Ioanes Rakhmat Jarang Belajar Alkitab


Sebagian mahasiswa teologi menggelari dirinya orang beriman lalu getol sekali mempelajari buku-buku teologi. Setelah lulus mereka menjuluki dirinya ortodok alias Reformed dan dipoyoki Fundamentalis. Sebagian mahasiswa teologi menjuluki dirinya rasional dan rajin sekali mempelajari buku-buku teologi. Setelah lulus mereka menjuluki dirinya Freethinker dan diejek sebagai Liberal. Kebanyakan mahasiswa teologi baik yang beriman maupun yang rasional sama-sama rajin belajar buku teologi dan menyangka nggak perlu belajar alias membaca Alkitab lagi. Setelah lulus kuliah teologi, para Fundamentalis dan Liberal pun saling menyerang. Aneh bin ajaib. Para sarjana teologi Liberal berusaha mati-matian membuktikan bahwa Alkitab adalah buku DONGENG agar dapat memahaminya secara ILMIAH sementara para sarjana teologi Fundamentalis berusaha mati-matian membuktikan bahwa Alkitab adalah firman Allah secara ILMIAH dengan DONGENG. Tentu saja keduanya sama-sama tidak mempelajari Alkitab lagi karena sudah mempelajari banyak sekali buku-buku teologi. Ioanes Rakhmat adalah sarjana teologi. Dia doktor teologi.

Memberanikan diri bertanya, konon, Tentang mujizat 5 roti dan 2 ikan, Ioanes Rakhmat mengajarkan:

Kalangan Kristen literalis menerima tuturan injil-injil Perjanjian Baru tentang Yesus memberi makan 5000 orang dengan hanya 5 ketul roti dan 2 ekor ikan, dengan sisa 12 bakul penuh (Markus 6:30-44 dan par.), sebagai tuturan sejarah faktual apa adanya. Bagi mereka, dengan memakai iman sebagai senjata pamungkas pertahanan diri, kisah ini adalah kisah sejarah faktual, yang hanya perlu diterima kebenarannya tanpa ragu, dan tak perlu diadakan investigasi saintifik untuk memeriksa faktualitas kisah ini. Mereka sama sekali mengenyampingkan berbagai ciri dan sifat hiperbolik serta tujuan kisah-kisah hebat skriptural religius yang ditulis sebagai media propaganda ideologis, devosional dan apologetis.

Kontras dengan itu, kalangan Kristen kritis non-literalis memahami kisah mukjizat pemberian makan 5000 orang ini sebagai sebuah mitos, sebuah metafora, sebuah perumpamaan, a parable. Sebagai sebuah metafora, sebuah mitos, kisah ini tidak bermaksud mengisahkan sejarah faktual apa adanya, tetapi mau menyampaikan pesan-pesan teologis dalam rangka pembinaan komunitas atau dalam rangka propaganda agama. Sebuah pesan teologis bukanlah sebuah berita tentang suatu peristiwa sejarah, tetapi sebuah berita yang disampaikan untuk membangkitkan antara lain sebuah penyembahan dan pengagungan, sebuah sikap devosional reverensial, terhadap figur-figur besar yang dikisahkan di dalam kisah-kisah skriptural.

Mari kita adakan investigasi kritis lebih jauh terhadap kisah ini.

Harus diingat betul-betul bahwa yang ditemukan dalam Alkitab bukan mukjizat-mukjizat, tetapi kisah-kisah tentang mukjizat. Pembaca masa kini bukanlah penyaksi mukjizat-mukjizat yang dikisahkan di dalamnya, tetapi hanya sebagai para pembaca kisah-kisah itu. Kisah-kisah tentang mukjizat harus diterima apa adanya, yakni sebagai kisah-kisah. Memperlakukan kisah-kisah tentang mukjizat sebagai sama dengan fakta-fakta mukjizat empiris objektif adalah suatu lompatan yang terlampau jauh, melampaui keterbatasan kisah-kisah yang ditulis sebagai karya-karya sastra.

Lagi pula, dalam Perjanjian Baru, kisah-kisah tentang mukjizat Yesus ditulis bukan oleh para saksi mata. Selalu akan ada kesenjangan antara apa yang dikisahkan (misalnya oleh penulis Injil Markus di tahun 70) dan apa yang faktual telah terjadi (yang dilakukan Yesus pada awal tahun 30-an). Kalaupun para penulis kisah-kisah mukjizat memakai tradisi-tradisi lisan yang berawal pada masa kehidupan Yesus, semua tradisi lisan disebarkan tidak apa adanya, melainkan selalu mengalami penyuntingan, sehingga mengalami banyak perluasan, penambahan, pembesar-besaran, dan perubahan, sehingga kisah-kisah ini makin jauh dari fakta-fakta di masa lampau.

Sebagai kisah-kisah, kisah-kisah tentang mukjizat dapat dianalisis secara rasional ilmiah, dengan mengajukan antara lain pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • dalam konteks sosial-kultural historis dan religius apa kisah-kisah itu ditulis;
  • faktor-faktor apa yang berperan di dalam penulisan kisah-kisah itu;
  • untuk kisah-kisah tentang mukjizat dalam Perjanjian Baru, adakah kisah-kisah paralel yang dapat ditemukan dalam dunia Greko-Romawi;
  • apa tujuan penulisan kisah-kisah tentang mukjizat dalam konteks luas dunia Greko-Romawi;
  • di tempatkan dalam konteks zamannya dan dalam konteks temuan-temuan arkeologis mutakhir dan kajian-kajian antropologis lintas-budaya, apakah ada hal-hal yang dikisahkan yang tidak mungkin terjadi dalam sejarah;
  • termasuk ke dalam jenis sastra (literary genre) apakah kisah-kisah tentang mukjizat itu;
  • dalam konteks seluruh dokumen sastra yang memuat kisah-kisah mukjizat itu, apa fungsi sastrawi dari kisah-kisah tentang mukjizat itu;
  • dan mengapa kisah-kisah ini muncul dalam suatu konteks sastra tertentu dan bukan dalam suatu konteks sastra lainnya.

Kisah tentang Yesus memberi makan lima ribu orang (laki-laki) dengan lima roti dan dua ekor ikan, pertama-tama adalah kisah, bukan fakta. Di sini kita berhadapan dengan kisah Injil tentang mukjizat Yesus, bukan dengan mukjizat Yesus itu sendiri.

Warga gereja kebanyakan tidak menyadari bahwa hanya dalam Injil Yohanes dikatakan bahwa Yesus sendiri langsung membagi-bagikan makanan itu kepada lima ribu orang itu (Yohanes 6:11); sedangkan dalam Injil-injil lainnya para murid Yesuslah yang membagi-bagikan makanan yang sebelumnya mereka telah terima dari Yesus. Perbedaan pengisahan ini memperlihatkan adanya perbedaan sudut pandang tentang siapa Yesus bagi penyusun Injil Yohanes. Kenyataan adanya perbedaan tekstual semacam ini sudah tak memungkinkan orang untuk memperlakukan semua kisah dalam injil-injil PB sebagai kisah-kisah sejarah. Mana yang benar, Yesus sendiri yang membagi-bagikan, atau murid-muridnya yang mengedarkan makanan itu? Tak mungkin ada dua sejarah yang berlainan, untuk hanya satu kejadian! Salah satunya saja yang benar, atau keduanya salah sekaligus.

Sejalan dengan kristologi Injil Yohanes secara keseluruhan, Yesus di dalam kisah pemberian makan dalam Injil Yohanes ini ditampilkan sebagai seorang yang serba mandiri dan sanggup sendirian mengatasi segala permasalahan yang mendatangi dirinya.

Harap dimaklumi, bukan tempatnya di sini untuk mengajukan semua pertanyaan di atas kepada kisah ini.

Terhimpunnya dalam satu hari orang laki-laki sampai lima ribu orang (belum termasuk perempuan dan anak-anak) bukanlah kejadian mudah; ini adalah sebuah tindakan yang tidak mungkin dilakukan Yesus dengan aman-aman saja, mengingat baik Herodes Antipas (penguasa Galilea dan Perea) maupun Roma (penjajah seluruh tanah Palestina zaman Yesus) akan segera bereaksi secara represif militeristik terhadap setiap usaha menghimpun massa dalam jumlah besar, seperti telah terjadi pada Yohanes Pembaptis yang dibunuh Herodes Antipas karena kekuatirannya atas massa pengikut Yohanes Pembaptis (baca tuturan tentang ini dalam Flavius Yosefus, Antiquities 18.116 dyb) dan pada kegiatan-kegiatan sejenis lainnya seperti telah dilaporkan juga oleh sejarawan Yahudi yang sama, Yosefus.

