Bengcu Menggugat Tuhan Yesus Tidak Tidur


Saya harap anda tidak sekedar ikut menumpang membaca, tetapi juga membeli buku ini karena semua royalti dari penjualan buku ini akan diserahkan untuk membantu gereja-gereja di Klaten yang menjadi korban gempa bumi. 4 gereja roboh, 13 gereja rusak berat dan 21 gereja rusak ringan.

Tuhan Yesus Tidak Tidur Renungan Tentang Hikmah di Balik Musibah
Purnawan Kristanto

Tanpa mengurangi rasa hormat, SAYA TIDAK SUKA BUKU ITU. Buku karangan Purnawan Kristanto. Bukan karena pengarangnya salah satu blogger Komunitas Blogger Kristen SABDAspace apalagi karena dia kawan saya, juga bukan karena 100 renungannya, apalagi karena 16 cara mati ketawa ala penyintas gempa. Saya tidak suka buku Purnawan Kristanto itu karena harganya terlalu MURAH, Rp. 25.000,- (Dua puluh lima ribu rupiah). Saya tidak tahu, siapa yang demikian tega menentukan harga jual buku yang tidak masuk akal itu. Saya tetap membeli buku itu walau sangat tersinggung dengan harganya agar dapat membuktikan kepada anda bahwa buku itu dijual kelewat murah. Apabila boleh ditawar, maka saya pasti akan menawar untuk membelinya dengan harga 2 kali lipatnya.

Dengan asumsi royalti bagi penulis adalah 10% dari harga jual, maka setiap buku yang terjual akan akan menghasilkan royalti Rp. 2.500,- (Dua ribu lima ratus). Semua royalti akan digunakan untuk menolong korban gempa bumi Yogyakarta. Anda diberi kesempatan untuk berbuat baik dengan harga dua ribu lima ratus rupiah. Sungguh kelewat murah.

Tidak satu molekul pun di alam semesta ini berada di luar wilayah kekuasaan Allah. Dia juga maha tahu. Tidak seekor burung pun yang jatuh tanpa sepengetahuan-Nya. Bahkan Allah pun tahu jumlah rambut kita. Ia berkuasa sepanjang masa. Jika Allah itu baik dan berkuasa, mengapa hal jahat masih saja terjadi? Benarkah musibah terjadi semata-mata karena dosa manusia? Lalu bagaimana kita menyikapi berbagai penderitaan yang kita alami?

Sekali lagi, tanpa mengurangi rasa hormat, SAYA TIDAK SUKA Tuhan Yesus Tidak Tidur. Buku karangan Purnawan Kristanto. Karena sejak bab 1, “Ketika Bumi Berguncang” penulisnya sudah ngeledek pembacanya. Ketika gempa bumi melanda Yogyakarta, sebagian besar pembaca mendengarnya dari radio dan menontonnya di televisi seolah itu adalah kisah dari antah brantah, namun inilah kisah yang tertulis dalam buku Tuhan Yesus Tidak Tidur.

“Gempa bumi!” batin saya. Saya segera melompat dari tempat tidur dan meraih bayi kami. Namun, ternyata ia sudah lebih dulu digendong mamanya. Dengan perasaan yang takut dan kaki gemetar, kami menghambur keluar rumah.”

Lebih lanjut Purnawan Kristanto menulis:

Darah saya tersirap melihat kedasyatan kekuatan alam ini. Hampir semua bangunan di wilayah ini telah runtuh. Jumlah korban jiwa sangat banyak. Itu belum termasuk korban terluka. Begitu banyaknya korban terluka sehingga rumah sakit umum tidak bisa menampung lagi. Akibatnya, mereka terpaksa dibawa ke rumah sakit jiwa.

Seorang warga berkisah, waktu gempa terjadi ia sudah ada di sawah. Ketika melihat ke arah perkampungan, ia menyaksikan rumah-rumah yang roboh secara bergelombang. “Seperti ada ular yang bergerak di bawah tanah,” katanya memberi kiasan.

