Yesus Berjalan di atas Air Adalah Kisah Nyata


i.dailymail.co.uk

Tujuan menguji kesaksian MUJIZAT bukan untuk membuktikan apakah kesaksian tersebut masuk akal atau tidak. Menguji kesaksian mujizat juga tidak untuk membuktikan apakah Allah berkuasa untuk melakukan mujizat atau tidak.

Tujuan MENGUJI kesaksian mujizat adalah untuk membuktikan apakah kesaksian tersebut adalah kisah nyata atau pepesan kosong belaka. Kesaksian MUJIZAT masa lalu hanya bisa diuji berdasarkan kesaksian tersebut yang diwariskan pada generasi ini. Ada banyak kesaksian mujizat masa lalu yang mustahil diuji karena informasi yang tersedia tidak cukup, namun ada banyak yang bisa diuji secara ilmiah karena informasi yang kita miliki cukup untuk melakukannya. Bagaimana dengan kesaksian Yesus berjalan di atas Air? Kisah nyata atau pepesan kosong belaka?

Memberanikan diri bertanya, Tentang Yesus berjalan di atas air,  kitab Matius mencatat:

Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. Matius 14:19

Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh. Matius 14:20

Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. matius 14:21

Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Matius 14:22

Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. Matius 14:23

Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Matius 14:24

Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Matius 14:25

Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut. Matius 14:26

Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Matius 14:27

Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Matius 14:28

Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Matius 14:29

Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” Matius 14:30

Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Matius 14:31

Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah. Matius 14:32

Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.” Matius 14:33

Setibanya di seberang mereka mendarat di Genesaret. Matius 14:34

Memberanikan diri bertanya, Tentang Yesus berjalan di atas air, kitab Markus mencatat:

Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Markus 6:45

Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. Markus 6:46

Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat. Markus 6:47

Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka. Markus 6:48

Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak, Markus 6:49

sebab mereka semua melihat Dia dan merekapun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Markus 6:50

Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung, Markus 6:51

sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil Markus 6:52

Memberanikan diri bertanya, Tentang Yesus berjalan di atas air, kitab Yohanes mencatat:

Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu Yohanes 6:16

dan menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, Yohanes 6:17

sedang laut bergelora karena angin kencang. Yohanes 6:18

Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka. Yohanes 6:19

Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Aku ini, jangan takut!” Yohanes 6:20

Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui. Yohanes 6:21

Pada keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain dari pada yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Yohanes 6:22

Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudPage 3 of 5
ah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Yohanes 6:23

Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus. Yohanes 6:24

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: “Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?” Yohanes 6:25

Bengcu Menjawab:

Sehubungan dengan mukjizat, Buddha menguraikan tiga macam mukjizat kepada brahmana Sangarava (Anguttara Nikaya III:60).

Ada tiga macam mukjizat, brahmana. Apakah yang tiga itu? Mukjizat kekuatan supranormal, mukjizat membaca pikiran, dan mukjizat pengajaran. Apa yang merupakan mukjizat kekuatan supranormal itu? Ada orang yang menikmati berbagai macam kekuatan supranormal: setelah menjadi satu, dia berubah menjadi banyak; sesudah menjadi banyak, dia berubah menjadi satu; dia muncul dan lenyap; dia pergi tak terhalang menembus benteng; menembus gunung seolah-olah melewati ruang kosong; dia menyelam masuk dan keluar dari bumi seolah-olah itu adalah air; dia berjalan di atas air tanpa tenggelam seolah-olah itu adalah tanah; dalam keadaan duduk bersila ia terbang ke udara seperti seekor burung; dengan tangannya ia menyentuh dan “mengusap” matahari dan bulan, begitu kuat dan perkasa; ia melakukan penguasaan dengan tubuhnya bahkan sejauh dunia-Brahma. Ini, Brahmana, disebut mukjizat kekuatan batin.

… Tetapi apakah ada biku lain, selain Guru Gotama, yang memiliki tiga mukjizat ini? / Ya, brahmana. Para biku yang memiliki ketiga mukjizat ini tidak hanya berjumlah seratus, atau dua ratus, tiga ratus, empat ratus, atau lima ratus, tetapi bahkan lebih banyak dari jumlah itu. / Dan di manakah sekarang berdiamnya biku-biku ini, Guru Gotama? / Di dalam Sanggha biku ini juga, brahmana.

Buddhis artinya penganut agama Buddha. Beberapa Buddhis menyatakan: “Karena hai hai menganggap kesaksian Buddha dan lima ratus lebih murid-muridnya berjalan di atas air adalah dongeng itu berarti kesaksian Yesus berjalan di atas air juga dongeng.”  Hai hai tidak pernah menyatakan kesaksian Buddha dan lima ratus lebih murid-muridnya berjalan di atas air adalah dongeng. Yang selalu dikatakannya adalah, “Saya tidak bisa menguji kesaksian Buddha berjalan di atas air karena informasi yang tersedia tidak cukup untuk melakukan pengujian.”

