The Marriage in The Sound Of Music


Gambar: Minmerry

Gambar: Minmerry

Medan 26 Desember 2009. Walaupun sudah berusaha semaksimal mungkin namun lalu lintas kota Medan sama sekali tidak berbelas kasihan. Aku dan Happy Lee terlambat sampai di Gereja. Dengan tergopoh-gopoh kami mendaki tangga lalu memasuki lift. Lift berhenti di lantai 6 kami keluar lalu berjalan ke kanan, ketika berbelok ke kanan lagi kami kaget karena Vantillian dan Minmerry Sedang duduk menanti. Vantillian nampak keren dengan stelan jass berwarana kuning muda, sementara Minmerry nampak cantik dengan pakaian pengantin dengan warna yang sama namun lebih muda. Ketika keduanya bangkit aku dan Happy Lee segera menyalaminya bergantian. “How do I look?” Minmerry bertanya dari balik kadarnya, Aku mendekatkan kepalaku agar dapat memandangnya lekat-lekat menembus cadar, “Cantik! Beautifull.” Seorang penerima tamu segera menggiring kami menjauhi kedua calon mempelai itu.

Bangku-bangkunya berwarna merah, tersusun dalam tiga kolom, sangat mewah seperti bangku-bangku di bioskop-bioskop mewah. Penerima tamu membimbing kami mengambil jalan sebelah kanan. Setelah melewati berbaris-baris bangku, dia mempersilahkan kami duduk di bangku kolom tengah, 5 baris dari depan. Benar-benar bangku yang nyaman. Aku melambai kepada anggota M2MC (Methodist 2 Magic Community) yang duduk berkelompok di bangku kolom kanan.

Setelah duduk dengan nyaman bersama Happy Lee, aku mulai mengedarkan pandangan mataku menikmati keindahan ruangan tersebut. Gereja yang unik. Ruang kebaktiannya didesign sebagai ruang Theater dengan panggung yang besar dan langit-langit yang tinggi. Latar belakang panggung adalah kain bewarna biru tua, dengan taburan bintang-bintang dengan sebuah bintang kejora yang berkelap-kelip mendominasi. Ada sebuah salib berwarna kuning muda di tengahnya, dan sebuah awan putih dengan tulisan “T&M” di bawahnya sebuah awan yang lebih besar dengan bentuk menyerupai hati dengan tulisan biru pastel komposisi degradasi, “Tomy & Merry” Di depannya berdiri empat buah pilar setinggi 2 meter, dua di kanan dan dua di kiri. Di depannya lagi diletakkan dua baris kursi untuk tempat paduan suara. Di kanan kiri panggung berdiri empat dinding kain berwarna biru telur asin berbaris serong. Di atas panggung tergantung 3 buah tirai yang tergulung berwarna telur asin pula. Tirai paling luar berwarna merah ungu berlempit-lempit indah dan berwibawa. Di sebelah kanan panggung berdiri sebuah pohon natal besar dengan hiasan yang didonimasi warna merah dan kuning emas. Lampu-lampunya harmonis berkelap-kelip. Di sebelah kiri panggung sebuah piano besar dengan warna coklat tua mendominasi, di belakangnya nampak sebuah keyboard. Ada tiga tangga untuk menuju panggung, satu di pojok kanan, satu di kiri dan satu di tengah. Tangga di tengah nampak istimewa bentuknya seperti sebuah jembatan melengkung dengan balon-balon berwarna putih, merah dan biru saling menjalin. Imajinasiku langsung membayangkan, ketika Vantillian dan minmerry mendakinya maka mereka, dalam stelan kuning muda akan nampak seolah dewa-dewi yang berjalan mendaki pelangi menembus awan.