Saudara-saudara, bukankah Purnawan Kristanto sedang mengejek kita karena yang ditulisnya berbeda dengan yang kita lihat di televisi? Bukankah Televisi menyiarkan, setelah gempa melanda Yogyakarta, rakyatnya bersuka cita karena dapat bertemu, bersalaman dan berfoto dengan artis dan aktor pujaan mereka. Gempa yogyakarta membuat impian bertemu orang top sambil di liput media untuk disiarkan ke seluruh Indonesia bahkan mungkin seluruh dunia, menjadi kenyataan.

Aisyah namanya. Saat gempa terjadi, bayi yang masih merah ini masih berusia lima hari. Guncangan di pagi hari itu merobohkan rumah orang tuanya. Ibu bayi ini meninggal karena tertimpa runtuhan tembok. Sedangkan Slamet, bapaknya mengalami retak di tulang selangkangan. Bayi Aisyah sendiri sempat terkubur dalam puing-puing rumah. Neneknyalah yang dengan sekuat tenaga mengorek-ngorek timbunan reruntuhan sampai akhirnya bisa menyelamatkan cucunya itu.

Pak Slamet sempat dirawat di rumah sakit, tetapi dipulangkan karena tidak mampu membayar biaya. Sedangkan bayi Aisyah yang masih lemah ini dirawat di tenda darurat yang serba memprihatinkan, dengan sanitasi yang buruk.

Saudara, setelah Aisyah berhasil diselamatkan oleh neneknya dan dirawat di tenda darurat tanpa menyadari bahwa ibunya TELAH MATI, di Jakarta beredar SMS di antara orang Kristen yang isinya kurang lebih begini, “ PUJI TUHAN, setelah didoakan, akhirnya pusat alam gaib Indonesia hancur berantakan karena Tuhan menyatakan kuasaNya. Inilah kesempatan bagi kita untuk memberitakan Injil.”

Salah seorang teman saya bahkan bersaksi lewat telepon tentang penglihatan yang dia peroleh dari Tuhan. Dia menyatakan bahwa bencana Yogyakarta, bahkan bencana Tsunami di Aceh tidak seberapa. Akan terjadi lagi bencana yang lebih besar di mana korbannya lebih dari 500.000 jiwa. Itulah cara Tuhan melampiaskan kemarahan-Nya karena bangsa ini menolak Injil. Selain teman itu, masih banyak SMS lain yang beredar saat itu di kalangan orang Kristen.

Buku Tuhan Yesus Tidak Tidur, benar-benar menyajikan informasi yang mengejek angggapan kita akan gempa Yogyakarta selama ini. Itu sebabnya saya merasa senang karena buku itu juga menyajikan kisah-kisah di luar kisah bencana gempa Yogyakarta. Namun, untuk terakhir kalinya, tanpa mengurangi rasa hormat, SAYA TIDAK SUKA BUKU ITU, Tuhan Yesus Tidak Tidur, karangan Purnawan Kristanto, karena kisah-kisah lainnya. Berikut ini salah satu kisahnya.

Mas Mono, seperti pemuda lain di desanya, ingin mengejar mimpi hidup sukses ke kota. Ia mendapat pekerjaan sebagai tukang las. Namun naas, teman kerjanya melakukan keteledoran. Temannya menyenggol batang besi yang menyebabkan kabel listrik bertegangan sangat tinggi menggeliat dan menyetrum tubuh mas Mono. Akibatnya, selain mengalami luka bakar tingkat tinggi, mas Mono juga harus merelakan kedua lengannya diamputasi, di batas pergelangan tangannya.

Mimpi sukses itu pupus sudah. Dengan hati hancur, mas Mono pulang ke desanya. Sedih, bingung, putus asa, marah, ingin berontak. Perasaan itu berkecamuk dalam dirinya. Selama setahun mas Mono dirundung duka. Setiap kali mendapat perkunjungan dari anggota gereja, mas Mono lebih suka mengurung diri dalam kamar. Namun malam harinya, mas Mono keluar rumah. Ia tidur di kuburan desanya!

