Mama Bunuh Diri Aku Takut Sekali


Aku Takut Sekali Orang-Orang Yang Kusayangi Mati. Hari itu, karena papaku membuang terasinya mamaku bunuh diri minum air abu. Aku telentang takut sekali menunggu mamaku mati.

Kami berangkat dari Medan tahun 1970 menumpang kapal Bengawan Solo. Mama, aku dan keenam adikku, Siku (Hokkien: kakak mama yang keempat alias paman keempat dari pihak mama), Ginen dan Gimin karyawan Siku. Kami mendarat di pelabuhan Tanjung Periuk, Jakarta hari Jumat tanggal 1 Januari 1971 dan menginap di rumah Seku (Hokkien: kakak bungsu mama).

Hari Minggu, Seku mengajak kami piknik ke kebun binatang Ragunan. Itulah pertama kali aku ke kebun binatang. Dalam perjalanan pergi dan pulang dari kebin binatang, kedua saudara sepupuhku menunjukkan kemampuan membacanya dengan membaca semua tulisan di papan nama dan papan iklan. Jangankan membaca, membuka mata saja aku pusing tujuh keliling. Semua yang kulihat di luar mobil berlari kencang mendekati kami kemudian menjauh di belakang kami.

Setelah menginap di Jakarta berhari-hari, kami melanjutkan perjalanan ke Lampung naik Ferry di pelabuhan Merak. Setelah menginap berhari-hari di rumah Apek (Hokkien: kakak tua papa) kemi pun pindah ke rumah  sewa sendiri.

Saat itu aku berumur 7 tahun. Waktu kecil segala sesuatu nampak besar sekali. Itu sebabnya meskipun seingatku, rumah yang kami sewa untuk tiga tahun itu besar sekali namun kamarnya hanya ada dua. Di kamar depan ada dua tempat tidur. Untuk menghindari nyamuk, kami memasang kelambu. Satu tempat tidur untuk papa dan mama serta Merry adik bungsuku yang masih bayi saat itu. Satu lagi tempat tidur dua tingkat dimana aku dan adik lelakiku yang dua tahun lebih muda dariku tidur di atas. Sementara ranjang bawah ditempati kedua adik perempuanku dan kedua adik lelakiku.

Kamar belakang ditempati oleh Ginen dan Gimin. Setelah Ginen dan Gimin pindah ke pabrik Siku, kamar itu menjadi gudang. Kalau ada tamu menginap, kamar itu menjadi kamar tamu. Ketika kami punya  pembantu, dia tidur di kamar itu.

Beberapa hari di rumah itu, kami mendapat kiriman bambu banyak sekali. Bambu-bambu itu diangkut dengan gerobak sapi. “Membuat pagar.” Jawab Ginen waktu kutanya untuk apa bambu sebanyak itu?

Hari-hari selanjutnya Ginen dan Gimin pun sibuk sekali mendirikan pagar. Mula-mula mereka memasang benang. Lalu menggali lobang dengan jarak tertentu kemudian menanam bambu betung di lobang-lobang itu. Bambu betung adalah bambu besar yang warnanya hitam. Aku senang sekali melihat mereka bekerja.

Karena terus bertanya dan minta diizinkan untuk memakai golok dan gergajinya, akhirnya Ginen mengajariku cara memotong bambu dengan gergaji dan golok, melobangi bambu dan membelah bambu serta menghaluskannya, membuat tali dari bambu bahkan menganyam bilik alias dinding bambu dan caping. Yang paling asyik adalah ketika Ginen mengajariku membuat asbak dan kentongan dari bambu serta mengajariku berbagai cara memukul kentongan dan artinya. Ada kentong tanda bahaya ada kentong untuk minta tolong. Ada kentong mengundang orang ikut kenduri bahkan kentong memanggil dukun bayi.

Ginenlah yang membangkitkan kecintaanku pada bambu dan tembang jawa serta suling bambu. Setelah puluhan tahun berpisah, suatu hari aku rindu bertemu dengannya. Aku lalu mencarinya. Ginen. Meskipun masih mengenali wajahnya yang ganteng, namun ternyata dia pendek sekali. Ketika dia mengulurkan tangannya menyalamiku, aku menariknya dan memeluknya. Dia membalas pelukanku sambil sambat, “Ayang, Ayang, kamu sudah dewasa, nak. Kemana saja kamu selama ini?” Ketika aku bertanya berapa umurnya, “Pitung puluh limo.” Jawab Ginen bangga.

