Budi Asali Membual Karena Tabir Bait Allah Bukan Nabi


Matius 27:45-56 mencatat kisah penyaliban Yesus. Dari generasi ke generasi jemaat Kristen meyakini ke 7 hal inilah yang tejadi:

1.    Gelap gulita – 12.00 – 15.00 (Gerhana matahari)
2.    Tabir bait Allah terbelah dua
3.    Gempa bumi
4.    Batu karang terbelah
5.    Kuburan-kuburan terbuka
6.    Orang-orang Kudus bangkit dari kematian
7.    Orang-orang masuk ke Yerusalem dan menampakkan diri kepada banyak orang

Mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, ke 7 hal yang diyakini sebagai ajaran Alkitab tersebut di atas SESAT karena bertentangan dengan ajaran Alkitab. Untuk memahami ajaran Alkitab tentang  Kegelapan pada saat penyaliban Yesus, silahkan baca blog berjudul:  Bengcu Menguak Misteri Kegelapan Saat Penyaliban Yesus. Saat ini kita akan membuktikan bahwa Budi Asali Membual Karena Tabir Bait Allah Bukan Nabi.

Memberanikan diri bertanya, di situsnya, Pdt. Budi Asali MDiv menulis:

Matius 27:51-53 (1)

Mat 27:51-56 – “(51) Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, (52) dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. (53) Dan sesudah kebangkitan Yesus, merekapun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang”.

I) Tabir yang terbelah.

1)   Tabir apa itu?

Pulpit Commentary: “‘The veil of the temple’ (tou naou). There were two principal veils in the present temple – one between the vestibule and the holy place, and one other which is that here referred to, a constituent part of the edifice. This was the veil between the holy place and the holy of holies, which was moved aside only once a year to admit the high priest to the shrine on the great Day of Atonement (Ex 26:33). It was large and costly, some sixty feet high, and made of rich materials” [= ‘Tabir Bait Suci’ (TOU NAOU). Ada 2 tabir utama dalam Bait Allah pada saat itu – satu di antara ruang depan dan Ruang Suci, dan yang lain yang ditunjuk di sini, suatu bagian unsur pokok dari gedung yang besar. Ini adalah tabir antara Ruang Suci dan Ruang Maha Suci, yang disingkapkan hanya sekali setahun untuk mengijinkan/membiarkan imam besar masuk ke tempat yang suci pada hari besar Penebusan/Pendamaian (Kel 26:33). Tabir itu besar dan mahal, sekitar 60 kaki tingginya, dan dibuat dari bahan-bahan yang berharga].

Vincent: “‘The veil of the temple.’ According to the Rabbis this was a handbreadth in thickness, and woven of seventy-two twisted plaits, each plait consisting of twenty-four threads. It was sixty feet long and thirty wide. Two of them were made every year, and according to the exaggerated language of the time it needed three hundred priests to manipulate it. This veil was the one which covered the entrance to the holy of holies, and not, as has been asserted, the veil which hung before the main entrance to the sanctuary” (= ‘Tabir Bait Suci’. Menurut Rabi-rabi ini tebalnya selebar tangan, dan ditenun dari 72 jalinan yang dipilin, setiap pilinan terdiri dari 74 benang. Tabir itu panjangnya 60 kaki dan lebarnya 30 kaki. Dua dari tabir-tabir itu dibuat setiap tahun, dan menurut bahasa yang dilebih-lebihkan dari jaman itu, dibutuhkan 300 imam untuk menggerakkannya. Tabir itu adalah tabir yang menutupi jalan masuk ke Ruang Maha Suci, dan bukan, seperti yang ditegaskan, tabir yang tergantung di depan pintu masuk utama dari Ruang Suci).

UBS NT Handbook Series: “The curtain referred to is the one which separated the Holy Place from the Most Holy Place (Ex 26:31-35; 40:21), which was thought to be the dwelling place of God on earth” [= Tabir yang ditunjuk adalah tabir yang memisahkan Ruang Suci dari Ruang Maha Suci (Kel 26:31-35; 40:21), yang dianggap sebagai tempat tinggal Allah di bumi].

Bdk. Kel 26:31-35 – “(31) Haruslah kaubuat tabir dari kain ungu tua, dan kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya; haruslah dibuat dengan ada kerubnya, buatan ahli tenun. (32) Haruslah engkau menggantungkannya pada empat tiang dari kayu penaga, yang disalut dengan emas, dengan ada kaitannya dari emas, berdasarkan empat alas perak. (33) Haruslah tabir itu kaugantungkan pada kaitan penyambung tenda itu dan haruslah kaubawa tabut hukum ke sana, ke belakang tabir itu, sehingga tabir itu menjadi pemisah bagimu antara tempat kudus dan tempat maha kudus. (34) Tutup pendamaian itu haruslah kauletakkan di atas tabut hukum di dalam tempat maha kudus. (35) Meja itu haruslah kautaruh di depan tabir itu, dan kandil itu berhadapan dengan meja itu pada sisi selatan dari Kemah Suci, dan meja itu haruslah kautempatkan pada sisi utara”.

Kel 40:21 – “Dibawanyalah tabut itu ke dalam Kemah Suci, digantungkannyalah tabir penudung dan dipasangnya sebagai penudung di depan tabut hukum Allah – seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa”.

2)   Saat sobeknya tabir.

Lenski: “Jesus died at three o’clock, thus the curtain must have been rent at the time the priests were busy with the evening sacrifice” (= Yesus mati pada pk 3 siang, maka tabir itu pasti telah sobek pada saat imam-imam sedang sibuk dengan korban petang) – hal 1127.

Barnes’ Notes: “This was the time of day when the priest was burning incense in the holy place, and it is probable that he witnessed it” (= Ini merupakan saat dari hari dimana imam sedang membakar kemenyan di Ruang Suci, dan adalah mungkin bahwa ia menyaksikan hal itu).

Pulpit Commentary: “The priest who offered incense at the evening sacrifice about this same hour must have seen it, and spread abroad among his comrades the news, to which many would attach a meaning fatal to the security of their religion” (= Imam yang mempersembahkan kemenyan pada korban petang sekitar waktu ini pasti telah melihat hal itu, dan menyebarkan berita itu dengan luas di antara teman-temannya, pada mana banyak orang memberikan suatu arti yang fatal/mematikan pada keamanan dari agama mereka).

Wycliffe: “‘Veil of the temple.’ The curtain dividing the Holy Place from the Holy of Holies (Exo 26:31). This event, symbolic of the permanent opening of God’s presence to man by the atoning death of Christ (cf. Heb 10:19-23), could have been reported by the priests who were later converted (Acts 6:7)” [= ‘Tabir Bait Suci’. Tabir ini memisahkan Ruang Suci dari Ruang Maha Suci (Kel 26:31). Peristiwa ini, menyimbolkan pembukaan kekal dari kehadiran Allah kepada manusia oleh kematian yang menebus dari Kristus (bdk. Ibr 10:19-23), bisa telah dilaporkan oleh imam-imam yang bertobat belakangan (Kis 6:7)].

