Papamu Adalah Papaku


“Siapa tuh?” Dia bertanya sambil menunjuk lelaki yang duduk santai memeluk ibuku di beranda rumahku.
“Itu papaku, kenapa? Jawabku enteng.
“Papamu?” Dia bertanya sambil mencengkram tanganku. Dia menatapku dan entah mengapa, aku merasa dia nampak seolah orang yang baru melihat setan. Mungkin aku salah, namun menurutku, mata itu menyiratkan ketakutan. Oh ….. tiba-tiba aku merasa bulu kudukku berdiri, entah mengapa, aku pun merasa takut tanpa mengetahui sebabnya.

Aku tidak tahu sejak kapan jatuh cinta kepadanya, namun aku tahu mustahil tidak mencintainya sejak dia memanjat pohon besar yang tingginya menurutku 20 meter lebih untuk memetik setangkai anggrek hutan untukku. Saat itu kami sedang mengikuti acara pendakian Edellweiss. Edellweiss adalah himpunan mahasiswa penjelajah alam fakultas ekonomi Unika Atma Jaya, tempat aku kuliah.

Aku belum pernah mendaki gunung. Ketika Silvie teman kostku bercerita tentang betapa asyknya dia mendaki gunung Gede dengan teman-teman Edellweis, aku pun terpikat. Tiga bulan kemudian Silvie bercerita tentang rencana anak-anak Edellweis mendaki gunung Salak dan mengajak kami untuk ikut serta. Saat itu aku langsung setuju untuk ikut.

Ketika kami turun dari angkot di desa Pasir Pogor, aku mulai menyesali keputusanku untuk ikut mendaki gunung Salak. Perjalanan naik bus dari Jakarta ke Bogor benar-benar mengerikan. Bus penuh sesak, panas dan bau. Ketika sampai di terminal bogor, kami langsung diajak mampir di warung dan makan. Nasi yang diciduk dari sebuah keranjang bambu yang ditutupi sebuah kain lap kotak-kotak lusuh terasa keras, sementara lauk-pauk di taruh di piring-piring besar tanpa tutup. Aku melihat beberapa ekor lalat terbang dan hinggap bergantian di atas lauk-pauk itu. Aku menggeleng ketika Silvie menawariku dan Aku tetap menggeleng ketika dia dan teman-teman yang lain menasehatiku untuk makan sementara mereka menyuap makanan yang menurutku mengenaskan itu dengan lahap. Aku hanya memesan teh botoh. Perjalanan dengan angkot carteran dari Terminal bogor ke desa Pasir Pogor walaupun tidak semengerikan naik bus namun tetap terasa tidak nyaman.

Sambil menatap ngeri pada jalan jelek berbatu-batu aku berpikir, bagaimana caranya untuk memberi tahu Silvie dan panitia bahwa aku ingin membatalkan keikutsertaanku dan cara pulang ke Jakarta, tiba-tiba aku dia mengejutkanku. Dia mengambil ransel dari punggungku sambil berkata, “Nona, kamu duduk di depan!” sambil menunjuk mobilnya dan berjalan meninggalkanku. Aku memandangnya dan begitu saja hatiku dipenuhi kemarahan dan ingin meledakkannya.

Begitu saja aku berkata, “Memangnya lu siapa, ngatur-ngatur gua?”
Dia menghentikan langkahnya menoleh lalu berbalik menghadapku dan menatapku tanpa emosi. Aku membalas tatapannya dan melampiaskan semua kekesalanku lewat mataku. Benar-benar kurang ajar! Setelah membalas tatapanku beberapa saat, dia berkata,
“Kamu cantik. Matamu lebih indah ketika kamu kesal. Cepat naik ke mobil sebelum aku jatuh cinta!” Dia lalu berbalik dan berjalan meninggalkanku. Dia memasukkan ranselku ke bagasi belakang mobil.

“Gua nggak mau naik mobil dia! Najis! Emang dia pikir dia siapa? Sok ngatur gua?” Itulah yang aku katakan kepada Susan, salah seorang panitia.
“Lu nggak punya pilihan lain, karena cuman ada mobil dia. Lu mau jalan kaki ke base camp? Jauhnya 2 km lagi, nanjak dan gelap.
“Gua jalan kaki aja. Nti gede kepala dia klo gua naik mobilnya.”
“Terserah lu! Gua jalan dulu dech!” Susan meninggalkanku. Mobil itu langsung meluncur begitu Susan masuk dan duduk di bangku depan serta menutup pintu padahal aku ingin minta ranselku dikembalikan.

