Ketika Manusia Mendengarkan Material Pun Berbicara


“Sesungguhnya saya sendiri surprise dengan hasilnya! Ketika proses pembangunan berlangsung, saya hampir tidak berani berharap tentang hasilnya sebab sejak awal sudah berjanji untuk hanya membiarkan material-material itu bersolek sendiri, bukannya mengubah mereka untuk memuaskan keinginan hati. Itu sebabnya selama proses pembangunan, saya selalu menjaga kemurnian tekad itu. Ketika material diizinkan bersolek, mereka akan meng-inspirasi yang melihatnya lalu ruang pun terbentuk dengan sendirinya.

Itulah kira-kira ucapan mas Paulus Mintarga ketika  kami meninggalkan Rempah Rumah sekitar jam 02.30 dini hari, 11 Juli 2001. Itu keyakinannya sejak bertahun-tahun yang lalu. Aku diam. Gema ucapannya buyar, perlahan-lahan menjelma menjadi mata-mata berbinar riang, senyum simpul mengembang, otot-otot penuh semangat, keringat mengucur deras sementara jari-jemari lincah menganyam puing demi puing. Di bawah matahari, Rempah Rumah Karya tumbuh dari bumi. Mula-mula tulang belulang lalu berurat dan berdaging. Nafas hidup dihembuskan. Rempah Rumah Karya pun jadi. Hidup!

Rempah Rumah Karya! Bila anda bertanya, hasil karya siapakah itu? Itu karya barang-barang rongsok melalui Paulus Mintarga dan sedulur-sedulurnya.  Ha ha ha ha ha …. Mas Paulus tertawa renyah, “Material bersolek. Nafas hidup dihembuskan.” Katanya.

Belasan tahun berlalu, material sisa proyek di gudang pun menggunung hampir tak tertampung. Sejak awal mas Paulus, sang bapak perusahaan menetapkan untuk membawa pulang semua material sisa proyek dan menyimpannya di gudang. Material sisa proyek? Benar. Sebagian adalah material bekas yang berasal dari gedung lama yang dibongkar sebab di atas tanah itu akan didirikan gedung baru. Sebagian lainnya adalah material gedung baru yang tersisa. Sebagian material masih bisa dipakai, namun sebagian besar lainnya tidak bisa digunakan lagi.

Masa sewa gudang hampir berakhir maka tindakan pun diambil. Amanat diberikan material pun dipilah-pilah. Yang masih bisa dipakai langsung dikirim ke proyek untuk digunakan. Yang tidak bisa digunakan lagi, dikelompokkan dan dihitung serta dicatat jumlahnya. Setiap pagi mas Paulus mengunjungi gudang untuk memberi amanat dan setiap sore datang kembali untuk menerima laporan dan memeriksa hasil pekerjaan. Enam bulan berlalu. Material pun selesai dipilah. Yang masih bisa digunakan sudah dikirim ke proyek untuk dipakai. Yang tertinggal adalah barang-barang rongsok.

Ada banyak alasan kenapa material gedung lama yang dibongkar tidak digunakan lagi pada gedung baru. Karena pemilik hanya mau menggunakan barang baru. Karena bentuk dan ukurannya tidak sesuai dengan design bangunan baru. Karena aus maka kekuatannya tidak cukup lagi untuk mendukung bangunan baru.

Potongan-potongan kayu yang ukurannya  terlalu pendek dan bentuknya nggak karuan hanya cocok untuk kayu bakar. Kusen-kusen dan jendela-jendela besi bongkaran gedung lama, sebagian besar kacanya telah pecah dan kasanya telah robek. Walaupun kekuatannya tidak berkurang namun Batang baja CNP dan pipa besi bangunan lama tidak dipakai lagi karena spesifikasi dan ukurannya tidak cocok untuk gedung baru. Batang-batang CNP dan pipa-pipa besi sisa pembangunan gedung baru tidak dipakai lagi karena ukurannya terlalu pendek. Sisa proyek yang terbuat dari besi umumnya hanya dijual kiloan sebagai besi tua untuk dilebur ulang.

