Firman Allah Di Dalam Huruf Tionghoa


Hari itu saya bertemu dengan seorang Kristen Tionghoa di rumah duka. Saya menganguk lalu mengulurkan tangan untuk menyalaminya ketika dia duduk di bangku sebelah saya.  Kami duduk di halaman luar.

Setelah basa-basi dengan penuh semangat dia lalu bersaksi tentang misteri kebenaran-kebenaran Alkitab yang tersembunyi di dalam tulisan Tionghua. Dari logatnya ketika mengucapkan kata-kata mandarin dan caranya menuliskan huruf-huruf nampak jelas bahwa dia memang menguasai bahasa mandarin dengan baik dan ayat-ayat Alkitab dengan baik. Di tengah-tengah obrolan sahabat saya tiba-tiba menjelaskan kepada saya bahwa orang Tionghua Kristen itu adalah saudara sepupuhnya yang tinggal di Bandung.

Saya mendengarkan kesaksiannya dengan penuh perhatian apalagi ketika dia mengeluarkan telepon genggamnya, sebuah komunikator lalu menunjukkan ayat-ayat Alkitab yang dikutipnya. Dia lalu menyatakan bahwa saya harus bertobat dan menerima Yuhan Yesus Kristus sebagai juruselamat karena sebagai orang Tionghua saya tidak punya alasan lagi untuk tidak mempercayai Alkitab setelah tahu misteri kebenaran-kebenaran Alkitab ternyata tersembunyi di dalam tulisan Tionghua. Saya menyatakan kepadanya bahwa saya orang Kristen. Bahkan sahabat saya mengingatkan dia agar hati-hati dengan kata-katanya karena bila dia berlaku berlebihan, dia akan malu sendiri.

Walaupun tahu saya orang Kristen, namun orang Tionghua Kristen itu tidak mengurangi kesaksiannya. Ketika di ruangan lain dilakukan ibadah perkabungan tradisi Tionghua, dia pun mulai berbicara tentang misteri penyembahan Iblis dan arwah orang mati di balik tradisi itu. Dia tidak peduli ketika teman saya mengingatkannya untuk berhenti bicara sebab orang yang dihadapinya adalah seorang yang cukup memahami ajaran tradisi Tionghua yang dilecehkannya itu.

Saya membiarkannya bicara hingga tuntas, setelah itu baru bercerita kepadanya tentang makna di balik upacara perkabungan, penguburan dan sembahyang arwah orang Tionghua serta makna di balik rumah-rumahan, mobil-mobilan, orang-orang dan lain-lainnya yang digunakan sebagai barang sembahyang. Karena merasa kalah pengetahuan maka orang Tionghua Kristen itu lalu menunjukkan kehebatannya dengan mengungkapkan misteri kebenaran-kebenaran Alkitab yang tersembunyi di dalam tulisan Tionghua lagi.

Sebenarnya saya sangat tergelitik untuk menggoda orang Tionghua Kristen itu, namun hal itu tidak saya lakukan karena: Pertama, usianya cukup tua untuk dihormati. Kedua, dia saudara sepupuh teman saya. Ketiga, dia sangat cerdas dan memiliki jiwa terbuka untuk menerima hal-hal baru. Keempat, dia sangat ahli mengoperesikan telepon genggam komunikatornya itu. Inilah cara yang terpikirkan untuk menggodanya saat itu namun tidak saya ungkapkan.

“Sungguh luar biasa, ternyata Allah menyembunyikan firmanNya di dalam tulisan mandarin. Kita beruntung karena dapat mengetahui misteri itu sebab walaupun kebenaran itu tidak diajarkan lagi dari generasi ke generasi. Itu sebabnya kita harus jadi Kristen, karena menjadi Kristen berarti menggenapi amanat dari Kongco (nenek moyang) kita.” Katanya penuh semangat, ucapannya cepat dan penuh energi.

“Ko (abang), maaf ya, nampaknya anda salah alamat dech memberitakan Injil kepada saya, karena selama ini saya sedang mempelajari kebenaran Alkitab kok!” Jawab hai hai ramah.

“Oh ya? Jadi ni (anda) mahasiswa Theologia? Kuliah di mana?” tanyanya penuh antusias.

“Wah, saya tidak kuliah, hanya belajar sendiri saja di rumah. Umur saya sudah ketuaan untuk ikut kuliah sastra mandarin, jangan-jangan malah dijadikan bahan olok-olok atau disebut om senang!” Jawab saya ringan. Dia memandang saya bingung, namun ketika menatap mata saya yang menyorotkan kepastian dia menampakkan ekspresi ragu-ragu lalu pelan-pelan mengumpulkan keberaniannya untuk beranya.

“Wah, ko, maaf ya? Ni (anda) bilang sedang mempelajari kebenaran Alkitab, lalu bilang nggak kuliah sastra mandarin? Kalau boleh tanya, apa hubungannya ya?” Dia bertanya bingung. Saya menatapnya sembil mengangguk-angguk memahaminya. Setelah membiarkannya penasaran beberapa saat saya lalu berkata,

“Tadi anda cerita tentang misteri kebenaran Alkitab di dalam huruf Tionghua. Bukankah dengan mempelajari bahasa mandarin dan tulisan mandarin saya sedang mempelajari kebenaran Alkitab, karena misteri kebenaran Alkitab di dalam huruf Tionghua sudah tersingkap?” Saya menatap orang Tionghua Kristen itu dengan tenang dan menikmati ekspresi wajahnya yang lucu. Walau dalam hati saya ngakak, namun ekspresi muka saya tetap lugu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s