Beberapa Buddhis yang lain menuduh hai hai tidak adil. TIDAK ADIL sebab menguji kesaksian mujizat Buddha namun meyakini kesaksian Yesus berjalan di atas air dengan IMAN, maksudnya mempercayainya membabibuta. Jangankan mengujinya, memikirkannya dengan logis pun tidak pernah. Atas tuduhan demikian, hai hai sama sekali tidak merasa perlu untuk membela diri.

Beberapa Buddhis yang lain menyatakan bahwa kesaksian Yesus berjalan di atas air bukan kisah nyata namun pepesan kosong belaka. Mereka lalu menantang hai hai untuk BERAPOLOGETIKA guna membuktikan bahwa tuduhan mereka salah. Tentu saja hai hai menolak tantangan demikian. Untuk apa membuang waktu melayani tuduhan-tuduhan asal bunyi tanpa bukti? Untuk menggerakkan hai hai BERAPOLOGETIKA mereka harus menyediakan bukti-bukti atas tuduhannya.

Beberapa orang teman minta tolong hai hai menguji kesaksian Yesus berjalan di atas air. maka hai hai pun melakukannya dengan senang hati.

Kita tidak akan menguji apakah Allah mahakuasa atau tidak. Kita juga tidak akan menguji apakah berjalan di atas air itu mustahil dilakukan atau bisa dilakukan oleh manusia. Kita HANYA akan menguji berdasarkan catatan kitab Matius, Markus dan Yohanes, apakah kesaksian Yesus berjalan di atas Air adalah kisah nyata atau pepesan kosong belaka.

Di Betsaida, Yesus mengajak murid-murid-Nya menyingkir dari orang banyak dengan perahu ke Tiberias. Namun orang banyak mengetahui tujuan mereka lalu mendahului ke Tiberias lewat jalan darat. Ketika perahu yang ditumpangi Yesus mendarat orang banyak pun menyambutnya. Ketika hari hampir gelap, murid-murid mengusulkan agar Yesus menyuruh orang banyak itu pulang karena tidak ada makanan untuk mereka. Yesus menolak usul murid-murid-Nya dan memberi makan orang banyak yang jumlah lelaki dewasanya saja sekitar 5.000 orang dengan memecah-mecah 5 roti dan 2 ikan. Aneh bin ajaib. Ke 5 roti dan 2 ikan itu bukan saja berlipat ganda sehingga cukup untuk makan semua orang, bahkan sisa 12 keranjang. Setelah semua orang selesai makan maka Yesus menyuruh murid-murid-Nya pulang naik perahu sementara Dia membubarkan orang banyak. Setelah orang banyak bubar, Yesus naik ke bukit untuk berdoa. Sekitar jam 3 pagi, Dia berjalan di atas air mengejar perahu murid-murid-Nya yang berjalan lambat karena angin sakal. Saat itu mereka sudah berdayung sekitar dua hingga 3 mil jauhnya dari pantai. Angin sakal adalah angin yang menerpa haluan perahu sehingga berjalan lambat.

Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Matius 14:13

Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Markus 6:32

Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Markus 6:33

Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. Markus 6:34

Mungkinkah kecepatan Yesus jalan kaki mengalahkan kecepatan perahu yang didayung oleh murid-murid-Nya? Pasti demikian! Markus mencatat bahwa setelah mengetahui tujuan perahu yang ditumpangi oleh Yesus dan murid-murid-Nya maka orang banyak pun mendahului mereka dengan berjalan kaki, itu sebabnya ketika mendarat, Yesus dan murid-murid-Nya pun disambut orang banyak. Pada zaman itu, jalan kaki lebih cepat dari naik perahu.

Akan tetapi mungkinkah Yesus menyusul murid-murid-Nya sedangkan mereka sudah berlayar duluan berjam-jam sebelum Yesus menyusul mereka? Pasti! Kenapa demikian? Karena Markus dan Matius mencatat bahwa murid-murid menghadapi angin sakal. Angin sakal adalah angin yang menerpa haluan perahu sehingga sulit melaju. Yohanes mencatat bahwa laut bergelora karena angin kencang. Menurut Yohanes ketika tersusul oleh Yesus, saat itu mereka baru melaju dua atau tiga mil jauhnya, sementara Matius mencatat bahwa mereka sudah beberapa mil jauhnya dari pantai.

