Megawati Soekarnoputri Di Mata Seorang Tionghoa Kristen


Gambar: gudinnapandora.

Prabowo Subianto yang terhormat, mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, izinkan saya berkata, “Dikibulin nich ye?” Sebagai Ketua Dewan Pembina Partai GERINDRA yang KECIL saja anda dikibulin, apalagi jadi presiden Republik Indonesia? Untuk masalah SEPELE saja anda CEROBOH (ceroboh atau kurang cerdas?) bagaimana dengan masalah BANGSA? Setelah DIKIBULIN politisi PDI Perjuangan alih-alih MAWAS diri dan MENGAKUI kebodohan sendiri anda justru menyalahkan orang lain? TERLALU! Prabowo Subianto yang mulia, sekali lagi, mohon maaf tanpa mengurangi rasa hormat, saya MUSTAHIL mempercayakan jabatan Presiden Republik Indonesia kepada anda. Saya tidak PERCAYA anda MAMPU memimpin Republik Indonesia.

Setelah membaca blog “Bengcu Menggugat Kesepakatan Batutulis Di Mata Seorang Tionghoa Kristen” yang paragraf penutupnya saya kutip di atas, banyak yang langsung menarik kesimpulan Megawati Soekarno Putri dan para politikus senior PDI Perjuangan dengan kepiawaiannya telah MENGAKALI  Prabowo Subianto dan para politikus Partai GERINDRA yang kurang pengalaman. Benarkah hal demikian  yang terjadi? Kita akan mengujinya dengan teliti dan hati-hati.

Akal-Akalan Kesepakatan Batutulis?

Pada tahun 2009, ketika Kesepakatan Batutulis dibuat, Megawati adalah Ketua Umum PDI Perjuangan periode 2005-2010. Ketua Umum dan DPP (Dewan Pimpinan Pusat) PDI Perjuangan periode 2005-2010 tidak BERWENANG untuk MENENTUKAN calon Presiden PDI Perjuangan tahun 2014. Yang BERHAK menentukan calon Presiden PDI Perjuangan tahun 2014 adalah KONGRES III PDI Perjuangan yang BARU akan dilaksanakan tahun 2010.

Kesepakatan MENDUKUNG Prabowo menjadi calon Presiden 2014 MUSTAHIL dibuat antara PDI Perjuangan yang belum Kongres III PDI Perjuangan tahun 2010 dan Partai Gerindra. Juga mustahil dibuat antara Ketua Umum PDI Perjuangan yang baru memiliki hak prerogatif menentukan calon presiden 2014 dari Kongres III PDI Perjuangan tahun 2010 dan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra. Itu sebabnya dibuat antara Megawati Soekarno Putri calon Presiden 2009 dan Prabowo Subianto calon wakil presiden 2009.

Dengan melihat FORMAT Kesepakatan Batutulis 2009 dan berkali-kali pengakuan Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hasyim Djojohadikusumo kepada mas media bahwa dirinyalah konseptor Surat Kesepakatan Batutulis maka ditarik kesimpulan bahwa awalnya Kesepatan Batutulis dibuat antara PDI Perjuangan dan Partai GERINDRA makanya diberi judul:

KESEPAKATAN BERSAMA PDI PERJUANGAN DAN PARTAI GERINDRA DALAM PEMILIHAN UMUM PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA 2009-2014

Namun ketika pihak Prabowo MEMAKSAKAN butir 7 yaitu “Mendukung pencalonan Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pemilu Presiden tahun 2014” maka Kesepakatan pun mustahil dibuat antara PDI Perjuangan dan Partai GERINDRA juga tidak mungkin dibuat atas nama Ketua Umum PDI Perjuangan dan Partai GERINDRA begitu pula dengan Ketua Umum PDI Perjuangan dan Ketua Umum Partai GERINDRA. Itu sebabnya Kesepakatan pun lalu dibuat antara:

Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden dan Prabowo Subianto sebagai calon wakil presiden.