Jadi, dilihat dari konteks sosio-politis zaman Yesus, sangat mustahil kalau Yesus bisa menghimpun lima ribu orang laki-laki dengan dirinya tetap aman-aman saja. Selain itu, harus diingat, pada zaman kuno total penduduk di kawasan-kawasan di sekitar tempat terjadinya pemberian makan lima ribu orang itu jelas tidak mencapai angka lima ribu.

Ada tiga golongan penafsir atas kisah tentang mukjizat pemberian makan lima ribu orang ini. Yang pertama adalah kalangan supernaturalis, yang menyatakan bahwa Yesus, dengan kekuatan supernaturalnya, betul-betul faktual pernah melakukan mukjizat memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, dengan sisa dua belas bakul (dari mana bakul-bakul ini berasal?).

Masalah dari tafsiran kalangan supernaturalis ini adalah kesulitan orang entah untuk membayangkan terhimpunnya bergunduk-gunduk roti dan ikan mendadak sehabis makanan-makanan ini (lima ketul roti dan dua ekor ikan) didoakan Yesus, atau pun untuk membayangkan bahwa di tangan para murid yang membagi-bagikan makanan itu akan langsung muncul roti-roti dan ikan-ikan baru tidak habis-habisnya sampai semua orang yang duduk berhimpun mendapat makanan. Para mentalist dan illusionist dalam zaman modern yang piawai memakai trik teknologis dan trik mental untuk memperdaya masyarakat juga pasti tidak bisa mengadakan kejadian semacam ini: mengadakan gundukan roti secara mendadak bergunung-gunung di sekitar diri mereka!

Penafsir kedua adalah dari golongan rasionalis. Mereka menyatakan bahwa prakarsa Yesus dan para murid untuk membagi makanan itu kepada beberapa orang yang sedang duduk di barisan terdepan telah mendorong orang-orang lain di dalam perhimpunan besar itu untuk juga membagi-bagi makanan yang mereka telah bawa dari rumah masing-masing kepada orang-orang lainnya, sehingga akhirnya semua orang mendapatkan roti dan ikan yang cukup, tanpa perlu mukjizat terjadi. Kesulitan tafsiran rasionalis ini adalah teks Injil-injil jelas-jelas tidak berbicara tentang sharing of bread dan sharing of fish semacam itu. Sebaliknya, dalam Injil-injil dikatakan bahwa orang-orang yang berhimpun di situ sama sekali tidak membawa makanan apa pun, kecuali hanya lima roti dan dua ekor ikan (yang ada pada seorang anak).

Tetapi harus diakui bisa saja hal yang dibayangkan kalangan penafsir rasionalis ini secara faktual historis benar; tetapi karena kejadian historis yang semacam ini tidak membuat Yesus tampil sakti mandraguna, maka sejarah diubah oleh para penulis kitab-kitab injil dalam Perjanjian Baru (mulai dari Markus) sehingga lahirlah kisah-kisah hebat tentang Yesus membuat mukjizat pemberian makan 5000 orang ini yang kita dapat baca sekarang dalam injil-injil PB. Sudah menjadi suatu kecenderungan umum di kalangan orang Kristen perdana dulu untuk semakin lama semakin mempermuliakan dan mengagungkan Yesus, bahkan akhirnya sampai menempatkan Yesus setara dengan Allah sendiri, karena mereka dengan tidak mau kalah sedang terlibat dalam suatu persaingan ideologis sengit dengan kalangan-kalangan lain di dunia Yunani-Romawi yang sudah memiliki figur-figur mahaagung mereka sendiri, seperti Kaisar Augustus yang dipandang orang Roma sebagai sang juruselamat dunia yang kelahirannya membawa kabar baik dan keselamatan untuk seluruh kawasan kekaisaran.

Tafsiran ketiga yang paling mungkin diterapkan adalah dengan memperlakukan kisah ini sebagai sebuah kisah teologis mitologis, bukan kisah sejarah. Tafsiran teologis sesuai dengan hakikat setiap Kitab Suci sebagai sebuah kitab keagamaan, sebuah kitab teologis, bukan sebuah kitab sejarah.

Kisah pemberian makan lima ribu orang ini klop dengan keseluruhan pesan teologis Injil Matius. Bagi penulis Injil Matius, Yesus adalah “Musa yang baru”, yang membawa hukum baru, dan yang mengulangi kembali bahkan melampaui kisah-kisah besar yang pernah dikisahkan tentang Nabi Musa. Harus jangan dilupakan bahwa bagi bangsa Yahudi kapanpun juga, nabi teragung mereka bukanlah Abraham/Ibrahim, melainkan Musa. Jadi, jika orang mau bersaing secara ideologis dengan Yudaisme, orang ini perlu menciptakan satu figur suci yang harus setara dengan atau bahkan melampaui Musa.

Kalau dulu untuk memelihara umat Israel yang sedang berada dalam perjalanan di padang gurun di bawah pimpinan Musa (dan Harun) Allah telah memberi mereka makan “daging” dan “roti” (yang disebut manna) (lihat Keluaran 16), kini, untuk umat Allah yang baru, yaitu Israel baru (= gereja Matius), Yesus sebagai Musa yang baru atau bahkan lebih besar dari Musa juga telah memberi himpunan besar para pengikutnya roti dan daging ikan sampai mereka kenyang, langsung dari tangannya sendiri. Di tangan penulis Injil Matius, Musa adalah nabi besar tipologi Yesus, nabi yang muncul kembali di dalam figur Yesus yang muncul kemudian dalam sejarah Israel, yang melakukan perbuatan-perbuatan yang sejajar dengan, atau lebih hebat dari, yang dilakukan Musa.

Atau, dalam pandangan Matius, Yesus adalah Nabi Elia yang baru, atau bahkan lebih agung dari Nabi Elia, yang sanggup tanpa habis-habis memberi roti kepada bukan hanya satu orang, tetapi kepada banyak orang, kurang lebih serupa dengan apa yang pernah dilakukan Elia kepada seorang janda di Sarfat dalam konteks lain (lihat 1 Raja-raja 17:7-16). Bagi orang Yahudi pada abad pertama Masehi, Elia adalah figur nabi agung yang tak pernah mengalami kematian fisik sebab dia dulu dipercaya telah diangkat ke surga dengan kereta berapi yang ditarik kuda berapi (2 Raja-raja 2:11) dan dia dipercaya akan datang kembali pada “hari Tuhan” (Maleakhi 4:5), dan mereka menunggu kedatangannya sebagai salah satu tahap dari tindakan-tindakan besar Allah untuk memulihkan pamor dan kedaulatan bangsa Yahudi. Komunitas Matius percaya, bahwa Yohanes Pembaptis yang menjadi pendahulu Yesus, adalah nabi Elia sendiri yang telah datang kembali (Matius 11:13-14).

Jadi, pemberian makan 5000 orang hanya dengan 5 roti dan 2 ikan, hanya ada dalam teks, dalam dunia kisah, dalam dunia ide teologis, bukan dalam sejarah insani faktual.

Dengan mempertimbangkan semua hal di atas, saya memutuskan untuk memandang kisah-kisah injil tentang Yesus memberi makan 5000 orang (lelaki) dengan 5 roti dan 2 ekor ikan sebagai kisah-kisah fiktif yang ditulis untuk mempertahankan sebuah teologi atau sebuah mitos tentang Yesus bahwa Yesus itu lebih besar dari Musa, atau bahwa Yesus adalah nabi yang sejajar dengan nabi agung Elia, yang sanggup untuk mengenyangkan semua pengikutnya, sehingga mereka, sebagai orang Yahudi, perlu berpaling kepadanya dan percaya penuh.

Jadi, kisah-kisah ini adalah propaganda politis teologis Kristen yang disusun ketika umat Kristen perdana sedang berusaha menjadi besar di tengah tekanan dari berbagai kelompok pesaing, misalnya dari Yudaisme, sekaligus sebagai kisah-kisah devosional yang dapat membangun fanatisme yang makin kuat dalam diri komunitas para penulis Injil terhadap Yesus, sang Tuhan mereka.