Murid-murid Yesus bisa saja sepakat lalu KOMPAK untuk membual tentang Yesus berjalan di atas air. Namun bukan hal demikian yang terjadi sebab kesaksian Yesus berjalan di atas air juga dikuatkan oleh orang banyak. Orang banyak memang TIDAK melihat Yesus berjalan di atas air namun mereka MELIHAT bahwa Yesus tidak ikut perahu yang ditumpangi oleh murid-murid-Nya dan selain perahu itu, tidak ada perahu lainnya di situ. Ketika Yesus menyuruh orang banyak pulang, tidak semuanya pulang. Orang banyak yang tidak pulang itu menjadi saksi bahwa perahu murid-murid Yesus tidak kembali lagi untuk menjemput Yesus dan tidak ada perahu lain yang ditumpangi Yesus malam itu. Namun, ketika hari siang, beberapa perahu mendatangi, orang banyak itu pun menumpanginya untuk mencari Yesus ke seberang danau, ke Kapernaum. Mereka menemukan Yesus di sana. Terheran-heran Mereka pun bertanya KAPAN Yesus tiba di sana?

Setibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ. Markus 6:53

Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. Markus 6:54

Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada. Markus 6:55

Mungkinkah Yesus tidak berjalan di atas air namun menyusul murid-murid-Nya yang naik perahu dengan jalan kaki lewat darat? Mustahil!  Kenapa demikan? Karena Markus mencatat: “Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ. Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada.” Ketika Yesus mendarat dengan murid-murid-Nya, mereka MENGENALI Yesus yang baru mendarat bersama-sama muridnya. Itu berarti Yesus ada bersama-sama dengan murid-murid-Nya ketika PERAHU mendarat.

Kisanak, berdasarkan catatan Matius, Markus dan Yohanes kita menyimpulkan bahwa Yesus berjalan di atas air memang kisah nyata.

36 thoughts on “Yesus Berjalan di atas Air Adalah Kisah Nyata

  1. saya percaya yesus adalah seorang bodhisatwa, arahat, avatar, siddha, namun kita juga harus membuka diri fakta-fakta penting tentang kehidupan yesus yang tak diketahui yang justru diungkap orang barat yang kemungkinan besar seorang kristen:

    TAHUN-TAHUN YESUS YANG HILANG – Dimana YESUS ketika berusia 13 – 30 tahun.

    Pernahkah Anda mendengar istilah ” The Lost Years of Jesus ” atau “Missing Years” dalam kekristenan?

    Mungkin belum! Bahkan, pengalaman para pelayan Tuhanpun belum pernah apalagi umat awam, barangkali secara sengaja tidak diinformasikan mengenai hal itu.Tapi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan “missing years” itu?

    Ya, itu memang terminologi dalam bahasa Inggris yang berarti “tahun-tahun Yesus yang hilang ”.

    Tahun-tahun yang masih menyisakan teka-teki besar bagi sebagian umat Kristen yang kritis. Mengapa demikian?Orang yang mempelajari Injil dengan seksama, pasti akan dapat mengetahui riwayat hidup Yesus Kristus.

    Mereka tahu : kapan, dimana, dan bagaimana kisah kelahiran Yesus. Para pembaca Injil juga tahu, bagaimana dan pada usia berapa Yesus meninggal di salib, lalu “bangkit” kembali. Namun kalau mereka jeli, mereka juga akan mendapatkan fakta berikut ini. Injil menceritakan kelahiran dan kegiatan Yesus sampai dengan Yesus berusia 12 tahun. Yesus dilahirkan oleh Bunda Maria dalam dalam usia 0 – 12 tahun Yesus dalam asuhan kedua orang tuanya.

    Setelah itu, tiba-tiba Injil menceritakan kembali kehidupan Yesus pada waktu Dia sudah berusia 30 tahun. Saat itu, Yesus menerima baptis dari Yohanes Pembaptis di sungai Yordan. Sejak itu Injil kembali menceritakan secara runtut kehidupan Yesus. Yesus mengajar dan berkotbah dimana-mana, menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir setan, membangkitkan orang mati, melakukan berbagai mujizat dan pelayanan sampai dengan Yesus di salib. Juga masih dilengkapi dengan kesaksian para murid yang bertemu kembali dengan Yesus, setelah Yesus meninggal disalib, bangkit kembali dan naik ke sorga.

    Dari sejak usia 12 tahun Yesus pergi ke Yerusalem bersama orang tuanya, sampai usia 30 tahun Yesus dibaptis, dengan demikian, terdapat 17 – 18 tahun “missing years”. Tidak ada sepatah katapun dalam Injil yang bercerita apa yang terjadi pada diri Yesus sejak berusia 13 tahun hingga akhirnya tiba-tiba berada di Sungai Yordan. Inilah yang disebut sebagai “tahun-tahun yang hilang”.