Pendakian kali ini hanya diikuti oleh 32 orang. Dalam satu kali jalan mobil itu memuat 5 orang duduk di bangku dan 3 orang duduk di bagasi belakang serta 2 orang masing-masing berdiri di pintu kiri kanan. Yang tidak terbawa langsung jalan kaki. Ketika mobil itu kembali untuk kedua kalinya, dia menyerahkan kemudi kepada Billy Joe, salah satu anggota Edellweis dan menemaniku jalan kaki.

Kurang ajar! Aku benar-benar menyesali keputusanku untuk jalan kaki dan dia benar-benar kurang ajar karena tidak menawariku untuk ikut naik mobil. Dengan hati sepanas kawah Merapi dan keringat membasahi sekujur tubuh, aku berjalan tertatih-tatih menyusuri jalanan batu di malam gelap gulita berdua dengan manusia paling menyebalkan di dunia dengan nafas tersengal-sengal.

Dia menatap bulan di langit lalu berkata,
“Ini malam purnama. Indah sekali.” Aku pura-pura tidak mendengarnya dan terus berjalan dengan menundukkan kepala. Aku menyesali keputusanku untuk ikut naik gunung dan aku benar-benar menyesali keputusanku untuk menolak naik mobil. Aku merasa benar-benar bodoh. “Lebih baik kamu yang menggunakan senter kepala ini, akan memudahkanmu melihat dan memilih jalan. Maaf.” Dia langsung mengalungkan senter itu ke kepalaku.  Awalnya aku ingin menolak namun aku melihat keberadaan senter di kening membuat pandanganku menjadi terang.

Si menyebalkan itu ternyata tidak sehebat yang kukira. Setelah berjalan cukup jauh, nafasnya mulai tersengal-sengal. Ketika dia minta berhenti untuk istirahat, tiba-tiba saja muncul pikiran jahat di hatiku. Aku yang memegang senter. Ha ha ha ha … Ini kesempatan untuk menyiksanya. Aku mempercepat langkahku dan menolak untuk berhenti dengan alasan ingin cepat-cepat sampai base camp. Ketika dia kekeh-jumekeh minta berhenti aku mengancam akan meninggalkannya sendirian. Akhirnya dia menyerah. Dia berhenti dengan nafas tersengal-sengal sementara aku dengan senyum jahat meninggalkannya. Rasain lu! Mang enak jalan dalam gelap?

Aku terus memacu langkahku untuk meninggalkan si menyebalkan sejauh mungkin dengan perasaan puas hingga tiba-tiba aku menyadari bahwa aku sedang berjalan sendirian di daerah yang tidak kukenal bahkan aku tidak tahu di mana aku harus berhenti? Aku mengangkat kepalaku dan memandang berkeliling. Tidak ada rumah penduduk yang kulihat. Yang ada hanya lampu berkelap-kelip di kejauhan. Aku juga tidak melihat tanda-tanda di mana base camp berada. Begitu saja aku merasakan kesunyian di sekelilingku dan pelan-pelan perasaan takut bangkit di dalam hatiku. Aku berbalik melihat jalan yang telah kulalui dengan harapan si menyebalkan itu muncul, namun bayangannya tidak nampak sama sekali.

Aku berjalan pelan-pelan sambil berharap si menyebalkan itu segera menyusul. Namun dia tidak juga muncul. Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti menunggunya. Namun dia nggak muncul-muncul. Sementara itu aku semakin gelisah karena rasa takut semakin terasa. Aku berusaha menekan pikiran-pikiran negatif namun tak berdaya. Pikiran-pikiran negatif itu muncul begitu saja akhirnya aku bangkit dan mulai berjalan. Ketika ketakutanku tak tertahankan, aku mulai berlari dan terus berlari dengan nafas tersengal-sengal. Aku terus berlari dan tiba-tiba menjadi panik ketika melihat beberapa cahaya merah tiba-tiba muncul dari kegelapan di depan. Secara otomatis aku menghentikan langkahku. Aku gemetar ketakutan.