MC mengundang orang tua kedua calon mempelai menaiki panggung untuk menyalakan dua buah lilin dari tiga lilin yang terpasang di kaki dian. Mama Minmerry menyalakan lilin sebelah kanan sementara Papa dan Mama Vantillian memyalakan yang di kanan. Setelah lilin menyala MC mengajak semua hadirin berdiri menyambut calon mempelai yang melangkah memasuki ruangan dengan iringan lagu “Here Come The Bride“. Vantillian dan Minmerry melangkah perlahan-lahan dan canggung namun penuh senyum. Hadirin bertepuk tangan menyambut keduanya. Setelah keduanya mengambil tempat duduk di bawah panggung, rombongan koor memasuki panggung dan mengambil tempat duduk. Keheningan memenuhi udara.

Piano mulai berdenting, keyboard, gitar, bas mengiringi, suara drum mendominasi seorang lelaki berjaz hitam berjalan keluar dari sebelah kanan panggung, namanya Andreas Wangsa. Dia mulai bernyanyi mula-mula dengan suara perlahan makin lama makin keras.

O Lord my God,
when I in awesome wonder,
consider all the world thy hands have made,
I see the stars, I hear the rolling thunder,
thy power throughout the universe displayed

Then sings my soul, my savior God to thee
How great thou art, how great thou art
Then sing my soul my savior God to thee
How great thou art, how great thou art

Suara tenornya luar biasa, mengingatkan saya dengan Andrea Bocelli. Nampaknya saya bukan satu-satunya yang terpesona. Di dalam kebaktian pernikahan umumnya dinyanyikan lagu-lagu cinta, namun di sini dinyanyikan lagu How Great Thou Art dengan suara yang indah, teknik menyanyi sempurna dan iringan musik yang dimainkan dengan sangat baik. Indah, agung, mempesona serta membangkitkan rasa hormat dan takluk kepada Allah Yang Mahaesa. Sungguh luar biasa.

Oh wo zhu a,
Wo mei feng ju mu guan kan.
Ni shou suo zao, yi qie qi miao da gong
Kan jian xing shu,
You ting dao long long lei shen
Ni di d gong pian man liao yu zhou zhong

Chorus
Wo ling ge chang
Zan mei wo jiu shu zhu
Ni zhen we da, he deng wei da
Wo ling ge chang
Zan mei wo jiu shu zhu
Ni zhen we da, he deng wei da

Jemaat berdiri menyanyikan lagu How Great Thou Art dalam bahasa mandarin. Sound sistem yang baik, akustik yang baik, udara ruangan yang nyaman, musik yang dimainkan dengan baik, di pandu oleh penyanyi bersuara indah, jemaat bernyanyi dengan penuh semangat dan penghayatan. Setelah lagu berakhir jemaat serempak bertepuk tangan untuk menyatakan hormat dan syukur kepada Allah Tritunggal Yang Mahaagung.

Boksu Dewi berjalan ke tengah panggung dengan senyum sumringah. Entah mengapa, saya langsung menyukai pendeta wanita itu bahkan sebelum dia berbicara. Saya suka caranya melangkah, gesit namun mantap. Saya suka bahasa tubuhnya, ramah dan akrab. Senyumnya menunjukkan bahwa dia seorang yang sederhana dan ceria sementara sorot matanya menunjukkan bahwa dia seorang yang humoris dan lugu. Umumnya pendeta wanita memiliki suara yang melengking namun Boksu Dewi memiliki suara yang empuk dan agak berat. Saya tidak tahu kenapa namun sosoknya mengingatkan pada salah satu dosen Teologi saya dulu, Jeane Obadja.

