Jadi Bagaimana?


Pendeta itu mengelus-elus keningnya sementara suami istri itu duduk di depannya. Dia pendeta baru di gereja itu, dia baru bertugas sejak 5 bulan yang lalu. Hari ini ulang tahunnya yang ke 46 dan hadiah ulang tahun yang diterimanya adalah kasus yang ada di depannya.

Suami itu ingin menceraikan istrinya.  Dia kesal setengah mati karena sudah enam bulan istrinya selalu menolak dengan alasan cape setiap kali diajak bersetubuh. Istri itu duduk menunduk sangat dalam sementara suaminya mengumbar semua unek-uneknya. Akhirnya wanita itu mengangkat kepalanya dan tiba-tiba berkata, “Pak pendeta, saya mau cerita namun tidak di depan suami saya.” Suaminya menanggapinya panjang pendek, hingga akhirnya pendeta itu berkata, “Anda keluar dulu biar saya mendengar cerita istrimu nanti kita bicara lagi.” Suami itu sama sekali tidak berusaha menyembunyikan ketidaksenangannya namun dia keluar dengan patuh.

Setelah menutup pintu, pendeta itu kembali ke tempat duduknya lalu memandang wanita di depannya. Umurnya sekitar 32 tahun. Rambut sebahunya legam, hidungnya bangir dan bibirnya sensual sementara matanya indah. Dia cantik. Bukan hanya cantik namun juga sexi. Ada apa dengan wanita ini? Kenapa dia tiba-tiba menolak bersetubuh dengan suaminya setelah mereka menikah selama 6 tahun dan beranak dua padahal selama itu, menurut suaminya semuanya berjalan lancar? Mustahil dia selingkuh karena suaminya bilang dia selalu pergi dan pulang kerja sesui waktunya.

“Pak pendeta, saya nggak bohong. Saya memang menolak karena cape sekali.” Kata wanita itu sambil menunduk. Pendeta itu mengangguk-angguk namun tidak berkata apa-apa. Dia memberi kesempatan sepenuhnya kepada wanita itu untuk bercerita.

“Ketika anak sulung kami mulai sekolah, gaji suami saya tidak mencukupi biaya hidup kami. Itu sebabnya saya lalu mengusulkan kepada suami agar diperbolehkan untuk bekerja. Suami saya setuju, maka saya pun mulai bekerja sejak 6 bulan yang lalu.” Wanita itu berhenti lalu mengangkat kepalanya menatap pendeta itu. Pendeta itu agak gelagapan, rupanya dia keasykan menikmati kecantikan wanita di depannya. Seperti kebiasaaannya bila senewen, dia lalu mengelus-elus kening dengan tangan kananya.

“Jadi ibu merasa kecapean setelah pulang kerja itu sebabnya menolak?” Tanya pendeta itu. Wanita itu mengangguk.  Pendeta itu mengangguk-angguk lalu berkata, “Banyak kantor yang libur hari sabtu bila nggak libur umumnya hanya bekerja setengah hari. Hari minggu umumnya kantor-kantor libur. Acara gereja memang sangat padat pada hari minggu, namun nggak semua kegiatan harus diikuti bukan?”

Pendeta itu menatap wanita itu tenang. Wanita itu menarik nafas namun dia lalu mengurungkan niatnya untuk berbicara. Dia menunduk. Nampaknya dia merasa kesulitan untuk menyampaikan sesuatu.

Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya dia membulatkan tekat dan mengangkat kepalanya, menatap pendeta itu lalu berkata, “Pak pendeta, tolong jangan kasih tahu suami saya sebab bila tahu dia bisa membunuh saya.” Pendeta itu memandang wanita itu, seolah mencoba untuk membaca pikirannya. Wanita itu menantang pandangannya, entah dari mana dia mendapatkan keberanian itu. Akhirnya, setelah mengelus-elus keningnya, pendeta itu mengangguk-angguk dan berkata, “Iya saya janji tidak akan memberitahu suami ibu.”

Wanita itu menarik nafas lega, seulas senyum mekar di bibirnya.  Pendeta itu merasa nafasnya agak sesak. Wanita di hadapannya benar-benar cantik dan sexi. Ketika menarik nafas, dadanya membusung, ditambah senyumnya, dia benar-benar memikat.

