Puisi Tanpa Kanvas dan Pigura


Draf 1

Pelacur sampai ke sumsum tulang
melacur hingga tulang belulang
masih adakah tempat untuk cinta?

Dusta adalah hidupnya
nista kebanggaannya
adakah bangga
melihat gelinjangnya?

Hati hyna
melangkah singa
menatap garang
nyali mengerang
suara lantang
akal menantang
kalimat menunjuk
laku ditunjuk

tubuh kecil
mungil ringkih
mata bening
suci pualam
gerak lentur
ringkih risih
itukah jantanku?
atau hanya jalangku?

Celoteh riang anakku
Hosea nama bapakku
nabi Allah kerja ayahku
Gomer binti Diblaim nama ibuku
sundal, ia dipanggil tetanggaku
Yizreel nama pemberian Allahku
haram jadah, ku dipanggil temanku

Hosea namaku
nabi Allah, aku
aku bukan milikku

Draf 2

Dalam gelinjangnya aku lupa
dalam tatap matanya aku buta
dalam senyumnya aku raja
aku membenang basah

Menatapnya melangkah pergi
gemericik air di malam buta
sudah berapa kali dia mandi?
sudah berapa jalang benang basah?
aku satu-satunya lelaki?
aku salah satu jalangnya?
hatiku mengucurkan darah
cemburu
dadaku mengembuskan asap
marah

Membenamkan diri ke dalam air
aku menatap surga
bila hari itu tiba?
gentar kumenunggunya
kenapa?
hatiku bukan milikku lagi

Draf 3

Kepalaku terangkat tinggi
karena Allah menunduk rendah
Allah menikahi Israel
aku menikahi sundal

Sudah lama berhenti menghitung
tak peduli jalang berkokok
tak guna menunggu hari
tak ragu mengunyah mentari
Allah menunggu Israel
aku menunggu istri sundalku
Allah sabar
aku rela

Aku Hosea
nabi Allah
istriku sundal
anakku haram jadah

Hosea Nabi Allah – Cinta

Diamku adalah cinta
diamlah

Gomer binti Diblaim
cinta

NB.
Apa pendapat anda ketika membaca puisi-puisi tersebut di atas?  Puisi-puisi itu tanpa kanvas dan tanpa pigura itu sebabnya anda tidak bisa menikmatinya dengan sempurna. Setelah klik di sini, bacalah blognya maka anda akan menikmati puisi pertama tersebut di atas di atas kanvas dan pigura. Apabila klik di sini dan membaca blog tersebut perlahan-lahan, maka anda akan tahu apa itu CEMBURU. Sedangkan, bila anda klik di sini lalu membaca blognya, maka anda akan paham, kenapa begitu banyak orang rela mati untuk Allah. Silahkan klik di sini, lalu baca blognya dengan teliti, semoga anda paham apa itu CINTA.

Advertisements

16 thoughts on “Puisi Tanpa Kanvas dan Pigura

    • Mungkin Joli. Banyak teman-teman yang bilang saya pernah janji kepada mereka untuk mengungkapkan dan membahas kisah-kisah mereka namun sampai hari nggak pernah menuliskannya agar diketahui dunia. Saya sudah mulai satu, “Aku birahi pada mamaku!” Bulan ini ada belasan remaja yang bertanya tentang hal itu.

  1. ah pelacur..
    aku tak suka pada-nya.
    namun dia ada
    ku juga pernah melakukan-nya walau dalam pikir
    aku tak suka padanya
    namun dia pernah ada
    ah pelacur
    kenapa dia/DIA mengasihinya?

    • Pelacur sampai ke sumsum tulang
      melacur hingga tulang belulang
      masih adakah tempat untuk cinta?

      Pelacur melacur
      melacur pelacur
      mana pelacur?
      siapa melacur?
      melacur?
      pelacur?
      selalu ada cinta untuk yang membeli nikmat

    • @benia, hidup kebanyakan ironi? masak sih? Bukan-nya hidup itu karena cinta? Kebanyakan cinta kalee? Jadi possesif, cemburu dan ngamuk lalu jothakan diem-diem-an.

      Untungnya si hosea belajar mencintai, dan gomer belajar dicintai. Jadi happy happy ending lah.. (selamat tinggal ironi, ha..ha…)

  2. Sudah lama berhenti menghitung
    tak peduli jalang berkokok
    tak guna menunggu hari
    tak ragu mengunyah mentari
    Allah menunggu Israel
    aku menunggu istri sundalku
    Allah sabar
    aku rela

    hmmmmmmmphhhh.. keren!

    Sebuah misteri bagiku mengapa Allah mesti menunggu Israel
    Kenapa cuma Israel yang ada di benakNya?
    Kenapa Dia begitu sabar dengan mereka? Meski ada kalanya tidak?
    Mengapa hosea juga rela beristri seorang sundal?
    Benarkah itu kerelaan, atau keterpaksaan karena menuruti perintah Allah?

    hmmmmmmmmmmmmmmphhh…

  3. om hai hai….,
    komentar komentarnya @Arif sebastian itu(tentang penyimpangan seksual bersama partner yang berinisial EB)memang kisah nyata masa lalu om hai hai kah…?

    Sebelumnya maaf bila pertanyaan saya salah tempat.

    • @g, kenapa anda tidak tanya si Arif sebastian saja? ha ha ha ha ….. Kalau itu memang kisah saya pasti saya yang menulisnya bukan? Kalau itu ditulis oleh Arif sebastian pasti itu KISAH hidupnya. bagaimana dengan nama-nama? Anda tanya saja kenapa dia pakai nama hai hai untuk kisah hidupnya? Mungkin dia ingin ngETOP seperti hai hai kali? ha ha ha …

  4. oh…,jadi itu cuma fiksi.
    Artinya,sejak kecil anda normal normal saja bukan?

    Sejak pertama sekali membaca artikel2 anda sedikit banyak saya memang menaruh syak wasangka karena beberapa komentar komentar miring yang saya baca.

    Namun karena saya menyukai tulisan tulisan anda saya mengabaikan saja dan menetapkan hati hanya untuk melihat isi artikelnya saja dan tak peduli dengan siapa dan bagaimana dengan penulisnya.

    Om hai hai…,
    bagaimana dengan komentar komentar @agus sutisna di wall fb anda,semua itu juga cuma fiksi bukan?

    (maaf om hai hai bukan maksud saya hendak mencampuri pribadi anda,saya hanya sedikit penasaran saja…)

    • @g, baca tulisan-tulisan saya dengan teliti dan hati-hati lalu UJILAH dan peganglah yang BAIK. Saya tidak peduli apa kata orang tentang diri saya sebab saya tidak SEDANG menulis tentang diri saya atau sedang memperkenalkan diri saya kepada dunia melalui tulisan-tulisan saya. Itu sebabnya yang slama ini saya lakukan hanya MEMBELA tulisan saya namun TIDAK pernah MEMBELA diri saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s