Aku hampir berteriak ketika sebuah tangan merangkul bahuku. “Nona, ini aku! Jangan takut!” Aku merasa tubuhku lemas. Lemas namun lega setengah mati. Aku tidak menolak ketika dia membimbingku ke tepi jalan dan menyuruhku duduk di atas sebuah batu. Dia menyodorkan tempat minum yang telah terbuka tutupnya dan aku segera meneguknya dengan rakus. Dengan santai dia menarik sebatang rokok lalu menyalakannya dan menghisapnya dengan nikmat. “Cahaya di depan berasal dari senter kepala.” Dia menggerakkan tangannya di keningku maka cahaya putih dari senterku pun berubah menjadi cahaya merah darah. “Nampaknya tiga orang Edl turun untuk menjemput kita.” Dia memberi penjelasan lalu berteriak, “Yiiiiii haaaaaa …..” dari kejauhan terdengar sahutan, “Cheeeessssss!” Aku mengembalikan botol minumnya “Terima kasih.” Ucapku. Dia hanya mengangguk.

“Ketika tersesat berteriaklah. Kata “yi ha” yang aku teriakan tadi adalah kata yang paling nyaring yang dapat saya teriakan dengan nyaman, itu sebabnya saya menggunakannya. Kata “chesss” adalah salam Himpunan Mahasiswa Penjelajah Alam Edellweis.”

“Anjring. Cepet amat udah sampe di sini?” Ternyata yang turun adalah Matkal, Silvie dan Kuple. Begitu sampai di depan kami mereka segera mengubah cahaya senter mereka dari merah ke putih terang. Yang memberi salam adalah Matkal.

Silvie menatapku tajam, begitu saja di mengeplak topi si menyebalkan sambil berkata, “Geblek lu Cu! Tega bener lu ngerjain anak orang? Lu pasti ngajak dia lari ya?” Belum puas dengan hal itu, Silvie melayangkan tinjunya menghajar lengan atas si menyebalkan.

Dia mengaduh lalu ngakak dan memaki, “Oncom! Gua ajak dia lari? Lari dari hongkong? Dia yang maksa gua lari. Memangnya gua pernah sanggup langsung ngebut? Oncom!” Silvie, kuple dan matkal menatapku penuh curiga. Nampaknya mereka tahu sesuatu yang aku tidak tahu. Si menyebalkan mengeplak topi Silvie dan berkata, “Dunia memang penuh wanita-wanita sadis yang senang melihat bengcu ngos-ngosan, benar-benar apes gua ketemu satu lagi malam ini. Ho ho ho …” Silvie, kuple dan matkal ikut ngakak. Nampaknya mereka puas dengan penjelasan si menyebalkan yang namanya bengcu itu. Aku menatapnya dan mengucapkan terima kasih lewat mataku karena dia tidak menceritakan hal yang sebenarnya terjadi. Dia tersenyum jail dan memberikan anggukan kecil.

“Selamat datang di puncak gunung Salak.” Kata Yoyo sang ketua pendakian sambil menyalamiku. Aku mengedarkan pandangan mataku dan tiba-tiba saja aku ingin menjerit untuk meluapkan amarahku. Keindahan yang selama ini diceritakan oleh Silvie dan dibuktikan oleh foto-fotonya sama sekali nggak kelihatan. Sebidang tanah dengan rerumputan yang luasnya selapangan bulutangkis dengan pohon-pohon di sekelilingnya. Itulah yang tertangkap mataku. Sama sekali tidak ada pemandangan ngarai dan lembah dengan awan-awan mengambang di atasnya. Kami mulai mendaki jam 01.00 dini hari, sekarang jam 06.15.  Kelompokku adalah yang pertama mencapai puncak. Setelah bersusah payah mendaki selama berjam-jam sambil menggigit bibir, inikah yang menunggu di puncak gunung Salak? Aku benar-benar tertipu.

“Memangnya benar ini puncak gunung Salak? Kok masih banyak hutannya? Bukannya lu sering cerita semakin mendekati puncak pepohonannya semakin pendek? Kok ini masih hutan lebat?” Aku mendekati Silvie dan bertanya.
Silvie menatapku dan berkata, “Ini memang puncak gunung Salak. Itu sebabnya yang ikut hanya sedikit. Salak terkenal karena jalur pendakiannya yang terjal dan berat namun tidak ada pemandangan sama sekali di puncaknya. Umumnya para pendaki ke gunung Salah untuk menguji daya tahan fisiknya sambil menikmati vegetasinya (tetumbuhan) yang unik ketika turun. Aku memandang Silvie dan ingin sekali memakinya karena dia sama sekali tidak memberitahuku tentang hal itu. Kemudian aku sadar bahwa itu bukan kesalahannya. Aku tidak mendaftar melalui dia, dia baru tahu aku ikut ketika kami sama-sama mau berangkat ke kampus. Dua bulan ini Silvie benar-benar sibuk dan jarang berkumpul dengan kami di kost. Dia sedang mempersiapkan diri untuk penjelajahan ke gunung Rinjani di Lombok, gunung Agung Di Bali dan gunung Semeru di Jawa timur.