Keramik-keramik pecah tidak berharga sama sekali. Hanya digunakan untuk menguruk tanah. Bila tidak bertemu orang yang membutuhkannya, anda harus membayar untuk membuangnya. Keramik sisa bangunan baru memang masih utuh namun jumlahnya terlalu sedikit. styrofoam sheet umumnya digunakan untuk dinding dan plafon atau melapisi lantai guna meredam suara dan menjaga suhu ruangan. Kantong semen dijual murah untuk didaur ulang. Demikian pula dengan kaleng-kaleng cat. Ada banyak barang rongsok yang lainnya lagi, namun anda akan bosan bila disebutkan satu demi satu.

“Kita akan membangun GUDANG dengan material sisa alias barang-barang rongsok.” Demikianlah kira-kira kata mas Paulus sang bapak perusahaan kepada para stafnya. Itu pula yang diceritakannya kepada handai taulannya. Mereka tidak merasa heran karena sudah pernah melihatnya melakukan hal demikian di Rumah Turi dan beberapa gedung lainnya. Namun mereka tidak tahu bahwa mereka tidak tahu sebab kali ini sang arsitek akan melakukannya dengan cara yang berbeda. Seorang pengusaha kaca mengiriminya limbah kaca untuk dimanfaatkan. Seorang pengusaha lainnya mengiriminya limbah plat besi sisa pond (cetak). perusahaan furniture miliknya menyimpan semua limbah kayunya.

Aku menyebut mas Paulus bapak perusahaan sebab dia menganggap para karyawannya sebagai sedulur-sedulurnya (kerabatnya). Bapak perusahaan bersabda.  Tim 3 Prima Graha pun bekerja. Tim 3 artinya tidak ada seleksi untuk memilih karyawan- karyawan terbaik guna membangun Rempah Rumah Karya. Tim 3 artinya seluruh karyawan Prima Graha bekerja sesuai dengan jabatan dan tugasnya masing-masing secara normal. Tidak ada yang istimewa dengan Rempah Rumah Karya, hanya salah satu proyek dari banyak proyek lain yang dikerjakan oleh Prima Graha.

GO GREEN! Menjadi hijau! Menghijaukan! Penghijauan! Kembali ke alam! Bagi sang arsitek, “Go Green!” berarti tidak ada sampah alias tidak ada material yang dibuang atau dijual sebagai rongsokan.  Apa itu sampah alias rongsokan? Sampah alias rongsokan adalah material yang tidak mau atau tidak mampu didayagunakan lagi. Apakah Rempah Rumah Karya dibangun dari sampah alias rongsokan? Benar! Di mata orang awam itu memang rongsokan.  Tidak! Di mata sang arsitek barang-barang rongsok itu sama sekali bukan sampah. Keistimewaan pertama Rempah Rumah Karya ada pada material yang digunakannya yaitu material yang dianggap sampah alias rongsokan.

Sophisticate artinya canggih. Naik ke tempat yang lebih tinggi dengan lift dan escalator dianggap canggih sedangkan jalan mendaki tangga dianggap kuno. Apakah menegakkan struktur Rempah Rumah Karya dengan derek tangan tidak canggih karena yang canggih adalah menggunakan crane? Bagi sang arsitek, canggih artinya tepat guna. Tidak kurang tidak lebih apalagi dibuang. Memikul barang yang bisa dijinjing namanya berlebihan. Mengangkat barang yang bisa dijinjing dengan folklift namanya pemborosan dan mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, agak-agak bloon. Proses pembangunan Rempah Rumah Karya sangat sederhana. Hampir seperti mendirikan tenda. Keistimewaan kedua Rempah Rumah Karya terletak dalam proses pembangunannya yang sederhana namun sangat canggih.

Istri sang arsitek adalah sarjana teknik sipil. Saya menyebutnya mpu tangga setelah menikmati keindahan tangga-tangga di beberapa rumah yang dibangunnya dan mendengar cerita bagaimana cara tangga-tangga indah itu dibangun. Tentang kekuatan Rempah Rumah Karya, saya akan ringkas penjelasannya  yang panjang lebar, “Setelah melihat Rempah Rumah Karya, banyak yang bertanya, ‘Bagaimana dengan kekuatannya?’ Kekuatan menghadapi apa? Api? Atap Rempah Rumah Karya yang terbuat dari bambu, kantong semen yang dilumuri aspal dan ijuk, adalah material yang rawan sekali menghadapi api. Pancuran-pancuran air di atap berguna untuk menangkal panas sinar matahari juga membuat atap basah sehingga tidak mudah terbakar bila ada petasan nyasar. Atau ada orang ngaco-belo melemparkan puntung rokok.

