SMU Methodist 2 Medan – Operasi Gaib Ala M2MC


Saat ini banyak orang Indonesia berkunjung ke Piliphina dan Thailand untuk menjalani operasi gaib. Yang memiliki dana terbatas dapat melakukannya di Indonesia dengan bantuan Damianus Wera atau beberapa dukun lainnya. Ketika berkunjung ke SMU Methodist 2 Medan, saya melihat dengan mata sendiri seorang pemuda sakti melakukan operasi gaib mengangkat usus buntu dan batu ginjal.

Saat itu, 200 orang lebih, sebagian besar adalah murid-murid SMU berkumpul di Aula SMU Methodist 2, saya ada di sana, duduk di barisan terdepan. Dalam keramaian tiba-tiba saya melihat sorang pemuda menggeletak di atas meja di atas panggung. Dia nampak pingsan karena menahan sakit. Kedua kakinya menggantung tanpa tenaga, kedua tangannya tergantung lemah. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, membawa pemuda itu ke rumah sakit mungkin satu-satunya jalan untuk menolongnya. Suasana saat itu sangat mencekam, mungkin orang-orang lain sama tercekamnya dengan diriku.

iba-tiba seorang pemuda, dengan masker dan pakaian laboratorium berjalan mendekati pemuda itu. Dia menyingsingkan lengan baju lalu menyingkapkan kaos pemuda sakit itu. Seorang wanita mendekati pemuda itu lalu mengangsurkan sebuah kain lap putih bercorak hitam dan sebuah mangkuk berisi air. Pemuda bermasker itu memandang perut orang sakit itu, lalu mengetuk-ngetuk dan mengelus perut dengan jemarinya. Nampaknya dia sedang mendeteksi penyakit orang itu dan memperkirakan langkah yang akan diambilnya. Pemuda itu mengangguk puas dengan apa yang ditemukannya lalu membasuh tangannya di dalam mangkuk.

Telapak tangan kirinya menekan dada pasien sementara kuku jempol tangan kanannya menggores perut orang sakit itu. Darah langsung merembes keluar dari kulit perut yang terluka, semakin lama semakin banyak. Dia menggunakan telapak tangan kirinya untuk mencegah darah semakin banyak keluar ketika jemari tangan kanannya mulai merogoh ke dalam perut. Tiba-tiba dia menekan dengan keras, aku seolah mendengar suara, “bless …” Ketika jemari tangan kanannya amblas ke dalam perut. Darah muncrat dari sela-sela jemari tangan kirinya yang berusaha menghalangi. Warnanya merah kehitaman. Sebagai orang yang takut darah aku ingin memalingkan wajah namun rasa ingin tahu memaksaku tetap bertahan.

Pemuda sakti itu benar-benar menguasai apa yang dilakukannya, jemarinya dengan lincah bergerak menyelusup rongga perut, ketika darah yang merembes semakin banyak, dia membersihkannya dengan kain lap. Tidak ada yang tahu apa yang sedang dicarinya hingga tiba-tiba dia menarik nafas lega sementara tangan kanannya pelan-pelan ditarik keluar dari rongga perut, sebuah usus terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengah. Dengan telaten dia menarik usus yang panjangnya hampir sejengkal itu keluar dari perut dan meletakkannya di dalam mangkuk.

Sejenak dia menatap ke dalam rongga perut yang menganga, rupanya masih ada sesuatu yang harus diambilnya dari sana. Kali ini dia memasukkan jemari tangan kirinya untuk mencari sementara dengan kanan dia mengambil kain lap dan membersihkan darah yang menggenang. Saya agak bergidik melihat telapak tangan kirinya yang menancap ke dalam perut sementara darah membuncah keluar. Rupanya dia mengalami kesulitan dengan tangan kirinya, itu sebabnya dia lalu gantian menggunakan tangan kanannya untuk merogoh. Beberapa saat kemudian dia menarik jemarinya di antara jari telunjuk dan tengah terjepit sebuah benda lonjong sebesar buah dukuh. Nampaknya, selain melakukan operasi usus buntu, pemuda sakti itu juga mengambil batu dari ginjal pasiennya.

Operasi berjalan dengan lancar. Pemuda itu membersihkan sisa-sisa darah yang berceceran dengan kain lap, lalu berkonsentrasi sebentar, nampaknya dia sedang mengerahkan ilmunya karena setelah itu dia menumpangkan tangan kanan di atas punggung telapak tangan kirinya lalu mengusap perut itu dalam sebuah sapuan bertenaga. Aneh bin ajaib luka menganga yang mengucurkan darah di perut pasien itu segera merapat. Kembali dia mengunakan kain lap untuk membersihkan darah di perut itu. Perut itu nampak agak merah namun tidak ada luka sama sekali.

Pemuda sakti itu memandang orang-orang yang ada di dalam ruangan itu yang terpaku dengan unjuk kesaktiannya, mengangguk sedikit lalu berjalan meninggalkan pasiennya. Ketika bayangannya menghilang, kami seperti disadarkan dari sebuah mimpi. Gumam kekaguman memenuhi ruangan sementara tepuk tangan riuh menggelegar. Namun, pemuda sakti itu sudah menghilang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s