“Semuanya bermula pada hari pertama saya bekerja. Karena takut terlambat, maka saya berangkat kerja naik taksi. Karena terburu-buru, saya lupa membawa dompet, itu sebabnya ketika sampai di kantor saya tidak punya uang untuk membayar ongkos taksi. Supir itu marah-marah dan mengancam untuk melaporkan saya ke polisi. Saya benar-benar ketakutan. Setelah puas marah, akhir itu supir itu berkata, ‘Kamu mau saya laporkan ke polisi atau bagaimana?’ Dari pada dilaporkan ke polisi, maka saya memilih bagaimana saja.” Wanita itu menghentikan ceritanya dia mencuri pandang ke arah pendeta itu. Pendeta itu kembali mengelus-elus keningnya yang nggak gatal. Dia ingin bertanya namun akhirnya membatalkannya.

Wanita itu melanjutkan ceritanya, “Karena bagaimana dulu maka saya terlambat masuk kerja. Ketika menghadap manager personalia di kantornya, dia marah bukan kepalang. Saya benar-benar ketakutan dan yakin akan langsung dipecat. Setelah marahnya reda, akhirnya manager itu berkata, ‘Kamu mau saya pecat atau bagaimana?’ Karena takut dipecat maka saya pun memilih bagaimana.”

Wanita itu menghentikan ceritanya menarik nafas lalu bercerita lagi, nampaknya dia mulai menemukan keberaniannya karena dia melanjutkan ceritanya sambil memandang pendeta itu. “Waktu pulang kerja, ternyata supir taksi itu sudah menunggu. Dia baik sekali karena mau mengantar saya pulang tanpa dibayar. Keesokannya dia sudah menunggu begitu saya keluar rumah dan menawarkan tumpangan. Di jalan dia mengancam, ‘Kamu mau saya ceritakan ke suami kamu atau bagaimana?’ Bila suami saya tahu saya bagaimana, dia pasti membunuh saya. Itu sebabnya saya memilih bagaimana.” Wanita itu menghentikan ceritanya karena melihat pendeta itu membuka mulutnya untuk berkata-kata. Namun Pendeta itu kembali diam dan memberi tanda agar dia melanjutkan ceritanya.

Wanita itu merangkapkan kedua tangannya lalu melanjutkan ceritanya. “Karena bagaimana dulu maka saya pun terlambat masuk kerja. Ketika ketemu dengan manager HRD di ruangannya, dia langsung bertanya, ‘Kamu mau saya kasih tahu semua orang di kantor ini atau bagaimana?’ Kalau teman-teman tahu saya pasti akan malu setengah mati, itu sebabnya saya pilih bagaimana.” Wanita itu menghentikan ceritanya lalu menatap pendeta itu tajam-tajam. Pendeta itu menatap wanita itu terlongong-longong.

“Pak pendeta itu sebabnya saya menolak ketika suami saya mengajak saya bersetubuh. Saya benar-benar cape pak karena hampir setiap hari supir taksi dan manager HRD minta saya bagaimana.”  Kata wanita itu dengan suara parau hampir menangis. Pendeta itu mengangguk-angguk sambil menggigit bibirnya dan mengelus-ngelus keningnya. Dia paham sekarang apa yang terjadi pada wanita itu, dia juga paham apa yang dimaksudkan oleh wanita itu dengan kata “bagaimana”. Sungguh mengenaskan karena wanita itu telah menjadi obyek sex bagi supir taksi dan manager HRDnya.

Dengan penuh harapan wanita itu bertanya kepada pendeta itu, “Pak pendeta, apa yang harus saya lakukan?” Pdt. Itu menatapnya dengan iba. Dia benar-benar bingung. Walaupun baru bertugas di gereja itu sejak lima bulan yang lalu, namun dia bukan pendeta baru. Dia sudah menjadi pendeta selama 16 tahun. Selama menjadi pendeta, belum pernah dia menghadapi kasus yang demikian langka. Dia memejamkan sambil mengelus-ngelus keningnya memikirkan kasus tersebut. Tanpa sadar dia bergumam berkali-kali, “Jadi bagaimana ya? ”

Entah berapa lama pendeta itu memejamkan matanya namun ketika membukanya, dia melihat wanita itu berdiri di hadapannya dalam keadaan tanpa sehelai benangpun. Wanita itu menghela nafas panjang lalu berkata, “Pak pendeta, saya pilih bagaimana saja dech!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s