Bengcu Menggugat:

Ioanes Rakhmat: Kalangan Kristen literalis menerima tuturan injil-injil Perjanjian Baru tentang Yesus memberi makan 5000 orang dengan hanya 5 ketul roti dan 2 ekor ikan, dengan sisa 12 bakul penuh (Markus 6:30-44 dan par.), sebagai tuturan sejarah faktual apa adanya. Bagi mereka, dengan memakai iman sebagai senjata pamungkas pertahanan diri, kisah ini adalah kisah sejarah faktual, yang hanya perlu diterima kebenarannya tanpa ragu, dan tak perlu diadakan investigasi saintifik untuk memeriksa faktualitas kisah ini. Mereka sama sekali mengenyampingkan berbagai ciri dan sifat hiperbolik serta tujuan kisah-kisah hebat skriptural religius yang ditulis sebagai media propaganda ideologis, devosional dan apologetis.

Ioanes Rakhmat: Kontras dengan itu, kalangan Kristen kritis non-literalis memahami kisah mukjizat pemberian makan 5000 orang ini sebagai sebuah mitos, sebuah metafora, sebuah perumpamaan, a parable. Sebagai sebuah metafora, sebuah mitos, kisah ini tidak bermaksud mengisahkan sejarah faktual apa adanya, tetapi mau menyampaikan pesan-pesan teologis dalam rangka pembinaan komunitas atau dalam rangka propaganda agama. Sebuah pesan teologis bukanlah sebuah berita tentang suatu peristiwa sejarah, tetapi sebuah berita yang disampaikan untuk membangkitkan antara lain sebuah penyembahan dan pengagungan, sebuah sikap devosional reverensial, terhadap figur-figur besar yang dikisahkan di dalam kisah-kisah skriptural.

Iman adalah  dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Ibrani 11:1

Para penulis Alkitab sudah lama mati, tubuh mereka sudah menjadi tanah. Yang kita miliki saat ini hanya tulisan-tulisan mereka. 39 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian Baru. Total semuanya 66 kitab. Kita menyebutnya Alkitab. Ada yang beriman bahwa yang tercatat di dalam Alkitab adalah kisah nyata namun ada pula yang beriman bahwa yang tercatat di dalam Alkitab hanya dongeng belaka.

Walaupun menyebut dirinya kritis rasionalis namun faktanya Ioanes Rakhmat tidak lebih dari orang yang BERIMAN bahwa Alkitab adalah buku dongeng. Imanlah yang menjadi dasar harapannya bahwa kisah-kisah dalam Alkitab adalah dongeng. Imanlah yang menjadi bukti baginya bahwa peristiwa-peristiwa yang tercatat di dalam Alkitab yang tidak dilihatnya adalah dongeng.

Karena MENJUDULI imannya KRITIS RASIONALIS maka dia pun menyangka dirinya lebih hebat dari yang lain? Itu sebabnya orang-orang demikian disebut JUDULISME. Karena tidak mampu melakukan dan memahami maka dia pun memvonis bahwa peristiwa-peristiwa yang tercatat di dalam Alkitab adalah dongeng. Itu namanya kodok dalam tempurung alias kodok yang mengharuskan semua kerbau menjadi nyamuk agar dia menjadi yang terbesar. Karena itulah mereka disebut Kodokmorphisme Aneh bin ajaib bukan? Ha ha ha ha …

Ioanes Rakhmat: Harus diingat betul-betul bahwa yang ditemukan dalam Alkitab bukan mukjizat-mukjizat, tetapi kisah-kisah tentang mukjizat. Pembaca masa kini bukanlah penyaksi mukjizat-mukjizat yang dikisahkan di dalamnya, tetapi hanya sebagai para pembaca kisah-kisah itu. Kisah-kisah tentang mukjizat harus diterima apa adanya, yakni sebagai kisah-kisah. Memperlakukan kisah-kisah tentang mukjizat sebagai sama dengan fakta-fakta mukjizat empiris objektif adalah suatu lompatan yang terlampau jauh, melampaui keterbatasan kisah-kisah yang ditulis sebagai karya-karya sastra.

Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Tuliskanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan ingatkanlah ke telinga Yosua, bahwa Aku akan menghapuskan sama sekali ingatan kepada Amalek dari kolong langit.” Keluaran 17:14

Musa menuliskan perjalanan mereka dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan sesuai dengan titah TUHAN; dan inilah tempat-tempat persinggahan mereka dalam perjalanan mereka: Bilangan 33:2

Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” Matius 24:14

katanya: “Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat k  ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia.”  Wahyu 1:11

Baik teolog Reformed maupun Liberal sama-sama meyakini bahwa kitab-kitab dalam Alkitab adalah karya sasra hasil kreatifitas manusia yang setelah lulus pengujian (kanonisasi) bapak-bapak gereja lalu diberi gelar Firman Allah kemudian dijadikan satu buku yang dijuduli Alkitab.

Ayat-ayat di atas mengajarkan dengan tegas dan gamblang bahwa Alkitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru ditulis atas perintah. Alkitab bukan karya sastra yang lahir dari kreatifitas manusia. Alkitab bukan dongeng namun KESAKSIAN. Itu sebabnya di dalam Alkitab, selalu ditulis dengan tegas dan gamblang, apakah yang ditulis itu adalah mimpi, penglihatan, kutipan, nubuatan atau sesuatu yang dialami alias peristiwa. Walaupun gelar teologinya lebih panjang dari namanya namun kebanyakan sarja teologi sama sekali tidak mengetahui kebenaran demikian? Karena mereka tidak membaca Alkitab. Kenapa mereka tidak membaca Alkitab? Sebab mereka menyangka sudah cukup dengan membaca banyak sekali buku teologi. Mungkin juga mereka terlalu sibuk membaca buku-buku teologi sehingga nggak sempat baca Akitab.

Ioanes Rakhmat: Lagi pula, dalam Perjanjian Baru, kisah-kisah tentang mukjizat Yesus ditulis bukan oleh para saksi mata. Selalu akan ada kesenjangan antara apa yang dikisahkan (misalnya oleh penulis Injil Markus di tahun 70) dan apa yang faktual telah terjadi (yang dilakukan Yesus pada awal tahun 30-an). Kalaupun para penulis kisah-kisah mukjizat memakai tradisi-tradisi lisan yang berawal pada masa kehidupan Yesus, semua tradisi lisan disebarkan tidak apa adanya, melainkan selalu mengalami penyuntingan, sehingga mengalami banyak perluasan, penambahan, pembesar-besaran, dan perubahan, sehingga kisah-kisah ini makin jauh dari fakta-fakta di masa lampau.

Dalam Perjanjian Baru, kisah-kisah tentang mukjizat Yesus ditulis bukan oleh para saksi mata. Itu adalah salah satu jaminan bahwa kisah-kisah itu ditulis secara obyektif karena sudah melalui berbagai pengujian.

Selalu akan ada kesenjangan antara apa yang dikisahkan (misalnya oleh 11 murid) dan apa yang faktual telah terjadi (yang dilakukan Yesus), itu sebabnya jangka waktu peristiwa-peristiwa itu terjadi (awal tahun 30-an) dan apa yang dikisahkan (misalnya oleh penulis Injil Markus di tahun 70-an) sudah melalui pengujian waktu bahkan konfirmasi dan konfrontasi antara para saksi.

Kalau pun ada saksi peristiwa-peristiwa pelayanan Yesus yang menyunting, memperluas, menambahi, membesar-besarkan fakta-fakta yang terjadi, maka dengan berlalunya waktu, kisah-kisah demikian akan lenyap dari peredaran karena konfrontasi dengan saksi lainnya dan tegoran untuk hanya menjadi saksi yang benar, bukan membual atau mendongeng. 40-60 tahun cukup untuk menunjukkan kepada 11 murid dan Paulus serta umat Kristen perdana yang ikut menyaksikan peristiwa-peristiwa mujizat itu untuk sampai pada kesadaran bahwa seseorang menjadi Kristen bukan karena iming-iming namun karena ingin atau istilah teologisnya karena panggilan. Seseorang yang menjadi Kristen karena iming-iming mustahil bergeming ketika yang diiming-imingkan tidak terjadi bahkan kekristenannya mendatangkan kemalangan dan penganiayaan. Konon, Ioanes Rakhmat pernah bersaksi bahwa dia meninggalkan ajaran agama lamanya untuk memeluk agama Kristen karena panggilan. Dia pasti tahu apa itu panggilan.