Kis 6:7 – “Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya”.

3)   Penyebab sobeknya tabir.

Bukan gempa bumi yang menyebabkan robeknya tabir itu, dan ini terlihat dari fakta bahwa Matius menceritakan sobeknya tabir lebih dulu dari terjadinya gempa bumi.

Bdk. Ay 51: “Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah”.

Pulpit Commentary: “‘Was rent in twain from the top to the bottom.’ … The direction of the rent would show that no human hands had torn it apart, and the rending seems to have preceded the earthquake” (= Arah dari penyobekan itu menunjukkan bahwa bukan tangan manusia yang menyobek tabir itu, dan penyobekan itu kelihatannya mendahului gempa bumi).

William Hendriksen: “Nor is it at all probable that Matthew is trying to convey the idea that this splitting in two of the curtain was caused by the earthquake. Had that been his intention, would he not have mentioned the earthquake before the tearing of the curtain? What happened must be regarded as a miracle” (= Sama sekali tidak mungkin bahwa Matius mencoba untuk menyampaikan gagasan bahwa penyobekan menjadi dua ini disebabkan oleh gempa bumi. Seandainya itu merupakan maksudnya, bukankah ia akan menyebutkan gempa bumi sebelum penyobekan tabir? Apa yang terjadi harus dianggap sebagai mujijat) – hal 974.

UBS NT Handbook Series: “Mark also mentions that ‘the curtain of the temple was torn in two, from top to bottom.’ … Both the observation that the split was from top to bottom and the employment of the passive ‘was torn in two’ point to God as the one behind the drama, and so one may translate ‘God caused the curtain that was hanging in the temple to tear in two, from top to bottom.’” (= Markus juga menyebutkan bahwa ‘tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah’. … Kedua pengamatan bahwa penyobekan itu adalah dari atas sampai ke bawah dan penggunaan bentuk pasif ‘terbelah/dibelah menjadi dua’ menunjuk kepada Allah sebagai seseorang di balik peristiwa itu, dan dengan demikian seseorang bisa menterjemahkan ‘Allah menyebabkan tabir yang tergantung di Bait Suci itu terbelah menjadi dua, dari atas sampai ke bawah’).

Mark 15:38 – “Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah”.

4)   Arti sobeknya tabir.

Ada 2 arti yang ditekankan oleh para penafsir tentang sobeknya tabir itu, yaitu:

a)         Telah terbuka jalan masuk kepada Allah melalui Kristus.

b)         Seluruh upacara-upacara Perjanjian Lama, dengan imam-imam, korban-korban, dan bahkan seluruh Bait Sucinya, telah dihapuskan.

Lenski: “When this curtain was rent, God proclaimed that the ministration of the Jewish high priest had come to an end” (= Pada saat tabir itu terbelah, Allah memproklamirkan bahwa pelayanan dari imam besar Yahudi telah diakhiri) – hal 1127.

The Biblical Illustrator (New Testament): “‘The veil of the temple was rent.’ Signifies: The abolition of the Jewish economy; that the mysteries of that dispensation were now explained; that the way of access to God was open to all believers” (= ‘Tabir Bait Suci itu terbelah’. Menandakan/berarti: Penghapusan sistim Yahudi; bahwa misteri-misteri dari sistim itu sekarang dijelaskan; bahwa jalan masuk kepada Allah terbuka untuk semua orang percaya).

Pulpit Commentary: “The violent act was supernatural, and of a typical nature, as we are taught by Heb 9:6-12. The sanctuary enshrined the presence of God, from which the veil excluded every one but the high priest on one special occasion, thus denoting the imperfect reconciliation between God and his people, and that the way to the holiest was not yet made manifest. The rending of this veil betokened the opening of the access to heaven through the wounded body of Christ: as we read in Heb 10:19,20, ‘Having boldness to enter into the holiest by the blood of Jesus, by a new and living way, which he hath consecrated for us through the veil, that is to say, his flesh.’ … The distinction between Jew and Gentile was abolished, …” (= Tindakan keras/kasar itu adalah tindakan supranatural, dan merupakan suatu TYPE, seperti diajarkan oleh Ibr 9:6-12. Ruang Maha Suci menyimpan kehadiran Allah, dari mana tabir itu mengeluarkan setiap orang kecuali imam besar pada satu peristiwa khusus, dan dengan demikian menunjukkan pendamaian yang tidak sempurna antara Allah dan umatNya, dan jalan ke Ruang Maha Suci belum dinyatakan. Penyobekan tabir ini menandakan pembukaan jalan masuk ke surga melalui tubuh yang terluka dari Kristus: seperti yang kita baca dalam Ibr 10:19,20, ‘Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diriNya sendiri’. … Pembedaan antara orang Yahudi dan orang non Yahudi dihapuskan, …).

Barnes’ Notes: “The most holy place has been usually considered as a type of heaven, and the tearing of the veil to signify that the way to heaven was now open to all – the great High Priest, the Lord Jesus, being about to enter in as the forerunner of his people” (= Ruang Maha Suci biasanya telah dianggap sebagai TYPE dari surga, dan penyobekan dari tabir menunjukkan bahwa jalan ke surga sekarang terbuka untuk semua – sang Imam Besar, Tuhan Yesus, sedang mau masuk ke dalamnya sebagai pendahulu dari umatNya).

William Hendriksen: “As to the symbolic significance, … it is explained in Heb. 10:19,20: through the death of Christ, symbolyzed by the tearing of the curtain, the way into ‘the holy of holies,’ that is, heaven, is opened to all who take refuge in him. For the practical lesson see Heb. 4:16” (= Berkenaan dengan arti simbolis, … itu dijelaskan dalam Ibr 10:19,20: melalui kematian Kristus, disimbolkan oleh penyobekan tabir, jalan ke dalam ‘Ruang Maha Suci’, yaitu surga, terbuka bagi semua yang berlindung dalam Dia. Untuk pelajaran praktis lihat Ibr 4:16) – hal 974-975.

Ibr 10:19-22 – “(19) Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, (20) karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diriNya sendiri, (21) dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah. (22) Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni”.

Ibr 4:16 – “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya”.

The Bible Exposition Commentary: New Testament: “The rending of the veil symbolized the wonderful truth that the way was now open to God (Heb 10:14-26). There was no more need of temples, priests, altars, or sacrifices. Jesus had finished the work of salvation on the cross” [= Penyobekan tabir menyimbolkan kebenaran yang luar biasa/indah bahwa jalan kepada Allah sekarang terbuka (Ibr 10:14-26). Tidak lagi dibutuhkan Bait Suci, imam-imam, mezbah-mezbah, atau korban-korban. Yesus telah menyelesaikan pekerjaan keselamatan di kayu salib].

