya Maya yakin akan kemampuanku. Rombongan kami terdiri dari enam perahu, Maya sengaja membiarkan perahu lainnya meluncur duluan.

Perahu kami meluncur, siap untuk menantang 19 jeram yang ada di sungai Cicatih. Dalam kondisi normal, jeram-jeram di sungai Cicatih memiliki tingkat kesulitan antara 3-4, jeram-jeram sungai Cicatih termasuk jeram-jeram yang paling menantang di Jawa Barat, bahkan di pulau Jawa dan Bali. Ketika kondiri air tinggi, pada saat musim hujan, tingkat kesulitannya bahkan meningkat di atas 4. Namun dengan kondisi air saat ini, maka tingkat kesulitannya hanya berkisar antara 2 hingga 3. Kondisi itu masih cocok bagi istriku dan Wisely yang baru pertama kali ikut arung jeram. Tanpa mengurangi rasa hormat, sebenarnya aku tidak menguatirkan Wisely sama sekali, aku yakin dengan kekuatan fisik, kelenturan tubuh dan ketabahan hatinya, aku justru agak khawatir dengan istriku. Timbul juga rasa jail di hatiku untuk melihat istriku terpental dari perahu dan gelagapan di arus sungai. Ssssst …, istriku tidak bisa berenang.

Jeram-jeram di Sungai Cicatih memiliki nama yang aneh-aneh, bahkan untuk jeram yang sama masing-masing operator memberi nama yang berbeda. Jeram-jeram tersebut diberi nama sesuai dengan karakternya, atau peristiwa tertentu yang terjadi di di jeram itu.

pertama yang akan kami lalui namanya “Jeram Ngehe,” sebuah jeram yang relatif kecil, namun paling banyak membuat orang terpental dari perahunya, terutama para pengarung baru. Hal itu terjadi karena mereka belum siap, adrenalin belum terpacu dan kewaspadaan belum terpasang. Di jeram inilah biasanya para instruktur menggertak para pengarung yang terlalu sombong. Kami mendayung sesuai dengan komando Maya, kami menghitung bersama-sama, Wisely mendayung dengan penuh semangat. Aku menoleh ke belakang, mengangkat alisku, membanggakan Wisely pada Maya. Maya tersenyum, dia menganguk-anggukan kepalanya, nampaknya bukan saya saja yang terkagum-kagum melihat cara Wisely mendayung.

Ketika mendekati jeram tubuh Wisely menegang, rupanya dia menyadari bahaya yang akan dihadapi. Tangan kirinya menggenggam dayung erat-erat, tangan kanannya menggenggam tali, tubuhnya sedikit doyong ke tengah perahu. Syuuuuut … Byur… byur… byur … Beberapa kali perahu agak menekuk, penumpang yang tidak waspada pasti terlempar. Ketika jeram dilalui, Wisely menegakkan tubuhnya kembali dan menggeser tubuhnya semakin ke tepi perahu, nampaknya dia mulai percaya diri. Kami melakukan toss untuk merayakan keberhasilan kami melalui jeram pertama. Istriku bertanya, “Samuel takut?” Dengan nada kesal wisely menjawab “Nggak!” Istriku kembali bertanya, “Benar, Samuel tidak takut?” Aku melotot pada istriku karena pertanyaan konyolnya.

“Jeram yang kedua, namanya Jeram Serius, disebut jeram serius sebab ketika melalui jeram itu semua pengarung melakukannya dengan serius.” Maya menjelaskan tentang jeram kedua yang akan kami lalui. Billyjoe bilang, “Kalau lewat jeram serius, nggak boleh kelihatan gigi, harus serius!” Tentu saja kami tertawa terbahak-bahak, apalagi istriku bertanya, kenapa harus begitu?

Setelah tergoncang pada jeram pertama, biasanya para pengarung baru sangat waspada ketika menghadapi jeram ke dua ini. Batu-batu besar teronggok di tengah sungai, arus air membuih putih, tebing di sisi sungai mulai meninggi, kokoh terbentuk dari batu padas. Perahu harus meluncur melewati celah-celah batu besar tersebut. Bagi para pengarung baru, jeram Serius cukup menggentarkan.

