Kiem VS hai hai – Tiga Nyawa Melayang


Gambar: Street Food.com

Sejak terdengar suara burung tentang rencana pertarungan kiem dan hai hai beberapa hari yang lalu, banyak suara burung yang berkicau berusaha menggambarkan pertarungan seperti apa yang akan terjadi? Apakah semboyan sahabat sejak 1000 tahun yang lalu akan kembali terbukti? Atau kita harus membuat semboyan kopdar yang baru?Kiem VS hai hai – Tiga nyawa melayang. Inilah kisahnya.
27 Agustus 2009 16:06

Pak Hai-Hai,
Tanggal 2 sampai tanggal 5 September saya ada tugas ke Jakarta, Saya sangat berkeinginan untuk kopdar, terutama dengan Pak Hai-Hai. Saya mempunyai waktu hari Jumat tanggal 4 September 2009 diatas jam 16.30.

Bagaimana caranya, kalau Pak Hai-Hai mempunyai waktu juga, bagaimana caranya? dan dimana?  Saya menginap di Hotel MERCURE REKSO, Jl. Hayam Wuruk No. 123. Rencananya saya akan kembali ke Pekanbaru hari Sabtu tanggal 05 September sore, tetapi ke rumah abang saya dulu.

Salam, Tuhan Yesus memberkati

29 Agustus 2009 10:03

Ok Kiem, kita akan kopdar hari jumat jam 16.30. Sebenarnya kita juga akan kopdar dengan Mazdanes alias mas Daniel dari Solo pada tanggal 05 malam. Kita akan atur apakah nanti saya jemput anda ke hotel lalu pergi ke suatu tempat atau kita bertemu di suatu tempat. Saya akan beritahu teman-teman yang lainnya yang bisa bergabung.

bila anda sudah di Jakarta bisa sms ke no hp khusus khopdar kali ini. 0818 ….

Salam
Hai hai

3 September 2009 18:03
Yth. Pak Hai-Hai

Saya sudah di Hotel sejak kemarin sore. Bagaimana janji kita?, besok sore, saya sudah bisa keluar. Mohon konfirmasinya. Terimakasih atas perhatiannya, Tuhan Yesus memberkati

Kiem

3 September 2009 18:42

Saya akan menemui anda besok di hotel. Atau anda ada pilihan tempat lain?

salam
hai hai

3 September 2009 19:15

Kalau Bapak bisa, Bapak saya yang datang ke Hotel, Kamar saya 9XX.

Terimakasih, Tuhan Yesus memberkati.

3 September 2009 19:21

Ok saya akan ke hotel.

salam
hai hai

Waktu dan tempat sudah ditentukan. Kiem VS hai hai. Hanya Tuhan yang mampu membatalkan pertarungan kami.

4 September 2009 – 15:01:41, Mas Daniel SMS: Aku sudah di Jakarta, jadi ketemuan Kiem?

Aku membalas SMS tersebut, menanyakan di mana dia saat itu?

4 September 2009 – 15:04:52, Mas Daniel SMS: Masih di jalan dari bandara. Rencana mau ke Perniagaan, lalu terus ke Roxi mas, lalu ke Mercure.

Aku memberi tahu mas daniel bahwa saya akan sampai Mercure sekitar jam 17.00.

Louise SMS, menanyakan kopdar. Saya membalas smsnya dengan menelponnya karena sedang nyetir meliuk-liuk di jalan Daan Mogot yang macet. Tempatnya terlalu jauh dan sulit dijangkau dari Jakarta Selatan. Louise batal ikut Kopdar. Besok dia akan ke Bandung untuk urusan keluarga sehingga nggak bisa ikutan kopdar di TA.

Pendahuluan

Kiem adalah seorang pendekar sastrawan. Dia menghabiskan waktunya dengan menulis dan membaca. Jemarinya lentik dan tangannya halus karena sehari-hari dia hanya memegang pena. Waktunya habis untuk merenungi tatakrama. Itulah gambaran saya tentang Kiem, sebelum bertemu dengannya.