    Suatu waktu saya menemukan buku berjudul” Tahun-tahun Yesus yang hilang” karya Elizabeth Clare Prophet, menulis tentang kisah Nicolas Notovitch, saya sempat yakin bahwa benar Yesus pernah pergi ke India dan Tibet, dll untuk belajar agama Hindu dan Buddha.Tapi hal ini banyak tidak diketahui oleh orang dan melalui buku inilah diungkap kisah Yesus pergi ke India dan Tibet dan dikatakan disalah satu kitab buddha, bahwa ada catatan tentang Yesus, inilah kemudian yang dihubungkan dengan tahun-tahun Yesus yang hilang. Kemana Yesus gerangan ?

    Buku ini mencoba memberikan bukti-bukti dan petunjuk baru mengenai satu sisi periode, tahun-tahun yang hilang dari perjalanan spiritual seorang Yesus. Beberapa informasi yang berbobot dari para jurnalis, profesor, petualang dirangkum dalam buku, yang memaparkan bukti naskah kuno di biara Himis yang menyatakan bahwa Yesus pernah berada di sana. Dilengkapi pula dokumentasi foto keberadaan Yesus.

    Jawaban tersebut dikemukakan oleh Elizabeth Clare Prophet dengan mengungkapkan data-data yang cukup memberikan informasi baru yang langka tentang keberadaan Yesus. Buku yang berjudul asli The Lost of Years ini menyajikan bukti dokumenter yang terdiri dari empat kisah kesaksian dari orang yang menelusurinya. Kesaksian mereka tersimpan dalam tulisan yang sengaja dibuat untuk memberikan informasi mengenai teka-teki kehidupan Yesus yang hilang itu. Informasi terasa lengkap dengan adanya background yang beragam dan saling menguatkan di antara mereka.

    Disimpulkan bahwa Yesus dalam periode tahun-tahun yang hilang tersebut, sejak usia 13 tahun hingga 30 tahun, melakukan perjalanan ke dunia Timur, yakni India, Nepal, Ladakh dan Tibet. Perjalanan ini dilakukan baik sebagai murid maupun sebagai guru. Tapi ia dikenal sebagai (Nabi) Isa, bukan Yesus. “Isa diam-diam meninggalkan orang tuanya dan bersama dengan para pedagang Yerusalem menuju India untuk mempelajari hukum Buddha yang Agung,” demikian catatan awal dari sebuah dokumen yang berumur 1.500 tahun, disamping sebelumnya dia belajar juga tentang Hindu.

    Bagian awal buku ini dimulai dari catatan Nicolas Notovitch. Ia adalah seorang jurnalis berkebangsaan Rusia, pada tahun 1894 menulis buku La Vie Inconnue de Christ (The Unknown Life of Christ), yang mengisahkan perjalanannya saat ia pergi ke Ladakh (Tibet Kecil) akhir tahun 1887. Notovitch menyatakan dengan tegas bahwa Yesus dalam tahun yang hilang pernah berada di India. Pernyataannya berdasarkan pada sebuah naskah kuno agama Budha berbahasa Pali yang ditemukannya di sebuah biara Himis, dekat Leh, ibukota Ladakh, juga berdasarkan keterangan para Lama, nama lain biksu di Tibet.

    Karya Notovitch yang membuka kontroversi juga mendapat banyak kritikan dan anggapan pemalsuan narasi ini, dikuatkan kembali oleh seorang saksi mata pengunjung Himis, Swami Abhedananda. Ia mengatakan bahwa telah bekerja keras untuk melihat dan memeriksa kisah Notovich, dan menyatakan bahwa catatan tersebut memang benar adanya. Bahkan menurut Sister Shivani seorang murid Abhedananda pernah mengatakan bahwa “Swami pernah berbicara di panggung tentang akibat dari penginjilan Kristus yang sempat menghabiskan waktu di India bersama para filosuf Yoga di Tibet.”

    Bukti lain dikemukakan oleh Nicholas Roerich, seorang anggota persatuan profesor di Imperial Archeological Institute. Ia mencatat sejarah kehidupan Isa di Timur saat ia memimpin ekspedisi melalui Asia Tengah. Ia melacak kisah Isa (nama timur untuk Yesus) melalui naskah-naskah kuno dan legenda-legenda dari berbagai bangsa dan agama yang ditemukannya. Dari beberapa naskah dan variasi legenda yang diperoleh akhirnya merujuk ke satu kesimpulan bahwa dalam kurun waktu yang hilang, Yesus berada di India dan Asia .

