Aku Tidak Percaya Mujizat Dan Ini Tidak Boleh Terjadi Lagi


Ketika Yesus berkata, “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” orang itu pun bangun lalu pulang. Ketika Petrus berkata kepadanya: “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangunlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” Seketika itu juga bangunlah orang itu. Ketika Paulus berkata dengan suara nyaring: “Berdirilah tegak di atas kakimu!” Dan orang itu melonjak berdiri, lalu berjalan kian ke mari. Saya sudah bosan melihat seseorang berjalan tertatih-tatih menuju mimbar dengan tangan terayun tak terkendali lalu terbata-bata bersaksi bahwa dia telah sembuh dari lumpuhnya, sementara pengkotbah dengan tegas mengumumkan telah melakukan mujizat kesembuhan ilahi, orang lumpuh berjalan. Tidak perlu menjadi dokter untuk tahu bahwa orang itu sama sekali belum sembuh karena seluruh tubuhnya dengan jelas dan tegas menunjukkan, dampak serangan stroke padanya. Itukah mujizat kesembuhan ilahi generasi ini?

Waktu SMA dan kuliah saya merasa diri hebat karena mampu memanipulasi manusia dengan atraksi panggung sehingga mereka bertekuk lutut menyesali dosa-dosanya. Waktu kuliah, saya kenal romo universitas kami. Dia seorang Jawa yang sangat sederhana dan bersahaja. Dalam sebuah retret, sebagai panitia dan MC yang merasa diri hebat, saya memimpin teman-teman mempersiapkan atraksi panggung untuk menciptakan suasana sakral, memenuhi ruangan dengan hadirat Allah. Segala sesuatunya sudah siap, bahkan para preman kampus pun telah bertekuk lutut tersengguk-sengguk menyesali dosanya. Saya mengundang romo ke mimbar untuk memimpin acara selanjutnya untuk menantang orang-orang berdoa menerima Yesus Kristus sebagai juruselamatnya.

Dari mimbar, romo minta agar semua lampu dinyalakan. Dia lalu mengundang semua orang untuk menyanyikan satatebuah lagu, “Dalam Yesus Kita Bersaudara.” Dia mengajak kami saling bersalaman untuk mengekpresikan makna lagu tersebut. Dia lalu membaca Alkitab dan membahasnya dengan cara yang wajar. Sungguh tidak menarik, makanya saya tidak mencnya apalagi mengingatnya. Dia lalu bersaksi tentang pergumulan rohaninya. Dia hanya seorang anak desa, anak seorang petani. Dia merasa terpanggil untuk menjadi romo, maka diapun lalu sekolah dan menjalani hidup sebagai romo. Setelah 15 tahun menjadi romo, suatu malam, di kamar sendirian, dia mendapat pencerahan hati, dia lalu berdoa menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya dan memperbarui panggilannya sebagai romo. Saya ingat kata-katanya sebelum menantang orang lain untuk berdoa untuk menerima Yesus Kristus.

“Menjadi pengikut Kristus bukan pilihan, tetapi panggilan.”

Saya kecewa sekali, he he he …, saya marah dengan caranya berkotbah, dia telah menyia-nyiakan usaha saya. Ketika kembali ke kampus dan menemukan semua preman yang bertekuk lutut dan menangis sesenggukan kembali menjadi preman, saya mulai memikirkan apa yang dikatakan romo, “Menjadi pengikut Kristus bukan pilihan, tetapi panggilan.” Tulisan ini adalah refleksi dari pemahaman saya akan ajaran romo tersebut, anda dapat membacanya di sini.

Tahun 1986, walaupun bukan anggota panitia harian, namun saya adalah salah satu provokator yang memberikan ide paling gila untuk mempublikasikan Kebaktian Kebangunan Rohani “Kasih Melanda Jakarta” yang dipimpin oleh almarhum pdt. Yeremia Rim di stadion utama Senayan, stadion sepak bola terbesar di dunia. Ide gila itu muncul karena saya mendengar kisah bagaimana LPMI membanjiri Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia dengan stiker “Sudah kutemukan, anda pun dapat menemukannya! Hub. Telp. …”. Sebelum Kasih Melanda Jakarta, belum pernah diadakan KKR di stadion utama Senayan, sebelum itu belum pernah ada KKR yang dihadiri oleh orang sebanyak itu. Menurut hitungan panitia, setiap malam hadir lebih dari 150.000 orang.