Boksu Dewi memimpin doa lalu membacakan Alkitab dan menyampaikan kotbah. Kotbah yang lugas dan sederhana. Setelah menjelaskan dasar-dasar pernikahan Kristen boksu Dewi lalu membimbing kedua mempelai saling memadu janji dan sumpah. Vantillian mengucapkan janji dan sumpah serta doanya dengan suara tenang dan mantap penuh tekad namun nggak ngotot. Kata-katanya diucapkan dengan jelas dan tegas, sepatah demi sepatah seolah tak ada satu kekuatan pun yang mampu menentangnya. Minmerry mengucapkan janji dan sumpah serta doanya dengan suara lembut penuh kepasrahan. Kata-katanya diucapkan dengan lembut berirama mengalir seolah mata air yang takkan pernah kering walau kemarau menguasai seumur hidupnya. Keduanya tidak mengucapkan janji dan sumpah serta doanya dengan berapi-api namun mereka mengucapkannya dengan penuh kesadaran dan kepasrahkan kepada Allah. Keduanya seolah tahu akan banyak angin kencang, gelombang bahkan petir dan badai yang akan menerjang bahtera namun mereka akan terus berlayar dan terus berlayar mengarungi hidup bersama-sama sampai Allah berkata, “Pulanglah anak-Ku dan nikmatilah upahmu.”   Kedua mempelai itu berlutut sementara Boksu Dewi menumpangkan tangan dan memberkati keduanya dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.

Maka Vantillian alias Tommy Wijaya pun menjadi suami Minmerry sementara Minmery menjadi istri Tommy Wijaya yang sah. Ketika kedua mempelai menyalakan lilin di tengah kaki dian di mana yang di kanan kirinya telah dinyalakan oleh orang tua kedua mempelai, seorang wanita keluar dari sebelah kanan panggung dan mulai menyanyikan lagu Give Thanks.

Give thanks with a grateful heart
Give thanks to the holy one
Give thanks because he’s given Jesus christ
his son

Give thanks with a grateful heart
Give thanks to the holy one
Give thanks because he’s given Jesus christ
his son

And now let the weak say, “I am strong.”
Let the poor say, “I am rich
Because of what the lord has done for us”
And now let the weak say “I am strong.”
Let the poor say, “I am rich
Because of what the lord has done for us”

Wanita bersuara indah itu namanya Josephine. Setelah dia bernyanyi sendirian, lalu Andreas mengiringinya diikuti oleh jemaat. Give Thanks membahana penuh rasa syukur mengetuk pintu sorga. Setelah jemaat selesai menyanyi, empat orang lelaki, Edy, Andreas Wangsa, Jimmy dan Johny mengambil posisi di tengah panggung lalu bernyanyi Mama.

Mama, thank you for who I am
Thank you for all the things I’m not
Forgive me for the words unsaid
For the times I forgot

Mama remember all my life
You showed me love, you sacrificed
Think of those young and early days
How I’ve changed along the way [along the way]

And I know you believed
And I know you had dreams
And I’m sorry it took all this time to see
That I am where I am because of your truth
And I miss you, yeah I miss you

Mama forgive the times you cried
Forgive me for not making right
All of the storms I may have caused
And I’ve been wrong, Dry your eyes [dry your eyes]

Cause I know you believed
And I know you had dreams
And I’m sorry it took all this time to see
That I am where I am because of your truth
And I miss you, I miss you

Mama I hope this makes you smile
I hope you’re happy with my life
At peace with every choice I made
How I’ve changed along the way [along the way]

Cause I know you believed in all of my dreams
And I owe it all to you, Mama

Aku menunduk menikmati lagu tersebut sementara Vantillian dan Minmerry memeluk orang tua mereka bergantian. Ketika Vantillian memeluk mamanya, begitu saja aku ingat 26 Januari 1997, dalam keremangan petang aku melakukan hal yang sama memeluk mamaku lama sekali di hari pernikahanku. Begitu saja aku rindu mamaku, aku rindu istriku, mama anakku. Aku mengucap syukur kepada Tuhan dalam keharuan. Ketika melihat Minmerry memeluk ayah mertuanya, aku menatap langit dan berbisik, “Burung gelatikmu telah menjadi istri seorang lelaki dan akan melahirkan cucu-cucumu. Berbahagialah.”

Lagu “mama” mengalun merdu menyentuh kalbu, aku mengambil pulpen lalu menulis di kertas acara melampiaskan isi hatiku.