Calvin: “Christ, the true and everlasting Priest, having abolished the figures of the law, opened up for us by his blood the way to the heavenly sanctuary, that we may no longer stand at a distance within the porch, but may freely advance into the presence of God. For so long as the shadowy worship lasted, a veil was hung up before the earthly sanctuary, in order to keep the people not only from entering but from seeing it, (Exodus 26:33; 2Chronicles 3:14.) Now Christ, by ‘blotting out the handwriting which was opposed to us,’ (Colossians 2:14,) removed every obstruction, that, relying on him as Mediator, we may all be a ‘royal priesthood,’ (1 Peter 2:9.) Thus the rending of the veil was not only an abrogation of the ceremonies which existed under the law, but was, in some respects, an opening of heaven, that God may now invite the members of his Son to approach him with familiarity. Meanwhile, the Jews were informed that the period of abolishing outward sacrifices had arrived, and that the ancient priesthood would be of no farther use; that though the building of the temple was left standing, it would not be necessary to worship God there after the ancient custom; but that since the substance and truth of the shadows had been fulfilled, the figures of the law were changed into spirit” [= Kristus, Imam yang benar dan kekal, setelah menghapuskan gambar-gambar/simbol-simbol dari hukum Taurat, membuka bagi kita dengan darahNya jalan ke Ruang Maha Suci surgawi, sehingga kita tidak usah berdiri lebih lama lagi di kejauhan di dalam serambi, tetapi bisa dengan bebas maju ke dalam kehadiran Allah. Karena selama ibadah/penyembahan yang bersifat bayangan tetap berlaku, suatu tabir digantung di depan Ruang Maha Suci duniawi, untuk menjaga supaya umat/bangsa itu bukan hanya tidak masuk, dan bahkan supaya mereka tidak melihatnya, (Kel 26:33; 2Taw 3:14). Sekarang Kristus, dengan ‘menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita’ (Kol 2:14), menyingkirkan semua halangan, supaya, dengan bersandar kepada Dia sebagai Pengantara, kita semua bisa menjadi ‘imamat yang rajani’ (1Pet 2:9). Karena itu, penyobekan tabir itu bukan hanya merupakan penghapusan dari upacara-upacara yang ada di bawah hukum Taurat, tetapi dalam hal tertentu merupakan suatu pembukaan surga, sehingga sekarang Allah bisa mengundang anggota-anggota dari AnakNya untuk mendekatiNya dengan keakraban. Sementara itu, orang-orang Yahudi diberi informasi bahwa masa penghapusan korban-korban lahiriah telah tiba, dan bahwa imamat kuno tidak berguna lagi; bahwa sekalipun bangunan Bait Suci tetap berdiri, tidaklah perlu untuk beribadah/menyembah Allah di sana menurut tradisi kuno; tetapi bahwa karena zat dan kebenaran dari bayangan-bayangan telah digenapi, gambar-gambar dari hukum Taurat telah diubah menjadi rohani].

Jamieson, Fausset & Brown: “‘And, behold, the veil of the temple was rent in twain from the top to the bottom.’ This was the thick and gorgeously-worked veil which was hung between the ‘holy place’ and the ‘holiest of all,’ shutting out all access to the presence of God as manifested ‘from above the mercy-seat and from between the cherubim:’ – ‘the Holy Spirit this signifying, that the way into the holiest of all was not yet made mainfest’ (Heb. 9:8). Into this holiest of all none might enter, not even the high priest, except once a year, on the great day of atonement, and then only with the blood of atonement in his hands, which he sprinkled ‘upon and before the mercy-seat seven times’ (Lev. 16:14) – to signify that access for sinners to a holy God is only through atoning blood. But as they had only the blood of bulls and of goats, which could not take away sins (Heb. 10:4), during all the long ages that preceded the death of Christ, the thick veil remained; the blood of bulls and of goats continued to be shed and sprinkled; and once a year access to God through an atoning sacrifice was vouchsafed – in a picture, or rather, was dramatically represented, in those symbolical actions – nothing more. But now, the one atoning Sacrifice being provided in the precious blood of Christ, access to this holy God could no longer be denied; and so the moment the Victim expired on the altar, that thick veil which for so many ages had been the dread symbol of separation between God and guilty men was, without a hand touching it, mysteriously ‘rent in twain from top to bottom:’ – ‘the Holy Spirit this signifying, that the way into the holiest of all was NOW made manifest!’ How emphatic the statement, ‘from top to bottom;’ as if to say, Come boldly now to the Throne of Grace; the veil is clean gone; the Mercyseat stands open to the gaze of sinners, and the way to it is sprinkled with the blood of Him – ‘who through the eternal Spirit hath offered Himself without spot to God’! Before, it was death to go in, now it is death to stay out. See more on this glorious subject at Heb. 10:19-22” [= ‘Dan lihatlah, tabir dari Bait Suci terbelah menjadi dua dari atas sampai bawah’. Ini adalah tabir yang tebal dan dikerjakan dengan sangat indah yang tergantung di antara ‘Ruang Suci’ dan ‘Ruang Maha Suci’, menutup semua jalan masuk ke hadirat Allah yang dinyatakan ‘dari atas tutup pendamaian dan dari antara kerub-kerub’: – dan dengan ini Roh Kudus menunjukkan bahwa bagi semua orang jalan ke dalam Ruang Maha Suci belum dinyatakan’ (Ibr 9:8). Ke dalam Ruang Maha Suci itu tak seorangpun boleh masuk, bahkan tidak imam besar, kecuali sekali setahun, pada hari raya penebusan/pendamaian, dan pada saat itu hanya dengan darah penebusan dalam tangannya, yang ia percikkan ‘pada dan di hadapan tutup pendamaian 7 x’ (Im 16:14) – untuk menunjukkan bahwa jalan masuk kepada Allah yang suci hanyalah melalui darah yang menebus. Tetapi karena mereka hanya mempunyai darah lembu jantan dan kambing, yang tidak bisa menghapus dosa (Ibr 10:4), selama jaman-jaman yang panjang yang mendahului kematian Kristus, tabir yang tebal itu tetap ada; darah dari lembu jantan dan dari kambing terus menerus dicurahkan dan dipercikkan; dan sekali setahun jalan masuk kepada Allah melalui suatu korban yang menebus diberikan – dalam suatu gambaran, atau lebih tepat, dinyatakan secara dramatis, dalam tindakan-tindakan simbolis itu – tidak lebih. Tetapi sekarang, satu Korban yang menebus disediakan dalam darah yang mahal dari Kristus, jalan masuk kepada Allah yang kudus ini tidak bisa ditolak lebih lama lagi; dan karena itu pada saat Korban mati pada mezbah, tabir yang tebal itu, yang untuk begitu banyak jaman telah menjadi simbol yang menakutkan dari pemisahan antara Allah dan manusia yang bersalah, terbelah secara misterius dari atas sampai ke bawah, tanpa ada suatu tangan yang menyentuhnya: – ‘dengan ini Roh Kudus menunjukkan bahwa jalan ke dalam Ruang Maha Suci bagi semua orang sekarang telah dinyatakan!’ Alangkah menekankannya pernyataan ‘dari atas sampai ke bawah’; seakan-akan untuk mengatakan ‘Sekarang datanglah dengan berani kepada takhta kasih karunia; tabir itu telah hilang sama sekali; tutup pendamaian terbuka terhadap pandangan dari orang-orang berdosa, dan jalan kepadanya diperciki dengan darahNya – ‘yang oleh/melalui Roh yang kekal telah mempersembahkan diriNya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat’ (Ibr 9:14)! Sebelumnya/dahulu, adalah kematian untuk masuk ke dalam, sekarang adalah kematian untuk tetap di luar. Lihat lebih banyak lagi tentang pokok yang mulia ini dalam Ibr 10:19-22].

