Bengcu Menggugat World Statesman Award PRA-aksi Untuk SBY


Gambar: viva.co.id

Karena belum pernah melakukan hal-hal yang PATUT dihargai dengan World Statesman Award, kenapa SBY menerimanya? Ada kartu PASKA bayar ada kartu telepon PRA bayar. Kita anggap saja SBY menerima World Statesman Award PRA aksi. Artinya, MENERIMA penghargaan dulu baru BERAKSI nanti. Karena demikian, maka bila memang JANTAN, SBY harus segera MELAKSANAKAN yang dia pidatokan. Bila memang KSATRIA maka MUI harus MENDUKUNG SBY melaksanakan yang dia pidatokan. Bila tidak demikian maka kembali satu sandiwara politikus Indonesia mencari PUJIAN dengan MENCURI kebajikan telah SUKSES dipentaskan di panggung dunia.

Penghargaan World Statesman Award tidak diberikan untuk Presiden (pemerintah RI) apalagi diberikan kepada NKRI itu sebabnya menyatakan hal demikian adalah PEMBOHONGAN publik. World Statesman Award diberikan kepada Susilo Bambang Yudoyono. Penghargaan itu diberikan untuk MENGHARGAI perbuatannya selama ini, PADAHAL perbuatan-perbuatan DEMIKIAN belum pernah dilakukannya.

Ucapan Imam Shofwan, “Sebagai Muslim dan warga Indonesia, saya malu dengan banyaknya kekerasan atas nama agama di bawah pemerintahan saat ini. Kelompok ekstrim dibiarkan membunuh warga Syiah dan warga Ahmadiyah. Di beberapa daerah mayoritas Kristen di Indonesia, mulai ada masjid yang dipersulit pembangunannya. Pemerintahan lokal menghambat pembangunan gereja-gereja Kristen, termasuk HKBP Filadelfia dan GKI Yasmin, dekat Jakarta. Bahkan gubernur Jabar Ahmad Heryawan bisa-bisanya berkata bahwa “kalau Ahmadiyah hilang, pasti masalah juga hilang. Semua pembiaran ini berbahaya karena ia merusak sendi kebangsaan Indonesia.” adalah FAKTA yang sudah diuji dan bisa diuji ulang lagi oleh siapa pun kebenarannya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah menerima 2013 World Statesman Award (WSA) dari Appeal of Conscience Foundation (AoCF) di Garden Foyer, Hotel The Pierre, New York, Amerika Serikat, Kamis (30/5/2013) malam waktu setempat atau Jumat (31/5/2013) pagi WIB. Berikut ini adalah isi pidatonya. Di bawah pidato SBY adalah Berita tentang Dukungan MUI kepada SBY untuk menerima penghargaan tersebut. Mari kita tunggu SBY dan MUI beraksi menepati pidato mereka.

Pidato Presiden SBY Untuk World Statesman Award

Terima kasih Rabbi Arthur Schneier, terima kasih Dr. Henry Kissinger, atas sambutan pembukanya yang hangat dan ramah.

Saya ingin menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada  Appeal of Conscience Foundation atas dedikasinya dalam membangun jembatan bagi perdamaian dan saling pemahaman bagi kemanusiaan. Dengan segala kerendahan  hati saya terima penghargaan ACF ini bagi Indonesia.

Istri saya Ani, dan saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada semua tamu undangan atas kehadirannya pada malam ini, dan atas persahabatan yang Bapak-Ibu tunjukkan untuk Indonesia.

Sebelum saya melanjutkan pidato ini, saya ingin menyampaikan ungkapan duka cita yang mendalam atas bencana tornado Oklahoma yang menelan banyak korban dan menimbulkan penderitaan dan juga atas pemboman keji di Boston sebelumnya. Saya yakin Amerika akan kembali memperlihatkan daya tahannya dan bahkan akan menjadi lebih kuat lagi.