Gambar: Min Merry

Tommy dan Minmerry
setengah cinta di masing-masing hati
menyusuri waktu

setengah cinta saling mencari
tanpa suara,
nyata
tak berwujud,
Indah
Rindu merindukan rindu

Rindu menyapa rindu
Asmara
Asmara mencumbu asmara
Cinta
Setengah cinta Tommy menyatu dengan setengah cinta Minmerry
Satu cinta jadilah

Satu cinta dua tubuh
Birahi menyapa
Satu cinta satu tubuh
Orgasme pun luruh
Setengah cinta lahirlah

petir, hujan
terik, teduh
angin, hening
siang, malam
pagi, petang
suka, luka
tawa, tangis
ria, nestapa
Tetaplah melangkah

Cinta bukan dagang
Ada tujuh cinta di dunia ini
cinta pencipta dan ciptaan
Cinta penguasa dan rakyat
Cinta atasan dan bawahan
Empat yang lain nggak adil sama sekali
Cinta teman dan sahabat
Cinta kakak dan adik
Cinta anak dan orang tua
Cinta suami dan istri

Bila hendak adil berdaganglah
Jangan mencinta
Kala mencinta, berilah
Tak harap kembali

Aku terus menulis ketika Josephine dan Andreas Wangsa melantunkan lagu The Prayer.

I pray you’ll be our eyes
And watch us where we go
And help us to be wise
In times when we don’t know

Let this be our prayer
When we lose our way
Lead us to a place
Guide us with your Grace
To a place where we’ll be safe
La luce che to dai (I pray we’ll find your light)
Nel cuore restero (And hold it in our hearts)
A ricordarchi che (When stars go out each night)
L’eterna stella sei (ooh)
Nella mia preghiera (Let this be our prayer)
Quanta fede c’e (When shadows fill our day)
Lead us to a place
Guide us with your grace
Give us faith so we’ll be safe.

Sognamo un mondo senza piu violenza
Un mondo di giustizia e di speranza
Ognuno dia la mano al suo vicino
Simbolo di pace e di fraternita

La forza che ci dai (We ask that life be kind)
E’il desiderio che (And watch us from above)
Ognuno trovi amore (We hope each soul will find)
Intorno e dentro a se (Another soul to love)

Let this be our prayer
Let this be our prayer
Just like every child
Just like every child

Needs to find a place,
Guide us with your grace
Give us faith so we’ll be safe
E la fede che
Hai acceso in noi
Sento che ci salvera

MC memberitahu bahwa mempelai akan menyanyikan lagu Love Will Be Our Home. Ketika piano mulai berdenting, Vantillian dan Minmerry berjalan dari sisi kiri panggung ke tengah. Minmerry mulai menyanyi.

If home is really were the heart is
And home must be a place we all can share
For even with our diffrences, our hearts are much the same
For where love is we come together there

Wherever there is laughter ringing
Someone smiling, someone dreaming
We can live together there
Love will be our home

Wherever there are children singing
Where a tender heart is beating
We can live together there
Cause love will be our home

With love our hearts can be a family
And hope can bring this family face to face
And though we may be far apart
Our hearts can be as one
When love brings us together in one place

Wherever there is laughter ringing
Someone smiling, someone dreaming
We can live together there
Love will be our home

Where there are words of kindness spoken
Where a vow is never broken
We can live together there
Cause love will be our home

Love will, love will be our home
Love will, love will be our home
Love will, love will be our home

Wherever there is laughter ringing
Someone smiling, someone dreaming
We can live together there
Love will be our home

Wherever there are children singing
Where a tender heart is beating
We can live together there
Cause love will be our home

Love will, love will be our home
Love will, love will be our home
Love will, love will be our home

Wherever there is laughter ringing
Someone smiling, someone dreaming
We can live together there
Cause love will be our home

Love will be our home

Minmerry pandai sekali menyanyi, karena nggak tahan maka aku mengambil hpku lalu menelpon Joli dan membiarkannya mendegnar Minmerry menyanyi lewat telepon. Minmerry menyanyi sementara Vantillian yang berdiri di sisinya menikmatinya. Josephine, Andreas Wangsa, Edy, Jimmy dan Johny ikut melantunkan lagu Love will be our home. Komposisi yang luar biasa. Ketika lagu itu berakhir suara tepuk tangan dari 700 orang lebih membahana. Itulah akhir upacara pernikahan Vantillian dan Minmerry. Aku menyebutnya The Marriage in The Sound of Music. Selain pernikahanku sendiri, menurutku itulah upacara pernikahan terindah yang pernah aku hadiri.