Perjalanan turun ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Aku benar-benar kehilangan kekuatan dan semangatku. Itu sebabnya kelompokku yang beranggotakan 6 orang yang awalnya berjalan di depan akhirnya berjalan paling belakang. Nampaknya anggota kelompokku yang lain mulai merasa kesal karena selain berjalan lambat aku pun sering minta istirahat. Prilaku mereka semakin menyulut kemarahanku. Aku hampir menyuruh mereka meningalkanku bila tidak ingat kejadian semalam. Aku menggigit bibir menahan kekesalanku dan mengerahkan seluruh kekuatanku namun tak berdaya. Tubuhku benar-benar kehilangan kekuatanku, kedua kakiku benar-benar lemas dan berat untuk melangkah.

Ketika keadaan makin memanas karena teman-teman mulai ngomel, aku melihatnya sedang tidur di atas sebatang pohon roboh yang menghalangi jalan kami. Pohon roboh itu melintang di tengah jalan, besarnya hanya sepaha orang dewasa, dia tidur telentang di atasnya, benar-benar keseimbangan yang luar biasa karena jarak punggungnya ke tanah sekitar satu meter. Yanto ketua kelompok kami segera memberi tanda agar kami diam. Dengan bahasa isyarat dia memberitahu kami bahwa dia ingin mengejutkan si bengcu yang sedang tidur itu. Kami langsung setuju dan saling tersenyum membayangkan apa yang akan terjadi. Yanto pun mengendap-endap mendekatinya ketika Yanto sampai di hadapannya, tiba-tiba sebuah teriakan membelah angkasa, “Chaaaaaa ….!” Itu bukan teriakan Yanto karena Bengculah yang berteriak. Yanto kaget bukan kepalang dia  terjerembab. Setelah rasa kaget hilang, kami terbabak-bahak melihat apa yang terjadi pada Yanto. Dengan tenang Bengcu bengkit lalu melompat turun dari pohon itu. Dia lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Yanto berdiri. Kami pun berjalan mendekat sambil ngakak.

Ketika kami sudah dekat Bengcu berkata, “Handai taulan sekalian, mohon perhatian. Apa yang ingin kalian lakukan itu walaupun nampak lucu, namun sangat berbahaya. Lihatlah batu-batu itu dan tonggak kayu itu. Itu bisa melukai orang tidur yang jatuh di atasnya, bahkan bisa membunuh karena orang luka tersebut kehabisan darah sebab rumah sakit jauh sekali dari sini. Tolong jangan lakukan hal itu lagi.” Tiba-tiba semua tawa berhenti, apa yang dikatakannya benar-benar mengejutkan kami. Kami terdiam dan merasa bersalah. Dia lalu bekata, “Handai taulan sekalian, mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, menurut saya hanya orang goblok dan blagu yang tidur di atas batang pohon seperti ini. Orang blagu dan goblok memang pantas mati, jadilah biarlah dia mati secepatnya agar nggak ngerepotin yang lainnya. Ha ha ha ha ha ha ha ha ….. menurut saya keputusan untuk membunuhnya itu sangat bijaksana. Ha ha ha ha ha ha ….  Yiiiiiiii ….. Haaaaa …….” Dari kejauhan terdengar sahutan silih berganti, “cheeessss ……”

Tanpa berkata-kata, Bengcu mengambil ranselku lalu memasukkannya ke dalam ransel besarnya. Ketika teman-teman mulai ngomel lagi karena kelambatanku, bengcu berkata, “Kalian jalan dulu. Memecah kelompok nggak masalah dengan satu syarat di dalam setiap kelompok harus ada yang sudah pernah mendaki Salak dua kali. Bila menemukan jalan yang meragukan, silahkan teriak Yiha tiga kali berturut-turut lalu tunggulah bila kelompok di depan sudah terlalu jauh, jangan kuatir, pasti ada penyapu yang akan menyapu ke atas. Tunggulah. Saya akan menemani si cantik ini menikmati hutan, nampaknya dia benar-benar kehabisan tenaga dan semangat.”