Di kebaktian itu, banyak sekali orang sakit yang datang dan berharap disembuhkan. Pada malam pertama saya melihat sekelompok panitia sedang melayani seorang lelaki tua berumur 60 tahunan yang lumpuh dan duduk di atas kursi roda karena serangan stroke. Walau telah didoakan, ditumpangi tangan, ditengking dengan berbagai bahasa, bahkan bahasa yang tidak ada kamusnya, namun lelaki itu tetap lumpuh. Mereka memaksanya turun dari kursi roda untuk mengambil tindakan iman, mereka menopangnya berdiri lalu menyuruhnya berjalan. Karena diam, mereka pun memaksanya berjalan. Mereka melepaskan topangannya dan membiarkan pak tua itu terjerembab. Mereka mengolesi kakinya dengan ludah bahkan meludahinya dalam nama Yesus. Mereka menopangnya, memaksanya berjalan. Dia lumpuh, kedua kakinya terseret di atas rumput. Apapun yang mereka lakukan, dia tetap lumpuh. Dari lapangan rumput, mereka menyeretnya hingga pinggir lapangan dan menyeretnya di atas tanah merah yang keras. Dia tetap lumpuh.

Tiba-tiba teriakan halleluya membelah angkasa, ada yang sembuh. Panitia yang melayani pak tua itu lari menuju suara haleluya itu. Mereka meninggalkan lelaki tua itu begitu saja di atas tanah merah yang keras. Ketika menghampirinya untuk menolongnya, pak tua lumpuh itu diam seribu bahasa, namun dia menatap saya. Dia menatap saya dengan mata tuanya. Dia diam, piyamanya kotor berlepotan tanah, lengannya berdarah campur debu, kakinya berdarah campur debu. Tubuhnya penuh ludah, keringat dan debu . Dia diam, namun matanya bertanya kepada saya, “kenapa saya tidak sembuh?” Dia diam, namun matanya bertanya, “kenapa mereka meninggalkan saya?’ Dia diam, namun matanya berkata, “Saya manusia celaka, selain tak terampuni juga tak beriman!”

Saya menangis waktu memeluknya, mengangkatnya ke kursi rodanya lalu melarikan diri sambil menangis. Malu! Saya meneteskan air mata ketika menulis kisah ini. Saya selalu meneteskan air mata setiap kali mengingat tatapan mata itu. Pinjam kalimat nona riyanti yang terhormat, “saya benci tatapan itu!” Malam itu saya berjanji pada diri sendiri dan Allah, hal ini tidak boleh terjadi lagi. Saya benci kepengecutan saya waktu itu, alih-alih bertindak, saya diam saja memandang kejadian itu dengan hati pilu.

Walaupun keesokannya, baik MC maupun pengkotbah menyatakan bahwa mujizat telah terjadi karena banyak orang sakit mengalami kesembuhan ilahi, namun saya menjadi saksi, tidak ada kesembuhan sama sekali. Tidak ada orang lumpuh yang berjalan, tidak ada orang buta yang celik matanya, tidak ada orang tuli yang mendengar juga tidak ada orang bisu yang berbicara apalagi kanker yang sembuh. Yang ada hanya beberapa wanita tua yang mengaku encoknya sudah sembuh, seharusnya mereka mengatakan encoknya tidak terasa sakit saat itu. Sebab, saya melihat, keesokannya mereka kembali lagi dan duduk di antara orang sakit dan berdoa mohon kesembuhan dan disembuhkan lagi encoknya.

Saya percaya Allah mampu melakukan mujizat kesembuhan ilahi. Saya hanya tidak percaya mujizat kesembuhan ilahi yang tidak diuji. Saya kenal seorang wanita yang bersaksi bahwa Tuhan sudah menyembuhkan dia dari penyakit kanker rahim melalui operasi. Ketika bersaksi dia juga menunjukkan bukti daging kankernya yang disimpan di dalam botol. Sesungguhnya dia tidak pernah sakit kanker sama sekali. Perutnya buncit karena dia mengandung dan bingung, apakah meneruskan kandungannya atau menggugurkannya, sebab dia belum menikah. Dia mengaku sakit kanker. Dia membual untuk menutupi aibnya.