Ketika melewati jeram serius, Wisely benar-benar serius, istriku saja sangat serius, bahkan agak pucat. “Bum” Maya berteriak memberi perintah, Billy joe, Wisely serempak turun dari tempat duduk dan duduk merapat lantai perahu. Istriku hanya jongkok. Berkali-kali perahu menekuk, istriku hampir terlempar keluar dari perahu, dayungnya menghantam daguku, sakit. Maya Bilang, “Wah untung pake helm, kalau nggak bisa rame tuh!”

Kami melewati jeram satu persatu, setiap kali berhasil melewati jeram, kami melakukan toss. Wisely mulai ngoceh dia berteriak-teriak ketika melalui jeram lalu tertawa ketika sukses melewatinya, tubuh kami mulai basah kuyup. Ketika melalui arus tenang, kami menikmati pemandangan yang indah di tepi sungai sambil saling menggoda dan saling melucu lalu tertawa. Banyak biawak yang mejeng di tebing sungai maupun di atas batu-batu. Istriku bertanya, “Biawak-biawaknya kok nongkrong di batu ya?” Aku bilang, “Mereka sedang berjemur, biawak berdarah dingin, mereka harus memanaskan darahnya dulu sebelum bersemangat untuk berburu.” Kembali istriku bertanya, “Ada buaya nggak ya?” Billyjoe dan Maya ngakak, ketika aku bilang, “Jangan kuatir Is, buaya di sungai ini sudah ke darat semua!”

Kami tertawa dan ngeledek teman-teman di perahu lain yang kami lalui, ketika mereka berusaha menyusul kembali, kami memercikan air ke mereka dengan dayung. Ketika ada perahu di depan kami yang tersangkut di batu, kami membantu mereka dan memberi semangat. Ketika ada yang terlempar dari perahunya, kami berteriak, “Cuman dua kata, Biar rasa!” Lalu kami tertawa mengejek.

Namanya jeram kuku patah, sebuah batu sebesar rumah menghadang di tengah sungai. Istriku bertanya, “Batu apa itu ya?” Kembali Billyjoe dan Maya ngakak ketika aku menjawab, “Itu batu karang yang teguh istriku, sebab dia kokoh bertahan menghadapi arus sungai cicatih.” Aku sendiri ngakak untuk alasan lain. Ha ha ha … Bertahun-tahun yang lalu, ada seorang wanita bertanya padaku dengan pertanyaan yang sama, aku menjawabnya dengan kalimat yang sama, namun dengan tambahan, “… Sekokoh batu karang itulah aku akan mencintaimu nona, semoga engkau berkenan!” Rupanya wanita itu terpikat dengan kalimat puitisku, kami lalu pacaran selama beberapa bulan.

Lucu! Baik ketika pacaran maupun setelah menikah, istriku selalu menolak ketika kuajak arung jeram, namun sekarang dia benar-benar menikmati pengarungan pertamanya. Mungkin di dalam hatinya dia menyesal, kenapa selalu menolak ajakanku? Mungkin sekarang dia mulai menyadari, kenapa aku begitu suka menjelajah alam? Hati jailku sich sudah membuat rencana, bulan depan akan mengajak anak istriku ikut camping sambil merayakan ulang tahun Wisely di camping ground. Kalau rencana itu berjalan lancar, maka arung jeram akan menjadi salah satu bentuk rekreasi kami, 1 atau 2 tahun kemudian, kami akan mulai mendaki gunung.

Jeram Under Cut, menurut Maya setelah jeram itu, kami akan mengaso sambil menikmati kelapa muda dan bala-bala. Bala-bala adalah makanan yang dibuat dari terigu campur sagu dan sayuran lalu di goreng. Menurutku jeram under cut adalah jeram yang paling sulit yang akan kami lalui. Aku benar-benar meningkatkan kewaspadaanku, sebab 5 perahu di depan kami sudah makan korban dan naluri jail Maya mulai berkembang. Nampaknya dia cukup penasaran menghadapi para penumpangnya. Wisely, walaupun anak kecil, tidak memperlihatkan rasa takutnya sama sekali, ketika menghadapi jeram dia melewatinya dengan tenang bahkan sesudahnya tertawa ngakak senang. Namun, tubuhnya bak spiderman, menempel erat pada perahu bak seorang pengarung berpengalaman. Istriku, walau beberapa kali terpental-pental hampir keluar perahu, namun tetap bertahan. Billyjoe, jangan dibilang lagi, dia adalah penjelajah alam berpengalaman, walaupun itu adalah pengarungan pertamanya di sungai Cicatih, namun jelas dia tidak gentar.