Itulah gambaran tentang Kiem. Bukankah para leluhur mengajarkan agar kita, sebelum bertarung harus mengenali lawan kita? Ketika meliuk-liuk terseok-seok di kemacetan jalan Gunung Sahari Sandman telepon. Dia bertanya apakah saya jadi kopdar dengan Kiem? Menurutnya dia baru saja menggoda Kiem. Ha ha ha ha ha …

Saya memarkir kendaraan saya di gedung di ujung jalan Mangga Besar. Ketika sedang  asyk menyisir rambut, seorang satpam menghampiri. Ketika dia melihat saya, dia nampak terkejut. Dia lalu bertanya, tujuan saya.  Hotel Mercure jawab saya ramah. Dia menyatakan saya tidak boleh parkir di situ, karena tempat parkir itu hanya diperuntukan bagi para tamu kantor gedung itu. Saya membantah. Satpam itu menatap saya, saya menatapnya dengan tenang. “Maaf, pak, ini peraturan dari pemilik gedung pak!” Saya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan saya dari Satpam itu. Dia menunduk, sambil berkata, “Maaf pak, ini peraturannya, saya hanya menjalankan tugas. Lalu dia berjalan menjauh.” Saya mengangguk sambil berkata, “Ok, baik!” Saya tetap menatap Satpam itu ketika dia mengangkat kepalanya menatap saya.

Setelah melihat rambut saya cukup rapih dari pantulan kaca jendela mobil, saya kembali masuk ke dalam mobil. Satpam itu menghampiri saya. Saya bertanya, “Pak, harus keluar lewat pintu itu? Saat ini sedang jam Three in one.” Satpam itu menjawab, “Benar pak, itu jalan keluarnya. Bapak harus kelur dari pintu itu lalu ke jalan Mangga Besar. Maaf ya pak!” Saya tersenyum kepada Satpam itu dan berkata, “Nggak apa-apa! Peraturan memang harus ditegakkan. Anda menjalankannya dengan baik!” Saya melambai lalu keluar dari pelataran parkir Gedung itu. Saya lalu memarkir mobil saya di pinggir jalan Mangga Besar lalu berjalan kembali memasuki pelataran Parkir gedung itu untuk memintas Jalan ke Hotel Mercure. Satpam itu menyambut saya dengan anggukan dan senyum serta ucapan “Maaf pak kita hanya menjalankan tugas!” Saya tersenyum, dan terus berjalan melewatinya. Satpam yang menjaga pintu keluar mengangguk dan tersenyum kepada saya. Saya membalasnya.

Mungkin anda bertanya, kenapa saya tidak memaksa untuk tetap parkir di pelataran parkir gedung itu? Atau kenapa tidak pura-pura bertamu ke gedung itu? Tidak! Kita tidak boleh berdusta bila nggak kepepet. Kita juga tidak boleh menekan orang-orang yang sedang menjalankan tugasnya untuk melanggar peraturan perusahaannya. Kita harus menghormati mereka. Saya sengaja menunjukkan kekuatan saya pada satpam itu dengan membuatnya gentar lalu menunjukkan kepadanya rasa hormat saya kepadanya yang walaupun gentar tetap berusaha menjalankan tugasnya dengan baik. Sepulang kerja dia pasti akan bercerita kepada teman-temannya, mungkin pula kepada anak istrinya.  Mungkin dia akan paham bahwa di dunia ini masih banyak orang-orang kuat yang menghormatinya. Mungkin dia akan merasa bangga dan senang dengan jabatannya dan tidak ragu-ragu lagi lain kali untuk menegakkan peraturan perusahaan.

Apa keuntungannya bagi saya? Saya mendapat dua orang teman baru yang bekerja sebagai satpam di gedung itu. Mereka akan mengingat saya. Mereka akan mengingat saya untuk waktu yang lama. Bila mendapat kesulitan di dekat situ, mereka pasti akan membantu bila saya minta tolong. Bila lain kali saya harus ke hotel Mercure lagi pada jam Three in one, saya pasti boleh parkir di situ. Bila hari itu tiba, saya akan memarkir mobil saya, menghampiri salah satu atau kedua satpam itu, menyalami mereka lalu menanyakan khabar mereka dan keluarganya lalu menitipkan mobil saya. Mereka tidak melanggar peraturan karena saya adalah teman mereka yang sedang menitipkan mobilnya.  Percayalah pada saya, karena saya sudah sering mengalami hal demikian.

