Terlalu Singkat – Jakarta Semarang Solo


Kopi darat blogger Kristen pasar Klewer di Solo dalam rangka memperingati hari ulang tahun SABDAspace yang kedua sudah berakhir. Saya dan Happy Lee meninggalkan Jakarta hari Sabtu tanggal 2 Agustus 2008 jam 06.15 dan mendarat kembali di jakarta hari Senin tanggal 4 Agustus 2008 jam 19.30. Acaranya terlalu singkat. Banyak air mata saya kucurkan selama di Solo tanpa berusaha untuk menyembunyikannya sebab itu bukan air mata duka namun air mata yang keluar karena gelak tawa. Tiga hari dua malam di Solo adalah kenangan indah tahun 2008 dalam hidupku. Mungkin Happy Lee sahabatku terheran-heran melihatku berkali-kali lepas kendali.
Sebenarnya agak ragu untuk menghadiri acara kopdar karena berbagai alasan namun Happy lee memastikan agar kami menghadirinya. Kopdar sudah berlalu, ada banyak sekali hal yang dialami pada waktu bersamaan dan semuanya sama indahnya sehingga sulit untuk memilih mana yang harus diceritakan? Apabila mengikuti suara hati, saya ingin kopdar itu berlangsung sebulan penuh sehingga dapat menghabiskan waktu untuk ngobrol dengan semua yang hadir satu persatu dari hati ke hati tentang apa saja.

Jakarta Semarang Solo

Saya ingin memacu kendaraan yang kami, saya, happy lee, Priska dan Joli sang pemilik kendaraan tumpangi sekencang mungkin agar bisa sampai di Rumah Turi secepatnya. Arus kendaraan Semarang Solo sangat berbeda dengan yang biasa kuhadapi di Jakarta. Setelah merasa memahami gaya lalu lintas, saya mulai memacu dan kehilangan kesabaran menghadapi pengendara lain yang terlalu lambat. Joli dengan santai mengingatkan agar tidak memotong marka jalan supaya tidak berurusan dengan polisi. Saya pun lalu memacu kendaraan dengan sopan sembil berkali-kali menolak panggilan HP dari seseorang yang selama beberapa hari sebelumnya berusaha membujuk saya untuk meminjam uang atau merekomendasikan teman-teman yang ingin meminjam uang tanpa anggunan. Kepada orang tersebut sudah saya katakan dengan tegas bahwa saya tidak butuh pinjaman dan minta dia jangan menghubungi saya lagi, saya akan menyimpan nomor teleponnya dan bila ada teman yang ingin meminjam uang tanpa anggunan, saya akan memberitahu teman tersebut untuk menghubunginya.

Ketika memutuskan untuk ke solo, harga ticket dan jaminan sampai di Solo tepat waktu menjadi pertimbangan utama sementara keasykkan menjelajah daerah baru menjadi pertimbangan lainnya. Kami memutuskan untuk terbang ke Semarang pagi-pagi lalu meneruskan perjalanan lewat darat bersama Priska. Dengan demikian selain dapat berkeliling Semarang kami juga dapat mengenal Boyolali dan Sala Tiga selama perjalanan ke Solo. Joli yang baik hati hendak menghadiri sebuah acara keluarga di Semarang, dia menawarkan agar kami ke Solo bersamanya. Tentu saja mustahil menolak tawan itu. Kami berjanji untuk bertemu di sebuah mall di Semarang jam 13.00.

Tepat jam 07.05 saya dan Happy Lee mendarat di Semarang. Saya menghabiskan secangkir kopi pahit sementara Happy Lee menghabiskan secangkir teh manis. Dua kali sia-sia menelpon Priska. Mungkin dia masih lelap dalam tidurnya, mungkin pula dia sedang asyk bertelpon ria dengan kekasihnya. Kami tidak tahu. Kami lalu memesan taksi untuk mengantar ke Sam Po Kong, sebuah klenteng yang dibangun untuk memperingati kisah laksamana Chengho mengelilingi dunia yang dimulai pada tahun 1405 dengan 27.800 pasukan menggunakan 357 kapal di mana 62 kapal di antaranya dengan ukuran 132 X 54 meter, lima kali lebih besar dari kapal yang digunakan oleh Colombus ketika menemukan benua Amerika pada tahun 1492. Di tengah jalan kami berubah pikiran lalu meminta pak supir mengantar kami ke pusat kota Semarang dulu untuk sarapan. Dalam perjalanan itu Priska SMS maka kami saling SMS untuk merencanakan tampat dan waktu pertemuan.