Lantai terbuat dari bambu, kasa harmonika, styrofoam sheet yang dilapisi beton, selain ringan juga lentur. Atap pun lentur dan ringan. Rempah Rumah Karya sangat lentur dan ringan, itu sebabnya tidak takut menghadapi gempa bumi besar.

Setelah berdiri, rangka bergetar ketika angin berhembus. Getaran berkurang ketika kasa harmonika dipasang. Setelah atap jadi dan angin berhembus, struktur bergoyang. Beberapa tukang sempat kuatir namun bojoku justru tertawa jail dan bilang sudah tahu hal itu akan terjadi. Dia menyuruh kami menunggu dan  melihat perkembangan selanjutnya. Setelah lantai satu dan lantai dua selesai, struktur menjadi kokoh dan ketika dinding selesai, struktur pun sempurna. Rempah Rumah Karya tidak akan kalah oleh angin.” Keistimewaan ketiga Rempah Rumah Karya ada pada rancang strukturnya. Saya akan coba menjelaskannya sehingga anda tahu kenapa banyak orang bertanya tentang kekuatan Rempah Rumah karya dan anda memahami kekuatannya.

Material bercerita dalam diam tentang dirinya, tentang jenisnya, tentang kekuatannya, tentang kelemahannya, teksturnya, bentuknya, ukurannya, dan lain-lainnya sementara sang arsitek mendengarkan. Sang arsitek bukan hanya mendengarkan material  namun juga mendengarkan alam. Struktur tanah, aliran air, hembusan angin, panas sinar matahari dan hujan. Setelah semua cerita dipahami maka sang arsitek pun mencari cara untuk memadukan semuanya secara harmoni guna membangun sinergi secara harmonis. Membentuk sinergi artinya bersatu kita teguh dan bercerai kita runtuh. Membentuk harmoni artinya bhineka tunggal ika alias berbeda-beda namun esa.

Insinyur teknik sipil bilang, “Tidak lebih tidak kurang.” Akuntan bilang, “Tidak ada pemborosan juga tidak ada korupsi.” Orang Kristen bilang, “Banyak anggota namun satu tubuh.” Barang yang bisa diangkat satu orang namun diangkat dua orang namanya pemborosan alias lebih. Barang yang seharusnya diangkat dua orang namun dipaksakan untuk diangkat satu orang namanya korupsi alias kurang. Batang-batang baja CNP menjadi tulang dan  kasa harmonika ditambahkan untuk menjadi urat dan saraf. Menjadi urat untuk memadukan dan menyebarkan kekuatan dengan seimbang. Menjadi saraf guna menyebarkan informasi ke semua bagian ketika salah satu bagian menghadapi tekanan. Anda mulai melihat cara Rempah Rumah Karya mendapatkan kekuatannya.

Daging atap dibentuk dari krepyak (bambu yang diremukkan). Di atasnya kantong-kantong semen yang dipoles aspal atau karpet talang sisa proyek, di atasnya lagi, ijuk. Kantong semen terbuat dari kertas dan kertas akan lumer oleh air. Kantong semen yang tidak dilumuri aspal dengan baik akan bocor. Air mengalir ke tempat yang lebih rendah. Kantong semen dan karpet talang memiliki ketebalan  yang berbeda. Polesan aspal yang tidak merata pada kantong semen akan menyebabkan ketebalan yang tidak sama. Bambu-bambu remuk pun memiliki ketebalan yang tidak merata. Permukaan yang tidak rata menyebabkan air menggenang di tempat yang rendah. Genangan air akan mencari celah. Ketika genangan air hujan menemukan celah maka itulah yang disebut bocor. Ijuk memang menahan air hujan namun celahnya besar dan air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Kemiringan atap Rempah Rumah Karya ditentukan oleh tulang-belulangnya. Kerapihan atap Rempah Rumah Karya ditentukan oleh para tukangnya. Material sudah berbicara dan sang arsitek sudah berkata-kata, selanjutnya para tukanglah yang menjadi Tuhannya sementara matahari adalah  iblisnya. Bila terjadi kebocoran, siapa yang harus disalahkan? Menyalahkan bahkan menghukum memang mendatangkan kepuasan namun sama sekali tidak mencegah kebocoran. Itu sebabnya yang dilakukan adalah mencari cara untuk mengatasi kebocoran. Dengan cara demikianlah semua yang terlibat menarik pelajaran.