Kenapa Kesepakatan Batutulis yang dibuat antara Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden dan Prabowo Subianto sebagai calon wakil presiden diberi judul “KESEPAKATAN BERSAMA PDI PERJUANGAN DAN PARTAI GERINDRA DALAM PEMILIHAN UMUM PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA 2009-2014”?

Nampaknya pihak Prabowo yang menghendaki judul “KESEPAKATAN BERSAMA PDI PERJUANGAN DAN PARTAI GERINDRA” dengan tujuan menimbulkan KESAN itu memang kesepakatan BERSAMA PDI Perjuangan dan Partai GERINDRA.

Kemungkinan besar pihak Megawati yang menambahkan, “DALAM PEMILIHAN UMUM PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA 2009-2014” Dengan harapan bila pihak Prabowo gembar-gembor itu adalah kesepakatan bersama PDI Perjuangan dan Partai GERINDRA maka HANYA “Dalam Pemilu Presiden NKRI tahun 2009-2014 saja.”

Nampaknya pihak Megawati yang menambahkan sub judul “Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden dan Prabowo Subianto sebagai calon wakil presiden.” Untuk MEMASTIKAN bahwa itu BUKAN kesepatakan Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan namun sebagai CALON presiden 2009.

Kerabatku sekalian, berdasarkan PENGAKUAN Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hasyim Djojohadikusumo dan fakta-fakta yang tercatat di dalam Kesepakatan Batutulis nampak gamblang sekali, MUSTAHIL Megawati Soekarnoputri dan para politikus senior PDI Perjuangan, dengan kepiawaiannya MENGAKALI Prabowo Subianto dan para politikus Partai GERINDRA.

Tuduhan “Politikus PDI Perjuangan ngibulin Politikus Parta GERINDRA” adalah pepesan kosong karena Kesepakatan tersebut dibuat dan diteken dalam kondisi sehat jasmani dan rohani serta akal budi.

Megawati INGKAR Janji?

Saya percaya Kwik Kian Gie adalah orang JUJUR. Kwik Kian Gie tidak pernah mengagul-agulkan Megawati Soekarnoputri sebagai pemimpin yang HEBAT namun dia sering bersaksi tentang KEJUJURAN dan KESETIAAN Megawati Soekarnoputri. Itu sebabnya saya percaya meskipun sering ragu bahwa Megawati Soekarnoputri walaupun bukan pemimpim yang HEBAT namun SETIA dan JUJUR.

Kongres II PDI Perjuangan 2005 di Bali menetapkan Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan 2005-2010 dan calon Presiden tahun 2009. Meskipun Kongres III PDI Perjuangan 2010 di Bali menetapkan Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan 2010-2014 namun tidak menetapkannya sebagai calon presiden 2014. Kongres memberi hak PREROGATIF kepada Ketua Umum PDI Perjuangan 2010-2014 untuk menetapkan calon presiden tahun 2014.

Megawati Soekarnoputri dibesarkan dalam tradisi Jawa dan Marhaen, itu sebabnya meskipun sebagai Ketua Umum dia mengemban hak PREROGATIF menetapkan calon presiden namun mustahil dia ujug-ujug menetapkan dirinya sendiri sebagai calon presiden. Bila memang berambisi maka Rakernas PDI Perjuangan 6-8 September 2013 di Ancol Jakarta adalah tempatnya. Namun dari ke 17 rekomendasi Rakernas PDI-Perjuangan, tidak ada satu pun yang merekomendasikan Megawati Soekarnoputri menjadi calon presiden 2014.

Keputusan Rakernas PDI Perjuangan 6-8 September 2013 adalah BUKTI Megawati tidak berambisi menjadi calon presiden 2014. Namun saat itu saya menyangka Megawati Soekarnoputri kehilangan nyali untuk menyatakan ambisinya menjadi calon presiden 2014. Juga para politikus PDI Perjuangan tidak punya keberanian untuk mengingatkan Megawati  Soekarnoputri bahwa ditolak mentah-mentah dalam Pemilu Presiden 2004 dan 2009 adalah bukti sebagian besar RAKYAT Indonesia tidak menghendaki Megawati Soekarnoputri menjadi Presidennya.