Beberapa saat di klenteng, ada juga yang menyebutnya vihara Sam Po Kong, Priska muncul bergabung. Kami melakukan tour yang mengasykkan, saya menjadi pemandu wisatanya. Selain menjelaskan kisah Chengho saya juga menjelaskan tentang tata cara dan makna ibadah di kuil itu. Menurut Priska itulah kunjungan pertamanya ke kuil Sam Po Kong.

Setelah tour berakhir, kami lalu duduk ngobrol dengan seru sementara waktu terus berjalan. Nampaknya mustahil menjalankan rencana semula, menghabiskan waktu di salah satu mall sementara menunggu Joli. Tas kami yang cukup besar terutama sekaleng kue semprong buatan mamaku mustahil diizinkan untuk memasuki mall. Bila harus dititipkan, siapa yang kami percayai dan mau menerima titipan kami tersebut? Itu sebabnya kami menghabiskan waktu di kuil Sam Po Kong. Waktu berlalu tanpa terkendali. Joli yang baik hati lalu bergabung dengan kami karena terpikat cerita Priska tentang Happy Lee yang berfoto ala Judge Bao di Sam Po Kong.

Joli memberitahu jalan yang harus ditempuh ketika memasuki kota Solo. Setelah memarkir kendaraan, kami segera memasuki Rumah Turi. Ibu Yulia menyambut kami dengan ramah dan nampak sangat gembira. Kami langsung memasuki ruangan, melewati Mark yang sedang tiduran di kursi, berselimutkan jaket kebesarannya di beranda. Saya, happy Lee, Joli dan Priska segera berpencar. Saya mengedarkan pandangan kepada semua yang telah hadir. Kebiasaan kuno, lelaki berkelompok dengan lelaki dan wanita berkelompok dengan wanita, bila ada yang berdua duaan, itu tanda mereka sedang dimabuk cinta. Yang saling mengenal asyk ngobrol yang baru dikenal duduk diam mendegarkan.

Aku memilih untuk menyalami para wanita dulu karena Allah menciptakan lelaki duluan. Ibu Yulia memperkenalkanku pada salah satu wanita yang wajahnya adalah salah satu wajah yang senantiasa menyambut pengunjung SABDAspace dengan tawa lepas. Priska memperkenalkanku kepada Dewi, orang yang memprovokasinya sehingga menjadi Kristen 8 tahun yang lalu. Nona Riyanti yang terhormat, di luar dugaanku, dia ternyata lebih pendiam dan langsing dibandingkan dugaanku. Love ternyata tidak seheboh yang kuduga berdasarkan pembicaraan kami lewat telepon. Beberapa lelaki menyalamiku, salah satunya memperkenalkan diri sebagai Willy, tentu saja aku tahu siapa namanya di pasar Klewer.

Duduk sendirian. Diam! Dekat dinding, tersenyum samar. Begitu saja aku ingin menggodanya. Aku menyalami semuanya tanpa menyalaminya selain melempar senyum simpul. Biar dia penasaran dengan prilaku saya itu. Dia diam. Mungkin pikirannya penuh dengan berbagai dugaan tantang aku, mungkin pula dia tidak peduli. Dalam chating terakhir, kami ngobrol berjam-jam tentang berbagai hal juga tentang menyapa orang-orang yang kita temui, juga tentang kenapa orang-orang tidak menegur kita dan apa yang harus kita lakukan terhadap mereka? Juga tentang rasa takutnya bila kelurganya nanti tahu bahwa dia sudah meninggalkan agama leluhurnya dan menjadi Kristen.

Setelah beramah-tamah dengan para wanita saya lalu mendekati kelompok lelaki. Menyalami mereka satu persatu. Agak sulit menduga antara Dianpra, Ari dan Y-control. Di luar dugaan, ternyata wajah Y-control jauh lebih muda dibandingkan dugaanku, bila belum membaca tulisan-tulisannya mungkin aku akan menduga dia anak SMU. Ketika menyalami seorang lelaki, setelah melakukan kalkulasi saya menduga dia salah satu dari Was, mungkin Waskita, mungkin Waskami, namun dia memperkenalkan dirinya sebagai Agung. Tentu saja saya tidak percaya, namun apa boleh buat?