Ioanes Rakhmat: Kisah tentang Yesus memberi makan lima ribu orang (laki-laki) dengan lima roti dan dua ekor ikan, pertama-tama adalah kisah, bukan fakta. Di sini kita berhadapan dengan kisah Injil tentang mukjizat Yesus, bukan dengan mukjizat Yesus itu sendiri.

Matius dan Markus serta Yohanes mencatat bahwa kisah Yesus memberi makan 5000 orang (belum termasuk perempuan dan anak-anak)  dengan 5 roti dan 2 ikan adalah peristiwa. Tidak ada satu ayat Alkitab pun yang menyatakannya sebagai perumpamaan alias dongeng alias mitos alias metafora.

Ioanes Rakhmat: Warga gereja kebanyakan tidak menyadari bahwa hanya dalam Injil Yohanes dikatakan bahwa Yesus sendiri langsung membagi-bagikan makanan itu kepada lima ribu orang itu (Yohanes 6:11); sedangkan dalam Injil-injil lainnya para murid Yesuslah yang membagi-bagikan makanan yang sebelumnya mereka telah terima dari Yesus. Perbedaan pengisahan ini memperlihatkan adanya perbedaan sudut pandang tentang siapa Yesus bagi penyusun Injil Yohanes. Kenyataan adanya perbedaan tekstual semacam ini sudah tak memungkinkan orang untuk memperlakukan semua kisah dalam injil-injil PB sebagai kisah-kisah sejarah. Mana yang benar, Yesus sendiri yang membagi-bagikan, atau murid-muridnya yang mengedarkan makanan itu? Tak mungkin ada dua sejarah yang berlainan, untuk hanya satu kejadian! Salah satunya saja yang benar, atau keduanya salah sekaligus.

Mereka yang sering membaca Alkitab pasti menyadari bahwa Matius dan Markus mencatat lebih detail dibandingkan Yohanes. Matius dan Markus mencatat bahwa Yesus mengambil  roti dan  ikan, lalu menengadah  ke langit dan mengucap berkat lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. Begitu juga kedua ikan itu. Sementara Yohanes yang tidak mencatat sedetail Matius dan Markus hanya mencatat bahwa Yesus mengambil roti, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki (Yohanes 6:11).

Pendeta yang jarang membaca Alkitab pasti tidak menyadari hal demikian, itu sebabnya dia tidak mengajarkannya kepada jemaat. Itu sebabnya pula ketika menyadarinya, dia langsung menarik kesimpulan bahwa warga gereja jarang menyadari hal demikian. Perilaku demikian ibarat katak dalam tempurung yang mengharuskan semua kerbau menjadi nyamuk agar dirinya menjadi yang paling besar. Ha ha ha ha ha ….

Banyak sarjana teologi yang jarang membaca Alkitab tidak menyadari bahwa Matius dan Markus serta Yohanes mencatat peristiwa, bukan menyalin sebuah catatan, itu sebabnya tidak ada keharusan bagi ketiganya untuk menggunakan kata-kata yang sama dan tingkat perincian (detail) yang sama. Doktor teologi yang mengajarkan bahwa keempat Injil mustahil dipercayai kebenarannya karena penulis-penulisnya mencatat peristiwa Yesus memberi makan 5000 orang (belum termasuk perempuan dan anak-anak) dengan 5 roti dan 2 ikan dalam tingkat keterperincian (detail) yang berbeda, pasti jarang berpikir logis dan mempelajari ilmu pengetahuan. Orang demikian pasti nggak percaya bahwa Soeharto pernah menjadi presiden Indonesia karena otobiografinya yang ditulis oleh beberapa orang penulis nggak persis sama.

Ioanes Rakhmat: Sejalan dengan kristologi Injil Yohanes secara keseluruhan, Yesus di dalam kisah pemberian makan dalam Injil Yohanes ini ditampilkan sebagai seorang yang serba mandiri dan sanggup sendirian mengatasi segala permasalahan yang mendatangi dirinya.

Sejalan dengan kristologi Injil Yohanes secara keseluruhan, Yesus di dalam kisah pemberian makan dalam Injil Yohanes ini ditampilkan sebagai tokoh utama sementara murid-murid-Nya membantunya layaknya murid-murid terhadap gurunya.

Ioanes Rakhmat: Terhimpunnya dalam satu hari orang laki-laki sampai lima ribu orang (belum termasuk perempuan dan anak-anak) bukanlah kejadian mudah;

Terhimpunnya dalam satu hari, orang laki-laki sampai 5000 orang (belum termasuk perempuan dan anak-anak) bukanlah kejadian mudah, namun baik Matius, Markus, Lukas maupun Yohanes dengan tegas dan gamblang mencatat bahwa hal itulah yang terjadi dan kejadiannya logis sekali. Peristiwa itu terjadi setelah ke 12 murid yang diutus menjelajahi Israel untuk memberitakan: Kerajaan Allah sudah dekat, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, mentahirkan orang kusta dan mengusir setan-setan, sudah kembali kepada Yesus. Apa yang dilakukan oleh murid-murid Yesus pasti membuat nama Yesus menjadi buah bibir di mana-mana.

Matius, Markus dan Yohanes mencatat peristiwa itu sebagai berikut: Dari rumah-Nya di Kapernaum, Yesus mengajak murid-murid-Nya untuk menyepi ke Betsaida. Namun sayangnya, mereka dipergoki orang banyak. Untuk melepaskan diri dari orang banyak, Yesus pun mengajak murid-murid-Nya menyeberang ke Tiberias dengan perahu. Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Apabila memperhatikan peta pelayanan Yesus, maka anda akan melihat nama-nama kota disekitar danau Galilea yaitu: Gerasa, Betsaida, Khorazim, Kapernaum, Magdala dan Tiberias. Dengan FAKTA demikian, maka terkumpulnya 5.000 orang (belum termasuk perempuan dan anak-anak) dalam peristiwa Yesus memberi makan 5000 orang dengan 5 roti dan 2 ikan, bukan masalah besar apalagi mustahil.

Ioanes Rakhmat: ini adalah sebuah tindakan yang tidak mungkin dilakukan Yesus dengan aman-aman saja, mengingat baik Herodes Antipas (penguasa Galilea dan Perea) maupun Roma (penjajah seluruh tanah Palestina zaman Yesus) akan segera bereaksi secara represif militeristik terhadap setiap usaha menghimpun massa dalam jumlah besar, seperti telah terjadi pada Yohanes Pembaptis yang dibunuh Herodes Antipas karena kekuatirannya atas massa pengikut Yohanes Pembaptis (baca tuturan tentang ini dalam Flavius Yosefus, Antiquities 18.116 dyb) dan pada kegiatan-kegiatan sejenis lainnya seperti telah dilaporkan juga oleh sejarawan Yahudi yang sama, Yosefus.

Matius menuturkan bahwa Yohanes pembaptis ditangkap dan dipenjara karena tegurannya kepada Herodes, “Tidak halal engkau mengambil Herodias!” Markus juga mencatat hal yang sama. Matius mencatat bahwa Herodes ingin membunuhnya namun takut kepada masyarakat yang mengganggap Yohanes adalah nabi, sementara Markus mencatat bahwa Herodes melindungi Yohanes walaupun memenjarakannya sebab tahu dia orang benar dan suci. Baik Matius maupun Markus menuturkan bahwa Yohanes Pembaptis dipenggal oleh Herodes karena termakan intrik Herodias istrinya, bukan karena takut akan pengikutnya. Dua saksi adalah sah.

Andaikata Flavius Yosefus memang mencatat bahwa Yohanes pembaptis dipenjara lalu dibunuh oleh Herodes karena kekuatirannya atas pengikut Yohanes, itu berarti yang dicatatnya bertentangan dengan yang dicatat oleh Matius dan Markus. Kenapa kita harus menyangkal kesaksian DUA orang untuk mempercayai kesaksian SATU orang?

Ioanes Rakhmat: Jadi, dilihat dari konteks sosio-politis zaman Yesus, sangat mustahil kalau Yesus bisa menghimpun lima ribu orang laki-laki dengan dirinya tetap aman-aman saja. Selain itu, harus diingat, pada zaman kuno total penduduk di kawasan-kawasan di sekitar tempat terjadinya pemberian makan lima ribu orang itu jelas tidak mencapai angka lima ribu.