    Tidak hanya itu beberapa tahun berselang tepatnya tahun 1939 seorang musisi dan profesor ilmu musik, Madame Caspari bersama suaminya, Charles melakukan perjalanan ke Gunung Kailas yang dipimpin oleh pemimpin agama, Clarence Gasque. Ia berhasil mengabadikan gambar yang anehnya sama dengan foto yang hilang yang pernah disaksikan dan diabadikan oleh Notovitch. Selain itu mereka mendapatkan perkamen dari daun yang diberikan oleh biksu dan pustakawan biara di Himis. Saat menyerahkan perkamen tersebut, biksu mengatakan bahwa Yesus pernah berada di Himis. Bahkan di daerah ini ditemukan catatan tentang kehidupan Yesus Kristus secara sistematis.

    kanon tibet tentang yesus sebut saja “injil tibet”
    Yesus Belajar Pengetahuan dari Agama Budha?

    Dari tulisan Notovich kita telah menangkap kesan yang sangat kuat bahwa Yesus meninggalkan Yerusalem dengan tujuan mempelajari tentang perkataan Yang Kuasa dari hukum agama Budha. Karena itu Yesus merasa perlu pergi di Tibet. Yesus kemudian belajar agama dan ajaran Budha dari para Lama. Dorongan untuk belajar dari diri Yesus tersebut karena sesungguhnya Dia merupakan inkarnasi dari Roh Budha. Jadi dalam tulisan “Injil Tibet” yang ditulis oleh Notovich mau menyatakan bahwa seluruh pemikiran, ide, gagasan, pengajaran, kuasa mukjizat dan kehidupan Yesus sepenuhnya dikuasai oleh Roh Budha. Bahkan Yesus dianggap sebagai inkarnasi dari Budha Maetreya.

    Sebagai inkarnasi dari Roh Budha, Yesus kemudian menentang pengajaran agama Hindu. Sikap Yesus ini terlihat dari “Injil Tibet”, yaitu:

    Isa menyangkal asal muasal Weda dan Puranas. Karena ajarNya kepada

    pengikutNya: suatu hukum telah diberikan sebelumnya kepada manusia

    untuk menuntunnya dalam bertindak; takutlah akan Tuhan, berlututlah

    hanya di hadapanNya, dan bawalah persembahanmu hanya kepadaNya

    hasil dari yang engkau dapat. Isa menyangkal Trimurti dan inkarnasi

    Para-Brahma dalam Wisnu, Siwa dan dewa lain. Ia mengatakan karena:

    Hakim Abadi, Roh Abadi, satu roh alam semesta yang tak terlihat,

    yang mana hanya seorang diri menciptakan, mengetahui dan

    mengatasi segalanya. Ia seorang diri telah menciptakan,

    Ia telah ada dalam keabadian, dan keberadaanNya

    tidak akan berakhir. Tidak ada yang setara denganNya baik di surga

    maupun di bumi. Sang Pencipta tidak berbagi kekuatan dengan

    mahluk hidup apapun, juga tidak kepada benda apapun,

    seperti yang mereka katakana kepadamu, karena hanya Ia yang

    memegang kemahakuasaan. Ia menghendakinya maka terbentuklah dunia.

    Ia mengumpulkan air, memisahkannya dari bagian dunia yang kering.

    Ia adalah pencipta manusia, yang mana Ia hembuskan nafas kehidupan.

    Dan Ia memberikan kepada manusia bumi, air, hewan,

    dan semua yang telah Ia ciptakan dan Ia berdiam dalam keabadian,

    menentukan jangka waktu untuk segala sesuatu” (“Injil Tibet” V:12-19).

    Dari “Injil Tibet” V:12-19 tersebut, kita dapat menarik beberapa pokok pemikiran teologis dari “Injil Tibet” tentang diri Yesus, yaitu:

    – Yesus menyangkal asal muasal Weda dan Puranas, termasuk pula Dia menyangkal pengajaran atau kepercayaan kepada Trimurti dan inkarnasi Para-Brahma dalam Wisnu, Siwa dan dewa lain.

    – Pencipta alam semesta adalah Hakim Abadi, Roh Abadi, satu roh alam semesta yang tak terlihat, yang mana hanya seorang diri menciptakan, mengetahui dan mengatasi segalanya. Ia seorang diri telah menciptakan, Ia telah ada dalam keabadian, dan keberadaanNya tidak akan berakhir. Tidak ada yang setara denganNya baik di surga maupun di bumi.

    – Pencipta tersebut adalah Tuhan. Karena itu manusia hanya boleh takut dan berlutut di hadapan Tuhan. Sebagai bentuk penyembahan kepada Tuhan, maka manusia dipanggil untuk membawa persembahan hanya kepadaNya.

