Aula Simfonia Jakarta Impian Stephen Tong Sang Hamba Allah


Foto: millionthousands.blogspot.com

Suatu hari sang hamba Allah menyatakan keprihatinannya tentang lagu Indonesia Raya yang semakin jarang terdengar dan semakin jarang dinyanyikan oleh rakyat Indonesia. Apabila terus berlangsung demikian maka cepat atau lambat lagu Indonesia Raya akan dilupakan oleh bangsa Indonesia seperti mereka melupakan Wage Rudolf Supratman, pencipta lagu tersebut. Keprihatinan sang hamba Allah itu ditanggapi oleh salah satu wakil rakyat yang lalu menyampaikannya kepada seluruh wakil rakyat dan presiden Republik Indonesia. Sejak itulah lagu Indonesia raya selalu dinyanyikan oleh para wakil rakyat dan pemerintah sebelum sidang dimulai.

A good content needs a good container. A good music need a great music hall. Itulah impian seorang anak muda 50 tahun yang lalu. Saat itu dia berumur 19 tahun. Sulit sekali untuk menilai bakatnya yang mana yang lebih hebat, seni musik atau seni lukis atau seni patung atau seni arsitektur? Yang paling hebat tentu saja tekad dan usahanya untuk mengembangkan semua bakatnya tersebut sampai batas akhir. Setelah bermimpi selama 30 tahun, dia mulai mewujudkan impiannya dengan mulai membeli sedikit demi sedikit; satu demi satu barang-barang seni yang akan ditaruhnya di dalam music hall impiannya. Hal itu dilakukannya selama 20 tahun hingga genap harinya. Music hall itu sudah selesai dibangun dan diberi nama AULA SIMFONIA JAKARTA. Dia memimpin empat konser pada tanggal 17, 18, 23 dan 24 Oktober 2009 untuk mendedikasikan music hall impiannya kepada TUANNYA, Allah pencipta langit dan bumi serta memperkenalkannya kepada para pecinta musik, baik pencipta maupun penikmat.

Walaupun tidak bergaul akrab dengannya, namun saya termasuk orang yang sangat beruntung. Sejak tahun 1982 saya mendengarkan kotbah-kotbahnya dan membaca buku-bukunya serta ikut bermimpi dengannya tentang sebuah gereja dan sebuah music hall untuk didedikasikan kepada Allah guna melayani manusia. Pada 20 September 2008 yang lalu sang hamba Allah pelayan manusia mewujudkan impiannya, mendedikasikan Katedral Mesias kepada Allah dan memperkenalkannya kepada dunia. Saya beruntung karena ikut hadir dalam kebaktian tersebut. Dan saya hari ini saya kembali beruntung. Tadi siang, 23 Oktober 2009, bersama Pdt. Thomy Matakupan MDiv dan  Ev. Warsoma, kami menyalaminya, menyelamatinya dan berhaha-hihi dengannya. Malamnya kami menikmati pertunjukkannya.

AULA SIMFONIA JAKARTA. Apabila menggunakan jasa arsitek profesional, biaya designnya berkisar 10 hingga 11 juta US$. Namun biaya tersebut tidak diperlukan karena sang hamba Allah pelayan manusia mendesignnya sendiri. Pada tahun 2002 Singapura membangun Esplanade Concert Hall. Menurut informasi, dari keseluruhan 339 Juta US$, 68 juta US$ digunakan untuk concert hall. Berapa biaya yang dihabiskan untuk membangun AULA SIMFONIA JAKARTA? Saya tidak tahu.  Menurut sumber yang dapat dipercaya biayanya sekitar 11 juta US$.