Teman-teman kelompokku senang sekali dengan keputusan itu, mereka segera meluncur meninggalkanku berdua dengan Bengcu. Yanto memandang kami sambil bergumam, “Kutabur di gunung salak, kutuai di kampus hijau. Gua baru ngeh apa arti pepatah yang lu lu pada omongin di kampus. Ha ha ha ha ha …” Membalas gurauan itu Bengcu berteriak, “Anjring!”

Bengcu membiarkanku berjalan di depan, dia mengikuti dengan tangan sedekap dan bersiul-siul, kadang-kadang menirukan suara burung kadang-kadang menyiulkan lagu. Dia benar-benar menikmati suasana hutan. Dia tidak berusaha mengajakku ngobrol demikian pula aku. Selain berat untuk melangkah, lututku pun terasa sakit ketika kakiku menapak tanah. “Kita berhenti dan istirahat di sini. Medannya cukup datar dan luas.” Dia menurunkan ranselnya lalu membukanya, pertama-tama dia mengeluarkan jas hujan satelah menggelarnya dia lalu mengeluarkan sleeping bag. “Nona,” dia menatapku bersungguh-sungguh. “Perjalanan turun masih jauh, buka sepatumu lalu masuklah ke dalam sleeping bag dan berbaringlah dengan nyaman sementara saya memasak.”

Dengan ragu-ragu aku menurutinya, dia membantuku membuka sepatu, ketika aku sudah duduk di dalam sleeping bag, dia menarik sletingnya sementara aku berbaring. Wow … aku merasakan kenyamanan luar biasa ketika tubuhku terbaring sepenuhnya. Sambil berbaring aku mengamatinya mengeluarkan barang-barang dari ranselnya dan tiba-tiba saja rasa kantuk tak tertahankan menyerang. Aku pun tertidur.

Aku nggak tahu tertidur berapa lama, namun ketika membuka mata, aku melihat dia sedang duduk santai memandangiku. Dia tersenyum lalu berkata, “Selamat bangun nona! Pas waktunya makan siang.” Dia mengangsurkan sebuah rantang berisi air teh kepadaku, “Silahkan!” Aku bangkit duduk lalu menerimanya dan mencicipinya. Hmmm …. Teh hangat yang nikmat. Aku lalu minum dan rasa hangat segera memasuki tubuhku. Dia meletakkan sebuah rantang ke atas tungku kecil lalu mengambil sesuatu yang menyerupai lilin, dia membakarnya dengan korek api setelah menyala dia lalu meletakkannya ke dalam tungku kecil segi empat itu, kemudian dia memasukkan sebuah lilin kotak lagi. Wow …. Aku mencium wangi rendang, hmmm …. Perutku tiba-tiba lapar luar biasa.

Nasinya dingin namun rendang sapinya panas dan nikmat serta harum. “Ini ikan teri Medan yang dimasak menurut resep mamaku.” Katanya sambil menyendoknya dari dalam plastik kecil lalu menaburkannya di nasiku. Aku segera mencobainya. Benar-benar nikmat. Aku makan dengan lahap, benar-benar nikmat. Setelah selesai makan aku membersihkan tanganku dengan sebuah perca basah yang diberikannya tadi. Aku lalu membuang perca itu begitu saja setelah menggunakannya. Dia memungutnya lalu memasukkannya ke dalam plastik bersama-sama dengan kertas pembungkus nasiku tadi. “Jangan menyampah di gunung.” Katanya. Dia meletakkan ranselnya di belakangku sehingga aku bisa duduk bersandar. Kenyang dan segar, itulah yang aku rasakan.

Nampaknya air yang dimasaknya sudah mendidih. Dia menuangkan sebagian air itu ke rantang yang lebih kecil lalu memasukkan kopi ke dalamnya. Kemudian dia meletakkan rantang kecil itu di atas tungku mini itu. Beberapa saat kemudian dia mengaduknya. “Ini resep bikin kopi orang Medan. Kopinya dimasak.” Katanya. Dia lalu melemparkan sepasang sarung tangan kulit berwarna kehijauan kepadaku sambil berkata, “Pakai ini.” Aku memakainya tanpa ragu-ragu. Dia lalu memberikan rantang berisi kopi itu kepadaku sambil berkata, “pegang saja, sarung tangan itu akan melindungi tangan kamu. Ini kopi pahit ala Medan. Biarkan sedikit mendingin lalu minumlah, mula-mula rasanya pahit namun cobalah  dua atau tiga teguk kemudian kamu akan menikmatinya.”