Hingga suatu ketika, mas Mono menghilang. Tentu saja keluarganya kebingungan mencarinya. Dua minggu kemudian, ia muncul lagi. “Kemana saja kamu?” tanya kakak perempuannya. “Ke Bali, mbak,” jawab Mono santai.

Sejak saat itu, mas Mono mulai berubah. Ia mulai belajar naik sepeda. Sebelumnya ia memang sudah bisa mengendarai sepeda. Namun dengan lengan yang buntung dan kaki yang pincang, ia harus menyesuaikan diri lagi.

Saudara-saudara, tolong saya, apa hebatnya kisah mas Mono? Tidak ada kuasa sama sekali! Tidak ada mujizat sama sekali! Coba anda bayangkan bila mas Mono bersaksi di atas mimbar dengan tampang desa dan logat Jawa medoknya,

“Saudara-saudara karena kelalaian teman, maka saya kehilangan kedua telapak tangan saya sementara kaki saya menjadi pincang. Karena kejadian itu, setelah putus asa selama setahun, saya bangkit lagi dan mulai belajar naik sepeda.”

Oh my God! Sipincang tanpa telapak tangan bersaksi di mimbar-mimbar gereja tentang usahanya belajar naik sepeda? Di mana KUASA Tuhan? Di mana MUJIZAT Tuhan?

Saudara-saudara terkasih, tolong jangan beli buku itu. SAYA TIDAK SUKA BUKU Tuhan Yesus Tidak Tidur, karangan Purnawan Kristanto karena tidak ada MUJIZAT di dalam buku itu. Tidak ada KUASA dalam buku itu. Tidak ada SUARA TUHAN yang berbicara langsung kepada manusia di dalam buku itu. Itu bukan buku tentang para PEMENANG, itu hanya buku yang menceritakan tentang orang-orang yang BERTAHAN hingga akhir pertandingan.

TOLONG, jangan beli buku itu. SAYA TIDAK SUKA BUKU ITU! Sekali anda membelinya, mustahil anda tidak membacanya, sekali anda membacanya, maka percayalah, anda tidak akan mampu bermimpi lagi bahwa:

Bila berdoa dan yakin bahwa Tuhan akan menjadikan anda orang baik, maka anda akan terbangun di pagi hari sebagai orang baik.

Bila berdoa dan yakin bahwa Tuhan akan menjadikan anda orang pinter, maka anda akan terbangun di pagi hari sebagai orang jenius.

Bila berdoa dan yakin bahwa Tuhan akan menjadikan anda orang kaya, maka anda akan terbangun di pagi hari dan menemukan harta berlimpah.

Karena Tuhan Yesus Tidak Tidur, karangan Purnawan Kristanto hanya mengajarkan anda untuk menjadi orang Kristen seperti yang diajarkan Alkitab. Karena Tuhan Yesus tidak tidur maka kita tahu bahwa Dia tahu segala sesuatu yang terjadi pada diri.

Gempa Yogyakarta dengan kekuatan 5,9 skala richter memang bukan gempa paling dasyat di dunia, namun gempa itu telah memporak-porandakan ribuan rumah dan membuat ribuan manusia kehilangan harta dan orang-orang yang dicintainya. Mereka tidak putus asa karena mereka tahu, Tuhan Yesus Tidak tidur. Karena Tuhan Yesus tidak tidur maka mereka tahu bahwa yang terjadi hanya HAL biasa yang terjadi pada manusia. Melalui hal itu Allah sedang menyiapkan jalan agar manusia mampu melaluinya dan memahami maknanya.

3 thoughts on “Bengcu Menggugat Tuhan Yesus Tidak Tidur

  1. di hal 17, bung Purnawan memakai terjemahan Matius 11:29-30 versi Hai hai “Sebab kuk yg Ku pasang itu enak dan beban Ku pun
    ringan, dan disertai narasi pendek ttg kuk. Well done

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s