Foto: adhiwin.files.wordpress.com

Mana yang lebih hebat, AULA SIMFONIA JAKARTA atau Esplanade Concert Hall? Esplanade Concert Hall memiliki 1.811 tempat duduk sementara AULA SIMFONIA JAKARTA hanya 1.227 tempat duduk. Esplanade Concert Hall jauh lebih mewah dan besar dibanding AULA SIMFONIA JAKARTA. Namun, AULA SIMFONIA JAKARTA memiliki akustik yang jauh lebih sempurna dan design arsitektur yang lebih indah bahkan sangat unik, terutama dalam hal efisiensi penempatan bangku penonton. 97% penonton dapat melihat dengan jelas semua seniman di pentas, sisanya dapat melihat secara jelas 70%. Untuk sebuah music hall, tidak diragukan lagi, AULA SIMFONIA JAKARTA jauh lebih hebat. AULA SIMFONIA JAKARTA bukan milik sang hamba Allah pelayan manusia juga bukan milik Gereja Reformed Injili Indonesia atau orang Kristen Indonesia namun milik seluruh bangsa Indonesia. Dengan keberadaan AULA SIMFONIA JAKARTA bangsa Indonesia tidak perlu merasa minder lagi dengan keberadaan music hall milik bangsa-bangsa lain di dunia ini. AULA SIMFONIA JAKARTA akan menjadi ikon musik dunia baik karena keindahan dan keunikan design arsitekturnya maupun kesempurnaan akustiknya. AULA SIMFONIA JAKARTA 100% hasil karya anak bangsa Indonesia, mulai dari design, pembangunan sampai pembiayaannya.

Jam 19.20, rombongan koor Jakarta Oratorio Sociaty memasuki pentas. Rombongan pemusik Jakarta Simfonia Orchestra memasuki pentas. Setelah menempati posisi masing-masing mereka mencoba alat musiknya dan merasa puas. Pdt. Dr. Stephen Tong memasuki pentas bersama dengan ketua MPR, Taufik Kiemas. Sang hamba Allah lalu mengundang Jahja Ling ke pentas untuk memimpin menyanyikan lagu Indonesia Raya. Seumur hidup, itulah untuk pertama kalinya saya menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan iringan orkestra dipimpin oleh salah satu conductor terbaik di dunia dalam generasi ini. Rasanya benar-benar luar biasa.

Gambar: jawaban.com

Sang hamba Allah kembali ke pentas lalu bercerita tentang impiannya yang menjadi kenyataan serta memperkenalkan AULA SIMFONIA JAKARTA kepada hadirin. Dia menunjukkan keistimewan design music hall itu juga menunjukkan betapa pentingnya music hall itu untuk bangsa Indonesia, khususnya kota Jakarta sebagai Ibu kota negara. Walaupun berkata-kata tanpa bantuan pengeras suara namun kami dapat mendengar semua perkataannya dengan jelas. Dia lalu mempersilahkan Taufik Kiemas untuk memberi kata sambutan. Beginilah kita-kira kata-katanya yang saya ingat. “Concert hall adalah tanda peradaban manusia, itu sebabnya semua bangsa di dunia berusaha membangunnya. Sejak lama saya dan istri menyadari hal itu dan berusaha untuk mendirikannya, namun sayang hingga saat ini kami belum sanggup mewujudkannya. Dengan adanya concert hall ini maka kita tidak akan merasa minder lagi ketika menghadapi bangsa-bangsa lain, sebab kita juga memiliki apa yang mereka miliki. Terima kasih Pak Stephen Tong sudah mewujudkannya saat ini. Ini adalah karya yang luar biasa. Ini adalah milik bangsa Indonesia yang harus kita jaga bersama-sama. Sekarang kita tidak perlu ke luar negeri lagi untuk mendengarkan musik-musik indah dan untuk mempelajari musik. Sebelumnya para pemusik Indonesia pergi ke luar negeri untuk belajar dan berkarya, nanti anak-anak kita akan belajar dan berkarya di negeri sendiri dulu sebelum mereka tampil di manca negara.” Dia akhir kata sambutannya, Taufik Kiemas mengingatkan agar sang hamba Allah tidak lupa mengundangnya ketika ada acara, karena dia dan istrinya benar-benar menyukai musik.

Pipe organ atau organ pipa adalah salah satu alat musik tertua dengan suara terindah di dunia. Yang dimiliki AULA SIMFONIA JAKARTA adalah produksi Cassavant Frères tahun 1962 dengan 3.217 pipa dengan berat total lebih dari 10 ton. Sebagian dari pipa-pipa organ digunakan sebagai hiasan utama dinding di belakang pentas music hall. Billy Kristanto membuka konser dengan memainkan Organ Concerto in B Flat Major OP. 4 No. 6 HWV 294 karya G. F Handel di-conductor-i oleh Pdt. Dr. Stephen Tong. Suara organ pipa yang khas dan mistis memenuhi udara.