    – Sebagai sang Pencipta, Tuhan tidak berbagi kekuatan dengan siapapun, dan tidak ada yang sebanding dengan dia baik di surga maupun di bumi. Dialah Allah yang mahakuasa.

    – Dalam penciptaan bumi dan langit, Allah yang mengumpulkan air dan memisahkan dengan yang kering; serta Dialah yang menghembuskan nafas kehidupan kepada manusia.

    > DIPENGARUHI OLEH GNOSTISISME

    Pemikiran “Injil Tibet” sebenarnya lebih dominan dipengaruhi oleh pemikiran gnostik dari pada pemikiran dan ajaran agama Budha. Pola pemikiran gnostik sangat jelas dan terlihat dari beberapa ungkapan dari “Injil Tibet” yaitu:

    “Tuhan yang kuasa, Bapa alam semesta, berbelas kasihan terhadap orang-orang berdosa, memutuskan untuk lahir ke bumi dengan tubuh manusia. Inkarnasi terjadi sebagai suatu jiwa yang terpisah dari Roh Tertinggi yang tidak memiliki awal, tidak berakhir, dan di atas segala-galanya. Dia turun untuk menunjukkan bagaimana suatu jiwa dapat bersatu dengan Tuhan dan menemukan kebahagiaan abadi, dan mengambil tubuh manusia untuk menunjukkan bahwa dalam kehidupannya seorang manusia dapat mencapai kebajikan danmemisahkan jiwa dari tubuh manusiawi untuk mencapai keabadian dan sampai kepada Bapa Alam Semesta, di mana terletak kebahagiaan abadi. Dia muncul sebagai anak yang tak bernoda di tanah Israel, Anak itu segera menjadi juru bicara untuk Bapa Alam Semesta untuk menjelaskan tubuh alamiah yang tidak kekal dan kemenangan bagi jiwa” (“Injil Tibet” terjemahan dari Swami Abhedananda bab IV:1-5).

    Ciri-ciri pemikiran gnostik adalah:

    a. Menempatkan roh atau jiwa sebagai yang paling mulia dan lebih suci dari tubuh jasmaniah manusia. Dalam hal ini roh tidak memiliki awal, tidak berakhir dan di atas segala-galanya. Sedang tubuh manusia dianggap sebagai hal yang kotor dan sumber dosa.

    b. Membuat pemisahan yang radikal antara tubuh dengan jiwa dengan tujuan untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan.

    c. Roh manusia akan kembali dan bersatu (“melebur”) dengan Allah sebab roh manusia pada hakikatnya berasal dari percikan ilahi. Demikian pula “Injil Tibet” menyatakan bahwa ketika Yesus mati dihukum di atas kayu salib, maka Roh Yesus saja yang bersatu dengan yang ilahi. Di “Injil Tibet” bab XIV:3 menyatakan: “Pada senja hari penderitaan Isa semakin berakhir. Ia kehilangan kesadaranNya, dan roh lelaki itu meninggalkan tubuhNya untuk bersatu dengan Ilahi”.

    Corak pemikiran “gnostik” berulang-ulang dikemukakan oleh penulis “Injil gnostik” untuk menyatakan bahwa roh manusia sesungguhnya tidak bersalah, sebab roh selalu penuh dengan kebaikan. Di bab IX:14-15, “Injil Tibet” menyatakan: “Karena Tuhan telah menciptakan engkau serupa denganNya – tidak bersalah, dengan roh yang murni dan hati penuh kebaikan, tidak ditakdirkan berada di tengah kejahatan tetapi diciptakan untuk mendapat bagian dari kasih dan keadilan. Karena itu Aku berkata kepadamu, jangan nodai hatimu, karena yang kekal tinggal di dalamnya selamanya”. Dengan pemikiran ini, “Injil Tibet” mau menyatakan bahwa jiwa manusia pada hakikatnya suci sebab dia berasal dari Allah.