Jeram under cut, apabila para penduyung tidak kompak dan pengendali perahu tidak jago, maka perahu akan menghantam sebuah batu sebesar rumah berbentuk segitiga terbalik. Perahu akan menekuk ketika menghantam batu tersebut, ketika perahu menekuk, maka para penumpang perahu akan berusaha menyelamatkan diri dari benturan, akibatnya dayung akan berseliweran menghantam kepala yang dilindungi helm atau menghantam dagu, rasa sakitnya memang tidak mematikan, tetapi jelas akan mengundang olok-olok dan ejekan.

Bila selamat melewati batu under cut tersebut, maka perahu secara otomatis akan berbelok ke kanan lalu ke kiri membentuk huruf “S” Kali ini bahaya datang dari bawah, sebuah batu ceper. Bila perahu hanyut terlalu kanan, maka setengah lantai perahu akan naik ke atas batu ceper itu, akibat minimumnya perahu setengah terbalik dan melemparkan para pendayung di sebelah kanan ke sungai, maksimum perahu terbalik dan semua penumpang gelagapan. Bila perahu hanyut terlalu kiri, maka akan langsung menukik menghantam batu sebesar rumah dan nyangkut.

Apabila berhasil melewati rintangan kedua ini, arus tenang menyambut, para pendayung merasa lega dan berpikir tantangan telah lewat, namun tantangan sesungguhnya telah menanti, arus sungai menukik tajam ke kiri membentur tebing lalu menukik tajam ke kanan. Perahu harus melalui sebuah celah, masalahnya, celah yang harus dilalui sangat sempit, di apit tebing sungai batu padas + 25 meter tingginya, sebelah kanan sebuah batu besar sebesar rumah, ketika perahu melewatinya, maka jarak perahu dengan tebing dan batu + 2 jengkal. Ketika melewati celah ini, perahu benar-benar menekuk dan melontarkan para penumpangnya. Bila terlontar keluar perahu, maka tubuh anda akan meluncur deras dan disambut pusaran air yang akan membuat anda gelagapan. Setelah pusaran air itu, arus menjadi tenang, di situ perahu di depan anda biasanya menunggu untuk menonton. Bila anda terlontar keluar dari perahu, maka jangan harapkan pertolongan segera, sebab para penonton akan tertawa terbahak-bahak sebelum menolong anda. Bila anda panik, maka beberapa tegukan air Cicatih akan menjadi kenangan yang sulit dilupakan.

Air sungai Cicatih sedang surut dan aku belum pernah mengarungi sungai Cicatih dalam kondisi demikian. Maya mengarahkan perahu ke kanan, menjauhi batu undercut, itu berarti perahu langsung menuju batu ceper, bila tidak terbalik, maka perahu akan menghantam batu sebesar rumah dan nyangkut. Maya tidak memberi aba-aba mendayung, itu berarti perahu sepenuhnya dikuasai arus sungai, dia hanya berusaha mengendalikannya.

Secara naluri, Wisely menggenggam dayung dengan tangan kiri dan mencengkeram tali dengan tangan kanan. Istriku secara naluri mencium bahaya, dia berusaha menggeser tubuhnya ke kanan, ke tengah perahu tindakan itu bijaksana, namun bila benturan dengan batu terjadi saat dia menggeser, maka dia akan terlempar keluar. “Buuuum!” Maya memberi komando, artinya semua penumpang harus berjongkok atau duduk di dalam perahu, melekat semaksimal mungkin dengan lantai perahu dan berharap perahu tidak terbalik. Billyjoe, Wisely dan istriku secara otomatis mengambil posisi “bum”.