Tiba-tiba pak Wawan muncul dari pintu, padahal baru beberapa menit sebelumnya mas Daniel pamit untuk menjemputnya. Perlahan-lahan saya segera bergeser menjauh dan memperhatikannya. Ketika sang naga mengepakkan sayapnya adalah kesempatan yang baik untuk mengamatinya. Ia menebar pandang lalu beramah-tamah dengan yang lainnya. Dia bersikap ramah kepada siapa saja namun tidak berusaha menonjolkan diri, sikapnya sangat wajar, sikap seekor naga yang tahu siapa dirinya. Saya menunggu lalu menghampirinya setelah para penggemarnya puas mengerubutinya dan menyalaminya. Sedikit sekali yang kami obrolkan malam itu, karena saya tidak mau memonopoli dia, sementara itu saya berpikir, hari Minggu akan ke Yogya jadi bisa mampir di rumahnya dan ngobrol dengannya sepuasnya. Ada banyak hal yang ingin kupelajari darinya.

Ketika acara makan dimulai saya kembali ke mobil untuk mengeluarkan oleh-oleh yang kami bawa dari Jakarta. Satu kaleng kue semprong buatan mamaku, dua bungkus teh Tambi dari pegunungan Dieng oleh-oleh temanku yang berkunjung ke Dieng ketika liburan ke sana dengan keluarganya dan satu kilo kopi dari Medan. Saya memberikan satu bungkus teh kepada ibu Yulia, sebab memang membawanya khusus untuk dia. Lalu memberikan satu bungkus lainnya untuk Joli beserta juice jeruk kiatna. Kopi dan kue semprong, untuk semuanya.

Saya mulai makan malamku dengan mengambil sop. Ketika mencicipinya saya meringis, bila sop itu masakan istriku, pasti aku akan bertanya apakah dia sudah bosan menjadi istriku? Sop itu keasinan bagiku. Setelah sop aku lalu mengambil nasi, dengan mataku yang terlatih aku tahu itu tumis sayur yang ditanam tanpa pestisida, itu sebabnya aku mengambil cukup banyak karena memang suka sayur. Aku juga mengambil acar dan ikan masak cabe.

Ketika menyuap sesendok sayur sawi kemulut, hampir aku tersedak, sayur sawi itu jauh lebih asin dari sop itu, bahkan aku masih merasakan beberapa butir garam dalam mulutku. Nampaknya orang yang menumis sawi itu masih hidup dalam paradigma lama bahwa sayur tidak akan matang bila garam diberi duluan, itu sebabnya dia baru menaburkan garam ketika sayurnya telah matang, akibatnya, garam tidak tersebar dengan rata dan saya tidak beruntung karena sayur yang saya sendok adalah sayur yang berisi garam itu. Agak sulit untuk membedakan apakah ikan goreng itu adalah ikan Gurame atau ikan Nila? Namun saya yakin bahwa ikan itu bukan ikan hidup yang baru dipotong ketika hendak dimasak. Ikan itu juga digoreng di dalam minyak yang kurang panas dan sedikit.

Setelah menghabiskan nasi dan menyisakan sayur, saya lalu mengalihkan perhatian ke tumpeng. Saya mencomot sedikit tumpeng dan lauk pauknya. Seperti dugaanku, tumpeng itu santannya terlalu kental, tumpeng Solo walaupun enak namun santannya selalu terlalu kental bagiku. Garam di dalam telur gorengnya juga tidak merata. Keripik kentang gorengnya terlalu manis. Namun, yang lainnya enak sekali, terutama telurnya yang direbus dengan daun jati. Saya lalu mengambil nasi lagi dan kali ini hanya memilih lauk pauk yang sesuai selera saya, terus rebus.

Memang susah bila mama juga istri anda jago masak, sementara anda memiliki selera khusus. Dengan perasaan tidak enak karena nggak mampu menelan sayur sawi yang terlalu asin, saya hendak meletakkan piring. Yuli, atau entah siapa namanya, menegurku, menanyakan padaku bagaimana rasa makanan yang disajikan, dia orang Rumah Turi. Saya menatapnya lalu memutuskan untuk berbicara jujur kepadanya karena tidak tega membohonginya. Ketika bertanya dia ingin tahu kebenarannya, bukan basa-basi, hal itu nampak jelas terpancar di matanya. Saya minta maaf padanya karena tidak menghabiskan tumis sayur yang telah saya ambil, karena tidak sanggup menghadapi rasa asinnya. Saya lalu menjelaskan kepadanya tentang dua tiga trik menumis sayur.

