NKRI dan TNI Harus Minta Maaf Atas Tragedi G30S PKI


“Tidak ada pemikiran mengenai minta maaf. sampai detik ini tidak ada ke arah itu,” kata Jokowi. “Minta maaf pada siapa? Siapa memaafkan siapa? Kedua pihak ada terjadi kalau boleh dikatakan korban,” kata Luhut Panjaitan.

Dari pernyataan presiden Jokowi usai menjadi inspektur upacara Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Pancasila Sakti Kamis 1 Oktober 2015 di atas nampak gamblang sekali bahwa Presiden Jokowi belum paham Tragedi G30S PKI, itu sebabnya tidak ada pemikiran mengenai minta maaf sampai detik ini.

Kedua pihak yang dimaksudkan oleh ucapan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Panjaitan Rabu 30 September 2015 tersebut di atas pastilah keluarga jendral-jendral yang dibunuh dan PKI (mantan Tahanan Politik PKI dan keluarganya serta keluarga mereka yang dibantai dengan tuduhan Komunis). Dengan ucapan demikian, bila tidak sedang berlagak pilon, maka itulah bukti bahwa Luhut Panjaitan cerdas sekali.

NKRI dan TNI Tidak Perlu Minta Maaf

Siapa yang menculik dan membunuh para jendral? TNI angkatan darat dan pasukan Cakrabirawa. Tentara-tentara penculik dan pembunuh itu sudah diadili di Mahkamah Militer dan dieksekusi.

Anggap saja benar, tentara-tentara itu menculik dan membunuh para jendral atas perintah para pemimpin PKI. Bukankah Para pemimpin PKI itu sudah dieksekusi bahkan ada yang tanpa diadili?

Haruskan Pemerintah minta maaf kepada keluarga para jendral itu? Tidak perlu! Kenapa demikian? Karena mereka sudah mendapatkan keadilan. Haruskah keluar tentara dan pemimpin PKI minta maaf kepada keluarga para jendral? Tidak perlu! Kenapa? Karena mereka tidak bersalah semantara orang tuanya yang bersalah sudah lunas membayar harga perbuatannya. Haruskah mantan Tapol PKI dan keluarga PKI minta maaf kepada anggota keluarga para jendral? Tidak perlu! Kenapa begitu? Karena mereka tidak bersalah.

NKRI dan TNI Harus Minta Maaf kepada Gerwani

Bagaimana dengan para anggota Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) yang dituduh menyiksa para jendral dengan menyayat tubuh dan kemaluan mereka dengan pisau lipat dan silet sambil nyanyi lagu Genjer Genjer? Hasil laporan otopsi jenasah para jendral menunjukkan tidak ada penyiksaan sama sekali. Kedua dokter yang melakukan otopsi yaitu dr Lim Joe Thay dan dr Liauw Yan Siang juga sudah bersaksi, tidak ada penyiksaan sama sekali.

Terbukti sudah bahwa Pemerintah Orde Baru dan TNI melakukan pembohongan publik alias menipu bangsa Indonesia bahkan menipu seluruh dunia. Penipuan Pemerintah Orde Baru dan TNI tersebut menyebabkan penderitaan bahkan nyawa melayang bagi para anggota Gerwani dan keluarga mereka.

Nah, Jendral Luhut Panjaitan yang mulia, “Siapa harus minta maaf kepada siapa? Siapa memaafkan siapa?” Siapa yang harus minta maaf? Tentu saja Pemerintah dan TNI, khususnya Angkatan Darat, bukan? Minta maaf kepada siapa? Minta maaf kepada bangsa Indonesia dan dunia atas penipuan publiknya. Minta maaf kepada anggota Gerwani dan keluarga mereka yang puluhan tahun menanggung derita bahkan nyawa melayang karena fitnah TNI Angkatan Darat dan Pemerintah.

Tidak Ada Pemberontakan PKI

Sjam Kamaruzaman alias Djimin alias Sjamsudin alias Ali Mochtar alias Ali Sastra alias Karman alias Rusman bersaksi di Mahkamah militer bahwa ide untuk menculik para jendral datang dari ketua PKI DN Aidit. Lebih lanjut dia bersaksi: Mengirim telegram ke semua jaringan Biro Chusus di daerah. Begitu rencana aksi terbatas sukses, mereka harus menguasai jawatan penting di daerah dan mengajak pejabat setempat untuk mendukung Dewan Revolusi. Dengan cara demikianlah sebuah aksi kecil di Jakarta memicu dan memacu gerakan masa yang meluas di seluruh Indonesia.