Ini sebuah kebetulan yang indah. Beberapa bulan terakhir ini saya menghabiskan waktu untuk menyelidiki kisah penciptaan di dalam Kejadian 1 & 2, sekarang mendapat kesempatan untuk menikmati suguhan Oratorio The Creation karya F.J. Haydn yang disajikan di music hall luar biasa. Benar-benar anugerah yang indah. Terima kasih Tuhan. Terima kasih Pdt. Dr. Stephen Tong. Terima kasih Master Jahja Ling. Terima kasih soprano Huang wei, alto Anna Koor, tenor Daniel Decker, baritone Chen Yong Chen, Jakarta Simfonia Orchestra dan Jakarta Oratorio Society serta semua yang terlibat dalam penyelengaraan ini.

Joseph Haydn (1732-1809) memiliki dua orang murid yang sangat terkenal yaitu Ludwig van Beethoven (1770-1827) dan Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791). Oratorio The Creation yang dikerjakannya dalam waktu 2 tahun dan ditampilkan pada tahun 1798 dianggap oratorio ketiga teragung di dunia setelah Messiah karya G.F. Handel (1685-1759) dan Elijah karya F. Mendelssohn B (1809 -1847).

Seumur hidup saya belum pernah menikmati musik klasik demikian indah. Saya yakin itu bukan yang pertama karena sang hamba Allah pelayan manusia berjanji setiap bulan akan ada pertunjukkan musik klasik kelas dunia di AULA SIMFONIA JAKARTA.

NB.
Untuk membaca blog-blog lain yang berhubungan dengan GRII, silahkan klik di SINI

Advertisements

6 thoughts on “Aula Simfonia Jakarta Impian Stephen Tong Sang Hamba Allah

  1. Terimakasih untuk penjelasannya. Puji Tuhan, yang telah mengaruniakan salah satu hambaNya yg multiii-talented-Pdt. Dr. Stephen Tong- untuk melayani di dunia ini. Soli Deo Gloria.Amien.

  2. saya tertarik dengan kalimat berikut:
    “AULA SIMFONIA JAKARTA 100% hasil karya anak bangsa Indonesia, mulai dari design, pembangunan sampai pembiayaannya.”
    karena dari segi desain, saya merasa bahwa ada kemiripan dengan
    – Boston Symphony Hall (konsep ornamen patungnya)
    http://www.bso.org/brands/bso/about-us/venue-rentals/rent-the-hall.aspx
    – Suntory Hall Tokyo (desain panggung serta seating plan-nya)
    http://www.suntory.com/culture-sports/suntoryhall/facility/hall.html
    saya senang bahwa Indonesia kini memiliki ASJ, namun rasanya perlu kritis juga terhadap hal-hal yang mungkin sebenarnya terinspirasi oleh individu-individu bertalenta lainnya

    • boston Symphony hall
      Boston Symphony hall klik di SINI.

      Aula simfonia Jakarta
      Aula Simfonia Jakarta

      Suntory Hall
      Suntory Hall Tokyo

      Aula simfonia Jakarta

      Aula Simfonia Jakarta

      Pdt. Dr Stephen Tong menyatakan bahwa dia mendesign Aula Simfonia Jakarta setelah menyelidiki semua concert hall terbaik yang ada di dunia untuk mempelajari kelebihan dan kekurangannya. Itu sebabnya tidak aneh bila dari segi BENTUK Aula simfonia jauh lebih CANTIK dan INDAH dibandingkan dengan Boston dan Suntory hall. Juga dalam hal penempatan tempat duduk sehingga lebih EFISIEN dan bisa melihat pemain musik lebih baik, Aula Simfonia Jakarta lebih baik. Bahkan untuk AKUSTIK, menurut Jahja Ling, aula Simfonia Jakarta adalah yang terbaik di dunia.

  3. Terima kasih penjelasannya pak…salam kenal…saya sendiri anggota GRII pusat, tp pengetahuan saya tentang ASJ dan Sophilia Art museum masih kosong….Hrs cari tahu lbh banyak. GBU

    • Terima kasih kembali. seharusnya yang menulis adalah orang-orang GRII. Saya menulis karena tidak ada orang GRII yang menulis. Tentang Sophilia art museum, pengetahuan saya masih belum cukup untuk menulis. saya akan sediakan waktu untuk berkunjung lagi dan mencari beberapa informasi lalu menulis. Bagaimana kalau anda mulai mencari info kemudian menulis?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s