Ketika menumis sayur, ada tiga hal yang membuat sayur nampak coklat dan kusam ketika disajikan. Kurang minyak dan terlalu lama di masak serta diaduk ketika dimasak. Di samping itu, mecin atau vetsin tidak cocok untuk sayur tumis. Bawang putih adalah komponen utama menumis sayur, bawangnya sebaiknya di pukul dengan pisau atau golok hingga remuk sebelum dicacah atau diiris. Komponen lainnya adalah udang atau udang kering yang telah dilembutkan dengan direndam di dalam air. Goreng bawang putih di dalam wajan yang benar-benar panas, ketika bawang putih sentengah matang, masukkan udang atau udang kering. Lalu masukan sayur, tebarkan garam dan gula secukupnya lalu tutup. Beberapa saat kemudian buka tutupnya lalu aduk dan angkat. Hmmm …, sayur matang namun warnanya hijau menggiurkan.

Ketika memotong ikan orang hanya memperhatikan perutnya, jarang sekali yang memerhatikan mulut dan insang ikan. Ketika memotong ikan, sisiknya harus benar-benar bersih. Baik perut, insang maupun mulut harus dicuci dengan bersih di bawah kran. Ikan yang dicuci kurang bersih akan mengurangi rasa ikan itu sendiri, mungkin terlalu amis, bahkan bau tanah. Apabila ada, gunakan kecap asin dicampur cuka dan air untuk membalur tubuh ikan, bila tidak ada kecap asin, gunakan garam. Cuka akan membersihkan lendir ikan dan membuat tekstur ikan tetap terjaga ketika di goreng. Kecap asin selain memberikan rasa asin juga memberi aroma kedelai yang nikmat. Ikan harus digoreng di dalam minyak yang benar-benar panas, minyak yang beredar saat ini akan mendidih ketika mencapai suhu sekitar 230 derajat. Apabila menggoreng dengan wajan dan minyak terbatas, maka untuk menjaga rasa dan tekstur, ikan yang digoreng harus disiram terus dengan minyak. Agak merepotkan namun sepadan dengan kenikmatan yang dihasilkannya.

Ketika acara dimulai kembali, saya mengambil tempat duduk yang lain karena tempat duduk semula sudah ditempati orang lain. Tempat duduk kali ini sangat istimewa karena saya dapat memandang Ibu Yulia dan Mark sambil mengamati Fresh Salad dan Nona Riyanti yang terhormat. Ada keinginan untuk menatap Riyanti lekat-lekat lalu menggodanya, “kamu benci tatapan ini nona?” Ha ha ha … Tentu saja nyaliku tak sebesar itu. Fresh Salad, saya suka penampilannya. Wajahnya, terutama senyum, dan pandangan matanya serta caranya duduk tegak mengingatkanku pada seorang teman masa mudaku, namanya Ina, orang Bandung. Ketika kami bersahabat saat itu dia masih kuliah di Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran jurusan Jururawat. Persahabatan kami menguap begitu saja, saya sibuk dengan semua kegiatanku dan dia sibuk dengan segala kegiatannya serta pacarnya yang cemburuan.

Setelah pak Wawan pulang, acara dilanjutkan, Ibu Yulia meminta semua bloger menyampaikan unek-uneknya dan harapannya tentang SABDAspace. Tentu saja saya yang paling banyak berbicara. Sebenarnya bukan karena suka namun karena yang lainnya memilih diam. Saya memancing, bila ada yang terpancing, saya diam. Bila yang lain diam, saya kembali memancing. Bila ada yang bisa diplesetkan, maka melesetlah ramai-ramai dalam tawa berderai.

Oh ya, ada satu ungkapan dari Clair anak joli. Ternyata diam-diam dia mengamati dan mendengar percakapan. Dia berkata kepada Joli, selama mendengarkan, tidak sekalipun dia mendengar para blogger menyebutkan ayat-ayat Alkitab. Tentu saja dia tidak tahu bahwa acara kita adalah kopi darat Blogger Kristen, untuk saling mengenal, bukan reat reat blogger Kristen untuk belajar Alkitab dan lagi kita adalah blogger SABDAspace alias pasar Klewer.