Setelah atap jadi, kenapa struktur Rempah Rumah Karya bergoyang ketika diterpa angin kencang? Karena angin yang datang dari sebelah kiri bangunan terhambat oleh atap. Apabila struktur atap dan rangka tidak kuat menahannya maka akan terlempar seperti topi dihembus angin kencang. Apabila struktur pondasi tidak kuat menahannya maka akan tercerabut seperti pohon besar diterpa angin kencang. Itu sebabnya sang arsitek tertawa ketika tukang-tukangnya kuatir. Saya yakin pada saat itu, staff teknik sipil yang mengerjakan pondasi dan struktur menggertakkan gigi seolah merasakan kekuatan angin yang menerpa dan yakin dengan kekuatan struktur yang dirancangnya.

Lantai dasar, lantai satu dan lantai dua. Itulah ruangan di Rempah Rumah Karya. “Saya bukan sarjana arsitektur namun teknik sipil. Saya belajar arsitektur dari buku-buku dan beberapa orang sarjana arsitek. Itu sebabnya saya tidak merasa kuatir ketika beberapa orang teman bilang saya bukan arsitek dan melanggar prinsip arsitektur dalam membangun Rempah Rumah Karya.” Itulah yang dikatakan oleh sang arsitek ketika saya bertanya, apa pendapat teman-teman arsiteknya tentang dirinya dan proses pembangunan Rempah Rumah Karya. Sang arsitek membangun atap dulu sebelum membuat lantai. Mungkin itulah yang disebut teman-temannya melanggar prinsip arsitektur. Itu sebabnya sang arsitek tertawa ketika tukang-tukangnya kuatir kalah angin kencang menerpa. Sang arsitek tidak kuatir sebab dia sedang membiarkan struktur Rempah Rumah Karya menunjukkan kekuatan minimalnya.

Suatu hari, dua atau tiga tahun yang lalu, dalam obrolan kami, sang arsitek berkata kira-kira begini, “Struktur adalah bagian terpenting dari sebuah bangunan. Sayangnya, banyak mahasiswa arsitektur menganggap matakuliah itu tidak penting, itu sebabnya, ketika merancang bangunan, mereka melupakannya.” Kebanyakan pendaki gunung menyangka yang terpenting adalah kedua kakinya. Oleh karena itu mereka melatih kedua kakinya berlebihan namun lupa melatih otot tubuhnya, otot pinggang, otot perut, otot dada dan otot leher. Itu sebabnya ketika mendaki gunung sambil memikul ransel, mereka pun mudah sekali limbung karena walaupun kedua kakinya kuat namun otot tubuhnya tidak terlatih untuk memikul beban.

Tiang-tiang vertikal penopang lantai dan atap disebut kolom. Tiang-tiang horisontal pemikul lantai dan atap disebut balok. Lantai satu dan dua ditopang oleh kolom baja CNP, pipa besi dan beton cor. Batang baja CNP menjadi kekuatan utama pemikul lantai. Di atas balok-balok CNP diletakkan bambu. Di atas bambu adalah styrofoam sheet yang dilapisi kasa harmonika dan beton cor serta bilik (anyaman bambu). Bilik atau gedhek digunakan alias anyaman bambu digunakan sebagai keramik alias karpet lantai. Kasa harmonika kembali menjadi urat dan saraf.

Bambu, besi dan cor serta styrofoam adalah empat elemen yang berbeda jenis dan teksturnya. Saya tidak tahu bagaimana cara sang arsitek memadukan keempatnya secara harmoni sehingga membentuk sinergi secara harmonis. Faktanya adalah setelah lantai satu dan dua terpasang maka Rempah Rumah Karya pun berhenti goyang ketika diterpa angin kencang. Hal itu terjadi karena kekuatannya bertambah sementara kekuatan angin yang menerpa atap terpecah karena terhalang oleh lantai.