Aku memegang rantang itu dengan kedua tanganku. Apa yang dikatakannya benar, aku tidak merasa kepanasan namun rasa hangat yang nikmat merambat dari rantang yang aku pegang itu ke dalam tubuhku melalui telapak tangan. Ketika dia membuka sebungkus mie instan aku bertanya kepadanya, “Kamu belum makan?” dia ngakak lalu berkata, “Kamu cantik namun benar-benar egois dan sadis. Nasi, ikan teri, dua potong rendang, semuanya kamu lahap tanpa menawariku makan. Walaupun basa-basi bisa bikin Ge er aku tahu? Ha ha ha ha ha …” Tiba-tiba saja aku dikuasai rasa bersalah dan malu. “Sory!” Aku berkata sambil menunduk, menghindari pandangan matanya. “Aku nggak tahu kalau kamu belum makan.” Tambahku. Dia hanya ngakak dan asyk dengan masakannya.

“Mie telor rasa kari ayam dan madu.” Katanya sambil duduk di sampingku. Setelah mengaduk-aduk mienya dia lalu mulai makan dengan sumpit. Tiba-tiba saja perutku kembali merasa lapar. Mie masakannya benar-benar harum. “Yiiiiiii haaaa ….” Sebuah suara dari kejauhan memecah kesunyian. Dia mendongak lalu berteriak “Anjriiiiing …….!” Yang diikuti sahutan dari kejauhan, “Chesss……” Dia kembali mendongak lalu berteriak, “Chessss …..” Lalu mulai menyuap lagi dengan sumpitnya.

“Apaan tuh artinya?” Aku bertanya. “Don’t disturb!” Jawabnya sambil mengunyah mienya. Aku melihatnya menikmati mie dan aku benar-benar merasa lapar. “Buka sarung tangan kanan kamu.” Perintahnya. Setelah aku membuka sarung tanganku, dia memberikan sumpitnya dan berkata, “cobain, enak.” Aku menerima sumpitnya dengan ragu-ragu. Dia menunggu lalu dengan ragu-ragu aku menyumpit mienya dan mienya benar-benar nikmat, itu sebabnya aku terus menyumpitnya. Dia merebut sumpit dari tanganku, “Pegang ini dan hirup kuahnya.” Aku memegang rantang itu dengan tangan kiriku lalu mulai menghirup kuah mie itu. Benar-benar nikmat. Badanku benar-benar terasa hangat. Selanjutnya benar-benar bar-bar. Kami saling berebut sumpit dan makan mie dari satu rantang. Kami juga saling berebut menghirup kuahnya.

Mienya sudah habis, begitupun kuahnya. Aku duduk bersandar pada ransel dan merasa nikmat. Tiba-tiba mataku melihat bunga angrek di atas sebatang pohon. “Lihat, itu bunga anggek, cantik sekali.” Kataku sambil menunjuk bunga itu. “Benar-benar cantik.” Katanya sambil memandang mengikuti telunjukku. Dia menoleh kepadaku dan berkata, “Aku petik anggrek itu untuk kamu lima menit kemudian kita jalan, bila cape kita berhenti namun jangan nangis lagi ya?” Tanpa menunggu jawabanku dia lalu bangkit berdiri. Dia mengluarkan pita panjang dari celananya yang banyak kantongnya. Setelah mengukur-ngukur dia lalu mengikat kemudian menyangkutkan pita itu ke pergelangan kedua kakinya dan mulai memanjat seperti monyet.

“Oh dewi sintaku, istana kujanjikan, namun hutan belantara yang kau dapatkan, untung ada bunga anggrek indah. Terimalah ini sebagai anugerah Sang Hyang Widhi.” Dia berlutut di depanku dan berlaku konyol. Aku ngakak dan mengeplak topinya sambil berkata, “Gila lu ya?” Lalu meraih anggrek darinya dan menciumnya. Bunga anggrek itu sama sekali nggak harum. Si geblek yang msih berlutut itu berkata, “O dewiku, yang paling harum di hutan ini adalah bau kelekku.” Aku kembali ngakak dan mengeplak topinya sambil memakinya, “Orang gila!”

