Tiga Pendekar Kelas Kambing Tersesat Di Ranu Kumbolo


Gambar: Frida

Kami memutari pinggang bukit di mana jalan setapak menurun diapit tebing di sebelah kanannya dan jurang disebelah kirinya. Perlahan-lahan cahaya lampu puluhan tenda di pandai danau Ranu Kumbolo pun menghilang dari pemandangan. Tiba-tiba Mprit memberi tanda kepada Wiwik yang berjalan di depannya untuk berhenti lalu bertanya kepadaku, “Kolonel, kita turun di sini?” Saya memandang ke arah yang ditunjuknya. Cahaya senter kepala menunjukkan sebuah jalan setapak tiga jalur menukik tajam ke dasar lembah. Saya lalu mengarahkan pandangan ke jalan di depan dan mempirkirakan arahnya dengan membandingkannya dengan bebukitan di depan. “Tidak. Kita tidak memasuki Ranu Kumbolo dengan terjun ke dalam lembah namun memasuki mulut lembah yang landai. Saya yakin jalanan ini akan membawa kita ke mulut lembah Ranu Kumbolo.”

“Kolonel, ada dua jalan. Kemana kita?” Kembali Mprit bertanya. Sebuah bukit menjulang di depan kami. Jalan yang ke kiri menanjak, dengan membandingkannya dengan bukit maka jalan itu akan mengitari pinggang bukit bagian kiri ke kanan. Jalan yang ke kanan menurun memasuki lembah antara bukit yang sudah kami putari pinggangnya tadi dan bukit di depan kami.

Danau Ranu Kumbolo ada di sebelah kiri kami. Berdasarkan akal sehat, kalau jalan ke kanan itu mengarah ke Ranu Kumbolo maka kami harus memutari bukit di depan dari kanan ke kiri. Hanya pendaki bodoh yang akan membuat jalan demikian, karena jalan yang harus ditempuh akan jauh sekali.  Saya yakin, jalan yang di sebelah kiri ada di bibir lembah di mana danau Ranu Kumbolo menghampar di bawahnya. Meskipun saat ini menanjak, namun jalan itu akan segera menurun kemudian memasuki lembah Ranu Kumbolo. Itulah pertimbangan saya agar kami menempuh jalan yang kiri.

Meskipun jalan yang menanjak memutar ke kanan menjauhi lembah Ranu Kumbolo membangkitkan keraguan, namun saya yakin jalan itu menuju mulut lembah. Itu sebabnya ketika Mprit bertanya saat menemukan jalan setapak menukik tajam ke dalam lembah, saya memutuskan untuk terus mendaki.

Cahaya lampu tenda dan suara orang ngobrol di dasar lembah yang semakin menjauh semakin membangkitkan keraguan. Kami berteriak ke dalam lembah, ke arah tiga buah tenda di dasar lembah dan mendapat jawaban. Kami bertanya tentang Shelter Ranu Kumbolo dekat Tanjakan Cinta namun dijawab tidak tahu. Kami bertanya tentang danau Ranu Kumbolo dan mereka bilang sedang ada di tepi danau. Lebih baik menyesal karena melakukan sesuatu dari pada menyesal karena tidak melakukannya. Itulah alasan saya menyetujui usul Mprit untuk turun ke dasar lembah. Selain bisa membuktikan sendiri medan di lembah kami juga bisa berkomunikasi lebih baik dengan penghuni tiga tenda di dasar lembah itu. “Jam berapa?”  Tanya saya kepada Bebek. “Jam 19.30.” Jawab Wiwik.

Saya menandai batu besar di sebelah kanan jalan setapak kami turun dengan mengikat serumpun rumput. Bila ternyata jalan turun ke lembah bukan jalan yang benar, maka batu besar dan rumput terikat itu akan menjadi batu penjuru kami menempuh jalan yang benar. Ketika sampai di lembah orang yang kami temui tidak memberi informasi sama sekali. Dia hanya memberitahu kami bahwa tadi ada orang yang lewat menyusuri tepi danau. Kami pun menyusuri tepi danau. Awalnya jalan yang kami tempuh mudah namun semakin lama semakin sulit. Tanpa perlu kompromi, kami langsung berbalik. Menyusuri tepi danau pada malam hari, terlalu berbahaya. Di samping itu, saya kami semua belum pernah mendengar kisah pendaki Semeru menyusuri tepi danau untuk sampai ke pantai perkemahan Ranu Kumbolo.