Jadi, dilihat dari konteks sosio-politis zaman Yesus, bukan masalah besar bila 5000 orang (belum termasuk perempuan dan anak-anak) yang tinggal si kota-kota dan kampung-kampung sekitar danau Galilea berhimpun mengikuti Yesus. Dan mustahil himpunan masa itu membahayakan Yesus karena Alkitab mencatat hingga Yesus ditangkap dan dijatuhi hukuman mati, baik Herodes maupun pemerintahan Roma sama sekali tidak menganggapnya sebagai orang yang berbahaya. Bagaimana dengan Flavius Yosefus? Apakah dia mencatat bahwa Yesus ditangkap dan dihukum mati karena pemerintah Roma yang diwakili oleh Pontius Pilatus dan Herodes kuatir atas massa pengikut-Nya? Tidak! Dia menulis bahwa Yesus dijatuhi hukuman mati oleh Pontius Pilatus karena para pemimpin Yahudi menjatuhinya hukuman mati. Yesus dihukum mati karena melanggar hukum taurat, bukan karena tuduhan pemberontakan.

Ioanes Rakhmat: Ada tiga golongan penafsir atas kisah tentang mukjizat pemberian makan lima ribu orang ini. Yang pertama adalah kalangan supernaturalis, yang menyatakan bahwa Yesus, dengan kekuatan supernaturalnya, betul-betul faktual pernah melakukan mukjizat memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, dengan sisa dua belas bakul (dari mana bakul-bakul ini berasal?).

Alkitab harus dipahami, tidak boleh ditafsirkan sebab Alkitab ditulis untuk dipahami, bukan ditafsirkan. Kenapa anda menafsirkan Alkitab? Anda menafsirkan Alkitab karena tidak memahaminya. Anda menafsirkan ayat-ayat yang tidak anda pahami agar dapat memahaminya. Kenapa anda menafsirkan Alkitab? Anda menafsirkannya karena menganggap yang tercatat tidak logis. Anda menafsirkan ayat-ayat yang menurut anda tidak logis agar menjadi logis. Menafsirkan Alkitab berarti mengedit ayat-ayat Alkitab agar sesuai dengan keinginan dan pemikiran anda. Walaupun merasa mengerti sesungguhnya tetap tidak mengerti sebab yang dimengerti dan yang tercatat dalam Alkitab berbeda sama sekali. Sekali menafsirkan maka anda pun kehilangan kesempatan untuk memahami ajaran sejati Alkitab. Orang yang menafsirkan Alkitab ibarat burung unta yang merasa aman karena telah menyembunyikan kepalanya di bawah pasir sehingga tidak melihat pemangsanya. Menafsirkan Alkitab sama dengan pura-pura mengerti walaupun nggak ngerti.

Dari mana bakul-bakul itu berasal? Alkitab sama sekali tidak mencatat dari mana bakul-bakul itu berasal namun nampaknya bakul-bakul itu mustahil dari hongkong bukan? Namun pasti dari tadi. Ha ha ha ha …

Ioanes Rakhmat: Masalah dari tafsiran kalangan supernaturalis ini adalah kesulitan orang entah untuk membayangkan terhimpunnya bergunduk-gunduk roti dan ikan mendadak sehabis makanan-makanan ini (lima ketul roti dan dua ekor ikan) didoakan Yesus, atau pun untuk membayangkan bahwa di tangan para murid yang membagi-bagikan makanan itu akan langsung muncul roti-roti dan ikan-ikan baru tidak habis-habisnya sampai semua orang yang duduk berhimpun mendapat makanan. Para mentalist dan illusionist dalam zaman modern yang piawai memakai trik teknologis dan trik mental untuk memperdaya masyarakat juga pasti tidak bisa mengadakan kejadian semacam ini: mengadakan gundukan roti secara mendadak bergunung-gunung di sekitar diri mereka!

Alkitab sama sekali tidak mencatat tentang roti dan ikan yang bergunduk-gunduk setelah didoakan oleh Yesus. Alkitab mencatat bahwa Yesus memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. Begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka.

Bila anda mau membayangkan, silahkan membayangkan yang tercatat dalam Alkitab. Bila anda tidak mampu membayangkannya, itu bukan alasan bahwa yang tercatat dalam Alkitab bukan kisah nyata sebab, bayangan anda mustahil standard kebenaran Alkitab, bukan?  Para mentalis dan illusionis zaman modern tidak memperdaya masyarakat sebab sejak awal masyarakat sudah tahu bahwa mereka memang mempertontonkan ilusi dan sulap. Memang ada beberapa mentalis dan ilusionis yang mengaku melakukan trik sulapnya dengan kekuatan gaib namun orang-orang demikian akhirnya menjadi tontonan karena bualannya ketahuan. Kisanak, sejak kapan kemampuan para mentalis dan ilusionis menjadi standard kebenaran peristiwa Yesus memberi makan 5000 orang (belum termasuk perempuan dan anak-anak) dengan 5 roti dan 2 ikan? Tentu saja sejak Ioanes Rakhmat mengangkat dirinya menjadi Tuhan dan menetapkan hal demikian, bukan? Ha ha ha ha …

Ioanes Rakhmat: Penafsir kedua adalah dari golongan rasionalis. Mereka menyatakan bahwa prakarsa Yesus dan para murid untuk membagi makanan itu kepada beberapa orang yang sedang duduk di barisan terdepan telah mendorong orang-orang lain di dalam perhimpunan besar itu untuk juga membagi-bagi makanan yang mereka telah bawa dari rumah masing-masing kepada orang-orang lainnya, sehingga akhirnya semua orang mendapatkan roti dan ikan yang cukup, tanpa perlu mukjizat terjadi. Kesulitan tafsiran rasionalis ini adalah teks Injil-injil jelas-jelas tidak berbicara tentang sharing of bread dan sharing of fish semacam itu. Sebaliknya, dalam Injil-injil dikatakan bahwa orang-orang yang berhimpun di situ sama sekali tidak membawa makanan apa pun, kecuali hanya lima roti dan dua ekor ikan (yang ada pada seorang anak).

Ioanes Rakhmat: Tetapi harus diakui bisa saja hal yang dibayangkan kalangan penafsir rasionalis ini secara faktual historis benar; tetapi karena kejadian historis yang semacam ini tidak membuat Yesus tampil sakti mandraguna, maka sejarah diubah oleh para penulis kitab-kitab injil dalam Perjanjian Baru (mulai dari Markus) sehingga lahirlah kisah-kisah hebat tentang Yesus membuat mukjizat pemberian makan 5000 orang ini yang kita dapat baca sekarang dalam injil-injil PB. Sudah menjadi suatu kecenderungan umum di kalangan orang Kristen perdana dulu untuk semakin lama semakin mempermuliakan dan mengagungkan Yesus, bahkan akhirnya sampai menempatkan Yesus setara dengan Allah sendiri, karena mereka dengan tidak mau kalah sedang terlibat dalam suatu persaingan ideologis sengit dengan kalangan-kalangan lain di dunia Yunani-Romawi yang sudah memiliki figur-figur mahaagung mereka sendiri, seperti Kaisar Augustus yang dipandang orang Roma sebagai sang juruselamat dunia yang kelahirannya membawa kabar baik dan keselamatan untuk seluruh kawasan kekaisaran.

Ioanes Rakhmat yang terhormat, apakah anda mendapat wahyu itu sebabnya tahu tentang  kecenderungan umum di kalangan orang Kristen perdana? atau anda punya mesin waktu yang membawa anda kembali ke zaman itu sehingga mengetahui kebenaran demikian? Anda menyebut diri Freethinker, bukan? Ketahuilah kisanak, Think bolah-boleh saja sebab untuk think memang free, namun walaupun free sebaiknya jangan think ngaco-belo agar anda nggak jadi bahan ejekan. Anda boleh saja menamainya tafsiran rasionalis faktual historis, namun nyatanya itu tidak lebih dari jurus tafsir 1001 mimpi alias tafsir seenak jidat sendiri.

Ioanes Rakhmat: Tafsiran ketiga yang paling mungkin diterapkan adalah dengan memperlakukan kisah ini sebagai sebuah kisah teologis mitologis, bukan kisah sejarah. Tafsiran teologis sesuai dengan hakikat setiap Kitab Suci sebagai sebuah kitab keagamaan, sebuah kitab teologis, bukan sebuah kitab sejarah.