Lebih lanjut Sjam juga bersaksi bahwa aksi kecil di Jakarta pada malam itu dilaksanakan oleh satu kompi Cakrabirawa dan anggota Pemuda Rakyat, organisasi sayap PKI yang baru belajar menembak.

Anggap saja catatan sejarah Orde Baru di atas benar. Itu berarti aksi kecil di Jakarta tanggal 30 September 1965 memang terjadi. Buktinya para Jendral pun mati. Namun sayang seribu kali sayang, aksi tersebut sama sekali tidak didukung oleh Tentara baik Angkatan Udara maupun Angkatan Laut juga Angkatan Darat. Tidak ada pasukan yang mendukung. Tidak ada tank, tidak ada panser, tidak ada mesin perang yang dikerahkan.

Kerabatku sekalian, salah satu penulis kondang negeri ini, Saut Poltak Tambunan berkata, “Sejarah ditulis oleh pemenang sementara yang kalah menulis novel dan cerpen serta puisi.” Nah pemenang dalam tragedi G30S PKI adalah Orde Baru dan ABRI.

Sejarah yang ditulis Orde Baru dan ABRI mencatat bahwa setelah pembunuhan para Jendral tanggal 30 September 1965, tidak ada gerakan PKI sama sekali. Tidak ada PKI yang turun ke jalan. Itu berarti “aksi kecil” yang dilakukan oleh satu kompi Cakrabirawa dan Pemuda Rakyat tidak memicu apalagi memacu gerakan masa PKI yang meluas di seluruh Indonesia. Tidak ada masa PKI yang menguasai jawatan penting di daerah apalagi yang mengajak pejabat setempat untuk mendukung Dewan Revolusi.

Kerabatku sekalian, menurut catatan sejarah Orde Baru dan ABRI, pada tahun 1965 anggota PKI berjumlah 3 juta orang. Mustahil melakukan kudeta tanpa senjata. Berapa banyak senjata dan amunisi yang ditemukan di kantor-kantor PKI dan rumah-rumah orang PKI? Nol. Berapa banyak Pemuda Rakyat yang melakukan perlawanan bersenjata? Nol!

Handai taulanku sekalian, berdasarkan sejarah yang dicatat oleh Orde Baru dan ABRI, nampak gamblang sekali, seperti menggantang pakaian putih di bawah matahari. Pada tahun 1965 tidak ada kudeta apalagi pemberontakan PKI. PKI tidak merencanakan kudeta dalam waktu dekat sama sekali. Pemberontakan PKI adalah dongeng yang dikarang oleh Orde Baru dan ABRI untuk menipu bangsa Indonesia dan dunia.

Bukan Penumpasan Pemberontakan Namun Pemusnahan WNI

Kerabatku sekalian, karena sejarah yang ditulis Orde Baru dan ABRI mencatat: Pada tahun 1965 tidak ada penumpasan pemberontakan PKI lalu apa yang sesungguhnya yang dilakukan oleh ABRI? Semoga Allah mengampuni para perwira dan prajurit-prajurit itu ABRI. Semoga mereka mampu  mengampuni dirinya sendiri.

Handai taulanku sekalian, pada tahun 1965 para perwira dan prajurit ABRI yang seharusnya melindungi rakyat justru membantai rakyat dengan semena-mena. Kejam sekali! Biadab sekali!

Pengecut sekali! Dengan tank dan panser serta senjata otomatis membantai rakyat yang tidak bersenjata dan tidak melawan. Semoga Allah menjauhkan bangsa kita dari hari-hari demikian.

NKRI dan TNI Manghasut Rakyat

Pada tahun 1965 PKI adalah partai politik yang sah. Semua organisasi underbow PKI juga sah. Itu sebabnya menjadi anggota PKI dan anggota organisasi underbow PKI bukan kejahatan.

Super Semar (Surat Perintah Sebelas Maret) adalah mandat untuk menjaga keamanan, bukan amanat untuk memusnahkan anggota-anggota PKI dan organisasi sayapnya.

TAP MPRS No. XXV/MPRS/1966 Tentang Pembubaran PKI, Pernyataan Sebagai Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah Negara RI Bagi PKI dan Larangan Setiap Kegiatan untuk Menyebarkan Atau Mengembangkan faham Atau Ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme, tidak menjadikan mantan anggota PKI dan organisasi underbownya menjadi penjahat apalagi menjadikan keluarga anggota PKI menjadi penjahat. Ayah ibu makan mangga muda mustahil gigi anaknya ikut ngilu. Meskipun ayah ibu dianggap bersalah, namun tidak boleh membalas dendam kepada anak cucunya.