Di atas lembah kami melihat lampu-lampu senter dari rombongan lain yang sedang berjalan di jalan setapak yang kami jalani tadi. Ketika melihat sebuah jalan mendaki, kami pun menempuhnya dengan harapan jalan itu akan memimpin kami ke jalan setapak di atas. Setelah menempuhnya beberapa saat, kami harus gigit jari sebab jalan itu buntu. Kami pun memutuskan untuk kembali karena terlalu berbahaya untuk terus memanjat ke atas. Entah medan seperti apa yang menghadang di atas sehingga orang-orang yang menempuh jalan tersebut sebalumnya memutuskan untuk kembali. Kami kembali ke jalan semula dan mendaki lewat jalan kami turun tadi.

Setelah sampai di jalan setapak semula, kami duduk beristirahat dengan nafas memburu. Saya bertanya, “Jam berapa?” Ketiganya, si Bebek, Mprit dan Wiwik langsung melihat jam di pergelangan tangan mereka. “20.45.” Jawab ketiganya hampir bersamaan. Ho ho ho …. Kami menghabiskan 1 jam lebih untuk turun ke lembah, menyusuri tepi danau lalu kembali lagi ke sini.

Setelah cukup bugar kami pun melanjutkan perjalanan mengitari pinggang bukit. Seperti dugaanku setelah menanjak beberapa saat jalanan pun menurun. Kurang dari 15 menit, kami melihat kembali lampu-lampu dari puluhan tenda di pantai Ranu Kumbolo. Begitu memasuki mulut lembah Ranu Kumbolo, kami pun berteriak-teriak, “Mas Gogon! Mas Gogon! Mas Gogon!” Untuk menemukan Pemandu kami.

Mas Gogon menjawab teriakan kami bahkan menyongsong kami. Dia lalu memimpin kami melewati tenda-tenda menuju tenda kami sendiri yang sudah menunggu. Mas Gogon dan ketiga temannya memang jempolan. Selain tenda, alas tidur pun sudah digelar dan sleeping bag tinggal dibuka. Seorang teman mas Gogon menawari kami teh panas satu nasting penuh. Mprit mengeluarkan gelas plastik dari ransel lalu memberi kami seorang satu. Saya mengangsurkan gelas yang langsung dipenuhi cairan teh panas mengepul. Saya menggenggamnya dengan kedua belah tangan lalu menyeruputnya. Hm … nikmat sekali.

Mprit memasuki tenda dengan cara mundur lalu duduk di dalam tenda sedangkan kakinya di luar tenda. Dia lalu melepas sepatunya. Saya mengambil sepatunya lalu menyimpannya di tenda barang agar tidak basah kena embun. Sementara Wiwik dan Bebek mencari sendalnya di ransel yang ada di tenda barang, saya menyusul masuk tenda dengan cara yang sama. Saya minta tolong Bebek untuk menyimpan sepatu saya ke dalam tenda barang.

gambar: Frida

Jam 21.15 WIB. Kami berempat, Bengcu, Mprit, Bebek dan Wiwik sudah ada di dalam tenda. Kami duduk mengelilingi teh dan nasi bungkus dengan lauk tahu dan tempe serta telor goreng (nasi si bebek tanpa telor goreng sebab dia tidak suka telor). Mprit membagikan sendok. Setelah mengucap syukur dengan cara masing-masing, kami pun makan tanpa tedeng aling-aling. Nikmat sekali.

Jam 22.00 WIB, saya menemani Bebek keluar tenda untuk melakukan survey lokasi. Selain kami berdua tidak ada orang lain di luar tenda. Angin berhembus sepoi-sepoi dingin. Termometer menunjukkan suhu 10 derajat. Aku mematikan senter kepalaku. Bintang-bintang melotot di langit hitam. Dari beberapa tenda terdengar suara orang mengobrol dan musik. Udara basah berembun. Air telaga bening memantulkan cahaya bintang-bintang di langit dan lampu-lampu senter tenda-tenda. Dari kejauhan mengalun suara bisikan cemara dihembus angin. Hawa dingin merayap dari kakiku yang memakai sendal. Aku melepas tusuk kondeku dan membiarkan angin dingin membelai rambutku menerpa wajah dan tanganku. Aku mengangkat kedua tanganku ke udara untuk membuka rongga dadaku selebar mungkin sambil menarik nafas panjang guna menghirup sebanyak mungkin udara dingin. Bulan sabit bertengger di tengah langit.

Menatap langit pikiranku mengutip, “Allah memberkati mereka. Allah berkata kepada mereka, “Beranakcuculah sebanyak-banyaknya. Penuhilah dan taklukkanlah dunia. Berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di sorga dan segala makluk yang merayap di dunia.” Penuh rasa syukur aku berbisik, “Ya Allah Bapaku, aku suka menjadi manusia. Terima kasih.”

Aku menyalakan senter kepalaku ketika si Bebek kembali dari pengembaraannya mencari tempat untuk membuang hajat. “Nggak ada tempat yang cocok, cu!” Katanya kecewa. Aku ngakak menanggapinya. “Besok pagi aja Bek.” Kami lalu kembali ke tenda.