Pagar bambu rumah kami tinggi sekali. Lebih tinggi dari tubuh orang dewasa. Aku ingat meskipun sudah berdiri di atas sepeda papa, namun belum sanggup menyentuh ujungnya. Halaman depan adalah tanah lapang tanpa rumput. Di sebelah kiri halaman depan ada rak bambu tempat tanaman paria dan timun merambat. Di sebelah kanan, ada tanaman jahe mepet pagar bambu. Juga batang-batang singkong tinggi yang ditanam untuk diambil daunnya. Tanah kosong sisanya adalah tempat aku dan adik-adikku bermain sepak bola, lompat tinggi dan yeye, benteng-bentangan, galasin serta beberapa permainan yang aku lupa namanya.

Halaman samping kiri rumah kami adalah kebun. Pohon-pohon jahe ditanam mepet pagar. Pohon- oyong dan pohon labu emas merambati pagar. Lalu ada petak-petak yang tanahnya dicangkul sehingga menjadi lebih tinggi tempat kami menanam kangkung dan bayam serta ubi jalar dan terong. Mamaku pandai sekali menumis daun ubi jalar.  Sampai hari ini aku belum menemukan daun ubi jalar yang lebih enak dari tumisan mamaku. Terong bakar yang dimakan panas-panas dengan cabe rawit potong dan kecap asin adalah salah satu makanan kesukaanku. Aku tidak suka terong tumis karena menurutku terong harusnya dibakar. Namun pandanganku itu berubah setelah mencoba terong tumis teri sambel pedas masakan Iis (ini istri saya) yang benar-benar enak rasanya. Di antara petak-petak itu ditancapkan bambu tempat pohon kacang panjang merambat. Kami juga menanam kacang dan cabe rawit serta cabe merah, juga tomat.

Halaman samping kanan dipagar depan dan belakangnya sehingga menjadi kandang sepanjang rumah tempat kami memelihara ayam dan bebek. Pintu kandang ayam ada di belakang. Di dalam kandang ayam hanya ada jahe yang ditanama mepet pagar. “Jahe adalah tanaman yang hebat.” Kata kakak mamaku yang keempat. Kami memanggilnya Siku, bahasa Hokkien, artinya paman keempat dari pihak mama. “Bila cabe sudah matang, kamu harus memanennya meskipun harganya jelek. Jahe tidak perlu dipanen bila harganya murah. Tidak memanennya tidak membuatmu rugi karena umbinya terus bertambah.” Karena ucapan Siku demikian, maka sampai hari ini aku masih menganggap jahe tanaman yang hebat dan bermimpi suatu hari nanti menjadi petani jahe.

Halaman belakang kami luas sekali. Di Sebelah kiri, paling jauh dari rumah adalah kolam sampah. Di situlah sampah-sampah dibuang dan dibakar. Di antara tempat sampah dan kandang ayam, kami menanam pohon pisang dan pepaya serta singkong.

Di sebelah kiri ada sebuah bangunan beratap seng. Di bawahnya ada sebuah tungku besar dengan sebuah drum aspal yang bisa diputar. Itulah tungku penggorengan kopi. Berkali-kali aku melihat penyewa rumah sebelum kami itu datang dengan dua orang anak buahnya untuk menggoreng kopi. Darinyalah saya mendapatkan pengetahuan tentang kopi dan cara menggoreng kopi.

Di tungku itulah setiap pagi saya memasak bubur dengan api dari batok dan sabut kelapa untuk makan pagi dan setiap siang memasak nasi untuk makan siang dan malam. Awalnya kami belum punya langseng itu sebabnya memasak nasi dengan panci. Di tungku itu pula mama mengajariku memasak santan menjadi minyak kelapa. Kami membuat minyak kelapa untuk keperluan sendiri. Saat itu belum ada minyak sawit. Semua orang menggoreng dengan minyak kelapa.

Di antara tungku penggorengan kopi dan dinding belakang rumah ada sebuah ruangan. Di situlah mama memanggang kue semprong dan saya membantunya mengisi ke dalam kaleng.

Rumah kami bentuknya segi empat. Tata ruangnya adalah di sebelah kiri ada dua buah kamar. Dari depan kamar depan membentang ke kanan lalu ke belakang adalah sebuah ruangan berbentuk L terbalik. Ruangan di depan kamar depan digunakan sebagai ruang tamu. Ada seperangkat meja dan kursi tali plastik di sana. Ruangan depan bagian kanan digunakan untuk tempat sepeda papa. Ruangan di depan kamar depan dan belakang adalah ruang makan. Di ruang makan ada sebuah jendela yang di luarnya adalah kandang ayam. Kami biasanya membuang makanan sisa lewat jendela untuk dimakan ayam dan bebek kami. Mepet dinding belakang ada sebuah kompor. Itulah dapur mama. Kamar mandi ada di belakangnya lagi. Sumur ada di hadapan kamar mandi.