Pada bulan Desember 2013, saya membaca di mas media, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hasyim Djojohadikusumo mulai kasak-kusuk tentang Kesepakatan Batutulis untuk mendukung Prabowo Subianto menjadi calon Presiden 2014.

Pada tanggal 6 Januari 2014, setelah mengikuti perayaan Natal PGI di rumah Ketua Umum PGI, saya dan teman-teman bertamu ke rumah seorang pendeta. Sabam Sirait, salah satu pendiri PGI (Persekutuan Gereja-Gereja Di Indonesia) yang juga pendiri PDI Perjuangan dan sudah delapan kali menjadi anggota DPR serta mencalonkan diri menjadi anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah) tahun 2014 hadir pula di sana.

Disela-sela ngobrol sana-sini, Sabam Sirait minta tolong kami mendukungnya dalam doa agar ibu Mega MAU membantu orang lain menjadi presiden tahun 2014. “Berdoa agar Megawati tahu diri bahwa dua kali ditolak mentah-mentah artinya kebanyakan rakyat menolak dia jadi presidennya?” Tanyaku. Seseorang bertanya pula, “Berdoa agar Megawati tidak mencalonkan diri lagi?” Sabam Sirait menjawab pertanyaan kami kata demi kata, “Berdoa agar ibu Mega MAU membantu orang lain menjadi presiden tahun 2014.”

Ketika kami menatapnya penuh tanya dan saya sempat beradu pandang dengannya, pak Tua itu mengulangi kalimatnya dengan mantap, “Berdoa agar ibu Mega MAU membantu orang lain menjadi presiden tahun 2014.” Saya ngakak senang karena mengerti ucapan orang tua bijaksana itu. “Megawati tidak akan mencalonkan diri jadi Presiden tahun 2014 namun MENOLAK untuk membantu orang lain untuk menjadi presiden 2014.” Siapakah orang lain itu? Prabowo atau Jokowi.

Kenapa ibu Mega TIDAK mau membantu orang lain untuk menjadi presiden 2014? Karena dia berhutang JANJI kepada Prabowo namun berhutang PENGABDIAN kepada kader PDI Perjuangan yang mendukung Jokowi.

Kwik Kian Gie benar-benar jujur ketika bersaksi ibu Mega adalah orang JUJUR dan SETIA karena Megawati Soekarnoputri memang JUJUR dan SETIA. JUJUR makanya tidak merekayasa apa pun dan SETIA itu sebabnya berusaha menaati itu sebabnya berusaha menaati Kesepakatan Batutulis 2009 dengan menjadi Ketua Umum PDI Perjuangan periode 2010-2015 dan mendapatkan mandat hak PREROGATIF menetapkan calon presiden 2014.

Bila demikian kenapa akhirnya Megawati Soekarnoputri menetapkan Jokowi sebagai calon presiden? Menurut saya, pertama, karena Megawati tahu KUALITAS Jokowi lebih baik dari Prabowo. Jokowi adalah seorang pedagang yang hidup dengan prinsip tawar-menawar agar saling menguntungkan atau saling rugi sesedikit mungkin. Prabowo adalah seorang tentara yang hidup dengan prinsip menghalalkan segala cara agar lebih baik pulang nama dari pada KALAH.

Sebagai anak Soekarno, Megawati hidup dengan prinsip kepentingan PDI Perjuangan di atas kepentingan pribadi. Kepentingan Republik Indonesia di atas kepentingan peribadi. Itu sebabnya Soekarno memilih diam ketika didzolimi Soeharto. Sebagai murid Gusdur Megawati sudah belajar bahwa kepentingan orang banyak lebih penting dari kepentingan pribadi. Itu sebabnya Gusdur memilih mundur ketika menghadapi pemakzulan (impeachment) DPR.