Saya juga kenal seorang wanita yang menyebut dirinya hamba Tuhan, dia mengaku kena kanker rahim dan menolak dioperasi karena yakin suatu hari nanti dia akan menikah dan punya anak. Dia beriman Tuhan pasti menyembuhkan kankernya tanpa operasi. Dia lalu menjalani pengobatan tradisional oleh seorang paranormal muslim di sebuah kota yang cukup jauh dari Jakarta. Berbulan-bulan dia menjalani pengobatan dan menolak untuk dikunjungi handai taulannya, termasuk saya. Suatu hari dia muncul dan bersaksi bahwa penyakit kankernya telah disembuhkan. Perut buncitnya sudah mengempis. Karena mengasihinya, kami memaksanya untuk memeriksakan diri ke dokter. Hasil pemeriksaan benar-benar menunjukkan bahwa dia tidak menderita kanker sama sekali. Beberapa kali saya menceritakan kisah itu kepada beberapa orang teman, karena yakin itu mujizat yang teruji. Suatu hari saya tahu, sesungguhnya dia tidak pernah sakit kanker sama sekali. Perutnya buncit karena dia mengandung dan bingung, apakah meneruskan kandungannya atau menggugurkannya, sebab dia belum menikah. Dia mengaku sakit kanker rahim. Dia bersaksi dusta untuk menutupi aibnya.

Hal ini tidak boleh terjadi lagi! Saya berjanji kepada diri sendiri dan Allah, lalu saya melupakannya. Saya membela diri dengan mengatakan bahwa itu tugas pendeta, penginjil, hamba Tuhan, sarjana Theologia, bukan tugas saya.

Saya lupa namun malas untuk memastikannya. Mungkin ini terjadi 4 tahun yang lalu, karena sudah hampir 3 tahun saya tidak memotong rambutku. Cilin, adik saya, sahabat saya, guru saya. Dia pergi ke negeri di seberang langit biru. Bila anda ingin tahu sebagian kisahnya, silahkan klik di sini. Bulan Desember, sebelum sakitnya menjadi benar-benar parah, saya bertanya padanya apa yang dia ingini untuk hadiah ulang tahunnya? Saat itu dia bilang, dia mau kuncir saya. Saya berjanji bahwa dia akan mendapatkannya pada hari ulang tahunnya. Saya menepati janjiku, walau dia telah meninggal saya memotong rambut gondrongku pada hari ulang tahunnya.

Selama berbulan-bulan saya hidup dengan rambut pendek hingga suatu hari saya mendapat berita, Merry, adik bungsu saya menderita penyakit yang sama dengan Cilin, LSE. Saya pun lalu membiarkan rambutku panjang kembali. Saya suka rambut panjang, karena di dalam gambar Yesus digambarkan sebagai lelaki gondrong dengan kumis dan cambang. Rambut Samson adalah meterai perjanjian Tuhan. Nabi Tiongkok kuno dan raja Tiongkok kuno tidak memotong rambutnya sebagai meterai mereka menyerahkan hidupnya bagi Tian (Tuhan). Dengan rambut panjang, bukankah saya meneladani Kristus? Meneladani Samson? Meneladani para nabi dan raja Tiongkok kuno? Itu jawabanku ketika ditanya kenapa gondrong?

Rambut saya sekarang ujungnya sudah menyentuh sabuk, dua malam yang lalu setelah chating dengan mas daniel, tiba-tiba saya memutuskan untuk memotongnya sebelum Natal. Coba bayangkan, betapa istri saya akan terkejut senang ketika harinya tiba, menemukan suaminya dengan rambut rapih. Dia pasti akan bertanya, kenapa saya potong rambut?

Ada pendeta yang dalam kotbahnya menyatakan bahwa dia rela masuk neraka asal pendengar kotbahnya masuk surga. Ada pendeta yang dalam kotbahnya menyatakan bahwa dia rela mati hari itu juga asal pendengar kotbahnya bertobat semua. Sepintas lalu kotbah demikian nampak gagah perkasa, namun bila disimak dengan seksama nampak betapa sesat dan goblok serta nekadnya pengkotbah itu. Menurutku, kotbah-kotbah demikianlah yang akan membangkitkan teroris Kristen di masa depan. Rela masuk neraka, asal benteng musuh dimusnahkan. Semoga Tuhan menjauhkan kita dari hari-hari demikian.