ABRI seharusnya melindungi rakyat, namun yang dilakukan oleh ABRI pada tahun 1965 bukan hanya memusnahkan rakyat bahkan menghasut masyarakat untuk ikut ambil bagian dalam pemusnahan tersebut. Apa yang dilakukan oleh ABRI dan masyarakat yang berhasil dihasutnya adalah GENOSIDA POLITIK pemusnahan lawan politik tanpa tedeng aling-aling.

NKRI seharusnya mengayomi warga negaranya. Namun yang dilakukan oleh Orde Baru bukan saja mendzolimi rakyatnya bahkan menghasut masyarakat untuk ikut ambil bagian dalam pendzoliman tersebut.

Jendral Luhut Panjaitan yang terhormat, “Siapa harus minta maaf kepada siapa? Siapa memaafkan siapa?” Siapa yang harus minta maaf? Tentu saja Pemerintah dan TNI, khususnya Angkatan Darat. Minta maaf kepada siapa? Minta maaf kepada bangsa Indonesia dan dunia atas penipuan publiknya. Minta maaf kepada anggota PKI yang dipenjara tanpa pengadilan. Minta maaf kepada keluarga mereka yang dibantai oleh ABRI (khususnya Angkatan Darat) dan masyarakat yang berhasil dihasut untuk ikut melakukan genosida politik. Minta maaf kepada WNI yang mengalami pendzoliman selama Orde Baru.

Presiden Jokowi yang mulia, sampai detik ini anda belum berpikir mengenai minta maaf? Izinkan saya menasehati anda, “Mulai berpikirlah bapak presiden karena fakta-faktanya sudah saya tunjukkan di atas. Mari kita mengakui kesalahan NKRI dan TNI di masa lalu agar presiden dan TNI yang akan datang tidak perlu melakukannya. Biarlah generasi ini yang menanggung rasa malu karena NKRI yang seharusnya mengayomi rakyatnya justru mendzoliminya. TNI yang seharusnya melindungi rakyat justru membantainya.”

Taufiq Ismail Harus Belajar Sambil Berpikir

Taufiq Ismail yang mulia, saya orang Tionghoa yang sangat menghormati usia tua. Di dalam tradisi Tionghoa, ketika orang yang lebih muda menegor yang lebih tua dia mengutip ujar-ujar dari orang yang lebih tua dari orang yang ditegornya. Itu sebabnya, izinkan saya mengutip ujar-ujar Kongzi (Khonghucu) untuk menegor anda,

Kongzi berkata, “Belajar tanpa berpikir, sia-sia. Berpikir tanpa belajar, berbahaya.” Lunyu 2:15 – Weizheng
Mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, anda bukan hanya tidak belajar namun juga malas berpikir.

Kalau rajin belajar sambil berpikir, seharusnya anda bukan hanya mengutip isi buku-buku yang anda baca namun menunjukkan fakta kebejatan moralitas anggota PKI. Berapa banyak kekerasan yang dilakukan oleh PKI untuk merebut kekuasaan di Indonesia? Apa saja dusta PKI? Fakta apa saja yang diputarbalikan oleh PKI? Dokumen apa saja yang sudah dipalsukan oleh PKI? Tipuan apa saja yang sudah dilakukan oleh PKI? Hasutan apa saja yang sudah dilakukan oleh PKI? Siapa saja yang sudah disuap oleh PKI? Berapa banyak rakyat Indonesia yang diintimidasi oleh PKI? Kebencian apa yang sudah disebarkan oleh PKI? PKI memang mencaci-maki, namun berapa banyak caci-maki mereka yang tidak beralasan? Berapa banyak yang sudah disiksa PKI? Berapa banyak yang sudah diperkosa oleh PKI? Berapa banyak yang sudah dirusak oleh PKI? Apa saja yang sudah disabot oleh PKI? Berapa banyak yang sudah dibumihanguskan oleh PKI? Berapa banyak yang sudah dibunuh oleh PKI? Berapa banyak yang sudah dibantai oleh PKI? Dusta apa saja yang sudah dilakukan oleh PKI?