Alkitab harus dipahami, bukan ditafsirkan sebab Alkitab ditulis untuk dipahami, bukan ditafsirkan. Walaupun menamainya tafsiran teologis dan mengajukan alasan-alasan yang anda sebut logis namun faktanya yang anda lakukan tidak lebih dari MENGEDIT ayat Alkitab untuk memuaskan keinginan sendiri. Puaskan diri anda menafsirkan Alkitab dan biarkan umat Kristen memahami Alkitab sesuai dengan yang ditulis oleh penulisnya. Kisanak, anda pikir anda siapa sehingga membuat ketetapan bahwa Alkitab bukan kitab sejarah? Freethinker si freethinker namun jangan think ngaco belo apalagi sok jagoan menetapkan Alkitab harus begini dan tidak boleh begitu, dong kisanak.

Ioanes Rakhmat: Kisah pemberian makan lima ribu orang ini klop dengan keseluruhan pesan teologis Injil Matius. Bagi penulis Injil Matius, Yesus adalah “Musa yang baru”, yang membawa hukum baru, dan yang mengulangi kembali bahkan melampaui kisah-kisah besar yang pernah dikisahkan tentang Nabi Musa. Harus jangan dilupakan bahwa bagi bangsa Yahudi kapanpun juga, nabi teragung mereka bukanlah Abraham/Ibrahim, melainkan Musa. Jadi, jika orang mau bersaing secara ideologis dengan Yudaisme, orang ini perlu menciptakan satu figur suci yang harus setara dengan atau bahkan melampaui Musa.

Tentu saja peristiwa Yesus memberi makan 5.000 orang (belum termasuk perempuan dan anak-anak) dengan  5 roti dan 2 ikan KLOP dengan keseluruhan pesan teologis Injil Matius karena peristiwa tersebut memang salah satu peristiwa yang dicatat oleh Matius. Super (sudah pernah) Pendeta Ioanes Rakhmat yang mulia, saya percaya, bila anda tidak hanya membaca buku-buku teologi namun juga membaca Alkitab dengan teliti dan hati-hati tanpa prasangka, maka anda akan menyadari bahwa tidak ada satu ayat Perjanjian Baru pun yang mengajarkan bahwa Yesus adalah Musa baru yang mebawa hukum baru.

Mungkin saja bangsa Yahudi pada zaman umat Kristen perdana hidup memang bodoh, namun mustahil sebodoh Ioanes Rakhmat sehingga beramai-ramai jadi Kristen karena ada figur yang setara dengan bahkan melampaui Musa. Mungkin ke 11 rasul dan Paulus serta orang-orang Kristen perdana memang bloon namun mustahil sebloon Ioanes Rakhmat sehingga beriman bahwa orang-orang Yahudi dan Romawi akan berlomba-lomba masuk Kristen bila mereka menciptakan satu figur suci yang setara dengan bahkan melampaui Musa, itu sebabnya mereka pun membual tentang Yesus memberi makan 5.000 orang (belum termasuk perempuan dan anak-anak) dengan  5 roti dan 2 ikan.  Kisanak, bagaimana bila kita membual tentang Ioanes Rakhmat menjadi Sekjen PBB untuk menciptakan satu figur yang setara dengan bahkan melampaui Gusdur yang pernah menjadi presiden Republik Indonesia? Saya percaya, bila melakukan hal demikian maka anda pasti akan dielu-elukan oleh banyak orang. Ha ha ha ha, “elu goblok!” “Elu pembual!” “Elu penipu!” “Elu tolol! Ha ha ha ha ha …

Ioanes Rakhmat: Kalau dulu untuk memelihara umat Israel yang sedang berada dalam perjalanan di padang gurun di bawah pimpinan Musa (dan Harun) Allah telah memberi mereka makan “daging” dan “roti” (yang disebut manna) (lihat Keluaran 16), kini, untuk umat Allah yang baru, yaitu Israel baru (= gereja Matius), Yesus sebagai Musa yang baru atau bahkan lebih besar dari Musa juga telah memberi himpunan besar para pengikutnya roti dan daging ikan sampai mereka kenyang, langsung dari tangannya sendiri. Di tangan penulis Injil Matius, Musa adalah nabi besar tipologi Yesus, nabi yang muncul kembali di dalam figur Yesus yang muncul kemudian dalam sejarah Israel, yang melakukan perbuatan-perbuatan yang sejajar dengan, atau lebih hebat dari, yang dilakukan Musa.

Ioanes Rakhmat: Warga gereja kebanyakan tidak menyadari bahwa hanya dalam Injil Yohanes dikatakan bahwa Yesus sendiri langsung membagi-bagikan makanan itu kepada lima ribu orang itu (Yohanes 6:11); sedangkan dalam Injil-injil lainnya para murid Yesuslah yang membagi-bagikan makanan yang sebelumnya mereka telah terima dari Yesus.

Kisanak, kenapa Plintat-plintut? Kenapa ajaran anda mencla-mencle? Yang mana yang harus kami percayai? Ioanes Rakhmat yang mengajarkan: hanya dalam Injil Yohanes dikatakan bahwa Yesus sendiri langsung membagi-bagikan makanan itu kepada lima ribu orang. Atau Ioanes Rakhmat yang mengajarkan bahwa Matius mengajarkan bahwa Yesus adalah Musa baru yang memberi himpunan besar para pengikutnya roti dan daging ikan sampai mereka kenyang, langsung dari tangannya sendiri? Lain kali, jangan plintat-plintut demi mempertahankan pepesan kosong kisanak. Kelicikan demikian pasti ketahuan. Ha ha ha ha …

Ioanes Rakhmat: Atau, dalam pandangan Matius, Yesus adalah Nabi Elia yang baru, atau bahkan lebih agung dari Nabi Elia, yang sanggup tanpa habis-habis memberi roti kepada bukan hanya satu orang, tetapi kepada banyak orang, kurang lebih serupa dengan apa yang pernah dilakukan Elia kepada seorang janda di Sarfat dalam konteks lain (lihat 1 Raja-raja 17:7-16). Bagi orang Yahudi pada abad pertama Masehi, Elia adalah figur nabi agung yang tak pernah mengalami kematian fisik sebab dia dulu dipercaya telah diangkat ke surga dengan kereta berapi yang ditarik kuda berapi (2 Raja-raja 2:11) dan dia dipercaya akan datang kembali pada “hari Tuhan” (Maleakhi 4:5), dan mereka menunggu kedatangannya sebagai salah satu tahap dari tindakan-tindakan besar Allah untuk memulihkan pamor dan kedaulatan bangsa Yahudi. Komunitas Matius percaya, bahwa Yohanes Pembaptis yang menjadi pendahulu Yesus, adalah nabi Elia sendiri yang telah datang kembali (Matius 11:13-14).

Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu. Maleakhi 4:5

Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes dan–jika kamu mau menerimanya–ialah Elia yang akan datang itu. Matius 11:13-14

Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. Matius 17:1

Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Matius 17:2

Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. Matius 17:3

Kata Petrus kepada Yesus: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Matius 17:4

Kisanak, bacalah Matius 11:13-14 dengan teliti dan hati-hati. Bukankah mustahil menyangkal bahwa Matius mencatat Yesus berkata bahwa Yohanes Pembaptis adalah Elia? Bacalah juga Matius 17:1-4 dengan teliti dan hati-hati. Bukankah Matius mencatat bahwa yang menemui Yesus di atas gunung bersama Musa adalah Elia? Nubuatan Maleakhi bahwa Elia akan datang kembali, digenapi ketika dia ngerumpi dengan Yesus dan Musa di atas gunung tinggi. Itu berarti Yesus salah ketika menyatakan Yohanes Pembaptis adalah Elia.

Ioanes Rakhmat yang mulia, apabila tuduhan anda benar, Matius berusaha mengagul-agulkan Yesus setinggi langit, kenapa dia mencatat kesalahan Yesus yang demikian konyol alias manusiawi? Saya tahu! Memang para teolog reformed kekeh jumekeh menghalalkan segala cara untuk mengagul-agulkan Yesus mahatahu karena tidak ada yang Dia tidak tahu. Namun, kita bersama-sama sudah melihat faktanya bahwa Matius justru mencatat bahwa Yesus bukan hanya tidak mahatahu namun juga bisa salah  sangka. Yesus tidak mahatahu itu sebabnya Dia tidak tahu bahwa Yohanes pembaptis bukan Elia. Yesus bisa salah. Itu sebabnya Dia salah sangka bahwa Yohanes pembaptis adalah Elia. Kisanak, mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, teori Matius membual untuk mengagul-agulkan Yesus setinggi langit yang anda ajarkan sama sekali bertentangan dengan fakta yang tercatat di dalam kitab Matius. Lain kali, bila hendak menyerang ajaran Kristen, seranglah ajaran Alkitab, percuma menyerang ajaran para teolog Reformed yang getol sekali baca buku-buku teologi sehingga tidak sempat belajar Alkitab. Bila hendak memahami ajaran Kristen yang benar, bacalah Alkitab, jangan hanya belajar buku-buku teologi.