    Pemahaman ini tentu saja bertentangan dengan pemikiran Alkitab, yang menyatakan bahwa manusia secara utuh dan menyeluruh telah jatuh di bawah kuasa dosa (Rom. 3:23). Roh manusia bukanlah bersifat ilahi. Sebab roh manusia hanyalah ciptaan Tuhan belaka (Kej. 2:7). Perhatikan ucapan Yesus di “Injil Tibet” yang berkata: “Dan Isa menjawab mereka bahwa Tuhan tidak melihat bait yang dibangun dengan tangan manusia, tetapi hati manusia adalah bait Allah yang sesungguhnya” (bab IX:11). Ucapan “Injil Tibet” ini menunjukkan pengaruh ucapan dari rasul Paulus yang berkata: “Atau tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus, yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, – dan bahwa kamu bukan milikmu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu” (I Kor. 6:19-20). Tetapi perbedaan yang mencolok antara “Injil Tibet” dengan ucapan rasul Paulus adalah sikapnya terhadap makna “keber-tubuh-an manusia”. Bagi rasul Paulus, makna tubuh manusia dipandang positif, bahkan tubuh dipandang sebagai sesuatu yang dikuduskan sejauh “makna dan keberadaan tubuh” ditempatkan dalam persekutuan dengan kasih Allah. Itu sebabnya dalam Alkitab, tubuh kita dipandang sebagai bait Allah. Tetapi dalam “Injil Tibet” yang dianggap sebagai bait Allah hanyalah hati atau roh manusia. Tetapi tidak pernah “Injil Tibet” menyatakan tubuh manusia juga merupakan bait Allah.

    Banyak bukti lain yang ditemukan dalam tahun-tahun berikutnya yang semakin menguatkan keberadaan Yesus di Timur. Misalnya saja seperti diungkap diatas dan juga dari pengakuan Dr. Robert S. Ravics, seorang profesor antropologi yang mendengar kisah Yesus dari para warga terhormat di Himis dan juga Injil Tibet. Juga dikuatkan kembali oleh petualang dunia Edward F. Noack yang singgah di Himis akhir tahun tujuh puluhan. Menurutnya seorang Lama di biara mengatakan bahwa ada sebuah naskah yang terkunci di ruang penyimpanan yang menggambarkan perjalanan Yesus ke Ladakh.

    “Nama Isa sangat dihormati oleh Buddhisme. Tetapi hanya pemimpin Lama yang tahu banyak tentangnya, yang telah membaca naskah tentang Nabi Isa. Kami memiliki banyak Buddha seperti Isa, dan ada 84.000 naskah, tetapi hanya sedikit orang yang membaca lebih dari seribu naskah,” ujar seorang Lama Tibet. Di bagian lain dikutip catatan tentang Yesus, “Jika dibalik kehadiran Buddha terkadang sulit untuk mengakui wujud mulia dari Buddha sang Guru, maka cukup sulit untuk menemukan di pegunungan Tibet kisah tentang Kristus. Namun biara Buddhis menyimpan ajaran Kristus dan para Lama mengetahui tentang Kristus, yang dijaga dan diajarkan.”

    maka kesimpulan saya yesus punya mujizat, para buddha punya mujizat, tidak tertulis bukan berarti tidak punya…

  2. kemana saja Yesus pergi ketika berumur 12 – 29 tahun?
    waduh, kong hai hai malah bilang jesus ke nuh son tar a
    NU SAN TA RA sesungguhnya berarti NU and SON berkata nTAR AH! ????
    jadi:
    kemana saja Yesus pergi ketika berumur 12 – 29 tahun? = NU and SON berkata nTAR AH!
    NU itu apa?? Nuh ato Nahdatul Ulama????
    bukannya memberi jawaban yang tepat malah jawaban ‘senam otak’ bahkan lebih tepat ngawur!!!
    saya udah bolak-balik baca alkitab belum memahami yesus di mana pada umur tersebut. namun jika kita meyakini beliau sebagai tuhan tentu jawaban kita yesus dimana aja ada sebelum dunia ada dan setelah dunia kiamat karena beliau tuhan!!!
    ada pertanyaan lain juga kemana gerangan injil thomas???

    • Bila Alkitab tidak mencatat, puaskan diri anda dengan yang tercatat. bila anda mau MEMBUAT TAFSIRAN, jangan tanggung-tanggung, TAFSIRKAN sedayat mungkin seperti hai hai. Kurang Rp. 1 atau kurang Rp. 900, sama-sama bukan Rp. 1.000. Itu sebabnya Rp. 1 dan Rp. 900 tidak bisa saling klaim dirinya LEBIH benar Rp. 1.000. Kemana Injil Thomas? Terakhir dia SMS saya bilang mau ke Tibet untuk beli anjing Tibetan Mastiff. Sampai hari ini belum ada kabar lagi. Pasti karena di Tibet signal HP payah.

  3. Hai hai tidak pernah menyatakan kesaksian Buddha dan lima ratus lebih murid-muridnya berjalan di atas air adalah dongeng. Yang selalu dikatakannya adalah, “Saya tidak bisa menguji kesaksian Buddha berjalan di atas air karena informasi yang tersedia tidak cukup untuk melakukan pengujian.”

    dari penggalan kalimat di atas kong hai hai orangnya itu mempercayai informasi, ternyata setelah disuguhkan informasi kronologi yesus punya mujizat gara-gara di tahun yang tidak diketahui di kehidupannya yang konon mengembara ke india dan cina malah disuruh memahami isi alkitab, jadi anti fakta dong???