Ibr 9:8 – “Dengan ini Roh Kudus menyatakan, bahwa jalan ke tempat yang kudus itu belum terbuka, selama kemah yang pertama itu masih ada”.

Im 16:14 – “Lalu ia harus mengambil sedikit dari darah lembu jantan itu dan memercikkannya dengan jarinya ke atas tutup pendamaian di bagian muka, dan ke depan tutup pendamaian itu ia harus memercikkan sedikit dari darah itu dengan jarinya tujuh kali”.

Ibr 10:4 – “Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa”.

Ibr 9:14 – “betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diriNya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup”.

Bahwa sebelum saat itu orang biasa dilarang mendekat, dengan ancaman hukuman mati, terlihat dari ayat-ayat di bawah ini:

Im 16:17 – “Seorangpun tidak boleh hadir di daalam Kemah Pertemuan, bila Harun masuk untuk mengadakan pendamaian di tempat kudus, sampai ia keluar, setelah mengadakan pendamaian baginya sendiri, bagi keluarganya dan bagi seluruh jemaah orang Israel”.

Bil 1:51 – “Apabila berangkat, Kemah Suci harus ddibongkar oleh orang Lewi, dan apabila berkemah, Kemah Suci harus dipasang oleh mereka; sedang orang awam yang mendekat harus dihukum mati”.

Bil 3:10 – “Tetapi Harun dan anak-anaknya haruslaah kautugaskan untuk memegang jabatannya sebagai imam, sedang orang awam yang mendekat harus dihukum mati.’”.

Bil 3:38 – “Yang berkemah di depan Kemah Suci di sebelah timur, di depan Kemah Pertemuan, ialah Musa, dan Harun serta anak-anaknya, yang mengerjakan tugas pemeliharaan tempat kudus bagi orang Israel; tetapi orang awam yang mendekat, haruslah dihukum mati”.

Bil 18:7 – “tetapi engkau ini beserta anak-anakmuu harus memegang jabatanmu sebagai imam dalam segala hal yang berkenaan dengan mezbah dan dengan segala sesuatu yang ada di belakang tabir, dan kamu harus mengerjakannya; sebagai suatu jabatan pemberian Aku memberikan kepadamu jabatanmu sebagai imam itu; tetapi orang awam yang mendekat harus dihukum mati.’”.

Saya ingin menekankan kata-kata terakhir dari kutipan dari Jamieson, Fausset & Brown di atas, yaitu “Sebelumnya/dahulu, adalah kematian untuk masuk ke dalam, sekarang adalah kematian untuk tetap di luar”.

Apakah sekarang ini saudara sudah masuk ke hadirat Allah, melalui Kristus? Kalau belum, jangan sia-siakan karya penebusan yang telah Ia lakukan. Masuklah sekarang juga, atau saudara akan binasa selama-lamanya dalam neraka.

NB.
Bagi sdr yg telah mendapat berkat dari artikel ini.. mohon kiranya dapat membantu menyebarkan Pada sdr2 kita yg lain, sehingga semakin banyak sdr kita yg juga bisa membaca artikel ini dan mendapat berkat. Tuhan memberkati sdr. Amin.

Joh 21:17  Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.

Bengcu Menggugat:

Alkitab bagi gereja Katolik hanya salah satu sumber pustaka. Gereja Katolik juga memiliki sumber pustaka lainnya. Bagi gereja Katolik, Alkitab bukan standard kebenaran. Standard kebenaran gereja Katolik adalah gereja Katolik. Itu sebabnya banyak umat Katolik mengagulkan Gereja Katolik sebagai KANONISATOR Alkitab alias yang menentukan “ini Alkitab” dan “itu bukan Alkitab.” Itu sebabnya pula banyak ajaran gereja Katolik yang walaupun bertentangan dengan ajaran Alkitab namun diajarkan sebagai firman Allah alias ajaran gereja Katolik. Martin Luther (1483-1546) mendapat pencerahan lalu melakukan pembaruan (reformation). Gerakan Martin Luther disebut Protestament alias Protestament Reformation alias Protestant alias Gerakan Proalkitab alias Protestan. Tujuan gerakan Protestan dinyatakan dengan gamblang dalam semboyan Five Sola: Sola scriptura (hanya Alkitab), Sola gratia (hanya anugerah), Sola fide (hanya iman), solus Christus (hanya Kristus) dan soli Deo Gloria (hanya bagi kemuliaan Allah).

Reformed artinya menyusun kembali; mempersatukan kembali. Teologi Reformed artinya teologi yang disusun kembali. John Calvin (1509-1564) dihormati sebagai reformator, itu sebabnya Teologi Reformed juga disebut Calvinisme. Apa perbedaan Prostestan dan Reformed? Gerakan Protestan bertujuan untuk memperbarui gereja alias perilaku jemaat oleh karena itu semboyannya adalah Five Sola. Tujuan gerakan Reformed adalah menyusun kembali ajaran teologi alias ajaran gereja oleh karena itu menjadikan Lima Pokok Calvinis (TULIP): Total depravity (kejatuhan total), Unconditional election (pemilihan tanpa syarat), Limited atonement (penebusan terbatas), Irresistible grace (anugerah taktertolak), Perseverance of the saints (ketekunan orang-orang kudus) sebagai pokok ajaran.

Gerakan Protestan berhasil gilang-gemilang, itu sebabnya, walaupun kekeh jumekeh menentangnya namun gereja Katolik justru terlindas olehnya. Sola Scriptura (hanya Alkitab) semakin hari semakin dasyat melanda umat Katolik. Dalam generasi ini nampak gamblang antuasiasme generasi muda Katolik berpacu dengan waktu untuk belajar Alkitab dengan tujuan meng-ALKITABIAH-kan ajaran-ajaran gereja Katolik. Walaupun banyak yang melakukannya dengan jurus “utak-atik biar ngait” namun itu adalah fakta tentang kerinduan akan Sola Scriptura (hanya Alkitab).

Bagaimana dengan gerakan Reformed? Mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, mustahil mendirikan rumah di atas pasir, namun itulah yang dilakukan oleh para Calvinis. Lagu lama CD baru. Walaupun CD dan kotaknya baru namun lagunya tetap lagu lama yang dulu direkam di piringan hitam. Kenapa demikian? Karena walaupun menjadikan Alkitab sebagai sumber pustaka namun sama seperti gereja Katolik teologi Reformed pun menjadikan HIKMAT manusia sebagai standard kebenaran. Ketika menemukan ayat-ayat Alkitab yang tidak dipahami, mereka langsung menafsirkannya agar memahaminya. Ketika menemukan ayat-ayat Alkitab yang dianggap tidak logis, mereka pun menafsirkannya dengan tidak logis agar nampak logis. Hal demikianlah yang dilakukan oleh para teolog reformed ketika membaca kisah penyaliban Yesus. Karena tidak memahaminya merekapun menafsirkannya dengan jurus tafsir 1001 mimpi.