Ioanes Rakhmat: Jadi, pemberian makan 5000 orang hanya dengan 5 roti dan 2 ikan, hanya ada dalam teks, dalam dunia kisah, dalam dunia ide teologis, bukan dalam sejarah insani faktual.

Mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, kisanak, siapa bilang JADI? Tentu saja nggak jadi! Anda mustahil menjadikan peristiwa Yesus memberi makan 5.000 orang (belum termasuk perempuan dan anak-anak) dengan 5 roti dan 2 ikan, hanya ada dalam teks, dalam dunia kisah, dalam dunia ide teologis karena Perjanjian Baru mencatatnya sebagai peristiwa nyata. Anda mau jadi? Jadilah Doktor teologi yang baik, kisanak. Belajar Alkitab baik-baik tanpa prasangka.

Ioanes Rakhmat: Dengan mempertimbangkan semua hal di atas, saya memutuskan untuk memandang kisah-kisah injil tentang Yesus memberi makan 5000 orang (lelaki) dengan 5 roti dan 2 ekor ikan sebagai kisah-kisah fiktif yang ditulis untuk mempertahankan sebuah teologi atau sebuah mitos tentang Yesus bahwa Yesus itu lebih besar dari Musa, atau bahwa Yesus adalah nabi yang sejajar dengan nabi agung Elia, yang sanggup untuk mengenyangkan semua pengikutnya, sehingga mereka, sebagai orang Yahudi, perlu berpaling kepadanya dan percaya penuh.

Ioanes Rakhmat yang mulia, mohon maaf, tanpa mengurangir rasa hormat, saya tidak peduli dengan keputusan anda memandang kisah Yesus memberi makan 5000 orang 9belum termasuk perempuan dan anak-anak) dengan 5 roti dan 2 ikan sebagai kisah fiktif. Silahkan hidup dengan pandangan demikian bila anda suka. Semoga anda berbahagia dengan keputusan demikian, kisanak.

Ioanes Rakhmat: Jadi, kisah-kisah ini adalah propaganda politis teologis Kristen yang disusun ketika umat Kristen perdana sedang berusaha menjadi besar di tengah tekanan dari berbagai kelompok pesaing, misalnya dari Yudaisme, sekaligus sebagai kisah-kisah devosional yang dapat membangun fanatisme yang makin kuat dalam diri komunitas para penulis Injil terhadap Yesus, sang Tuhan mereka.

Ioanes Rakhmat yang mulia, siapa bilang JADI? Nggak jadi bung! Kisanak, apabila hai hai menulis kitab “Al Ioanes Rakhmat” yang berisi pepesan kosong Ioanes Rakhmat berjalan di atas selat Sunda, memberi makan 5.000 orang (belum termasuk perempuan dan anak-anak) dengan 5 bakpau dan 2 bakwan di Ancol, menyembuhkan ratusan orang sakit setiap harinya, membangkitkan orang mati, mengubah air comberan menjadi air PAM, menenangkan gunung Merapi di Yogya, meneduhkan Tsunami yang melanda Mentawai, mengeringkan banjir yang melanda Jakarta, didzolimi dan digebukin oleh jemaat GKI sampai mati lalu dikuburkan kemudian bangkit dari antara orang mati pada hari ketiga dan kelayapan di jakarta hingga hari ini, sebagai propaganda politis teologis agama “Ioanes Rakhmatisme” untuk menjadi besar di tengah tekanan dari berbagai kelompok pesaing, misalnya dari agama Kristen, Islam, Budha, Hindu dan Khonghucu serta Dao, sekaligus sebagai kisah-kisah devosional guna membangun fanatisme yang makin kuat dalam diri komunitas pemandu sorak Ioanes Rakhmat, Tuhan mereka, menurut anda, apa yang akan terjadi?

Super pendeta yang mulia, apabila kitab “Al Ioanes Rakhmat” demikian memang ada, menurut anda, apa yang akan dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa dan kolega-kolega anda di STT Jakarta, misalnya Joas Adiprasetya? Ha ha ha ha …. menurut saya, minimal dia akan menulis sebuah buku berjudul: “Berdamai Dengan hai hai – Menyapa umat untuk membedah Ioanes Rakhmat” yang isinya adalah bukti-bukti semua omong kosong yang tercatat di dalam kitab “Al Ioanes Rakhmat” kita. Alih-alih menganut “Ioanes Rakhmatisme” masyarakat akan membawa kita ke rumah sakit gila untuk berobat. Ha ha ha ha …..

Ioanes Rakhmat yang mulia, apabila ke 11 rasul dan Paulus serta orang-orang Kristen perdana memang mengarang pepesan kosong Yesus melakukan berbagai mujizat untuk menciptakan satu figur suci yang setara dengan bahkan lebih besar dari Musa dan Elia guna memikat orang-orang Yahudi dan Romawi menjadi Kristen dan anehnya orang-orang Yahudi dan Romawi pun berlomba-lomba menjadi orang Kristen walaupun tahu bahwa semua kisah Yesus melakukan berbagai mujizat adalah omong kosong, mungkinkah sahabat anda, Flavius Yosefus yang hidup pada tahun 37-100, tentang Yesus dan Kekristenan, menulis apa yang tertulis hingga saat ini atau menulis sesuatu yang lain?

Membual Tentang Mujizat Untuk Mengagulkan Yesus

Teori “Membual Tentang Mujizat Untuk Mengagulkan Yesus” yang mengajarkan bahwa semua peristiwa mujizat yang tercatat di dalam Perjanjian Baru adalah pepesan kosong alias dongeng untuk propaganda politis teologis Kristen menghadapi persaingan dan membangun fanatisme terhadap Yesus benar-benar omong kosong. Kenapa teori mengenaskan itu justru diajarkan oleh Dr. Ioanes Rakhmat yang mengagul-agulkan diri sebagai seorang pemikir rasionalis dan ilmiah? Mungkin karena selama menjadi mahasiswa teologi, Ioanes Rakhmat mempelajari banyak sekali buku teologi sehingga nggak punya waktu untuk membaca Alkitab dan setelah menjadi sarjana teologi, dia tidak membaca Alkitab karena merasa sudah cukup mempelajari banyak sekali buku teologi? Ha ha ha ha ….

Di dalam Perjanjian Lama, YHWH (TUHAN) sendiri yang menyusun tata ibadah untuk menyembah dan mengagungkan diri-Nya. Semua tata ibadah itu dicatat dengan tegas dan gamblang serta detail. Bangsa Israel harus menjalankannya dengan taat. Yang melanggar tata ibadah langsung menerima hukuman dari YHWH. Perjanjian Lama mencatat, berkali-kali YHWH membunuh orang-orang yang melanggar tata-ibadah kepada-Nya. Ketika imam-imam membakar korban bakaran, YHWH hadir di atas mesbah pembakaran. Ketika Imam mempersembahkan korban pagi dan petang di ruang kudus, YHWH hadir di samping mesbah ukupan. Setiap tahun ketika Imam membuka ruang mahakudus di mana tabut TUHAN tersimpan, YHWH hadir di atas tabut. Sembahyang tanpa kehadiran YHWH namanya menyembah berhala. Itu sebabnya, ketika raja Balak bin Zipor dan Bileam mempersembahkan korban bakaran di atas 7 mesbah Baal, Bileam tidak dipersalahkan karena YHWH hadir pada saat itu.

Keempat Injil sama sekali tidak mencatat kisah Yesus dan murid-murid-Nya memberi korban bakaran maupun persembahan di bait Allah kepada YHWH (TUHAN). Keempat injil justru mencatat kisah Yesus dan murid-murid-Nya melanggar hukum taurat, misalnya, tidak menguduskan hari Sabat, tidak berpuasa dan tidak mencuci tangan sebelum makan.

Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes;  dan sejak waktu itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya. Lukas 16:16

Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes!