Malam semakin larut, semakin banyak yang pamit untuk pulang. Priska lalu berjalan manapaki kerangka besi di taman. Saya, Hana, BernAnthony dan Happy Lee mengikuti, kami lalu terlibat dalam diskusi yang seru ketika Priska bercerita tentang rencana usahanya guna menunjang profesinya sebagai guru, pahlawan tanpa BALAS jasa. Happy Lee dengan santai mengevaluasi rencana business Priska bahkan memberi masukan business yang lebih gemilang. Karena dia pelit dengan katanya maka saya pun lalu menjelaskan panjang lebar setiap nasehatnya. Joli yang bergabung beberapa saat kemudian menguji rencana business itu dengan ajaran Alkitab dengan cara melontarkan beberapa pertanyaan. Sungguh diskusi yang seru!

Malam telah berlalu namun terang belum datang. BernAnthony pergi dengan Ari_thok sementara Happy Lee pamit untuk tidur. Tinggal aku, Priska, Hana dan Joli. Udara semakin dingin, kami lalu pindah ke halaman depan, duduk di dekat pohon Turi. Staf Rumah Turi dengan ramah menyajikan kopi dan teh buat kami. Ngobrol itu memang aneh, semakin ngobrol semakin banyak yang ingin di obrolkan.

Jam 03.15 kami memutuskan untuk pergi mencari bubur cakar ayam yang katanya enak sekali. Duduk lesehan, ceker ayam disajikan, saya memandangnya curiga. Bubur disajikan, sayapun melahapnya. Melihat keasykan Joli dan Priska menyesap cakar ayam, saya pun tergoda. Agak ragu saya menyesapnya. Hmm … rasa santannya kental, begitupun rasa kesat yang ditimbulkan oleh daun jati. Aku mengambil cakar kedua dan menyesapnya dengan mantap. Priska cerita tentang pacarnya yang suka makan cakar ayam dengan tulang-tulangnya. Saya mengusulkan agar kami mengumpulkan semua tulang yang ada agar bisa dibawa Priska untuk oleh-oleh bagi pacarnya.

Hari mulai terang ketika Priska pergi tidur. Joli harus pulang sebelum Clair anaknya bangun. Tinggallah aku berdua dengan Hana, duduk berhadap-hadapan, kami ngobrol tentang berbagai hal. Aku bercerita kepadanya tentang kisah-kisah yang jarang kuceritakan kepada orang lain. Dia juga menceritakan kisah-kisah yang jarang dia ceritakan kepada orang lain. Hari semakin terang namun kantuk tak juga datang. Joli datang sekaligus pamitan, dia harus ke gereja dan menghadiri sebuah pesta perkawinan. Setelah Joli pergi, Happy Lee keluar dari kamarnya dengan tubuh segar. Aku dan Hana lalu pamit untuk membersihkan badan. Bayangkan, Sejak mandi hari Sabtu jam 04.00 pagi saya belum mandi lagi. Herannya tidak ada yang mengeluh betapa baunya badanku.

Nantikan kisah berikutnya: Rumah Turi Griyo Kulo rumah Turi dan Rumah Turi Bale Kambang Air Port

7 thoughts on “Terlalu Singkat – Jakarta Semarang Solo

  1. Menyebalkan saat membaca tulisan Hai-hai tentang Daud Toni dan nampaknya akan selalu sebal bila melihat CARA Hai-hai menguliti Daud Toni, Gilbert, dll.. NAMUN makin sebal lagi karena apa yang ditulisnya benar..

    Menyenangkan saat membaca tulisan hai-hai tentang ADIDAS, tentang cinta, tentang keluarga, tentang kehidupan manusia. Nampaknya akan selalu senang melihat CARA hai-hai melihat dunia, dan bagaimana menjalani hidup. Banyak yang dapat di contek, Terus terang, tak berasa, menjalani hidup ini jadi lebih gampang, lebih semeleh kata orang jawa. Hai-hai sering membaeri contoh dengan bagaimana tokoh-tokoh alkitab menjalani hidupnya. Sebenarnya tiada yang baru di dunia ini..

    Berjumpa darat, ternyata lebih menyenangkan di banding hanya membaca tulisan-tulisan-nya. Jenaka dan baik hati ternyata ^.^

    Terlalu singkat memang..