Bengcu Menggugat Pulpit Commentary

Pulpit Commentary:  Tabir Bait Suci’ (TOU NAOU). Ada 2 tabir utama dalam Bait Allah pada saat itu – satu di antara ruang depan dan Ruang Suci, dan yang lain yang ditunjuk di sini, suatu bagian unsur pokok dari gedung yang besar. Ini adalah tabir antara Ruang Suci dan Ruang Maha Suci, yang disingkapkan hanya sekali setahun untuk mengijinkan/membiarkan imam besar masuk ke tempat yang suci pada hari besar Penebusan/Pendamaian (Kel 26:33). Tabir itu besar dan mahal, sekitar 60 kaki tingginya, dan dibuat dari bahan-bahan yang berharga.

Haruslah kaubuat tabir dari kain ungu tua, dan kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya; haruslah dibuat dengan ada kerubnya, buatan ahli tenun.Keluaran 26:31

Haruslah engkau menggantungkannya pada empat tiang dari kayu penaga, yang disalut dengan emas, dengan ada kaitannya dari emas, berdasarkan empat alas perak. Keluaran 26:32

Juga haruslah kaubuat tirai untuk pintu kemah itu dari kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya: tenunan yang berwarna-warna. Keluaran 26:36

Haruslah kaubuat lima tiang dari kayu penaga untuk tirai itu dan kausalutlah itu dengan emas, dengan ada kaitannya dari emas, dan untuk itu haruslah kautuang lima alas dari tembaga.” Keluaran 26:37

Bait Allah terbagi menjadi 3 bagian yaitu. Ruang mahakudus, ruang kudus alias kemah pertemuan dan beranda. Untuk membatasi ruang-ruangan tersebut digunakan tabir atau tirai kain. Itu sebabnya di bait Allah ada 2 tirai. Tabir kudus memisahkan ruang depan dan ruang kudus. Tabir mahakudus memisahkan ruang kudus dan ruang mahakudus. Kedua tabir itu ukuran, warna dan bahannya sama. Perbedaannya adalah tabir mahakudus memiliki bordir Kerubim dan tergantung di 4 pilar sementara tabir kudus tanpa bordir Kerubim dan tergantung di 5 pilar.

Di ruang mahakudus ada tabut Allah dan dua patung Kerubim yang sayapnya menaungi tabut Allah. Di ruang kudus ada meja sajian, pinggan, cawan, kendi dan piala. 10 batang kandil bercabang 6 yang diletakkan 5 di kiri dan 5 di kanan. Mezbah bertanduk 4, kendi abu, sodok-sodok, bokor-bokor, garpu-garpu dan perbaraan. Di beranda bait Allah ada mezbah korban bakaran, bejana pembasuhan, tempat menyembelih hewan dan bejana darah.

Dan beserta domba yang satu kauolah sepersepuluh efa tepung yang terbaik dengan minyak tumbuk seperempat hin, dan korban curahan dari seperempat hin anggur. Keluaran 29:40

Domba yang lain haruslah kauolah pada waktu senja; sama seperti korban sajian (ke•min•chat ) dan korban curahannya minuman (u•che•nis•kah) pada waktu pagi harus engkau mengolahnya sebagai persembahan yang harum, suatu korban api-apian bagi TUHAN, Keluaran 29:41

Di atasnya haruslah Harun membakar ukupan dari wangi-wangian; tiap-tiap pagi, apabila ia membersihkan lampu-lampu, haruslah ia membakarnya. Keluaran 30:7

Juga apabila Harun memasang lampu-lampu itu pada waktu senja, haruslah ia membakarnya sebagai ukupan yang tetap di hadapan TUHAN di antara kamu turun-temurun. Keluaran 30:8

Di atas mezbah itu janganlah kamu persembahkan ukupan yang lain ataupun korban bakaran ataupun korban sajian, juga korban curahan janganlah kamu curahkan di atasnya. Keluaran 30:9

Di ruang kudus alias kemah pertemuan, setiap pagi setelah memadamkan kandil dan membersihkannya, imam agung memberikan korban sajian dan minuman di atas meja dan korban ukupan dari wangi-wangian di atas mezbah. Hal yang sama juga dilakukan pada petang hari setelah menyalakan kandil.

Sekali setahun haruslah Harun mengadakan pendamaian di atas tanduk-tanduknya; dengan darah korban penghapus dosa pembawa pendamaian haruslah ia sekali setahun mengadakan pendamaian bagi mezbah itu di antara kamu turun-temurun; itulah barang maha kudus bagi TUHAN.” Keluaran 30:10

Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal sepuluh bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa dan janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan, baik orang Israel asli maupun orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu. Imamat 16:29

Karena pada hari itu harus diadakan pendamaian bagimu untuk mentahirkan kamu. Kamu akan ditahirkan dari segala dosamu di hadapan TUHAN. Imamat 16:30

Hari itu harus menjadi sabat, hari perhentian penuh, bagimu dan kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa. Itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya. Imamat 16:31

Dan pendamaian harus diadakan oleh imam yang telah diurapi dan telah ditahbiskan untuk memegang jabatan imam menggantikan ayahnya; ia harus mengenakan pakaian lenan, yakni pakaian kudus. Imamat 16:32

Ia harus mengadakan pendamaian bagi tempat maha kudus, bagi Kemah Pertemuan dan bagi mezbah, juga bagi para imam dan bagi seluruh bangsa itu, yakni jemaah itu. Imamat 16:33

Itulah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagimu, supaya sekali setahun  diadakan pendamaian bagi orang Israel karena segala dosa mereka.” Maka Harun melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa. Imamat 16:34

Setahun sekali imam agung melakukan pendamaian bagi bangsa Israel. Caranya adalah dengan memasuki dan bersihkan ruang mahakudus, memercikkan darah pada keempat tanduk mezbah ukupan di ruang kudus dan memercikkan darah di mezbah korban bakaran.

Dan lihatlah, tabir Bait Suci (naos) terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa kegemparan (seio) bumi di dunia (ge), dan bukit-bukit batu (petra) terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Matius 27:51-52

Kerabatku sekalian, dari mana Pulpit Commentary tahu bahwa yang terbelah adalah tirai yang membatasi ruang mahakudus dan ruang kudus? Pulpit Commentary tahu hal itu dari Alkitab? Mustahil sebab Alkitab sama sekali tidak mencatat tentang hal demikian. Bila demikian, dari mana Pulpit Commentary mengetahui hal itu? Dari iman yang bertugas.

Pulpit Commentary: Imam yang mempersembahkan kemenyan pada korban petang sekitar waktu ini pasti telah melihat hal itu, dan menyebarkan berita itu dengan luas di antara teman-temannya, pada mana banyak orang memberikan suatu arti yang fatal/mematikan pada keamanan dari agama mereka.