Teologi Reformed (misal: katekismus Westminster) mengajarkan bahwa yang tidak berlaku lagi adalah tata negara Israel dan tata ibadah Yahudi namun Sepuluh Hukum YHWH akan berlaku sampai hari kiamat karena hukum itu ditulis sendiri oleh YHWH (TUHAN) dengan jari tangan-Nya. Mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, ajaran teologi Reformed jelas SESAT karena bertentangan dengan yang diajarkan oleh Perjanjian Baru. Lukas mencatatnya dengan tegas dan gamblang di dalam Lukas 16:16 sehingga mustahil menyangkalnya. Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes! Itu berarti perjanjian antara YHWH dan bangsa Israel pun berakhir. Itu berarti penyembahan kepada YHWH pun berakhir. Itu berarti sepuluh perintah YHWH pun berakhir.

Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Matius 8:20

Yesus menyebut diri-Nya Anak Manusia. Mustahil seorang anak minta disembah oleh bapak dan ibunya, bukan? Bukankah itu berarti setiap manusia yang menyembah Yesus berarti menyembah ANAKNYA sendiri? Perilaku demikian bukan saja aneh bin ajaib namun juga gila, bukan?

Super pendeta Ioanes Rakhmat yang mulia, apa bila ke 11 rasul dan Paulus serta umat kristen perdana memang mengarang dongeng untuk mengagul-agulkan Yesus setinggi langit, bukankah yang pertama harus mereka lakukan adalah menghapus ajaran Yesus ANAK MANUSIA?

Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Matius 3:16-17

Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang,  sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah  yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.  Yohanes 1:9-13

Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum;  barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Yohanes 3:18

Setelah di baptis oleh Yohanes pembaptis, Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas Yesus si Anak Manusia. Kemudian terdengar suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Pertanyaannya adalah: Siapakah yang dimaksudkan oleh suara dari sorga itu? Apakah yang dimaksudkan-Nya adalah Yesus si Anak Manusia atau Roh Allah yang seperti burung merpati, yang turun ke atas Yesus si Anak Manusia? Ioanes Rakhmat yang mulia, seharusnya anda menjelaskan kepada kami, jemaat biasa yang nggak kuliah teologi, apa yang dimaksudkan oleh ayat-ayat Alkitab tersebut. bukankah anda DOKTOR teologi?

Anggap saja yang dimaksudkan suara dari sorga adalah Roh Allah dan Yesus si Anak Manusia. Itu berarti Yesus adalah Anak Allah. Dengan status demikian, perlukah umat Kristen menyembah-Nya? Tidak perlu! Kenapa demikian? Karena Yohanes 1:9-13 mengajarkan bahwa orang Kristen diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Yesus adalah anak Allah. Roh Allah alias Roh Kudus adalah Anak Allah. Manusia adalah Anak Allah. Sesama anak tidak saling menyembah, bukan? Antara anak kandung dan anak angkat juga tidak saling menyembah, bukan? Itu sebabnya orang Kristen tidak perlu menyembah Yesus dan Roh Kudus yang adalah Anak-anak Allah.

Kisanak, apa bila ke 11 rasul dan Paulus serta umat kristen perdana memang mengarang dongeng untuk mengagul-agulkan Yesus setinggi langit, bukankah yang kedua harus mereka lakukan adalah menghapus ajaran bahwa manusia diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah? Hai ya ….. Anda mustahil berapologetika tentang huruf “A” besar dan “a” kecil dalam penulisan ANAK, seperti yang dilakukan beberapa teolog Reformed, bukan? Ha ha ha ha ha …

Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Matius 28:18

Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.” Yohanes 8:34-36

Sebelum naik ke sorga, Yesus memberitahu murid-murid-Nya bahwa segala kuasa di sorga dan di dunia telah diberikan kepada-Nya. Apakah karena memiliki segala kuasa di sorga dan di dunia maka umat Kristen harus menyembah Yesus Kristus? Tidak! Kenapa demikian? Karena orang Kristen bukan budak namun orang merdeka. Anak itu alias Yesus Kristus tidak membebaskan manusia dari perbudakan DOSA untuk menjadi HAMBA-Nya namun untuk menjadi orang merdeka yang benar-benar MERDEKA. Yang merdeka dan benar-benar merdeka tidak punya TUAN yang harus disembah dan ditaati perintah-Nya.

Super pendeta yang terhormat, apa bila ke 11 rasul dan Paulus serta umat kristen perdana memang mengarang dongeng untuk mengagul-agulkan Yesus, bukankah yang ketiga harus mereka lakukan adalah menghapus ajaran bahwa Anak itu alias Yesus Kristus memerdekakan manusia sehingga manusia benar-benar merdeka?

Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi.  Dan oleh malaikat-Nya yang diutus-Nya, Ia telah menyatakannya kepada hamba-Nya Yohanes. Wahyu 1:1

Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: “Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut. Wahyu 1:17-18

Maka tersungkurlah aku di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku: “Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah! Karena kesaksian Yesus adalah roh nubuat.” Wahyu 19:10

Apakah setelah ada di sorga orang-orang Kristen harus menyembah Yesus Kristus? Tidak! Kenapa demikian? Kitab Wahyu mencatat alasan Yohanes menyembah Yesus Kristus adalah karena dia KETAKUTAN bukan karena Yesus Kristus harus disembah. Itu sebabnya ketika Yohanes menyembah-Nya, Yesus Kristus tidak memuji perilakunya namun menyuruhnya untuk jangan takut. Itu sebabnya ketika Yohanes tidak takut lagi kepada-Nya dan menyembah-Nya, Yesus menolak untuk disembah. Kenapa demikian? Karena menurut Yesuus, Dia adalah hamba Allah seperti Yohanes dan para rasul dan umat Kristen dan umat manusia.

Apa bila ke 11 rasul dan Paulus serta umat Kristen perdana memang mengarang dongeng untuk mengagul-agulkan Yesus setinggi langit, bukankah yang keempat  harus mereka lakukan adalah menghapus ajaran bahwa Yesus Kristus menyuruh Yohanes jangan takut kepada-Nya dan menolak untuk disembah ketika Yohanes menyembah-Nya dengan sukarela?

Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam. Kisah Para Rasul 20:7

Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing–sesuai dengan apa yang kamu peroleh–menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang. 1 Korintus 16:2

Apakah ke 11 rasul dan Paulus serta umat Kristen perdana melakukan ibadah menyembah Yesus? Tidak! Apa yang mereka lakukan pada hari pertama setiap minggu alias pada hari Minggu? Mereka berkumpul, memuji Allah, memecah-mecah roti lalu makan bersama.

Dari generasi ke generasi memang banyak teolog yang menggunakan kisah-kisah mujizat dalam Perjanjian Baru untuk mengagul-agulkan Yesus setinggi langit. Mereka menulis buku lalu mewariskannya kepada generasi berikutnya. Generasi berikutnya pun mengajarkan isi buku-buku itu kepada sesamanya sebagai ajaran Alkitab. Dari generasi ke generasi banyak pula teolog yang menentang ajaran-ajaran demikian. Mereka pun menulis buku dan mewariskan ajarannya kepada gererasi selanjutnya. Yang satu menyebut dirinya Reformed yang lain disebut Liberal namun keduanya sama-sama sibuk belajar buku-buku teologi dan nggak punya waktu untuk belajar Alkitab. Inilah saatnya kita mengakhiri tradisi hanya belajar buku-buku teologi dan tidak belajar Alkitab dengan tradisi hanya belajar dari Alkitab.

Ioanes Rakhmat yang mulia, anda seorang doktor teologi. Anda menuduh ke 11 rasul dan Paulus serta umat Kristen perdana mengarang dongeng Yesus melakukan berbagai mujizat untuk mengagul-agulkan-Nya setinggi langit. Mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, Alkitab mencatat dengan tegas dan gamblang sehingga mustahil menyangkalnya bahwa Perjanjian Baru sama sekali tidak berisi catatan mengagul-agulkan Yesus setinggi langit untuk disembah dan dipuja. Super (sudah pernah) pendeta yang mulia, izinkan hai hai menasehati anda, bila tidak suka, anggap saja hai hai menantang anda. Apa bila memang hebat dan kebelet menyerang, seranglah ajaran Alkitab. Menyerang ajaran buku-buku teologi yang diajarkan seolah ajaran Alkitab sama sekali nggak hebat karena buku-buku teologi itu ditulis oleh para teolog yang terlalu sibuk belajar buku-buku teologi sehingga nggak sempat belajar Alkitab. Ioanes Rakhmat adalah doktor teologi, bukan? Ha ha ha ha ha ha …..

23 thoughts on “Ioanes Rakhmat Jarang Belajar Alkitab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s