Seikat Kembang Ke Tempat Sunyi


GAMBAR: deviantart.com

Pada salah satu hari Minggu di tiap bulan, saya selalu menyempatkan diri mengunjungi tempat sunyi di pinggir kota itu. Banyak sahabat yang kerap bertanya, “mengapa?” Banyak pula kenalan yang mengernyitkan dahi tak mengerti. Demikian pula, seperti dunia memiliki sisi gelap dan terang yang selalu berdampingan, para penentang pun mencibir sinis. Bagi  mereka apa yang saya lakukan sia-sia belaka. Orang yang sudah pergi ke alam baka tak mungkin lagi menyapa yang di alam dunia.

Saya telah melalui waktu yang bukan sebentar untuk belajar mengabaikan cibiran-cibiran. Biarlah mereka pada pandangnya. Saya tak hendak mengubah itu. Mereka hanya belum memahami bahwa kunjungan rutin ke pusara kekasih bukan untuknya, namun untuk saya. Untuk saya! Ada kebutuhan akut akan sebuah penanda bahwa saya pernah demikian dicintai; pernah istimewa dalam kesederhanaan saya. Satu pengingat untuk terus bersyukur bahwa Tuhan pernah mengirim seseorang yang istimewa dan mengistimewakan saya yang biasa saja. Bukankah semua orang setuju indahnya rasa itu?

Maka, sekuat, sekeras, dan selantang apa pun anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Hingga kini, belasan bulan telah berlalu saya tetap membawa seikat kembang ke tempat sunyi itu. Berlama-lama menyiangi dedaunan dari tangkai aster, krisan, mawar ataupun gerbera yang kadang berwarna cerah kesukaannya, atau putih kesayangan saya. Perlahan mengganti air dalam jambangan keramik berleher tinggi yang khusus saya sediakan di bawah salib kayu bertuliskan namanya. Lalu, sambil bersenandung, saya menata kembang-kembang itu — tangkai demi tangkai. Hanya dia yang pernah memuji senandung dan sentuhan saya sebagai sesuatu yang sejuk dan menyembuhkan.

Sekali lagi, saya melakukannya bukan semata untuknya, tetapi demi sebuah alasan egois — untuk saya. Karena setiap kali berada di sana dan kembali melakukan hal-hal kecil untuknya saya pun ingat untuk bersyukur kepada Allah atas kebaikan-Nya memberi kesempatan bagi saya yang biasa ini untuk merasa istimewa karena dicintai.

“Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu. Dan setiap kali aku berdoa untukmu semua, aku berdoa dengan sukacita.” (Filipi I: 3-4)

Bengcu Menggugah:

Dini hari dia menyapaku setelah puluhan bulan tak ada lagi puisinya yang membuatku laksana anak SMA mengagumi dandanan pacarnya. Ketika sang gadis jatuh cinta, dia pun lupa cara menulis puisi cinta sebab rasa terlalu membara. Yang ingat pun takkan cerita sebab terlalu sibuk merasa-rasa.

“Dia meninggal, padahal kami akan menikah, om,” tulisnya di jendela FB-ku. Diam. Bulu kudukku meremang, hatiku gamang, kepalaku remang, nafasku sungsang. Ingin memeluknya sehingga tak ada lagi celah tuk kata, kamu dan aku, namun dia jauh. Ingin menghiburnya namun bagaimana? Aku diam dan berharap dia tak harapkan apa pun dariku sebab selain ikut merasa sedih aku tak punya apa pun untuknya. Dia sahabatku.

Perpisahan. Tidak ada ketika yang tepat untuk perpisahan. Terlalu cepat! Aku belum siap! Peduli setan apa katamu, perpisahan sudah terjadi dan yang berpisah sedih sekali apalagi yang tidak akan bertemu lagi seumur hidupnya di dunia ini. “Jangan menangis, sebab dia ke sorga,” adalah lelucon karena masalahnya bukan dia mau KE MANA namun kami  BERPISAH.

gadis: Sekali lagi, saya melakukannya bukan semata untuknya, tetapi demi sebuah alasan egois — untuk saya. Karena setiap kali berada di sana dan kembali melakukan hal-hal kecil untuknya saya pun ingat untuk bersyukur kepada Allah atas kebaikan-Nya memberi kesempatan bagi saya yang biasa ini untuk merasa istimewa karena dicintai.