Kedua, ada rakyat Indonesia yang menghendaki dan ada pula yang menolak Jokowi menjadi presiden NKRI tahun 2014. Berapa banyak yang menghendaki dan berapa banyak yang menolaknya? Yang menghendaki Jokowi menjadi presiden bukan hanya anggota PDI Perjuangan. Yang menghendaki Jokowi menjadi presiden bukan hanya penduduk DKI. Yang menghendaki Jokowi menjadi presiden jumlahnya lebih banyak dari anggota PDI Perjuangan. Yang menghendaki Jokowi menjadi presiden jumlahnya lebih besar dari penduduk DKI. Itu sebabnya Megawati Soekarnoputri HARUS memilih.

Menurut anda, Megawati harus MENJEGAL keinginan rakyat yang menghendaki Jokowi menjadi calon presiden 2014 demi memenuhi Kesepakatan Batutulis yang dibuatnya tahun 2009?

Atau, menurut anda, Megawati harus MELANGGAR Kesepakatan Batutulis 2009 untuk memenuhi KEINGINAN rakyat yang menghendaki Jokowi menjadi calon presiden 2014?

Bersambung!

16 thoughts on “Megawati Soekarnoputri Di Mata Seorang Tionghoa Kristen

      • Yah begini kalau masih rasis menyebut dirinya dgn kesukuan nya apalagi bicara kebangsaan harus nya kalau bicara kebangsaan jangan bicara kesukuan apalagi agama kecuali ada yg menanyakan kesukuan atau agama anda, ini bukan bibit yg merusak NKRI ini BOnGKOt nya pemecah NKRI

        • kisanak, kisanak, coba baca blog ini dengan teliti dan hati-hati. Sebelumnya berdoa dulu minta pencerahan, bira ngerti, gitu lho. di dalam blog ini hai hai tidak bicara AGAMA dan SUKU namun bicara Megawati dan Kesepakatan Batutulis, tolol.

  1. OOOOooooo Walaaahhhhh……. RUPANYA tulisan Haihai Bengcu ADA KEPENTINGAN TERSENDIRI antara Ketua Umum PGI dan Partai PDI-P dan mungkin GKI (Yasmin)……..

    yaaaa….. SAYANG SEKALEEEEEE…….. L.A.njutkan……. selamat “bermain-main” aja daaaaahhh……. hahahahahahahah😀

    • PGI tidak ada hubungan dengan PDI Perjuangan. Saya tidak punya hubungan dengan PDI Perjuangan, Juga tidak punya hubungan apa pun dengan PGI. Tentang PEMILU seperti yang sudah saya katakan, hai hai MEMILIH orang tidak memilih PARTAI. Itu sebabnya saya mendukung Sabam Sirait untuk menjadi DPD dan mendukung Milchior Kamil menjadi caleg DPRD dapil 9. Saya juga mendukung Ridwan Kamil di Bandung, mendukung Kofiffah di JATIM. GKI Yasmin? hai hai memang anggota GKI dan mendukung GKI Yasmin sejak tahun 2011.

  2. Intinya pada Kwalitas …
    Tentunya Megawati SP dan senior2 politik PDI lainnya kan pinter2 … Bisa membedakan mana yg berkwalitas lebih baik mana yg tidak….3 kata kunci yg rasa perlu dicamkan oleh masyarakat Indonesia 1. Bibit 2. Bebet 3. Bobot Calon pemimpin. Hidup Jokowi dan Ahok, ayoo…dukung Jokowi jadi RI-1….

    • Mawar Zendrato, tumben nich si cantik menyempatkan diri untuk mampir dan komentar. ha ha ha ha … Anda benar. BOBOT dan BEBET sangat penting dalam mencari pemimpin.