Rak penyimpanan barang di lantai dasar, lantai satu dan lantai dua yang dibuat dari pipa adalah bagian dari struktur yang selain menopang dirinya sendiri, menopang lantai juga menopang seluruh bangunan. Yang anda lihat dalam foto adalah rak-rak di lantai satu bangunan Rempah satu yang nantinya kemungkinan besar akan dinamai Rempah Kre+O karena lantai dasarnya akan menjadi Creative Outlet alias toko kreatif. Sang arsitek benar-benar pelit karena tidak ada satu elemen pun yang dibiarkannya nganggur. Sang arsitek benar-benar murah hati karena setiap elemen dicarikan cara untuk berguna.

Setelah tulang-belulang, urat dan saraf (struktur) Rempah Rumah Karya jadi, tibalah waktunya untuk mengisinya dengan daging berupa jendela besi dan potongan kayu. Mula-mula tempat jendela ditetapkan. Ada jendela untuk mengalirkan udara namun ada pula jendela untuk mengalirkan cahaya. Kusen untuk jendela yang bisa dibuka dan ditutup pun dipasang.

Limbah kayu menjadi daging untuk dinding. Potongan kayu dijahit dengan kawat agar melekat pada kasa harmonika yang adalah urat dan saraf Rempah Rumah Karya.

Bagaimana potongan-potongan kayu itu disusun? Mula-mula tukang menjahitnya seolah menyusun batu bata untuk tembok. Rapat dan rapih. Melakukan hal demikian benar-benar membuat frustasi sebab potongan-potongan kayu itu terdiri dari berbagai bentuk dan ukuran. “Biarkan material bersolek! Sampeyan hanya perlu membantu material bersolek.” Itulah pesan sang arsitek. Tukang pun lalu mengubah cara kerjanya. Dia menjadikan dirinya Tuhan atas potongan-potongan kayu itu. Dia membuat suatu kreasi lalu menggunakan potongan-potongan kayu untuk mewujudkannya. Selain lambat, cara kerja demikian juga membosankan bahkan menyebalkan karena sulit sekali menemukan potongan-potongan kayu yang cocok untuk kreasinya.

Akhirnya tukang tidak peduli lagi dengan bentuk yang akan terjadi. Dia hanya membantu potongan-potongan kayu itu menemukan tempatnya sendiri. Aneh bin ajaib! Potongan-potongan kayu itu seolah lelaki dan perempuan yang saling menemukan jodohnya.  Pasangan-pasangan kayu itu seolah anggota keluarga yang selama ini terpisah dan saling menemukan kerabatnya. Keluarga-keluarga potongan kayu itu pun membentuk sebuah masyarakat. Ketika rasa jail muncul, meterial lain pun ditambahkan untuk menggoda masyarakat potongan kayu. Benar-benar mengasykkan karena material lain dan masyarakat potongan kayu sama sekali tidak mendapat kesulitan untuk membentuk harmoni. Harmoni melahirkan sinergi. Sinergi melahirkan bentuk. Bentuk menyembunyikan kekuatannya dan memancarkan keindahannya. Itulah yang disebut HARMONIS.

Jendela-jendela besi itu adalah bongkaran bangunan lama yang dirubuhkan. Ada yang kacanya masih utuh dan ada yang masih memiliki kasa kawat nyamuknya. Kasa yang sobek dijahit kembali sebisanya. Jendela yang tidak memiliki kaca atau kasa diisi dengan kaca sisa dan limbah kaca yang ada. Ketika tidak ada lagi kaca yang cocok maka digunakan bilah bambu dan kasa harmonika. Ada jendela yang berfungsi mengalirkan udara, ada pula yang untuk jalan cahaya dan sebagian besar lainnya menjadi dinding. Dinding  jendela kaca yang rapat menghambat angin namun yang berisi bilah bambu dan kasa harmonika mengalirkan sebagian angin ke dalam ruangan Rempah Rumah Karya.