Saat ini, banyak gereja yang mengajarkan teori minyak urapan sekaligus menjual minyak urapan. Minyak urapan adalah minyak zaitun yang telah di doakan oleh pengkotbah alam roh. Minyak urapan ada kegunaannya masing-masing, seperti obat. Ada minyak urapan untuk menyembuhkan berbagai penyakit, mengusir berbagai roh jahat, mendatangkan berkat dan menyelesaikan berbagai masalah dan menghindarkan berbagai kegagalan, ada minyak urapan multi guna. Minyak urapan ada tanggal kadaluarsanya, ada yang 6 bulan, ada yang 1 tahun juga ada yang sampai kekal. Masing-masing jenis minyak ada harganya sendiri dan tanggal kadaluarsanya. Semuanya memiliki harga sendiri walaupun mereka menyebutnya persembahan kasih untuk kemuliaan Tuhan. 4 hari yang lalu saya menerima selebaran, seorang pendeta dari sebuah gereja top akan mengadakan kebaktian Natal selama 2 hari di stadion utama Senayan. Dalam selebaran tersebut ada kalimat, “Disediakan snack dan minum serta miyak urapan gratis.” Luar biasa.

Itulah teori minyak urapan yang diajarkan oleh pengkotbah alam roh dan diimani oleh banyak orang Kristen saat ini. Kalau teori tersebut benar, maka anda akan membacanya di Alkitab, Tuhan Yesus dan para rasulnya petantang-petenteng bawa botol minyak urapan dipinggangnya. Namun, anda tidak menemukan kisah demikian dalam Alkitab bukan?

Beberapa bulan yang lalu saya nonton di TV, seorang pengkotbah Indonesia memimpin kebaktian penyembahan dan penyembuhan ilahi. Banyak yang naik ke mimbar untuk bersaksi. Yang paling dasyat adalah seorang lelaki yang berlari-lari dengan menenteng tongkat penyanggah. Ketika diwawancarai oleh pengkotbah, dia bercerita bahwa kedua kakinya lumpuh namun sekarang sudah bisa berjalan, bahkan berlari. Pengkotbah itu benar-benar pandai. Dia langsung meninggalkan lelaki itu untuk mewawancarai yang lainnya, bahkan turun dari panggung untuk menyambut orang-orang yang ingin menyaksikan kesembuhannya. Tentu saja kamera mengikutinya. Ho ho ho … Orang yang lumpuh kedua kakinya, mustahil menggunakan tongkat penyanggah.

Di bawah panggung dia mewawancarai beberapa wanita tua, nampak sekali dia tidak puas dengan apa yang ditemuinya. Wajahnya jadi berseri-seri ketika ada seorang wanita menuntun seorang remaja dan menyaksikan bahwa remaja itu adalah orang bisu, namun sekarang dia bisa mendengar dan berbicara. Remaja bisu itu nampak gelisah dengan antusiasme di sekitarnya. Dia diam saja ketika pengkotbah itu memanggilnya dan bertanya bahkan menyuruhnya mengatakan haleluya. Pengkotbah itu menyentuh remaja itu, sambil menjelaskan bahwa orang bisu yang baru bisa mendengar tidak dapat berbicara. Ketika remaja itu memandangnya, dia lalu meminta remaja itu mengulangi apa yang dikatakannya, dia lalu berkata, “satu, dua, tiga.” Pemuda itu justru berkata “Haleluya, Terima kasih Yesus.” Remaja itu celingukan lalu menyebut, “satu, dua, tiga.” Ho ho ho … remaja itu memang bisu tuli, namun dia sekolah sehingga bisa berbicara dan membaca gerak bibir orang. Remaja itu berkata “satu, dua, tiga.” Karena wanita pendampingnya memberitahu dia.

Pengkotbah itu adalah seorang pengkotbah yang cerdas. Dia segera berjalan menjauhi remaja bisu yang sembuh itu, untuk mewawancarai beberapa ibu tua yang encoknya tidak terasa sakit lagi.

Saya tertawa terbahak-bahak ketika menonton semua adegan itu. Saya yakin, akan sulit untuk menemukan rekaman kebaktian kali itu. Padahal kalau dapat menemukannya, saya pasti akan membelinya. Jarang-jarang lho ngakak ketika menonton rekaman kebaktian penyembahan dan kesembuhan di mana pengkotbah mengumbar janji-janji kesembuhan ilahi namun yang terjadi adalah pembohongan publik.

24 thoughts on “Aku Tidak Percaya Mujizat Dan Ini Tidak Boleh Terjadi Lagi

  1. SALUTT! SALUT!
    Saya baca markus 8:22-25, gak pernah sampe kepikiran
    kaya bengcu.

    Tapi kenapa Yesus harus berbohong mengenai hal itu ?

    Trima kasih jika bersedia memberikan analisanya.
    Saya benar2 gak nyampe mikir ke situ.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s