Kalau rajin belajar sambil berpikir, seharusnya anda bukan hanya menyajikan angka pembunuhan Komunis di belahan dunia lain namun mengungkapkan berapa jumlah rakyat Indonesia yang telah dibantai oleh PKI? Berapa jumlah gereja dan masjid serta vihara dan klenteng yang dibakar oleh PKI? Berapa banyak uskup dan pendeta serta kyai yang dibunuh oleh PKI? Berapa jumlah umat Katolik, Kristen, Islam, Buddha, Khonghucu dan penganut agama lain yang sudah dibunuh oleh PKI? Berapa banyak jumlah darah yang telah ditumpahkan oleh PKI? Berapa banyak agama yang telah dibungkam oleh PKI?

Pak tua, ketahuilah bahwa ketika kita membahas PKI dan tragedi G30S, kita bicara tentang fakta bukan adu sumber pustaka apalagi statistik belahan dunia lain. Berapa banyak umat manusia yang dibunuh sambil berteriak, “Allah hu akbar!”? Berapa banyak umat manusia yang telah dibunuh sambil berteriak, “Haleluyah!”? Apakah umat kedua agama tersebut harus dilenyapkan dari bumi Indonesia?

Benar, anda memang menyebutkan beberapa nama kota dan desa di mana konon pada tahun 1948 PKI melakukan pembantaian. Berapa jumlah orang yang dibantai? Tidak tahukah anda bahwa Indonesia sudah merdeka tahun 1945? Masak anda lupa bahwa NKRI adalah negara hukum? Di Indonesia selain ada tentara juga ada polisi dan jaksa serta hakim dan Mahkamah Agung. Kalau anggota PKI membantai dengan semena-mena, bukankah tugas polisi untuk menangkapnya dan tugas jaksa untuk menuntut dan tugas hakim untuk menghakimi mereka?

Karena orang-orang Islam ISIS membantai orang Kristen dibelahan dunia sana, bolehkah orang Kristen Indonesia membantai orang Islam Indonesia? Bolehkah orang Kristen belahan dunia lainnya membantai orang Islam? Pokoknya Islam bukan? PKI bukan hanya tahun 1965 namun tahun 1948 juga, kata anda, bukan? Islam bukan hanya Indonesia namun Timur Tengah juga, bukan? Jadi kapan anda mau mengajarkan bahwa memusnahkan umat Islam dari bumi Indonesia adalah keharusan? Ha ha ha ha …..

Ki tua, jangan buta dan jangan picik. Izinkan saya mengutip satu ujar-ujar Kongzi lagi untuk menasehati anda:

Kongzi berkata, “Yang dibenci masyarakat harus diuji, demikian pula yang disukai masyarakat. Lunyu 15:28 – Wei ling gong

Kongzi berkata, “Tanpa cinta kasih (ren 仁 ) mustahil tabah dan tidak mungkin tahan uji. Cinta kasih di dalam cinta kasih . Yang mengerti cinta kasih menikmati cinta kasih. Lunyu 4:2 Liren

Kongzi berkata, “hanya yang paling bijaksana dan yang paling bodoh yang tidak mau berubah.”   Lunyu 16:8 – Ji shi

Mereka yang dibantai oleh ABRI dan orang-orang yang berhasil dihasutnya adalah sesama kita manusia, juga sesama kita WNI. Mereka yang didzolimi ABRI dan Orde Baru juga adalah sesama kita manusia dan sesama kita WNI.

19 thoughts on “NKRI dan TNI Harus Minta Maaf Atas Tragedi G30S PKI

  1. kayaknya cuma ko Hai2 sama Tempo yang konsisten nulis tentang G30S, dimana fakta yang dilihat dan untuk mencari kebebaran.
    Sejarah bangsa kita harus dicari kebenaran nya sehinnga kita bisa “move on” bahasa gaul nya sekrang. Alih2 mendukung, eh banyak yang langsung hujat .. eh loe pro PKI ya? memang untuk menghapus sejarah hasil rekayasa dan cuci otak yang secara sistematis yang dilakukan oleh Orde Baru itu butuh waktu

    • Anda salah. Sebetulnya ada banyak lainnya yang mencoba untuk menyajikan tragedi G30S apa adanya saja. “Memahami masa lalu untuk mengerti hari ini.” Itu adalah ajaran Tiongkok kuno. Kita belajar dari yang BAiK juga dari yang JAHAT. dari yang BENAR juga dari yang SALAH. itu sebabnya, CATATAN sejarah harus apa adanya saja. Pemerintah bertanggungjawab untuk mengungkapkannya agar generasi yang akan datang tidak hidup lagi dalam DENDAM membabibuta dan picik.