“Biarkan material bercerita tentang dirinya, kita hanya perlu mendengarkannya lalu mewujudkan keinginan mereka untuk bersolek.” Itulah kira-kira kata sang arsitek kepada para tukang yang adalah sedulurnya. Masyarakat kusen dan jendela pun berpadu harmoni membentuk sinergi. Akibatnya bentuk pun mewujud. Rempah Rumah Karya menikmati kekuatannya sedangkan manusia yang memandangnya melihat keindahan dan kegunaannya.

Kebanyakan arsitek yang saya kenal merancang bentuk dan kekuatan lalu mencari cara dan material untuk mewujudkan bentuk rancangannya. Para tukang adalah malaikat yang diutus agar material memenuhi kehendaknya. Sang arsitek Rempah Rumah Karya melakukan hal sebaliknya. Dia mendengarkan material berbicara lalu mencari cara untuk mewujudkan keinginan mereka. Para tukang adalah malaikat yang diutus untuk mewujudkan keinginan material. Kekuatan dan bentuk lahir dengan sendirinya.

Konstruksi burung bangau. Kerabatku sekalian, saya tidak bilang sang arsitek Rempah Rumah Karya mendapat inspirasi dari burung bangau. Saya hanya mengajak anda untuk membandingkan konstruksi Rempah rumah Karya dengan sosok burung bangau. Membandingkan ciptaan manusia dengan ciptaan Allah. Bandingkanlah bentuk dan struktur tubuh burung bangau di samping dengan bentuk dan struktur Rempah Rumah Karya di bawah. Apakah itu terjadi secara kebetulan? Tidak! Begitu dinding terpasang maka Rempah Rumah Karya menghadapi angin seperti burung bangau menahan terpaan angin. Aerodinamis. Tidak melawan namun membiarkan angin mengalir melewati. Itulah cara burung bangau dan Rempah Rumah Karya mendapatkan kekuatan dan keseimbangannya.

Sebut saja bangunan itu Rempah Tiram karena bentuknya seperti jamur tiram. Strukturnya dari batang baja CNP sebagai tulang belulang dan kasa harmonika sebagai urat dan sarafnya. Jalinan baja-baja CNP dan kasa harmonika memang nampak sangat jantan namun sama sekali tidak garang. Daging atapnya adalah bunga-bunga cantik manis dalam pot. Lengkung atapnya tidak menjulang jumawa seperti BH namun menggunung empuk seperti buah dada wanita. Lantainya ditutupi dengan grassblock yang dipasang melingkar. Bulatan-bulatan lobang Grassblock, garis-garis lurus celah antar grassblock dan bentuk jajaran genjang grassblock membentuk pola yang unik bepadu harmonis dengan bayangan atap. Benar-benar memanjakan mata, menyejukkan hati serta memicu kreasi.

Rempah Rumah Karya didirikan di tengah persawahan. Sebelum di atasnya Rempah Rumah Karya didirikan itu adalah sawah. Sawah harus diairi, namanya irigasi. Ada sebuah sungai kecil membelah tanah dari kanan ke kiri di mana Rempah Rumah Karya didirikan. Tanah sudah dibeli dan dimiliki itu berarti bebas melakukan apa pun di tanah sendiri. Tak seorang pun kan menyalahkan bila sungai kecil itu ditimbun. Bila saluran irigasi  ditimbun maka sawah-sawah di sebelah kiri Rempah Rumah Karya tidak akan mendapatkan air lagi. Tanpa air yang cukup padi sawah mustahil tumbuh subur. Apabila Rempah Rumah Karya hanya harmoni dalam dirinya sendiri namun mengabaikan lingkungannya, itu namanya adigung-adiguna.

Hongshui adalah ilmu Tiongkok kuno yang mengajarkan cara hidup harmoni dengan alam agar mendatangkan kesejahteraan bagi umat manusia. Karena tidak diajarkan secara lengkap maka lambat laun Hongshui pun berubah menjadi dongeng tentang jalan pintas untuk kaya-raya. Letak, hadap dan bentuk adalah tiga hal utama dalam ilmu Hongshui Tiongkok kuno. Qi (dibaca: chi) adalah nyawa alias jiwa bumi. Qi mewujud dalam hong (angin) dan shui (air). Hong adalah nafas bumi sedangkan shui adalah darahnya. Duduk bersandar gunung menatap lautan. Duduk bersandar gunung artinya tidak ada bahaya dari gunung, itu sebabnya merasa aman walaupun bersandar membelakanginya. Menatap lautan artinya tidak menyalahinya itu sebabnya tidak merasa malu ketika memandangnya. Menghambat angin mendatangkan sakit, menyumbat air mengundang bencana. Harmoni melahirkan sinergi. Harmonis mendatangkan untung dan menghindarkan bahaya. Itulah ajaran Hongshui Tiongkok kuno yang sudah dilupakan oleh generasi ini.