Saya juga merasa sedih atas terjadinya pembunuhan brutal terhadap seorang prajurit muda Inggris di London baru-baru ini. Atas kejadian ini, pada kesempatan berbincang dengan Perdana Menteri Inggris David Cameron, saya menyampaikan rasa duka cita saya—tindak kekerasan seperti ini tidak memiliki tempat dalam agama manapun yang mencintai perdamaian.

Kejadian-kejadian seperti ini semakin mempertegas adanya berbagai tantangan yang kita hadapi bersama. Tantangan perdamaian. Tantangan keadilan, termasuk keadilan ekonomi.

Tantangan kebebasan, demokrasi dan hak asasi manusia. Tantangan untuk mencapai hubungan antarperadaban yang harmonis. Tantangan untuk mengentaskan kemiskinan global melalui pembangunan berkelanjutan.

Sekalipun demikian, terdapat kabar baik, yaitu adanya semangat globalisme baru di antara bangsabangsa dan masyarakat madani yang diharapkan akan dapat meningkatkan upaya internasional dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut.

Sebagai bagian dari globalisme baru ini, saya mendapat kehormatan untuk menjadi salah satu Ketua Bersama Panel Tingkat Tinggi PBB, yang pada hari ini telah menyerahkan laporan akhirnya kepada Sekretaris Jenderal PBB mengenai visi dan bentuk agenda pembangunan global pasca-2015.

Namun upaya-upaya global ini tidak akan mencatat kemajuan apabila para pemimpin lokal dan nasional tidak memainkan peranan mereka.

Dan pada tingkat nasional dan lokal itulah, tantangan-tantangan ini dapat menjadi lebih rumit.

Salah satu contohnya adalah Indonesia. Kami adalah salah satu bangsa yang sangat majemuk kelompok etnisnya di dunia, merupakan tempat tinggal bagi seperempat milyar manusia yang menganut lima agama utama di dunia, dan tersebar di lebih dari 17,000 pulau.

Sejak hari pertama kemerdekaan, bangsa kami memiliki aspirasi untuk menjadi bangsa yang bersatu di dalam perbedaan. Satu bangsa dimana para warga negaranya yang terdiri dari berbagai suku, keyakinan dan nilai-nilai, hidup bersama dalam harmoni. Satu bangsa yang dibangun atas ketentuan hukum.

Semua prinsip-prinsip utama ini tercantum di dalam Konstitusi kami, dan di dalam ideologi bernegara:  Pancasila. Dan kemampuan kami hidup berdasarkan nilai-nilai luhur ini, akan menentukan tidak saja kemajuan, namun juga keberlanjutan kita sebagai satu bangsa.

Hari ini, kami telah menempuh jalan yang panjang untuk mewujudkan visi tersebut. Namun demikian, pencapaiannya tidaklah mudah. Kami melakukannya dengan kerja keras, keberanian dan kegigihan.

Di awal transisi demokratis kami, 15 tahun yang lalu, Indonesia mengalami krisis multidimensional. Keruntuhan ekonomi. Ketidakstabilan politik. Kerusuhan sosial. Separatisme. Konflik komunal. Kekerasan antar-etnis. Terorisme. Situasi sedemikian parahnya, sehingga Indonesia diprediksi  akan menjadi Balkan yang baru – hancur berkeping keping.

Tetapi bangsa Indonesia dengan gigih menantang skenario kehancuran tersebut. Kami menyelesaikan permasalahan satu per satu. Kami menyelesaikan konflik separatisme di Aceh yang telah berlangsung selama 30 tahun. Kami memperbaiki hubungan dengan Timor-Leste. Kami mengembalikan stabilitas politik. Kami memperkuat institusi-institusi demokrasi kami. Kami memberlakukan hukum untuk mengakhiri diskriminasi di Indonesia.

Ekonomi kami yang pernah sakit telah pulih dan menjadi ekonomi terbesar di Asia Tenggara, dengan tingkat pertumbuhan tercepat kedua di antara negaranegara anggota G-20 setelah Tiongkok. Dan masyarakat madani yang berkembang menjadi sandaran demokrasi kami. Indonesia pun kemudian sering disebut sebagai salah satu kisah transformasi yang paling berhasil di Abad ke-21.