Menanti Kiem

Saya memasuki loby hotel. Beberapa tamu dan securiti serta petugas hotel memandang saya. Penampilan saya memang agak berbeda. Saya menuju meja informasi dan meminjam telepon. “Hallo!” Suara Kiem menyambut dari seberang. “Hallo, ini kiem ya?” Kiem mengiyakan, “Kiem, ini hai hai, saya sudah ada di loby!” Kiem membalas, “Oh ya sudah ada di loby, baik saya akan ke sana sebentar lagi!” Saya menjawab, “Baik Kiem, saya tunggu di loby!”

Saya berjalan ke sofa berwarna merah bata yang kosong lalu duduk. Karena tertarik saya lalu berdiri dan berjalan menghampiri akurium berisi ikan-ikan neon biru. Akurium itu sangat terawat. Bersih dan tumbuhan airnya tumbuh dengan subur, tidak heran ikan-ikan neon birunya juga sehat-sehat dan sangat memikat mata. Saya tidak tahu berapa lama saya memperhatikan ikan-ikan itu. Saya suka ikan hias. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk memperhatikan ikan-ikan hias berenang di dalam akuarium. Ikan neon biru adalah salah satu ikan air tawar tercantik di dunia.  Mereka sangat cantik walaupun umurnya tidak panjang dan agak sulit menjaga mereka tetap sehat dan hidup.  Tumbuhan air dan matahari adalah dua faktor utama untuk membaut ikan neon biru hidups ehat dan bahagia.

Karena takut Kiem tidak menemukan saya, maka saya menghentikan keasykan memandang ikan neon biru. Saya duduk di sofa merah bata sambil memandang akuarium. Tiga orang menghampiri saya, seorang wanita dan dua orang lelaki. Mereka tidak mencari saya namun sedang mencari tempat untuk membicarakan hal penting.  Rupanya mereka adalah orang-orang salah satu partai politik di Indonesia. Ketiganya, dua lelaki dari satu pihak sementara yang wanita dari pihak lainnya. Wanita itu ingin memastikan bahwa dia memang didukung untuk menjadi ketua. Kedua lelaki itu berusaha meyakinkan bahwa wanita itu memang didukung untuk menjadi ketua. Keduanya lalu mengeluarkan surat sakti yang ditandatangani oleh pimpinan partai. Mereka membacakan surat itu beserta nama-nama yang menandatanganinya. Saya mengenali nama-nama yang disebutkan.  Kedua lelaki itu meyakinkan wanita itu, bahwa walaupun sudah ada surat sakti dari pimpinan, selalu saja ada yang mbalelo. Namun wanita itu tidak perlu kuatir, karena semuanya berjalan sesuai skenario. Dari ucapan-ucapan wanita itu saya menyimpulkan bahwa dia sama sekali tidak memenuhi kualifikasi untuk jabatan ketua yang dikejarnya.  Dari ucapan-ucapan kedua lelaki itu dan nada suara mereka saya yakin wanita itu memang tidak diharapkan untuk menjadi ketua. Keduanya sedang menjilat, sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat kepada wanita itu. Mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, wanita itu sama sekali tidak tahu apa itu politik. Dia tidak akan terpilih menjadi ketua.

Kiem muncul. Saya menatapnya sambil tersenyum dan menunggunya mendekat. Saya lalu berdiri menunggunya lalu menyalaminya. “Apa khabar kiem?” Kami berdua lalu tertawa dan saya menawarinya untuk duduk di meja bar, agar kami bisa menjauhi obloran politik itu dan bisa ngobrol sambil ngopi. Kiem setuju maka kami pun lalu berjalan menuju meja bar hotel itu. Saya bertanya, “Kiem, berapa umur kamu?” Dia menjawab sambil melesakkan tubuhnya ke sofa. Saya memilih sebuah meja bulat dengan tiga buah sofa nyaman. Kami pun mulai ngobrol. Oh ya, Kiem bukan pendekar sastrawan. Tubuhnya langsing namun berotot. Dia nampak berumur 30 an walaupun umurnya sudah 47 an. Saya suka genggaman tangannya dan kulit telapak tangannya. Dia bukan pekerja lapangan, namun dia biasa ke lapangan dan bekerja.