“Jalan yang kulalui tadi bukan jalan yang kulalui tahun 1986 yang lalu.” Itulah pikiran yang melintas di kepalaku saat berbaring di dalam gelap. 28 tahun bisa mengubah vegetasi (pepohonan) namun mustahil mengubah bentuk permukaan bumi (contour). Tadi kami mengelilingi pinggang bukit padahal tahun 1986 dulu aku dan teman-teman menyusuri  punggung bukit lalu menyeberangi lembah yang luas sekali sebelum sampai Ranu Kumbolo. Tadi kami melewati jembatan. Kalau dulu ada jembatan mustahil saya lupa. Landengan Dowo dan Watu Rejeng, mustahil saya lupa bila memang melewatinya dulu. Dulu kami melewati jalan yang berbeda. Aku akan cari  tahu setelah sampai Jakarta nanti. Itulah pikiranku sebelum terlelap.

Jam 24.00 WIB aku terbangun. Beberapa saat kemudian Bebek juga bangun kemudian Mprit juga. Suhu di dalam tenda 10 derajat celcius. Ketika kami keluar untuk kencing, suhu di luar 4 derajad. Jam 03,15 WIB kami terbangun lagi. Ketika aku keluar untuk kencing, suhu di luar 1 derajad celcius. Suhu di dalam tenda 6 derajat Celcius. Suhu di dalam sleeping bagku 10 derajad celcius.

Setelah sampai rumah, aku langsung mencari tahu. Benar. Ada dua jalan menuju Ranu Kumbolo. Yang kami lewati hari itu disebut jalur Watu Rejeng. Setelah melihat peta dan mengamati contournya, saya yakin, tahun 1986 saya dan teman-teman melewati jalur gunung Ayek-Ayek. Saat itu, selama dalam perjalanan kami tidak bertemu dengan pendaki lain juga tidak menemukan pondok istirahat. Kami baru berhenti dan menemukan pondok serta bertemu pendaki lain di Ranu Kumbolo. Perjalanan Ranu Pane ke Ranu Kumbolo kami tempuh kurang dari tiga jam. Yang menjadi pemandu kami saat itu adalah adik kelasku, mahasiswa baru angkatan 1986. Nama panggilannya Jack.  Nama lengkapnya aku tidak tahu. Dia mengaku baru mendaki gunung Semeru dengan para peneliti bule sebulan sebelum dia mendaki dengan kami. Tak lama setelah pendakian Semeru dia menghilang dari Kampus untuk bekerja di kapal pesiar untuk mengumpulkan sebanyak mungkin uang guna membiayai pendakiannya ke puncak Everest. Sampai hari ini aku tidak pernah bertemu lagi dengan Jack.

Jarak Ranu Pane (2200 Mdpl) ke Landengan Dowo (2.300 mdpl) 3 km. Jarak Landengan Dowo ke Watu Rejeng (2315 mdpl) 3 km. Jarak Watu Rejeng ke Ranu Kumbolo (2410 mdpl) 4,5 km. Itu berarti total jarak Ranu Pane ke Ranu Kumbolo adalah 10,5 km. Dengan medan demikian maka jarak tempuh normal adalah 5 jam. Kami berangkat dari Ranu Paneh sekitar Jam 15.45 WIB dan sampai di Ranu Kumbolo Jam 20.45 WIB. Bila tidak tersesat sekitar 1 jam maka kami menempuhnya dalam 5 jam.

2 thoughts on “Tiga Pendekar Kelas Kambing Tersesat Di Ranu Kumbolo

  1. Wah trims Cu, sdh menuliskan sedemikian detail, untuk membangkitkan kenangan cerita perjalanan, yg entah kapan mungkin terulang, butuh niat yg kuat utk mengulanginya. Saya menikmati setiap momen perjalanan itu, rasa sakit di pundak manngul ransel yg tdk seberapa, rasa waswas dgn cedera dengkul, akankah bermasalah, rasa haus krn dikira habisersediaan air, sakit dikepala kejedot pohon, semua nya tertutup dengan nikmatnya kerinduan suasana alam yg sdh kami tinggalkan 25tahunnyg lalu, Syukur pada Tuhan yg memberi nikmat ini sekali lagi dalam perjalanan hidup ini, bersama teman yg menjunjung kebersamaan.

    • Bek, Rinjani kita sudah pernah. Kerinci elu belom pernah. Jadi. untuk sementara gua bermimpi tahun depan menemani lu mendaki Kerinci. ha ha ha ha …. nich masih nulis yang lainnya. nanti akan menjadi serial lengkap perjalanan Tiga pendekar kelas kambing mendaki Semeru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s