Karena tidak tercatat di dalam Alkitab, itu berarti yang diajarkan Pulpit Commentary di atas adalah informasi baru baru. Dari mana Pulpit Commentary mendapatkan informasi tersebut? Dari mana diketahui bahwa Imam yang mempersembahkan korban petang pada hari itu melihat tirai ruang mahakudus terbelah dua lalu menceritakan hal itu kepada handai taulannya? Apakah Imam itu atau salah satu handai taulannya menulis surat wasiat yang diwariskan dari generasi ke generasi lalu jatuh kepada Pulpit Commentary? Atau Pulpit Commentary mendapat wahyu baru?

Pulpit Commentary: Arah dari penyobekan itu menunjukkan bahwa bukan tangan manusia yang menyobek tabir itu, dan penyobekan itu kelihatannya mendahului gempa bumi.

Aneh bin ajaib. Atas dasar apa Pulpit Commentary menyimpulkan hal tersebut di atas? Bukankah kejadian itu dilihat oleh imam yang sedang melayani korban petang? Kenapa Pulpit Commentary menjadikan arah penyobekan sebagai bukti? Mustahil Pulpit Commentary menarik kesimpulan demikian karena manusia mustahil menyobek dari atas ke bawah, bukan?

Pulpit Commentary: Tindakan keras/kasar itu adalah tindakan supranatural, dan merupakan suatu TYPE, seperti diajarkan oleh Ibr 9:6-12. Ruang Maha Suci menyimpan kehadiran Allah, dari mana tabir itu mengeluarkan setiap orang kecuali imam besar pada satu peristiwa khusus, dan dengan demikian menunjukkan pendamaian yang tidak sempurna antara Allah dan umatNya, dan jalan ke Ruang Maha Suci belum dinyatakan. Penyobekan tabir ini menandakan pembukaan jalan masuk ke surga melalui tubuh yang terluka dari Kristus: seperti yang kita baca dalam Ibr 10:19,20, ‘Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diriNya sendiri’. … Pembedaan antara orang Yahudi dan orang non Yahudi dihapuskan, ….

Dan di sanalah Aku akan bertemu dengan engkau dan dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerub yang di atas tabut hukum itu, Aku akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel.” Keluaran 25:22

suatu korban bakaran yang tetap di antara kamu turun-temurun, di depan pintu Kemah Pertemuan di hadapan TUHAN. Sebab di sana Aku akan bertemu dengan kamu, untuk berfirman kepadamu. Keluaran 29:42

Di sanalah Aku akan bertemu dengan orang Israel, dan tempat itu akan dikuduskan oleh kemuliaan-Ku. Keluaran 29:43

Keluaran 25:22 mencatat janji TUHAN untuk menemui di ruang mahakudus. Keluaran 29:42-43 mencatat janji TUHAN untuk menemui orang Israel di mezbah korban bakaran di beranda kemah pertemuan. Siapakah yang boleh memasuki ruang mahakudus? Imam yang sedang melayani! Siapakah yang boleh memasuki ruang kudus? Imam yang sedang melayani! bolehkah orang Israel masuk ke ruang kudus? Tidak boleh! TUHAN menemui orang Israel di beranda kemah pertemuan alias beranda bait Allah. Bukankah selama ini umat Kristen memahami bahwa ruang kudus bebas untuk dimasuki namun ruang mahakudus hanya boleh dimasuki oleh iman agung sekali dalam setahun?

Di belakang tirai yang kedua terdapat suatu kemah lagi yang disebut tempat yang maha kudus. Di situ terdapat mezbah pembakaran ukupan (thumiatērion) dari emas, dan tabut perjanjian, yang seluruhnya disalut dengan emas; di dalam tabut perjanjian itu tersimpan buli-buli emas berisi manna, tongkat Harun yang pernah bertunas dan loh-loh batu yang bertuliskan perjanjian, Ibrani 9:3-4

Sebagian dari ukupan itu haruslah kaugiling sampai halus, dan sedikit dari padanya kauletakkanlah di hadapan tabut hukum di dalam Kemah Pertemuan, di mana Aku akan bertemu dengan engkau; haruslah itu maha kudus bagimu. Keluaran 30:36

Kerabatku sekalian, di ruang mahakudus sama sekali tidak ada mezbah pembakaran ukupan. Keluaran 30:36 mengajarkan bahwa ukupan yang diletakkan di ruang mahakudus digiling sampai halus namun sama sekali tidak dibakar. Dalam bahasa Yunani, mezbah pembakaran disebut thusiasterion <2379> namun mezbah di ruang mahakudus disebut thumiasterion <2369>.

Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian  dapat masuk ke dalam tempat kudus, Ibrani 10:19

karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, Ibrani 10:20

dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah. Ibrani 10:21

Pulpit Commentary: …. Pembedaan antara orang Yahudi dan orang non Yahudi dihapuskan, ….

Kerabatku sekalian, Ibrani 10:19-21 hanya mengajarkan tentang memasuki ruang KUDUS. Aneh bin ajaib! Kenapa  Pulpit Commentary mengajarkannya untuk mendukung ajaran memasuki ruang MAHAKUDUS? Menurut saya, apabila tidak mendapat wahyu baru, Pulpit Commentary benar-benar ngaco belo karena menyatakan Ibrani 10:19-21 mengajarkan bahwa “Pembedaan antara orang Yahudi dan orang non Yahudi dihapuskan”.

Bengcu Menggugat UBS NT Handbook Series

Haruslah kaubuat tabir dari kain ungu tua, dan kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya; haruslah dibuat dengan ada kerubnya, buatan ahli tenun. Keluaran 26:31

Haruslah engkau menggantungkannya pada empat tiang dari kayu penaga, yang disalut dengan emas, dengan ada kaitannya dari emas, berdasarkan empat alas perak. Keluaran 26:32

Haruslah tabir itu kaugantungkan pada kaitan penyambung tenda itu dan haruslah kaubawa tabut hukum ke sana, ke belakang tabir itu, sehingga tabir itu menjadi pemisah bagimu antara tempat kudus dan tempat maha kudus. Keluaran 26:33

Tutup pendamaian itu haruslah kauletakkan di atas tabut hukum di dalam tempat maha kudus. Keluaran 26:34

Meja itu haruslah kautaruh di depan tabir itu, dan kandil itu berhadapan dengan meja itu pada sisi selatan dari Kemah Suci, dan meja itu haruslah kautempatkan pada sisi utara. Keluaran 26:35

Dibawanyalah tabut itu ke dalam Kemah Suci, digantungkannyalah tabir penudung dan dipasangnya sebagai penudung di depan tabut hukum Allah–seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa. Keluaran 40:21

UBS NT Handbook Series:  Tabir yang ditunjuk adalah tabir yang memisahkan Ruang Suci dari Ruang Maha Suci (Kel 26:31-35; 40:21), yang dianggap sebagai tempat tinggal Allah di bumi.