Aku lupa, saat itu makan siang atau makan malam? Nampaknya itu hari Minggu karena mama masak mie kuah. Saat itu, setiap hari Minggu mama masak mie kuah dengan telor dan daging dan itu menjadi pesta kami yang luar biasa.

Yang saya ingat adalah, saat kami sedang makan, mama mengeluh, terasi yang dibeli papa bukan yang dipesannya. Papa marah lalu mengambil terasi dari tangan mama dan membuangnya ke kandang ayam. Mama marah bukan kepalang dia lalu mengambil air abu dari lemari dan menenggaknya. Papa merebutnya. Mama lalu masuk ke kamar. Nampaknya adik-adikku sama sekali tidak menyadari bahayanya. .

Aku membeku ketakutan. Di kampung kami di Medan, semua anak kecil apalagi orang dewasa tahu bahwa air abu yang biasa digunakan untuk bikin mie dan kiecang (bakcang tanpa daging) adalah racun. Siapa pun yang meminumnya pasti mati. Obat penawarnya adalah minyak kelapa dan air tepung terigu. Aku mengambil minyak kelapa sementara papa membuat adonan air tepung terigu. Kemudian aku membawa keduanya ke kamar untuk mama. Mama mengusirku ketika aku membujuknya minum obat penawar. Dia menangis tanpa suara di tempat tidur. Aku keluar dengan keyakinan mamaku pasti mati.

Papa mengeluarkan sepedanya lalu pergi. Aku mengambil hio dan menyalakannya. Aku berdiri menghadap langit dan berdoa kepada Thikong (Tuhan Allah) agar menyelamatkan mamaku lalu menancapkan tiga batang hio di altar Thikong di samping pintu rumah kami. Aku lalu menghadap altar dewa yang kami sembah dan memanjatkan doa agar mama jangan mati, juga menancapkan tiga batang hio.

Sementara adik-adikku bermain setelah mereka makan, aku masuk ke kamar diam-diam dan telentang di bawah ranjang mamaku. Air mataku mengalir deras. Aku takut sekali. Aku menunggu mamaku mati. Namun mamaku kuat sekali. Dia tidak mati hari itu. Dia tidak mati malam itu. Dia tidak mati kebesokannya. Dia juga tidak mati hari-hari kemudian.

Meskipun mamaku tidak kunjung mati, namun aku yakin dia pasti mati karena sudah minum air abu dan tidak minum obat penawarnya. Satu-satunya alasan mama belum mati karena Giam lo ong (dewa maut) belum datang mencabut nyawanya. Itu sebabnya aku menjaganya. Bila Giam Lo Ong datang, untuk menangkap mamaku, aku akan melawannya mati-matian.

Aku menjaga mamaku siang dan malam. Pada siang hari aku mengawasi mama dari jauh. Ketika di sekolah aku membaca mantera yang diajarkan oleh Dangdut, karyawan baru kami untuk menjaga mama dari jauh. Pada malam hari aku menahan kantuk untuk menjaga mama. Setiap pagi aku bangun dengan perasaan takut kemudian memeriksa apakah mama sudah mati? Rasanya lega sekali menemukan mama masih hidup dan sedang mencetak kue semprong.

Aku tidak ingat berapa hari, berapa minggu, berapa bulan aku menjaga mamaku. Namun aku ingat aku menjaganya sampai aku lupa. Dan setiap kali mama dan papa cekcok, aku ketakutan mamaku akan bunuh diri minum air abu lagi. Aku ketakutan Giam Lo Ong akan menjemput mamaku karena dia sudah pernah minum air abu dan tidak mau minum obat penawarnya. Saat itu aku percaya, seseorang mati karena dijemput Giam Lo Ong. Itu sebabnya aku percaya meskipun sudah minum racun namun mamaku tidak mati karena Giam Go Long belum menjemputnya. Itu sebabnya aku selalu berjaga-jaga menghadapi Giam Lo Ong.