Dia benar-benar gila. Bukan hanya gila namun juga kampungan. Namun dia membuatku merasa bahagia, terutama, dia membuatku merasa istimewa. Perjalanan menuruni gunung Salak menjadi hal yang mudah kulakukan. Sepanjang jalan dia bersiul, bernyanyi, menceritakan cerita-cerita lucu, berpuisi dan menceritakan keindahan gunung-gunung yang telah didakinya. Aku merasa aman dan nyaman serta bahagia. “Coba perhatikan, itulah tebing yang kamu daki dalam kegelapan tadi malam.” Aku memperhatikan tebing terjal itu. “Itulah misteri kegelapan. Itulah misteri kehidupan. Itulah misteri cahaya senter. Tadi malam, kamu hanya bisa memandang sejauh cahaya senter, di luar itu adalah gelap gulita. Kita melangkah tanpa menyadari keadaan medan sesungguhnya karena hanya bisa melihat sejauh cahaya senter. Namun, karena itulah kita mencapai puncak. Itulah yang harus kita lakukan di dalam hidup ini. Kita berjalan di dalam kegelapan dan hanya mampu melihat sejauh cahaya senter. Kita ingin melihat lebih jauh lagi namun nggak mampu karena kita hanya mampu melihat sejauh cahaya senter. Kita terus melangkah karena percaya inilah jalan yang benar. Walaupun belum pernah melihatnya namun kita yakin puncak gunung ada di sana. Takkan lari gunung di kejar, gunung lari takkan terkejar. Kita terus melangkah dan melangkah karena kita tahu di puncak ada yang menunggu kita, di sana kita bisa melihat seluruh dunia. Itu sebabnya, kamu terus melangkah. Walau lelah kamu terus melangkah karena yakin di puncak ada sesuatu yang indah. Fajar menyingsing dan kamu menggapai puncak gunung, namun kamu kecewa, karena yang kamu lihat hanya hutan belantara. Ha ha ha ha ha ha ha ha ….. Cuman dua kata, rasa no! ini gunung salak neng, di puncak gunung salak hanya ada hutan belantara. Ha ha ha ha ha ha ha ha ….. ”

Dia benar-benar menyebalkan namun dia juga menyenangkan. Dia menjunjung angan kita ke langit biru lalu membantingnya tanpa tedeng aling-aling ke palung lautan paling dalam sambil ngakak. Dia berkata, “Ini hanya cerita, waktu itu aku mendaki gunung Lawu. Kamu tahu? Gunung Lawu adalah gunung keramat. Presiden Soeharto waktu muda bertapa di sana, itu sebabnya setelah jadi presiden dia selalu ingat gunung Lawu. Di puncaknya dia mendirikan pendopo tempat orang memuja dan pondok dari seng tempat para pertapa berkumpul. Aku mendaki gunung Lawu berenam. Ketika sampai puncak para pertapa itu menyambut kami dan mengajak kami ke pondok seng yang katanya sumbangan presiden Soeharto. Ada satu yang membuatku kagum, rambutnya sepantat, dia bilang sudah bertapa di gunung Lawu selama enam belas tahun. Aku dan teman-teman benar-benar kagum. Karena biasa begadang, maka aku nggak bisa tidur cepat itu sebabnya aku keluar jalan-jalan. Saat itu bulan masih terang. Ketika asyk jalan-jalan, seseorang menyapaku, aku kaget bukan kepalang. Ketika orang itu menghampiriku, aku mengamatinya, ternyata kakinya menapak tanah, itu berarti dia adalah manusia. Ternyata dia adalah teman yang sudah enam belas tahun bertapa di gunung Lawu. Kami lalu ngobrol sambil jalan-jalan. Dia bertanya dan aku menjawab, itu sebabnya dia tahu aku sudah kerja. Tiba-tiba dia bilang bahwa dia sedang cari kerja sambil mengangsurkan sebundel kertas dalam plastik. Aku menyalakan senter dan membaca, “Curiculum vitae”. Aku mengarahkan senter ke mukanya dan dia berkata, ‘Mas begitu dipanggil untuk wawancara aku akan potong rambutku.’ Aku memandangnya namun nggak ngomong apa-apa.” Aku keplak topinya lalu kami ngakak bersama. Benar-benar ngakak.

“Kapan terakhir kali lu periksa ke rumah sakit jiwa?” tanyaku. Dia menatapku, bahkan dia memegang tanganku dan menghentikan langkahnya. Dia menatapku, matanya benar-benar lugu, dia lalu berkata, “Harusnya aku periksa ke psikiater hari senin, namun duitnya udah abis untuk beli nasi, mie instan dan rendang.” Aku memandangnya lalu melotot. Dia menjauh dan kami ngakak bersama-sama. Benar-benar ngakak.