Handai taulanku sekalian, secara tradisi para penulis Kristen hanya mencantumkan alamat ayat-ayat Alkitab yang digunakan untuk mendukung ajarannya.  Secara tradisi pula, para pembaca Kristen merasa tidak perlu memeriksanya karena percaya dengan para penulis Kristen tersebut. Silahkan membaca ayat-ayat yang digunakan oleh UBS NT Handbook Series untuk mendukung ajarannya. Kata atau kalimat mana dari ayat-ayat tersebut di atas yang mengajarkan bahwa tabir yang sobek adalah tabir yang memisahkan ruang kudus dan ruang mahakudus? Tidak ada! Kata atau kalimat mana yang mengajarkan bahwa Allah tinggal di ruang mahakudus? Tidak ada! Bila demikian, bagaimana cara UBS NT Handbook Series menyimpulkan hal demikian? Dengan jurus tafsir 1001 mimpi. Benar-benar mengenaskan, bukan?

UBS NT Handbook Series: Markus juga menyebutkan bahwa ‘tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah’. … Kedua pengamatan bahwa penyobekan itu adalah dari atas sampai ke bawah dan penggunaan bentuk pasif ‘terbelah/dibelah menjadi dua’ menunjuk kepada Allah sebagai seseorang di balik peristiwa itu, dan dengan demikian seseorang bisa menterjemahkan ‘Allah menyebabkan tabir yang tergantung di Bait Suci itu terbelah menjadi dua, dari atas sampai ke bawah’.

Tabir bait Allah adalah benda mati, itu sebabnya mustahil membelah diri. Apabila tabir bait Allah memang terbelah, mustahil hal itu terjadi karena dia membelah diri. Hal itu pasti terjadi karena ada kekuatan di luar dirinya yang membelahnya. Itulah yang diajarkan oleh Matius ketika menggunakan kata terbelah (pasif), bukan membelah (aktif). Aneh bin ajaib! Kenapa UBS NT Handbook Series menyimpulkan bahwa terbelah (pasif) dari atas ke bawah artinya Allah yang membelahnya? Karena UBS NT Handbook Series menunjukkan keampuhan jurus tafsir 1001 mimpinya.

Bengcu Menggugat Wycliffe

Wycliffe: Tabir Bait Suci’. Tabir ini memisahkan Ruang Suci dari Ruang Maha Suci (Kel 26:31). Peristiwa ini, menyimbolkan pembukaan kekal dari kehadiran Allah kepada manusia oleh kematian yang menebus dari Kristus (bdk. Ibr 10:19-23), bisa telah dilaporkan oleh imam-imam yang bertobat belakangan (Kis 6:7).

Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya. Kisah Para Rasul 6:7

Kisah Para Rasul 6:7 memang mencatat kisah imam-imam yang menjadi Kristen namun sama sekali tidak mencatat kisah imam-imam melaporkan tentang robeknya tabir bait Allah. Mengajarkan yang tidak diajarkan oleh Alkitab sebagai ajaran Alkitab namanya membual. Mengajarkan yang bertentanngan dengan ajaran Alkitab sebagai ajaran Alkitab namanya guru palsu. Pembual dan guru palsu sama-sama menyesatkan karena menghambat jemaat  untuk memahami ajaran Alkitab dengan benar.

Bengcu Menggugat Calvinis

Lenski: Yesus mati pada pk 3 siang, maka tabir itu pasti telah sobek pada saat imam-imam sedang sibuk dengan korban petang – hal 1127.

Lenski: Pada saat tabir itu terbelah, Allah memproklamirkan bahwa pelayanan dari imam besar Yahudi telah diakhiri – hal 1127.

Vincent: Tabir Bait Suci’. Menurut Rabi-rabi ini tebalnya selebar tangan, dan ditenun dari 72 jalinan yang dipilin, setiap pilinan terdiri dari 74 benang. Tabir itu panjangnya 60 kaki dan lebarnya 30 kaki. Dua dari tabir-tabir itu dibuat setiap tahun, dan menurut bahasa yang dilebih-lebihkan dari jaman itu, dibutuhkan 300 imam untuk menggerakkannya. Tabir itu adalah tabir yang menutupi jalan masuk ke Ruang Maha Suci, dan bukan, seperti yang ditegaskan, tabir yang tergantung di depan pintu masuk utama dari Ruang Suci.

Barnes’ Notes: Ini merupakan saat dari hari dimana imam sedang membakar kemenyan di Ruang Suci, dan adalah mungkin bahwa ia menyaksikan hal itu.

Barnes’ Notes: Ruang Maha Suci biasanya telah dianggap sebagai TYPE dari surga, dan penyobekan dari tabir menunjukkan bahwa jalan ke surga sekarang terbuka untuk semua – sang Imam Besar, Tuhan Yesus, sedang mau masuk ke dalamnya sebagai pendahulu dari umatNya.

William Hendriksen: Sama sekali tidak mungkin bahwa Matius mencoba untuk menyampaikan gagasan bahwa penyobekan menjadi dua ini disebabkan oleh gempa bumi. Seandainya itu merupakan maksudnya, bukankah ia akan menyebutkan gempa bumi sebelum penyobekan tabir? Apa yang terjadi harus dianggap sebagai mujijat – hal 974.

William Hendriksen: Berkenaan dengan arti simbolis, … itu dijelaskan dalam Ibr 10:19,20: melalui kematian Kristus, disimbolkan oleh penyobekan tabir, jalan ke dalam ‘Ruang Maha Suci’, yaitu surga, terbuka bagi semua yang berlindung dalam Dia. Untuk pelajaran praktis lihat Ibr 4:16 – hal 974-975.

The Biblical Illustrator (New Testament): Tabir Bait Suci itu terbelah’. Menandakan/berarti: Penghapusan sistim Yahudi; bahwa misteri-misteri dari sistim itu sekarang dijelaskan; bahwa jalan masuk kepada Allah terbuka untuk semua orang percaya.

Kerabatku sekalian, Budi Asali menyebut dirinya Reformed sejati alias Calvinis sejati. Dia adalah Master of Divinity (M.Div) alumni Reformed Theological Seminary (RTS), Jackson, Mississippi, United States of America. Blognya yang kita uji ini benar-benar mengenaskan karena yang dilakukannya hanya kutip sana kutip sini lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Teolog-teolog yang dia kutip tulisannya memang para perofesor yang sangat masyhur. R. C. H. Lenski adalah penulis ke 12 volume “Lenski’s Commentary on the New Testament”. William Hendriksen bersama Simon J. Kistemaker adalah penulis ke 12 volume “New Testament Commentary”.

Ada seorang pemuda yang giat sekali berlatih main gitar. Aneh bin ajaib! Semakin giat berlatih justru semakin ngaco-belo permainan gitarnya. Anda tahu kenapa terjadi demikian? Karena pemuda itu tidak memainkan gitar dengan cara yang benar. Dia memetik gitar dan memencet kunci nada dengan cara yang salah. Itu sebabnya semakin giat berlatih semakin nyata kesalahannya. Kerabatku, oleh karena itu, jangan heran bila menemukan para sarjana, master, doktor bahkan professor teologi yang ajaran ngaco-belo. Hal itu terjadi karena mereka mempelajari Alkitab dengan cara yang salah. Itu sebabnya, semakin banyak gelarnya, semakin ngaco-belo ajarannya. Alkitab tidak ditulis untuk para sarjana namun untuk para jemaat. Itu sebabnya jemaat awam tidak perlu minder dengan para sarjana teologi.