Sang arsitek membiarkan sungai kecil tetap ada. Dia menggunakan divider (penyekat berlobang kotak) untuk menutupi sungai itu. Dengan demikian, sawah disebelah kanan Rempah Rumah Karya tetap mendapatkan air sementara Rempah Rumah Karya mendapatkan udara sejuk dari sungai untuk menyejukkan ruangannya. Padi-padi yang tumbuh subur mendatangkan rejeki bagi pemiliknya namun memberikan pemandangan yang indah dengan murah hati kepada yang memandangnya serta menjaga udara tetap bersih. Walaupun tidak mempelajari Hongshui namun sang arsitek sudah mempraktekkannya. Itu sebabnya dikatakan Rempah Rumah Karya adalah sebuah bangunan yang tumbuh dari bumi.

Sang arsitek bilang, “Go green” artinya tidak boros, indah, asri dan nyaman serta tidak ada yang dibuang. Air dipompa ke atas bak penampungan yang diletakkan di atas menara menjulang tinggi disanggah bak mobil bekas dengan energi dari sinar matahari. Air penampungan dialirkan dengan tenaga gravitasi bumi untuk memenuhi semua kebutuhan mencuci dan membilas serta hujan buatan untuk mendinginkan atap dan  menyirami tanaman. Air untuk mencuci dan membilas lalu dimurnikan kembali sebelum dialirkan untuk mengairi sawah.

Pohon markisa ditanam untuk merambat ke atas atap. Itulah salah satu cara untuk menangkal panas sinar matahari. Cara lainnya adalah membuat hujan buatan membasahi atap. Air hujan buatan, setelah membasahi atap lalu jatuh ke pelimpahan untuk mengairi pohon-pohon markisa dan memenuhi danau Rempah. Air danau Rempah berguna untuk menyejukkan ruangan dan  alam sekitar.  Ketika melihat danau tersebut saya sama sekali tidak melihat ikan dan bertanya tanpa jawab, “Mungkinkah ikan hidup di danau rempah?”

Saat ini, di  Rempah Rumah Karya, anda akan mendengar suara burung walet dan kodok. Mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, itu adalah suara rekaman yang dipancarkan dari pengeras suara. Apa jadinya bila ikan-ikan berenang-renang riang di danau Rempah? Mungkinkah kupu-kupu aneka warna beterbangan di halaman Rempah Rumah Karya bahkan tersesat ke dalam ruangan? Akankah burung-burung bersarang dan menyuapi bayinya serta melatih anak-anaknya terbang di pohon-pohon yang ada di halaman Rempah Rumah Karya? Tunggu saja! Danau dan sungai yang tidak ada ikannya, airnya beracun. Air danau dan sungai di Rempah Rumah Karya tidak beracun sama sekali. Bunga-bunga berwarna merah dan kuning akan memikat kupu-kupu untuk menghisap madunya. Pohon-pohon yang baru ditanam akan tumbuh besar sehingga burung-burung bisa bersarang. Ketika musim hujan tiba dan air menggenangi sawah, kodok-kodok dan belut akan bernyanyi. Walaupun belum bersarang namun saat ini burung-burung Sriti sudah beterbangan dengan bebas.