Dan kesuksesan demokrasi kami telah memberikan kemanfaatan yang strategis tidak hanya di kawasan kami.

Alhamdulilah, kami mengalami banyak kemajuan yang menggembirakan. Sungguh pun demikian,  demokrasi kami tetap merupakan satu proses yang berkelanjutan.

Kebangsaan kami terus menerus diuji. Menjaga perdamaian, tata tertib, dan harmoni adalah sesuatu yang tidak dapat dilakukan secara sambil lalu.

Kami masih tetap menghadapi sejumlah tantangan. Kantung-kantung intoleransi tetap ada. Konflik  komunal terkadang masih mudah tersulut. Sensitivitas keagamaan kadangkala menimbulkan  perselisihan,  dimana  kelompok kelompok masyarakat mengambil tindakan  secara sepihak.

Riak radikalisme masih tetap ada. Hal ini, saya yakini, bukan merupakan permasalahan yang hanya dihadapi oleh Indonesia,  tetapi  merupakan fenomena global.

Sejatinya, masih banyak pekerjaan yang harus  kami  lakukan. Kami  harus terus memajukan transformasi Indonesia seraya mengatasipermasalahan-permasalahan tersebut.

Bersamaan dengan kemajuan ke depan kami, kami  tidak akan mentolerir setiap  bentuk kekerasan yang dilakukan oleh kelompok manapun dengan mengatasnamakan agama.

Kami tidak akan membiarkan penodaan tempat-tempat ibadah agama manapun atas alasan apapun.

Kami  akan selalu melindungi kaum minoritas dan memastikan tidak ada yang  terdiskriminasi.  Kami  akan memastikan bahwa  mereka yang melanggar  hak-hak orang lain akan diganjar hukuman yang setimpal.

Kami akan melakukan berdasarkan kemampuan kami  untuk memastikan  bangsa kami yang terdiri atas ratusan  kelompok etnis, serta semua umat beragama—Muslim, Kristiani, Hindu, Budha, Konghucu, dan kepercayaan lainnya—dapat hidup berdampingan dalam kebebasan dan persaudaraan.

Dan Indonesia akan  senantiasa  menjadi negara dimana terdapat rumah tempat ibadah yang berlimpah.

Saat ini,  Indonesia memiliki  lebih dari 255.000 mesjid. Kami juga memiliki lebih dari 13.000 pura  Hindu,  sekitar  2.000 kuil Budha, dan lebih dari 1.300 kuil Konghucu. Dan—hal ini mungkin akan mengejutkan bagi anda—kami  memiliki lebih dari 61.000 gereja di Indonesia, lebih banyak dibandingkan di Inggris Raya atau Jerman. Dan banyak dari tempat-tempat ibadah ini dapat ditemui di sepanjang jalan yang sama.

Di lingkungan eksternal, Indonesia juga akan terus menjadi kekuatan  bagi  perdamaian dan kemajuan. Sebagai bangsa yang  ikut andil  bagi perdamaian dunia, Indonesia akan terus mengirimkan misi-misi perdamaian ke wilayahwilayah konflik di seluruh dunia.

Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar,  kami  akan terus  melakukan yang terbaik untuk membangun jembatan  antara  dunia Islam dan Barat.

Sebagai  bangsa  dengan sejarah toleransi yang panjang, Indonesia akan  selalu  menyuarakan secara tegas moderasi, yang kami yakini merupakan pelawan terbaik ekstremisme.

Sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, Indonesia  terus memberi  contoh bahwa demokrasi, Islam dan modernitas dapat hidup bersama dalam simbiosis positif.