Maya sedang mengujiku, aku melihat, kalau tidak beraksi, maka minimal separuh badan perahu akan menghantam batu ceper, itu berarti perahu akan terbalik, percuma melekat pada perahu bila perahunya terbalik. Bila aku melakukan tindakan, membelokkan perahu, maka itu berarti mengambil risiko untuk terlempar dari perahu. Seharusnya Maya memerintahkan “Pindah Kiri!” artinya penumpang yang ada di sebelah kanan perahu pindah ke sebelah kiri, itu akan membuat perahu berbelok ke kiri menghindari menabrak batu. Namun mustahil melakukannya sekarang, itu terlalu berisiko bagi wisely. Maya benar-benar seorang instruktur yang ahli dan memiliki naluri yang tajam.

Aku mendoyongkan tubuhku ke belakang 45 derajat ke kanan keluar perahu sambil membenamkan dayungku ke air dan mendayung agar perahu berbelok ke kiri. 1/3 perahu membentur batu, tubuhku terlonjak ke atas, aku mengimbanginya dengan menundukan kepala ke tengah perahu. Begitu bagian kanan perahu mendarat di air, perahu meluncur kencang menuju batu besar. Secara naluri aku pindah kiri, Maya menggeser tubuhnya jauh ke belakang, 45 derajat ke arah kiri, ia mengendalikan perahu agar tidak menabrak batu. Berhasil! Kami memasuki arus tenang dengan tubuh basah kuyup. Aku melotot pada Maya, dia mengedipkan matanya, aku tertawa. Maya lalu bilang, “Kalau perahu kita naik ke batu tadi, bisa terbalik tuh!”

Kami menonton perahu di belakang kami. Perahu itu mengambil jalur seperti yang kami ambil, mungkin instrukturnya berpikir mengambil teladan dari keberhasilan kami. Perahu itu meluncur kencang, langsung disambut batu sebesar rumah, nyangkut. Kami tertawa terbahak-bahak mengejek.

Maya memberi perintah, “Maju!” Kami langsung mendayung, “Satu, dua, tiga, stop” Perahu kami meluncur, menukik tajam Perahu membentur tebing kiri namun tidak mengurangi lajunya, kami berhasil melalui celah sempit itu. Secara keseluruhan, kami melalui jeram undercut dengan sukses.

Perahu kami terus melaju, di depan kami sebuah perahu berhenti, ternyata perahu itu tadi terbalik, salah satu dayung mereka hilang bersama beberapa sendal. Setelah tahu team rescue telah menanganinya, mereka lalu melanjutkan perjalanan bersama kami.

Kami beristirahat selama ½ jam, menikmati kelapa muda dan gorengan bala-bala sambil saling menceritakan pengalaman pengarungan masing-masing, cerita yang paling seru adalah tentang teman yang terlembar keluar dari perahu. Setelah cukup beristirahat kami lalu melanjutkan pengarungan. Karena asyk, kami lupa berapa jeram yang telah kami arungi. Wisely bilang, masih ada 11 jeram yang harus kami lalui. Ketika kami mulai melaju, Maya bilang masih ada 11 jeram yang harus kami lalui. Ha ha ha, di antara 25 orang dalam rombongan kami, termasuk 4 orang korea, ternyata si kecil Wisely yang menghitung berapa jeram yang telah kami lalui dan berapa lagi yang harus kami lalui.

Perahu kami memasuki bagian sungai yang cukup dangkal dengan arus yang cukup tenang. Aku segera terjun ke sungai untuk menikmati arus dan mengenang masa kecil. Salah satu perahu di depan kami terbalik, memuntahkan semua penumpangnya, rupanya penumpang keempat perahu itu menantang kemampuan instrukturnya untuk membalikkan perahu di air tenang. Pada mulanya, keempat penumpang perahu yang terbalik itu senang, lalu mereka mulai panik ketika menyadari kencangnya arus sungai. Keempat penumpang perahu itu bisa berenang, tetapi mereka tidak tahu, bahwa berenang di sungai berarus deras sangat berbeda dengan berenang di kolam renang.

Dengan tertawa-tawa gembira aku membantu menarik mereka ke perahu kami dan memungut sendal dan dayung yang hanyut lalu menarik billyjoe untuk ikut nyebur. Aku mengajak Wisely untuk menunjukan kehebatannya, namun dia menolak. Setelah puas berenang aku lalu naik ke perahu dan kami melanjutkan perjalanan kami.