    • Faktanya Yesus ke nusantara. Coba anda baca blog-blog saya tentang Yesus ke Nusantara. itulah FAKTANYA. Faktanya Yesus tidak pernah ke India. Yesus memang mau ke India karena mendengar kisah Betapa sengsaranya kehidupan Sidharda Gautama dan ke 500 muridnya yang harus makan dari MENGEMIS. Yesus mau ke India untuk mengadakan pelatihan TUKANG kayu untuk Sidharta dan murid-muridnya. Namun rencana itu BATAL karena Yesus terlalu asyik menjelajah Nusantara dan Yeohanes pembaptis SMS bilang, Dirinya SUDAH ditangkap oleh Herodes dan akan segera dipenggal. Itu sebabnya Yesus buru-buru pulang ke Israel. Kunjungan Yesus ke nusantara adalah FAKTA sebab alkitab mendukungnya. Ha ha ha ha ha …..

  4. BENGCU MULUT ENTE JANGAN BANYAK KOAR TAR GUE KELUARIN ISI MULUT DAN ISI KEPALAMU BOCAH TENGIK! KALO GAK SENENG KATA2 GUE CARI DIDI WIWIARDI DI FACEBOOK

  5. BUDHIS APA ISLAM LO BENGCU? JANGAN BELAGAK PILON DEH LU BANGSAT! MODUS LU UDEH KETAHUAN JING! SETAU GUE HANYA ORANG ISLAM YANG SIRIK BANGET DENGAN NAMA YESUS BUKAN BUDHA, KARENA SEBENARNYA BUDHA BUKAN AGAMA YANG IKUT CAMPUR URUSAN AGAMA KRISTEN! MALAH BANYAK ORANG KRISTEN YANG BERSAUDARA DENGAN ORANG BUDHA TERUTAMA ETNIS CINA, SEDANGKAN ORANG BUDHA PALING JIJIK DAN ANTI PUNYA SODARA YANG ORANG ISLAM TERUTAMA ETNIS CINA, COBA AJA KALO GAK PERCAYA, ORANG CINA KRISTEN PASTI KALO BOKAPNYA GAK BUDHA PASTI NENEKNYA BUDHA DAN MEREKA MASIH HIDUP RUKUN, SEDANGKAN KALO ADA ORANG CINA YANG MASUK ISLAM PASTI DIHUJAT ABIS2AN ORANG CINA YANG BUDHA.
    JADI SEKALI LAGI GUE CURIGA NIH BENGCU SEORANG MUSLIM YANG MENYAMAR JADI BUDHA UNTUK MEMECAH BELAH ORANG CINA YANG BERSAUDARA KRISTEN DAN BUDHA.! DASAR ISLAM NGENTOT LU BENGCU!

    • kakek nenek gua penganut Khonghucu. Bokap gua Khonghucu. Mama gua awalnya khonghucu lalu memeluk kristen. hai hai adalah seorang Tionghoa Kristen, BANGSAT! Ha ha ha ha ….. Oh ya, waktu kelas 1 SMP hai hai memutuskan untuk memeluk agama Buddha dan sampai hari belum pernah menyatakan tidak memeluk agama buddha lagi lho? ha ha ha ha ….. Oh yag, Waktu kelas dua SD hai hai belajar ngaji dan memutuskan masuk Islam. Sampai hari ini belum pernah menyatakan tidak memeluk agama islam lagi lho? ha ha ha ha …

  6. JANGAN KETAWA KETEWE LU BENGCU ! TAMPANG LU MANA? KASIH SINI FACEBOOK APA NOMOR TELEPON LU KALO LU EMANG JANTAN JANGAN NEBAR GOSIP MURAHAN KAYAK PKS AJA LU MONYET! MODUS PKS ENTE KETAHUAN GAK USAH DISEMBUNYIKAN! GUE TAU LU MUSLIM YANG MENYAMAR JADI BUDHIS KELIATAN BANGET CARA LU MENYUDUTKAN AGAMA KRISTEN PERSIS ANTEK2 ISLAM GARIS KERAS! AWAS LU KALO KETEMU GUE KAMPAK PALALO!

  7. SATU LAGI BENGCU LU GAK USAH KETAWA KETEWE SAMBIL HAI HAI HAI …HAI..HAI.. KARENA GIGI LU BISA GUE BIKIN RONTOK NTAR!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s