Sementara tamu-tamu lain menyalami kedua mempelai dan keluarganya, aku dan happy lee menghampiri rombongan M2MC (Methodist 2 Magic Community) kami lalu ngobrol seru sekali. Ketika tamu-tamu tinggal sedikit karena sudah bergerak ke lantai 2 untuk menikmati hidangan, saya dan happy lee minta jatah untuk difoto dengan kedua mempelai. Setelah itu kami bergerak dengan rombongan M2MC ke lantai dua untuk menikmati makan malam. Dari sekian menu yang disajikan, ada dua masakan yang benar-benar cocok dengan seleraku. Gulai iga dan samcan (daging perut) masak kecap. Sesungguhnya ada satu menu lagi yang istimewa namun saya tidak mengambilnya karena diolah dengan cara yang salah yaitu ba keng (sosis). Ba keng seharusnya digoreng dulu baru dipotong. Bila dipotong dulu baru digoreng maka ba keng akan menjadi keras dan kehilangan keharumannya. Ha ha ha ha … Udah makan gratis protes lagi.

Setelah selesai makan aku dan Happy Lee lalu mengobrol dengan banyak orang termasuk dengan vincent yang sedang pulang kampung. Kami mencari Boksu Dewi dengan maksud setelah ngobrol dengan beberapa saat kami akan pamit pulang. Boksu Dewi menyambut kami ramah, dia lalu mengajak kami ke kantor gereja. Dia memperkenalkan orang-orang yang ada di sana kepada kami. Yang menarik hatiku adalah seseorang yang menjabat ketua komisi anak Gereja Methodist. Kami lalu terlibat dalam obrolan yang seru sekali tentang pendidikan anak-anak dan remaja. Kami terus ngobrol dan ngobrol hingga suami istri itu pamit untuk pulang. Yang lain segera menggantikannya menemani kami ngobrol.

Jam 21.15 saya dan Happy Lee pamit untuk pulang. Kami sempat minta jatah difoto lagi bersama kedua mempelai tersebut.  Ketika sedang dalam perjalanan happy lee kumat penyakit baik hatinya. Kami lalu berhenti di jalan untuk membeli duku dan rambutan untuk oleh-oleh orang di rumah. Ketika melanjutkan perjalanan tiba-tiba Hp-ku berbunyi. Aku mengangkatnya dan langsung di sambut suara, “Ko balik lagi, kita makan duren.” Aku berikn Hp-ku kepada Siwin yang mengantar kami. Setelah berbicara beberapa saat, dia lalu memutar mobil yang kami tumpangi.  Setelah menemukan tempat parkir kami lalu berjalan untuk mencari Athien, salah satu muridku. Saat itu dia sedang bersama pacarnya dan seorang teman yang lain. Aku Happy Lee dan Siwin segera mengambil tempat duduk di bangku kayu sementara tukang duren memilih duren terbaiknya untuk disajikan.  Satu buah duren disajikan dihadapanku, di atas meja plastik. Setelah mencicipinya dan merasa cocok, aku segera mengganyangnya. Kembali sebuah duren disajikan dan aku mencicipinya dan merasa cocok. Ketika duren ketiga disajikan, aku bilang cukup. Setelah menghabiskan 2,5 buah duren aku minta ampun.  Setelah ngobrol beberapa saat, kami pun pulang.

2 thoughts on “The Marriage in The Sound Of Music

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s