Sebagai bangsa yang dibangun  atas dasar keharmonisan agama, Indonesia akan menjadi  yang  terdepan dalam kerja sama antar-keyakinan. Tahun depan, Indonesia akan menjadi tuan rumah konferensi Aliansi Peradaban (Alliance of Civilizations) di Bali. Dan kami  secara aktif memajukan  persatuan  diantara agama-agama anak cucu Nabi  Ibrahim sehingga akhirnya dapat hidup bersama dalam damai seutuhnya di Abad ke-21 ini.

Hadirin yang saya muliakan,

Saya ingin meninggalkan satu bahan pemikiran. Membangun masyarakat yang toleran merupakan ranah seni mengelola negara yang baik.

Diperlukan  kombinasi yang tepat  antara  persuasi dan penegakan hukum.  Apabila tindak  kekerasan terjadi,  maka  keadilan harus  ditegakkan.  Namun, dari pengalaman kami di Indonesia,  penegakan hukum semata  tidaklah cukup. Hati dan pikiran juga harus dimenangkan. Stereotip  lama  harus dienyahkan. Budaya toleransi dan pendekatan yang inklusif harus senantiasa didorong.

Dan ini adalah suatu hal yang tidak dapat dilakukan oleh seorang pemimpin semata. Ini adalah sesuatu yang memerlukan upaya bersama dari  sejumlah besar  pemimpin dari semua kalangan dan di semua bidang  untuk  menjalankan kenegarawanannya dalam  memimpin dan menginspirasi para pengikutnya.

Pada akhirnya, pemimpin yang baik adalah mereka yang berani berdiri di garis  terdepan, dan memberikan sinar pengharapan untuk masa depan.

MUI Dukung SBY Terima Penghargaan Internasional

Jakarta (SI ONLINE) – Adanya segelintir Pastur Katolik fundamentalis yang didukung segerombolan tokoh Sepilis (Sekularis, Pluralis dan Liberalis) yang menolak pemberian penghargaan World Statesman Award (WSA) oleh Appeal of Concience Foundation (ACF) dari AS kepada Presiden SBY, sangat disayangkan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sebab hal itu menunjukkan mereka tidak menghargai harmonisasi kehidupan umat beragama di Indonesia yang mayoritas umat Islam dan telah berlangsung dengan sangat baik.

MUI menyampaikan apreasiasi dan penghargaan terhadap rencana pemberian penghargaan tersebut. Karena hakekatnya merupakan pengakuan kepada seluruh bangsa Indonesia khususnya pemimpin agama, yang telah berhasil membina dan menciptakan harmoni kehidupan umat beragama di Indonesia. Penghargaan itu bukan hanya untuk Presiden SBY, tetapi juga seluruh rakyat Indonesia,” ujar Ketua MUI KH Dr Ma’ruf Amin, kepada pers di Jakarta baru-baru ini.

MUI beralasan tidak ada alasan untuk memprotes penghargaan tersebut. MUI memandang kehidupan beragama di Indonesia sudah berjalan dengan sangat demokratis, penuh toleransi dan menjunjung tinggi hak azasi manusia.

KH Ma’ruf Amin menambahkan, penghargaan itu jangan diartikan semata-mata hanya untuk Presiden SBY. Sebab dirinya menilai penghargaan itu bisa berarti lebih untuk rakyat Indonesia. “Tentu Presiden atas nama rakyat. Kita berhak terima itu, termasuk MUI dan masyarakat yang sudah membangun harmoni,” tambahnya.

KH Ma’ruf Amin menganggap, pada hakekatnya penghargaan itu merupakan pengakuan keharmonisan umat beragama di Indonesia. Selanjutnya apa alasan MUI mendukung pemberian penghargaan itu? Alasannya, kata KH Ma’ruf Amin, negara sudah memberikan perlindungan dan jaminan kemerdekaan memeluk agama dan beribadah.

“MUI juga melihat kerukunan agama sudah berjalan demokratis dan toleransi sesuai semangat pasal 29 ayat 2,” tegasnya.  MUI menegaskan dukungannya kepada Presiden SBY yang akan menerima World Statesman Award dari Appeal of Concience Foundation dari AS tersebut.