Bengcu Mengungkap Rahasia Tabir Bait Suci Terbelah Dua

Alkitab sangat logis, gamblang, sistematis, akurat, tegas dan konsisten. LOGIS artinya tidak ada yang bertentangan dengan akal sehat. GAMBLANG artinya jelas dan mudah dipahami. SISTEMATIS artinya ditulis secara teratur dan berkesinambungan. AKURAT artinya sangat teliti dan cermat. TEGAS artinya jelas dan terang benar. KONSISTEN atau taat asas, artinya tidak ada yang saling bertentangan atau saling menyangkal. Anda bisa MENOLAK ajaran Alkitab namun mustahil MENYANGKALNYA. Anda bisa tidak memahaminya namun mustahil menafsirkan seenaknya. Itu sebabnya, di dalam perdebatan teologi saya selalu katakan, “Apabila pemahaman saya ini benar, maka semua ayat yang anda gunakan untuk menentangnya akan berbalik mendukungnya.”

Dan lihatlah, tabir Bait Suci (naos) terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa kegemparan (seio) bumi di dunia (ge), dan bukit-bukit batu (petra) terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Matius 27:51-52

Lalu Yesus masuk ke Bait Allah (hieron) dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah (hieron). Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati. Matius 21:12

mereka berkata: “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci (naos) dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!” Matius 27:40

Tetapi Kristus telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang akan datang: Ia telah melintasi kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia, –artinya yang tidak termasuk ciptaan ini, —  Ibrani 9:11

karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, Ibrani 10:20

•    naos <3485> = bati suci
•    hieron <2411> =  bait Allah

Kata bait suci dalam Matius 27:51 dan Matius 27:40 diterjemahkan dari kata Yunani “naos” sementara kata bait Allah (bangunan) dalam Matius 21:12 diterjemahkan dari kata “hieron”. Matius menggunakan kedua kata tersebut dengan konsisten. Dia tidak pernah menggunakan kata “naos” untuk menyebut bait Allah dan sebaliknya. Bait suci (naos) yang dimaksudkan oleh Matius 27:51 sama sekali bukan bangunan bait Allah namun Yesus Kristus. Satu saksi sama sekali tidak sah, dua saksi baru sah. Itu sebabnya Paulus dalam kitab Ibrani menyaksikan hal yang sama dengan Matius. Tabir bait suci yang dimaksudkan oleh Matius adalah Yesus Kristus. Terbelah artinya mati alias terpisahnya nyawa dan tubuh.

Dan ketika Ia masuk ke Yerusalem, gemparlah (seio) seluruh kota itu dan orang berkata: “Siapakah orang ini?” Matius 21:10

Maka terjadilah gempa bumi (seismos) yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya. Matius 28:2

Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus (Petros)  dan di atas batu karang ini (petra) Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Matius 16:18

seio <4579> =  gempar
ge <1093> = dunia
petra <4073> = batu karang
seismos <4578> = gempa bumi

Kerabatku sekalian, ketika Yesus masuk ke Yerusalem naik keledai sama sekali tidak terjadi gempa bumi (seismos) namun kegemparan (seio). Ketika Yesus meninggal juga tidak terjadi gempa bumi (seismos) namun kegemparan (seio). Kenapa dikatakan petra-petra terbelah? Karena di dalam Yesus ada Roh Kudus yang rupanya seperti burung merpati, itulah Kristus. Yesus juga dinaungi oleh Awan, itulah  Anak Manusia. Ketika Yesus meninggal ada TIGA petra yang terbelah yaitu Yesus dan Kristus serta Anak Manusia.

Harun adalah imam besar bangsa Yahudi. Dia menjadi perantara antara bangsa Israel dan TUHAN (YHWH). Melkisedek adalah Imam Besar umat manusia. Dia menjadi perantara antara umat manusia dan Allah (Elohim).  Yesus Kristus bukan Imam besar bangsa Yahudi sebab bila demikian, maka Dia PASTI takluk pada hukum taurat.  Yesus Kristus adalah Imam Besar menurut hukum Melkisedek, itu sebabnya Dia TIDAK takluk sama sekali kepada Hukum Taurat. Yesus Kristus adalah Imam besar umat manusia.

Yesus adalah Tabir yang memisahkan manusia dan Allah, yang memisahkan dunia dan sorga, itu sebabnya setiap manusia yang ke sorga, setiap manusia yang hendak datang kepada Allah harus melalui-Nya. Yesus bukan korban penebus dosa menurut hukum taurat sebab bila demikian, Dia tidak lebih dari domba manusia. Yesus adalah Anak Domba Allah,

Mereka yang mencari firman Allah dengan menafsirkan tanda-tanda pada benda-benda mati adalah penyembah berhala. Mereka ibarat bangsa Israel yang minta petunjuk TUHAN (YHWH) melalui patung anak lembu emas. Mereka ibarat orang-orang yang mencari firman Allah melalui kartu tarot dan pendulum. Perilaku demikian benar-benar tolol dan menjijikkan. Menyebut diri reformed sejati namun namun menafsirkan tanda-tanda pada benda mati? Benar-benar mengenaskan.

Tabir Bait Allah bukan nabi juga bukan rasul, itu sebabnya mustahil mengharapkannya memberitakan firman Allah. Apabila Allah memang berfirman lewat tabir Bait Allah, itu berarti Dia tidak menemukan manusia untuk menjadi nabi-Nya. Apabila Yesus Kristus berfirman lewat tabir bait Allah itu berarti tidak ada manusia untuk dipanggil menjadi rasul-Nya.

Alkitab harus dipahami, tidak boleh ditafsirkan sebab Alkitab ditulis untuk dipahami, bukan ditafsirkan. Itu sebabnya Alkitab disebut Alkitab, artinya raja kitab, bukan Altafsir, artinya raja tafsir.

NB.
Bila tertarik untuk mengungkap rahasia KEGELAPAN Saat Penyaliban Yesus, silahkan klik di SINI.

Bila tertarik untuk mengungkap Yesus mustahil mati hari Rabu, silahkan klik di sini.

Bila tertarik untuk mengungkap tiga hari tiga malam di rahim bumi silahkan klik di sini.

3 thoughts on “Budi Asali Membual Karena Tabir Bait Allah Bukan Nabi

  1. Saya mengagumi penjelasan ini, yg benar2 blum sy tau. Jika demikian segeralah dibuatkan revisi penerjemahan alkitab (spt contoh Mat.16:18) bgmana dgn reaksi LAI ?

    • @Dicky Ratihningrum, Bila menghendaki LAI merevisi terjemahan mereka, silahkan TULIS email atau kirim surat kepada LAI sendiri kisanak. Soal mereka menanggapi atau tidak, saya tidak berani jamin sebab saya bukan orang LAI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s