  3. Bermula dari pencapresan 2009 – 2014. Partai PDIP dan Gerindra berkoalisi mencalonkan ketua partainya sebagai capres periode 2009 – 2014. Yang namanya bertanding, tidak ada kata “pasti menang”. Yang menang satu hari kelak, jika terus bertanding, “pasti kalah” juga dari lawan politiknya. Kata “menang dan “kalah” adalah relatif. Sangat bergantung kepada situasi dan keadaan politik dan harapan masyarakat. Yang kalah, satu hari kelak tidak munutp kemungkinan akan “menang” dalam pemilu berikutnya.

    Tujuh butir Perjanjian Batu Tulis (PBT) saling kait berkaitan. Perjanjian tersebut dapat dipandang sbb:

    1. Perjanjian pribadi tanpa melibatkan partai.
    2. Perjanjian akal-akalan bagi keduanya.

    Jelaslah, melihat isi PBT tsb menggambarkan indikasi kecerobohan dan bersifat akal-akalan. Siapa cepat ia dapat. Dapat apa? Dapat mendulang keuntungan dengan cara membodoh-bodohi kesepakatan PBT. Butir 2 dan butir 7 jelas bertentangan dengan akal sehat. Isi kesepakatan perjanjian tsb disebut kesepakatan pencapresan periode 2009 – 2014. Tidak ada hubungannya dengan pencapresan 2014 – 2019. Mencantumkan butir 7 merupakan arogansi dan memperkosa butir 2 yang jelas-jelas mengatakan “jika terpilih”, tentunya menjadi presiden dan wakil periode 2009 – 2014. Mengingat terdapat kata “jika terpilih” pada butir 2, maka memasukkan butir 7 pada PBT yang berbunyi, “Megawati Soekarnoputri mendukung pencalonan Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pemilu Presiden tahun 2014,” merupakan kesombongan besar beranggapan bahwa pemilu 2009 “PDIP PASTI MENANG”. Dan kepastian itu ditindaklanjuti dengan dukungan kepada Probowo sebagai Presiden berikutnya. Jelaslah ini adalah menggunakan kecerdasan yang berpotensi akal-akalan. Ibarat melihat pasar, mengkin menurut perkiraan pasar tahun 2009, masyarakat memilih Megawati sebagai presiden, dan Prabowo bisa ikut mendompleng sebagai wakil presiden. Barangkali saja, pada masa depan di tahun 2014 rakyat menginginkan Prabowo menjadi presiden, maka dengan sigap Megawati bisa mendompleng jadi wakilnya. Bisakah hal ini terjadi? Bisa saja. Tinggal tukaran posisi saja kok! Loh kok bisa? Yah namanya aja urusan pribadi, yah boleh-boleh aja. Membuat kesepakatan perjanjian ngawur aja bisa kok?

    Berikut kutipan dari hhb https://bengcumenggugat.wordpress.com/2014/03/19/bengcu-menggugat-kesepakatan-batutulis-di-mata-seorang-tionghoa-kristen/ dengan pencoretan kata”tidak” dan penambahan kata “tidak”:

    Kesepatakan butir 7 “ “ menjadikan kesepakatan butir ke 2 sebagai PRASYARAT. Itu sebabnya meskipun GAGAL menjadi Presiden RI periode 2009-2014 namun Megawati Soekarnoputri “tidak” terikat pada kesepakatan untuk mendukung pencalonan Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pemilu Presiden tahun 2014.

    Jadi, siapa membodohi siapa?🙂

  4. tak ada yg perlu di jegal dan di langgar oleh Megawati…lebih baik memilih diam. Semoga terpilihnya Jokowi sebagai presiden memiliki dampak yg besar bagi kehidupan beragama di negri ini…terlebih untuk kasus GKI Yasmin yg menjadi bagian dari perjuangan ko Haihai🙂

  5. Gile lu om hai-hai …. bisa juga nih nganalisis politik. Ditunggu ulasannya mengenai Jokowi om.

  6. Salam kenal, pak. Dapat tautan tulisan bapak dari sosmed dan tidak menyesal telah menyempatkan diri mampir dan membaca. Benar-benar “asyik” analisisnya. Cerdik. Mudah2an saya bisa membuat tulisan sebagus ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s