Aku belum pernah pacaran karena sejak SMA para lelaki yang menyatakan cinta kepadaku baik lewat surat maupun yang nekat datang ke rumah selalu membuatku kesal setengah mati. Yang mengirim surat cinta benar benar kampungan karena mereka hanya mengutip puisi-puisi cinta murahan. Yang datang ke rumah hanya meniru adegan-adegan film belaka. Namun, Bengcu, dia benar-benar berbeda. Dia konyol namun membuatku tertawa. Dia kampungan ketika memujiku cantik dan seksi namun membuatku merasa istimewa. Tampangnya biasa-biasa saja namun aku merasa lady ketika berjalan di sampingnya dan merasa disayang ketika dia mengacak-acak rambutku dengan tangannya sambil memaki, “Oncom!”

Ketika bercerita kepada Silvie tentang apa yang terjadi ketika kami menuruni gunung Salak, dia bertanya, “Dia mencium elu?” Aku ngakak. Kemudian dia bertanya, “Elu mengharapkan dia mencium elu?” Aku menggigit bibirku dan menatap Silvie. Silvie membalas tatapanku dan aku nggak tega membohonginya. “Sil, gua mengharapkan dia mencium. Dia merangkul bahu gua, mengacak-acak rambut gua lalu menciumnya. Dia lalu memiting gua dan berkata, “Oncom!” Silvie menatapku lalu tersenyum. “Sil, gua merasa nyaman dan aman ketika dia merangkul. Gua merasa di sayang dan istimewa ketika dia mengacak-acak rambut gua. Apakah gua jatuh cinta ma dia? Apakah dia mencintai gua?” Silvie mendekatiku lalu memelukku dan berkata, “biarkan waktu yang menunjukkan kepada kita apa yang akan terjadi.”

Aku melepaskan diri dari pelukan Silvie, lalu menatapnya tajam dan bertanya kejam, “Sil, lu mencintai dia?” Silvie menggerakkan tangannya dan mengacak-ngacak rambutku sambil berkata “Oncom!” Lalu ngakak abis-abisan. Tiba-tiba saja hatiku merasa sakit. Aku cemburu! Begitu saja terlintas apa yang dikatakan Tari, “As, lu tahu nggak? Si bengcu sering ke sini. Setau gua, dia bukan cowo celamitan, tapi semua yang kost di sini udah tahu, satu-satunya kamar kost yang dia kunjungi cuman kamar si Silvie. Katanya si dia sering tidur siang di sana. Lu kan tahu aturan di sini, kita nggak boleh terima tamu di kamar kan? Katanya sich ada yang pernah protes ke tante kost karena si bengcu sering masuk kamar si Silvie bahkan tidur siang di sana. Namun dia malah dimarahin tante dan dibilang sok ganjen dan cemburu.”

Nampaknya Silvie punya indera keenam, karena tiba-tiba saja dia berhenti tertawa lalu menatapku tajam. Aku membalas tatapannya dan tiba-tiba saja aku tahu, aku membenci Silvie. Benar-benar membencinya. Silvie meraih tanganku, menggenggamnya erat sekali dan menatapku tajam lalu berkata, “Ikut gua ke kamar yo?!” Aku menatap Silvie, sebelumnya aku nggak pernah adu melotot dengannya namun ketika kami saling melotot, tiba-tiba saja aku merasa sudah sering adu melotot dengannya.

Aku mengikuti Silvie ke kamarnya, namun sebelum sampai dia berbisik, “Bengcu, papanya adalah papi gua.” Setelah mengacak-acak rambutku sambil memaki “oncom!” Dia lalu meninggalkanku sendirian, berdiri terlongong-longong.
“Gila lu ya? Cengar cengir sendirian?” Tiba-tiba sebuah suara mengejutkanku. “Oncom!” Aku memaki sambil melotot kepada Yani teman kostku. He he he he … Aku tertawa, mengacak-acak rambutnya lalu berlari ke kamar dan membanting tubuhku ke atas ranjang. Aku melamun. Indah sekali.

“Henti!” Ia memanggil namaku, suaranya membuyarkan semua lamunanku. Bengcu menatapku tajam, dia kemudian berkata dengan suara datar. “Henti, papamu adalah papaku.” Aku menatapnya tanpa tahu apa yang aku rasakan saat itu. Namun begitu saja aku ingat Silvie berkata, “Bengcu, papanya adalah papi gua.”

2 thoughts on “Papamu Adalah Papaku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s