Nona, izinkan aku menyimpan RASA-mu ini di rumah  mayaku agar orang-orang yang bertamu, tahu, maut mengalahkan tubuh namun tidak menghapus rindu. Bila saat itu tiba, kuingin kau ingat ucapku ini, “menyayangi ayah tidak mengurangi sayang kepada ibu.” Saat itu kau kan mengerti.

Advertisements

6 thoughts on “Seikat Kembang Ke Tempat Sunyi

  1. suhuuu….ini sperti bukan hnya terdiri dari 1 kisah seseorang aja…kyk kumpulan dari beberapa kisah getu…bener ga?? 😀

  2. 1996-2002
    Saat itu aku masih kuliah awal semester 5 di salah satu PTN ternama di Sumut. Ceritanya baru pulang ‘camping’ dari Bukit Lawang(di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser) sebagai puncak acara ospek mahasiswa baru.
    Pulang dari sana bersama rombongan sampai di Medan, saya melanjutkan naik angkot menuju rumah kost. Ketika di angkot aku duduk berhadapan dengan seorang gadis cantik dengan pakaian rok panjang hitam, baju bermotif bunga2 kecil warna oranye(sepertinya baru pulang kebaktian sore karena dia pegang tas yang berisi alkitab). Lama aku curi2 pandang dan akhirnya dengan segala segala cara saya berhasil berkenalan dengan dia sampai saya berhasil mencari tahu alamatnya. Beberapa hari kemudian saya bertamu kerumahnya dan ternyata Mery juga masih ingat saya. Perkenalan kami berlanjut samapi saya akhirnya ikut gabung kebaktian rutin di gerejanya sampai saya juga ikut diperkumpulan pemuda/i gereja tersebut bersama Mery.
    Lama berlalu akhirnya aku ungkapkan rasa cintaku yang sudah bergejolak membara kepada Mery. Awalnya Mery ragu namun akhirnya cintaku diterima.
    Belakangan ada kabar yang sangat membuat kami berdua sedih. Dokter memvonis Mery mengidap ‘Chronic myeloid leukemia’ (CML) yang tidak berapa lama langsung menggerogoti tubuhnya yang cantik sampai tinggal kulit dan tulang. Aku menangis.
    Awalnya aku masih tetap mendampingi dia melalui hari hari-hari Mery yang menderita dan aku temani dia setiap mau ke dokter untuk cek-up.
    Hari berlalu, kesehatanya makin memburuk. Sementara aku harus memfokuskan diri untuk menyelesaikan tugas akhir(skripsi)ku. Aku putuskan untuk melupakannya dulu sampai skripsiku selesai. Satu tahun berlalu, aku sudah tamat dan wisuda. Aku kembali merindukan Mery dan berniat untuk menemui dia dirumah orangtuanya. Namun ketika bermaksud mau kesana kebetulan saja aku bertemu kakak laki-lakinya di warung kopi dan menanyakan kabar adiknya Mery.
    “Mery sudah tinggal di Pemda, lae…”
    “Maksud lae?”
    “Dipekuburan Pemda, Mery sudah hampir satu tahun tidur tenang disana”
    Terus terang saya tidak begitu kaget lagi mendengarnya karena tahu benar betapa parahnya penyakit Mery.
    Mery, kamu sudah tenang bersama Bapa yang kekal. Kini aku sudah dapat pendamping yang tidak kalah hebat dengan cintamu dulu.

    Namun sampai saat ini saya belum pernah ke pusaranya…..

    hai hai, maafkan aku karena sudah mencoret-coret laman blogmu ini, walaupun tidak sampai mengoyaknya hehehehe….
    Terimakasih hai hai…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s