Duduk santai mengamati perilaku ratusan orang yang mengunjungi Rempah Rumah Karya benar-benar mengasykkan. Tidak ada yang merasa asing walaupun itu kunjungan pertama. Tiap-tiap orang merasa akrab dengan yang yang lainnya meskipun itu pertemuan pertama dan tidak saling mengenal. Setelah ngobrol dengan puluhan orang dari berbagai suku, latar belakang pendidikan, profesi dan status sosial, saya pun tahu bahwa tidak ada yang merasa asing sebab menemukan banyak hal (material, bentuk dan wujud) yang akrab dengan dirinya. Hal itu membuat suasana seolah di rumah sendiri yang membangkitkan perasaan akrab dengan yang lainnya walaupun tidak saling mengenal. Ketika menjelajah dan mengamati Rempah Rumah Karya, orang-orang terpicu dan yakin mampu serta ingin untuk berkreasi di rumahnya dengan material yang dimilikinya. “Ketika material berbicara mereka akan meng-inspirasi yang melihatnya.” Itulah komentar sang arsitek ketika saya menceritakan apa yang saya lihat kepadanya. Mas Mamo adalah satu dari delapan arsitek dari seluruh penjuru dunia yang dipilih oleh Beijing untuk ikut terlibat dalam pembangunan gedung-gedung di Tiongkok. Tentang Rempah Rumah Karya, dia cuman nyengir dan geleng-geleng kepala. “Bagus! Bagus sekali!” katanya. Pelit. Mas Galih dan beberapa arsitek kondang lainnya bilang, “Wueedaa… n!” artinya gila, ketika saya bertanya tentang Rempah Rumah Karya dan sang arsiteknya.

Rempah Rumah Karya. Selama ini saya memahami arsitek adalah orang-orang yang mencipta dengan membuat design lalu mencari material dan tukang untuk mewujudkan keinginannya. Material yang tidak mampu memenuhi keinginannya akan dibuang dan tukang-tukang yang menyangkal kehendaknya akan dipecat.

Namun, sang arsitek Rempah Rumah Karya melakukan hal yang berbeda. Dia mengamati material-material dan mendengarkan cerita mereka lalu mencari cara agar mereka bisa unjuk gigi dalam harmoni membentuk sinergi secara harmonis. Tukang-tukangnya diutus untuk membantu material-materialnya unjuk gigi. Tukang-tukang itu dibiarkan putus asa ketika memaksa material mewujudkan kehendaknya. Mereka baru menggenapi kehendaknya ketika membantu material-material menggenapi kodratnya, “Jadilah penerang agar meterial-material itu bersolek.” Sang arsitek menggapai kehendaknya dengan cara menyediakan jalan agar material dan tukang-tukangnya menggenapi kehendak mereka.

Sebagai orang Kristen selama ini saya diajari bahwa Allah BERKEHENDAK lalu mencipta alam dan makluk untuk mewujudkan kehendak-Nya. Itu sebabnya diajarkan bahwa orang-orang Kristen harus berusaha mati-matian menyangkal dirinya guna menggenapi kehendak Allah. Bila tidak melakukan hal demikian mereka akan ditolak dan dibinasakan. Setelah melihat Rempah Rumah Karya dan proses pembangunannya, hai hai pun bertanya, “Bila Rempah Rumah Karya dibangun dengan cara demikian, mungkinkah kerajaan Allah pun dibangun dengan cara demikian?”

Ketika saya menceritakan pemikiran itu, sang arsitek Rempah Rumah Karya tertawa renyah lalu berkata kira-kira begini, “Allah membentuk manusia dari debu tanah lalu menghembuskan nafas hidup ke dalamnya maka manusia pun menjadi makluk hidup. Material bersolek nafas hidup dihembuskan maka mereka pun hidup.” Ketika mendengar kata-kata sang arsitek saya teringat kata-kata dalam Alkitab.

Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Yohanes 5:19

NB.
Foto-foto milik blog-blog ini:
http://ruang17.wordpress.com/2011/07/10/rempah-rumah-karya/
http://celeronpras.blogspot.com/2011/07/rumah-rempah.html
http://www.facebook.com/julia.mintarga?ref=ts#!/media/set/?set=a.1919329956259.105653.1632344113

40 thoughts on “Ketika Manusia Mendengarkan Material Pun Berbicara

  1. Ikutlah-aku !
    aku akan membawa engkau keliling gurun dulu sebelum kita sampai ke tanah yg ku janjikan kepada nenek moyang mu.
    Tanah yg berkelimpahan susu dan madunya. sebelum itu kita keliling gurun dulu 40th. Ok…?
    Yuk… Ikutlah aku !

    Artinya : …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s