Kami baru saja melalui jeram panjang, dalam kondisi normal, jeram ini cukup sulit untuk dilalui, namun sekarang kondisinya biasa saja. Kami mendengar suara orang kecebur yang sangat keras. Ketika kami mengarahkan pandangan ke perahu di belakang, salah satu teman istriku kecebur, namanya Melki, tingginya sekitar 185, beratnya, menurutnya kemudian, 115 kg. Air mencapai lehernya, berkali-kali dia berusaha untuk naik ke perahunya namun tidak sanggup mengangkat tubuhnya ke atas. Instruktur dan salah satu temannya berusaha menariknya, nampaknya mereka tidak kuat, bahkan hampir tertarik menimpa Melki. Kami tertawa terbahak-bahak hingga keluar air mata dan berteriak-teriak, “Cuman dua kata, biar mampus! Ada kuda nil, awas!” Ternyata si Melki awalnya berusaha untuk membuat teman-temannya terlempar dari perahu, akibatnya diri sendiri yang jatuh ke sungai. Sungguh lucu, melihat Melki panik, setelah berkali-kali gagal naik ke perahu, dia menemukan bahwa arus sungai semakin deras dan semakin dalam. Dia berusaha tenang dan menanggapi godaan kami, walau mukanya nampak pucat, dia mulai ketakutan.

Mungkin anda berpikir kelakuan kami tidak Kristiani dan sangat berbahaya? Ha ha ha, sebenarnya mudah untuk menolong Melki, instrukturnya sengaja tidak sungguh-sungguh menolongnya agar dia menjadi bahan tertawaan dan mengalami sedikit ketegangan. Ketika instrukturnya menilai semua orang yang menonton telah cukup tertawa dan Melki telah mendapat pelajaran, maka dengan sekali tarik Melki langsung mendarat di perahu.

Dua jeram lagi, maka perjalanan kami berakhir, perahu di depan kami memuntahkan dua orang penumpangnya. Kali ini bukan acara humor, mereka benar-benar harus ditolong. Keduanya, suami istri nampak panik sementara arus sangat kencang dan batu-batu besar nongol menantang, 75 meter di depan kami adalah jeram. sejak istrirahat di perahu kami bertambah dengan seorang instruktur, dia diperintahkan secara khusus untuk mendampingi kami, untuk menjaga karena di perahu kami ada anak kecil.

Maya memberi komando, Kami mendayung perahu mengejar kedua orang itu. Luar biasa, walaupun kemampuan berenangnya biasa saja dan menghadapi bahaya, namun si suami tetap dengan setia memeluk istrinya, mempertaruhkan nyawa sendiri untuk orang cintaannya.

Ketika perahu kami mendekat, billyjoe mengulurkan dayung, namun arus sungai terlalu kencang. Secara naluri, billyjoe melepas dayungnya untuk menghindari korban terluka, karena tusukan dayung. Asep, asisten instruktur kami segera melangkah ke depan, billyjoe secara otomatis bergeser ke kanan memberi ruang bagi Asep, Wisely berusaha bergerak ke belakang, namun kakinya ketinggalan. Ketika billyjoe menarik salah satu korban, perahu menyentak sehingga dia terbanting ke belakang, Wisely menjerit, dia berusaha menarik kakinya dari tindihan Billyjoe. Pada saat yang bersamaan, Asep berhasil menarik korban lainnya, si suami. Sepanjang jalan kami lalu ngeledek billyjoe pilih kasih, dia hanya menyelamatkan wanita.

Ini bukan arung jeram paling menegangkan yang pernah saya lakukan, namun ini adalah arung jeram paling mengasykan yang pernah saya lakukan, karena ini adalah arung jeram pertama bagi istri dan anak saya. Ini adalah awal yang indah, setelah ini, maka kami beranak pinak akan sering melakukan arung jeram bersama. Ha ha ha, Yok, kita arung jeram.

Nah, silahkan nikmati gaya, semangat, keberanian, keteguhan dan kebahagiaan yang terpancar dalam foto-foto di bawah ini:

1. Seluruh Peserta

2. Menyongsong Jeram

3. Maya Berteriak Bum, hai hai melihat bahaya

4. Maya bilang “Dayung ke belakang!” perahu memasuki air tenang, siap menonton perjuangan perahu dibelakang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s