Kue Bola


kue bola“Kue bola!” teriaknya berulang-ulang. Umurnya empat puluh tahunan. Logat Hokkien Bagansiapiapinya kental sekali. Sangat pendiam. Kepada pembeli dia hanya mengangguk, tidak mengucapkan terima kasih.

Tubuhnya kurus. Daster tuanya bersih meskipun pudar warnanya.  Kulitnya legam terbakar matahari. Tangan kanan dan kirinya menjinjing keranjang rotan antik bergantian. Di dalamnya kue bola dipajang, ditutup dengan taplak meja kusam.

“Kue bolanya nggak enak.” Pembeli selalu mengeluh. Kue bolanyapun tidak laku. Bila sedang di rumah, dalam satu hari aku melihatnya lewat berkali-kali. Berjalan lambat sambil berteriak, “Kue bola!”

Aku tidak pernah membeli kue bolanya bahkan tidak pernah mencoba yang dibeli teman-teman. Keluargaku tukang kue. Hanya dengan melihat wijennya dan warnanya aku pun tahu kualitas kue bolanya.

Entah kenapa. Suatu sore, dia menghampiriku yang sedang nongkrong di tukang bakmi. Menyingkap kain penutup keranjang, kue bolanya masih penuh. Tidak laku. Ia menatapku. Tidak ada kata-kata. Dia hanya berteriak seperti biasanya, “Kue bola!”

Saat itu aku masih kuliah dan tinggal di gudang salah satu kerabatku. Membalas tatapannya kata-kata mama pun bergema di hatiku, “Mama melakukannya supaya kamu tidak perlu mengerjakannya.”

Aku mengangguk lalu merogoh semua uang di  kantongku untuk membeli kue bolanya. Kupilih yang warnanya lebih tua. Sisa kue bola tidak laku yang digoreng lagi. Menghitung jumlah yang kubeli dia bertanya heran, “banyak sekali?” Dia menukar beberapa kue bola yang kupilih dengan yang warnanya lebih muda. Kue bola produksi hari ini. Tertawa kecil aku berkata, “Untuk makan malam. Lebih enak makan kue bola dari pada makan nasi sama garam.”

Mengucapkan “Terima kasih besar sekali!” dia pun pergi. Aneh. kepadaku dia boros kata-kata sekali hari ini. Biasanya dia tidak pernah mengucapkan terima kasih kepada pembelinya apalagi ngajak ngobrol.

Temanku menyebutku goblok karena memborong kue bola paling nggak enak di dunia. Teman yang lain menghina selera ku rendahan. Bahkan pelanggan toko bakmi yang tidak kukenal pun ikut mengecamku. Aku mengambil kue bola yang warnanya lebih muda dan menyuruh temanku mencobanya. Aku mengambil yang warnanya paling tua lalu melahapnya. Aku memilih yang warnanya muda untuk tamu toko bakmi yang mau mencobanya.

Sambil menahan nafas agar tidak terlalu merasakan rasa kue bola, aku berkata, “Perempuan itu wajahnya jelek sekali. Konon, nasibnya lebih jelek lagi. Bila kue bola jualannya tidak habis maka suaminya akan menghajarnya habis-habisan. Minimal, jumlah pukulannya sama dengan jumlah kue bola yang dia bawa pulang. Kasihan sekali.”

Sejak hari itu, teman-temanku sering mentraktirku makan kue bola bahkan membujukku untuk membelinya pula. Ketika aku mengeluh kue bolanya nggak enak, teman-temanku biasanya berkilah. “Dia bukannya tidak bisa bikin kue bola enak, namun sengaja membuat kue bola murah. Kalau nggak percaya, lu bisa pesan kue bola yang enak kepadanya.”

Meskipun sering sekali menceritakannya namun teman-temanku nggak pernah bosan untuk menceritakannya lagi dan lagi. Sambil menghela nafas getun, umumnya mereka berkata, “Perempuan tukang kue bola itu. Wajahnya memang jelek namun nasibnya lebih jelek sekali. Bila kue bolanya nggak habis, maka dia pun dihajar suaminya habis-habisan. Konon, bukan hanya menghajarnya, suaminya bahkan menyuruh anak-anaknya turut serta menghajarnya. Hal demikian, mana boleh dibiarkan?”

“Kue bola!” teriakannya sangat khas. Aku bahkan masih ingat logat Hokkien Bagannya. Seperti aku, teman-temanku pun tidak tahu di mana rumahnya sejak dulu dan mereka pun tidak tahu di mana rimbanya sekarang? “Sudah lama sekali tidak melihatnya dan mendengar teriakannya menjajakan kue bola.”  Jawab mereka ketika ku tanya. “Untuk apa lu cari dia?” tanya mereka heran. Menjawab mereka, aku pun terbahak-bahak. “Semoga suaminya mengampuniku!” Ha ha ha ha ha ha ha ……. “Gila lu ya?”

“Kue bola!” Teman-temanku mengakuinya. Setiap kali melihat kue bola mereka seolah mendengar teriakannya, “Kue bola!” Mereka makan kue bola untuk membandingkan rasanya dengan kue bola perempuan itu. Bila kue bolanya enak, mereka memuji, jika tidak enak mereka tersenyum maklum dan melahapnya sampai habis. Bila diharuskan menjawab, mereka pun menirukan teriakan perempuan itu, “Kue bola.” Lalu menjelaskan, “Bukannya tidak bisa bikin yang enak, namun sengaja membuat kue bola yang murah.”

NB.
Aku teringat kisah ini dan terpacu untuk menceritakannya ketika melihat foto kue bola yang diunggah oleh P Dwi Christina di wall FB-nya.

2 thoughts on “Kue Bola

  1. gw jadi ingat 30 th ylll ada cina bagan jual bolabola rasanya enak bukan onde2 spt yg dimaksud haihai tapi isinya kacang tanah bukan kacamg ijo dan kulitnya digoreng sampe coklat tanpa wijen.sekarang gak pernah nemuin makanan kayak gitu lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s