Menurut KH Ma’ruf Amin, kalau para penentang penerima penghargaan tersebut berdalih di Indonesia sangat sulit untuk mendirikan rumah ibadah terutama gereja, jelas itu tidak sesuai dengan fakta yang ada. Sebab dalam 20 tahun ini, pertumbuhan Masjid paling sedikit jika dibadingkan rumah ibadah lain. Sebab sesuai dengan data Kemenag, pertumbuhan Masjid 64%, gereja katolik 133%, gereja protestan 155%, pura hindu 300% dan vihara budha 450%.

Advertisements

8 thoughts on “Bengcu Menggugat World Statesman Award PRA-aksi Untuk SBY

  1. “Sebab sesuai dengan data Kemenag, pertumbuhan Masjid 64%, gereja katolik 133%, gereja protestan 155%, pura hindu 300% dan vihara budha 450%.”

    Ini kemenag datanya valid tidak ya? Data tahun berapa? Bagaimana rasio tempat ibadah nonmuslim dan penganut nonmuslim?? Apakah sudah memadai??

  2. @AK47, kalo dari 1 juta masjid bertambah 64 ribu masjid jadi total 1.064.000, itu tumbuhnya 64%. Kalo dari 100 vihara bertambah 450 vihara menjadi 550 vihara, pertumbuhannya 450%. Mungkin saja datanya valid, tapi jangan di lihat dari persentasenya, harusnya dijelaskan jumlah pertumbuhannya.

    • Orang-orang membngun rumah ibadah karena MEMBUTUHKAN dan PuNYA uang. umat yang tidak membangun rumah ibadah bisa saja tidak PERLU atau tidak punya uang. mustahil MEMAKSA umat agama lain TIDAK bangun rumah ibadah karena umat saya tidak bangun rumah ibadah.

      • Kan bisa pasang jaring spidermen di setiap jalan dan portal sambil teriak teriak pake TOA “semoga Amal bpk, ibu, di balas oleh yg Kuasa dan semoga selamat sampai di tujuan”

  3. Berikut data dari Kementrian Agama:
    “Data pembangunan rumah ibadah dari tahun 1977 sampai dengan 2004, pembangunan yang paling rendah itu masjid. Dari 392.044 menjadi 643.834 buah. Kenaikannya hanya 64,22%. Sementara pertambahan Gereja Kristen, dari 18.977 buah menjadi 43.909 buah atau naik 131,38%. Gereja Katolik dari 4.934 menjadi 12.473, naik 152,8%. Pura Hindu dari 4.247 menjadi 24.431 atau naik 475,25%. Wihara Buddha dari 1.523 menjadi 7.129, naik 368,09%.” – Suryadharma Ali (Menteri Agama) di gedung parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa 21 September 2010.

    Saya bingung yang manakah jumlah mesjid di Indonesia yang benar, 255.000 ataukah 643.834? Entah Presiden yang menipu atau Menteri Agama yang menipu?
    Bagaimana mereka mengauditnya? Apakah mesjid-mesjid itu dihitung yang hanya memiliki IMB, terus bagaimana yang tidak memiliki IMB? hahahaha
    Dimanakah letak “toleransi beragama” nya kalau dari omongan saja sudah menipu. Pidatonya sungguh bertolakbelakang dengan kenyataan yang ada. Sungguh Ironi. 🙂

    • @Elang bieu, ini negera merdeka dan saya menganut paham kebebasan. Artinya yang belum mampu berapologetika namun merasa mampu untuk menjelek-jelekkan hai hai bolah boleh saja ikut mengkmpanyekan hai hai. ha ha ha ha ha ….. yang rajin melakukan kampanye hitam juga hai hai perlakukan sebagai PELANGGAN. bukankah merekalah yang paling GETOL membaca dan paling TELITI membaca dan paling GETOL menguji tulisan-tulisan hai hai? Itu sebabnya saya tidak pernah tidak menyukai orang-orang demikian. ha ha ha ha ha …..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s