Berkali-kali, diam-diam aku membuang air abu kami sedikit-sedikit. Awalnya aku membuang semuanya sekaligus dan mama marah bukan kepalang. Dia memarahiku bahkan memukuliku dengan lidi, “Masak tidak tahu air abu itu racun? Apa jadinya kalau adik-adikmu meminumnya? Kamu mau adikmu mati?” Ketika mama bertanya, “Aku buang,” jawabku. “Kenapa dibuang? Ini dibeli dengan uang, tahu?” Tanya mama. Aku diam. Mustahil memberi  tahu mama bahwa aku membuangnya karena takut dia bunuh diri lagi.

Mama marah sekali. Dia mencabut dua batang lidi dari sapu kemudian berkali-kali mengayunkannya menghantam paha dan betisku serta tanganku bahkan punggungku. Dia terus menghantamnya sampai kedua batang lidi itu patah.

Berdiri. Diam. Jangankan mengelak, menggeliat kesakitan pun aku tidak. Aku mengatupkan gigiku menahan sakit. Meskipun sakit sekali namun tidak akan kubiarkan air mataku berlinang. Ketika berbuat salah, anak lelaki menerima hukumannya dengan tabah. Air matanya mengalir ke dalam dadanya, tidak mengalir keluar. Entah siapa orang dewasa yang mengajariku ajaran demikian. Aku meyakininya sebagai kebenaran itu sebabnya menjalani hidup dengan prinsip demikian.

Aku membuang air abu sedikit-sedikit agar mama mengira air abunya kering karena menguap. Aku membuang air abunya agar mama tidak bisa bunuh diri lagi. Aku ingin menjadi orang sakti agar bisa menjaga mamaku dan adik-adikku. Aku berharap bahkan berdoa agar makluk planet lain dan dimensi lain turun menemuiku dan memberiku jimat yang bisa mengubahku menjadi manusia super seperti Gundala putera petir dan Godam. Aku juga selalu bertanya kepada orang-orang dewasa cara untuk menjadi sakti. Ada banyak ornag dewasa yang baik hati. Ada yang mengajariku jurus-jurus berkelahi tidak jarang yang mengajariku mantera-mantera untuk menghadapi setan-setan.

NB.
Mamaku menikah saat berumur 21 tahun. Dia melahirkanku satu tahun kemudian. Setelah itu, setiap tahun dia melahirkan satu orang adik buatku. Tahun 1971, di jakarta, kakak iparnya memperkenalkan pil KB kepadanya. Sejak itulah kebiasaan mama hamil dan melahirkan setahun sekali berhenti.

Selain memanggang kue semprong seharian, malamnya mamaku juga membuat kue tambang dan menggoreng kacang bawang. Dia tidak punya pembantu itu sebabnya harus mencuci dan memasak serta mengurusi ketujuh anaknya sendirian. Papaku menjaga toko seharian. Pulang dari toko, malamnya bersama mamaku membuat kue tambang dan menggoreng kacang bawang. Aku dan adik perempuanku dan adik lelakiku, kami bertiga membantu mengisi kacang bawang dan kue tali ke dalam plastik.

Seingatku, waktu di Medan mama memang memukul namun setelah pindah ke Lampung dia benar-benar ringan tangan. Aku tidak suka cara dia memukuli adik-adikku. Makanya aku selalu berusaha mengakui semua kesalahan adik-adikku sebagai kesalahanku. Itu sebabnya waktu kecil aku sering diperas oleh adik-adikku yang mengancam akan memberitahu mama bahwa aku telah membohonginya karena mengaku bersalah. Ha ha ha ha ha …..

Advertisements

4 thoughts on “Mama Bunuh Diri Aku Takut Sekali

  1. It takes courage to write something about the past.. May bro hai hai always be strong and faithful to God.

    • Kisanak, adanya hari ini karena kemarin-kemarin. Kita sering memang sama seringnya kalah juga. Namun semuanya adalah JALAN yang HARUS kita jalani pada saat menjalaninya dan SUDAH kita jalani setelah menjalaninya. Mengerti Masalah lalu untuk MEMAHAMI hari ini. Mungkin dengan menceritakan masa lalu saya apa adanya, bisa membantu generasi ini agar tidak perlu mengalami kesusahan seperti yang saya alami meskipun menghadapi kesulitan yang seperti yang saya alami.

      thanks untuk dukungan dan doanya. Semoga Allah mengabulkan doa dan harapan anda serta membalasnya seribu kali ganda.

  2. hahahahahahahah…….. haihai BEGOK…… minum “ki-cui” (air abu) itu tidak bisa mati….. saat kanak-kanak gua pernah terminum 1/2 gelas…. hanya minum air putih biasa untuk menghilangkan sakit nyengat di tenggorokan saja……. gua idop sampek sekarang……. hahahahahah 😀 😀 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s