Saya memesan kopi pahit sementara Kiem memesan the. Beberapa saat setelah kami ngobrol, mas daniel muncul. Saya mengenalkannya kepada Kiem, lalu kami mulai ngobrol bertiga. Mas daniel memesan juice melon. Kami terus ngobrol, bahkan kami berfoto bareng dengna HP Daniel. Ketika jam tujuh terlampaui, saya mulai bicara soal makan. Saya menanyakan makanan kesukaan kiem atau yang ingin di makannya. Saya menjelaskan sepintas lalu tentang jalan Mangga besar, semua makanan ada di sana. Karena Kiem dan Daniel tidak merindukan makanan khusus maka saya memutuskan untuk mengajak mereka makan di tempat yang menurut saya istimewa. Saya melarang Kiem untuk membayar minuman kami. “Ini Jakarta, bila saya ke kota kamu, kamu yang traktir, sekarang giliran saya.” Setelah mengambil uang kembalian, kami lalu berjalan keluar, ohya tentu saja mampir dulu untuk menunjukkan dominasi kami atas temapt tersebut. Saya dan Kiem ke rest room hotel itu.

“Dari mana tahu tempat ini?” Tanya Kiem ketika kami memasuki sebuah rumah makan. Setelah mengambil tempat duduk kiem mengulangi pertanyaanya. “Ini tempat istimewa, ini tempat saya dan istri paling sering makan ketika pacaran dulu.” Kiem asyk ngobrol dengan daniel sementara sya memperhatikan menu. Karena mereka menyerahkan masalah pilihan kepada saya, maka saya pun lalu membuat pesanan. Setelah pesanan selesai, Kiem dan Daniel lalu memilih minuman mereka. Kami lalu ngobrol bertiga.

Pesanan kami datang. Satu piring ayam rebus, satu piring bebek panggang dan satu piring babi panggang campur babi merah. Saya lalu menambah pesanan dengan satu piring ayam rebus dan bebek panggang serta menanyakan kepada kiem dan daniel mau nasi atau kwetiau, bihun, mie goreng? Kerna mereka bilang terserah, maka saya pun memesan menu istimewa yang biasa saya dan istri waktu pacaran dulu makan yang merupakan keistimewaan restoran itu. Kwetiau goreng.

Kami makan sambil ngobrol dan kami ngobrol sambil makan. Ketika semangat kiem dan daniel menurun saya kembali menyemangati mereka untuk makan. Ketika semua makanan habis, kami terus ngobrol dan terus ngobrol. Ngobrol tentang berbagai hal. Ngegosip tentang siapa saja. Tentang Joli, Dede Wijaya, Sandman, Samuel Franklyn, Dennis, Debu Tanah, Pniel, Vantillian, udalama dan saya lupa siapa lagi yang kami gosipin. Bukankah kita semua sudah tahu resikonya? Nggak muncul di kopdar berarti jadi bahan gosip tanpa bisa balas.

Jam sembilan saya minta bon lalu membayar. Namun panggilan untuk bubar belum datang, maka kami terus ngobrol dan Ngobrol sampai panggilan itu datang. Jam 22. 15 harus bubar. Kami keluar dari rumah makan tersebut. Mobil saya diparkir dua ruko dari rumah makan tersebut. Karena tidak mau merepotkan, Kiem memutuskan untuk kembali ke hotel jalan kaki sendirian. Saya dan daniel langsung ke gereja Salib tiga, GKI Perniagaan untuk menyerahkan daniel kepada yang berwenang. Kami lalu saling bersalaman dengan akrab dan berpisah. Bila anda bertanya tentang kiem kepada saya, maka saya hanya bisa bilang.

“Saya mengenalnya sejak 1000 tahun yang lalu!”

Kiem VS hai hai. Tiga nyawa melayang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s