  2. Namanya juga usaha non. Kita belajar dari pengalaman sendiri namun kita juga belajar jadi bijaksana dengan belajar dari pengalaman orang lain. Hanya sekali kita hidup dan itu akan segera berlalu. Jadi mari kita menikmatinya dengan cara yang benar. Jenaka nich ye? Ha ha ha ha ha ha …

    Ketika orang-orang menjadi dewasa, dia melupakan kanak-kanaknya. Ketika orang menjadi tua dia lupa kemudaannya. Seharusnya Yang baik dari masa kanak-kanak dan masa muda kita tetap kita bawa ketika menjadi tua. Itu namanya lengkap.

  3. Sebuah himbauan menyejukkan. Kita sesama manusia harus saling menghargai dan menghormati. Lihatlah filosofi semut. Kenapa ini perlu, sebab di dunia ini tak ada kebenaran mutlak. Kecuali hukum fisika. Itu juga tidak mutlak penuh. Dan bagi kami orang Cina/Tionghoa, kami orang hanya lebih suka yang klasik yaitu yang ikut Muhammadiyah atau NU. Kami tidak suka yang jenggot2 seperti orang2 PKS, atau orang2 Muslim ektrim lainnya, seperti aliran Maliki, Hambali dan lainnya yang baru “diimpor” ke Indonesia bbelum lama, dan cenderung ekstrim, ada yang pakai jengot, norak. Ahmadiyah sebetulnya baik dan orang-orangnya tidak ekstrim. Tapi karena baik dan bisa banyak pengikut, maka difitnah dan dijegal bahkan mereka dibunuh. Padahal, negeri ini bukan negara Islam, tapi sekuler berdasarkan Ketuhanan YME seperti pada Pancasila, dasar negara, ini sangat penting. Artinya, orang boleh beragama apasaja memilih aliran apasaja selama tidak melanggar hukum nasional.

    Dan ini soal penting rek. Perombakan kabinet? Mutlak penting. Bayangkan, seorang menteri diangkat hanya karena dulu suka demo dan sok aksi di depan Kedubes Amerika memanfaatkan isu laris-manis yaitu Palestina-Israel.
    Padahal itu hanya untuk mendapat kursi menteri atau persentase perolehan dalam pemilu. Itu permainan mudah dibaca dari PKS. Kini terbukti sudah bahwa Tifatul Sembiring tidak kapabel. Semua orang tahu pasti dan harusnya dia sudah di-reshuffle sejak dulu. SBY sendiri sejak dulu sudah di atas angin, padahal, dia menang hampir mutlak pada pemilu 2009. Tapi SBY takut tanpa alasan, dengan memutuskan membuat “jaring pengaman” tak perlu yaitu koalisi bersama PKS dan Golkar. Sekarang SBY baru tahu kalau Tifatul itu tidak berguna. Negara mau dikemanakan?

  4. hehhehe… Ibu Seina… Saya pakai kerudung… Suami saya berjenggot. saya tidak tahu kalau hal-hal semacam ini menganggu anda. Kami hanya menjalankan aturan agama. Kami bukan extrem… teroris, suka bunuh orang dll. Kalau disebut Norak itu sangat menyinggung perasaan saya… Karena Nabi Musa Berjenggot, Nabi Yesus Berjenggot, dan Nabi Muhammad juga berjenggot. Jangan samakan kami dengan Imam Samudra, Amrozi dan Usama Bin Laden… seperti kami tidak pernah menyamakan anda dan kelakuan anda seperti Hitler dan lainnya. Wanita bercadar dan Pria berjenggot adalah kaum Muslimin bermahzah Hambali. Itu bukan produk Import… sudah ada sejak Tuanku Imam Bonjol, sang Pahlawan Indonesia yg berusaha mengusir penjajah. Maka seperti Nabi Muhammad ajarkan kepada kami kaum muslimin untuk tidak menganggu orang orang Non Muslim dzimmi seperti anda (orang non muslim yg berada bersama-sama dengan orang Muslim pada suatu negara) bahwasanya kami tidak boleh tidak berlaku adil kepada anda… apalagi membunuh non Muslim, Nabi Kami mengatakan orang yg membunuh orang non Muslim dzimmi maka mereka tidak mencium bau Surga.
    Sekelompok orang Islam yg extrem… pengikut khawarij yg sesat… yg kerjaannya mengebom dan membunuhi rakyat sipil baik dari Kaum Muslimin dan Non-Muslim sama sekali bukan dari Golongan Nabi dan para sahabat nabi.
    Thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s