  2. Sah kah jika 2 orang engkong ikut taruhan pacuan kuda lalu 1 org menang 1 orang kalah 50 tahun kemudian cucu si pengikut “loser” menuntut cucu si pengikut “winner” meminta maaf dan meminta uangnya kembali?.. Saya rasa politik [apalagi saat itu] rule of law nya lbh abu2 drpd judi.. Brni terlibat politik, brni tanggung resiko kan bgtu?.. Brni judi tp klh lapor ke komnas HAM apa etis? Kl mau duitnya kembali ya tantang anak cucunya taruhan lagi kl pny modal :p .. Menuntut negara melakukan pelurusan sejarah masih masuk akal, tp kl menuntut untuk minta maaf?..

    • dua duanya akan masuk penjara karena JUDI dilarang di Indonesia. Anda harus belajar baik-baik dulu kalau mau ikut dISKUSI. OTAK anda KOSONG namun BERLAGAK jagoan? ha ha ha ha … meMUAKKAN.

      • Loh~ kok nyolot.. ;’V lah~ skrg siapa yg lakukan genocide trs siapa yg dituntut minta maaf?.. Anda yg lucu, TNI jelas ada dibawah komando pemerintah dlm hal ini konteksnya orba.. Trs TNI dan NKRI yg harus minta maaf, dalil drmn?.. Harus berani mengakui dong kl Orba dibawah Suharto saat itu memenangkan perang politik di negeri ini, lantas mereka memainkan peran~nya sbg pemerintah dgn melakukan hal2 yg Anda jabarkan dan sebut sebagai genosida trhdp Komunis itu.. Semuanya kan terjadi dalam “battlefield” yg namanya “Politik”.. Kl mau meraih haknya kmbli ya harus pakai cara yg sama “battle” lg di kancah politik untuk meyakinkan pemerintah yg skrg bahwa semua adalah kecurangan orba dan pelanggaran HAM oleh orba dan melakukan pelurusan sejarah.. Baru stlh itu ditindaklanjuti siapa saja dalangnya, apa yg hrs dilakukan kepada mereka.. La kl menuntut NKRI & TNI yg minta maaf?.. Otak Anda yg kemana?.. Sama aja Anda dengan yg menstigma anak PKI.. kebalikannya Anda menstigma semua anggota TNI dan NKRI.. :p

        Kalau anggota RPKAD membantai dengan semena-mena, bukankah tugas polisi untuk menangkapnya dan tugas jaksa untuk menuntut dan tugas hakim untuk menghakimi mereka? Knp Anda sudah menentukan terdakwa yg harus minta maaf TNI dan NKRI?.. :p

        • setuju…… penulisnya yang otaknya kosong namun berlagak jagoan,,,, agama dihina-hina komunis dipuja-puja….. hai hai bengcu anaknya bajingan PKI kalik……. paling2 kalau tulisannya nanti ada yang dikasuskan cuma bisa mewek…… paling2 ngomong blog saya di hek……. wkwkwkwkwkwk

          • Hati2 kl ngmg jg loh~.. Ngatain org anak PKI, mmg u th pasti?.. Alih2 mlh u yg kena UU ITE ;’V u nggak ada bedanya sama yg punya artikel..😀

        • Makanya anda baca dulu tulisan baik-baik. Kalau nggak ngerti jangan pentang bacot dulu. Baca sampai ngerti. Baca dulu pancasila. Baca dulu UUD 45. Banyak belajar baru mengajar itu bijaksana. Banyak mengajar namun malas belajar itu namanya SOK jagoan. Anda tahu kenapa saya tidak mengajari ornag-orang SOK JAGOAN seperti anda? PERCUMA. Orang-orang seperti anda TIDAK datang untuk BELAJAR namun datang untuk MENCARI PUJIAN dengan BERLAGAK sok jagoan.

          • Terserah Anda saja Pak..😀 Kelihatan siapa yg sok jagoan kok.. siapa yg kl dipuji menjilat kl dikritik menggongong.. :’V

            • kalau hai hai bengcu sich nggak diragukan lagi kejagoannya. Baca saja blognya ini. kalau diri anda? ha ha ha ha … SOK mengajar namun MALAS belajar. ha ha ha ….. Kisanak, saya kutip salah satu ayat ajaran Kongzi untuk anda ya? ha ha ha ha …

              Kongzi berkata, “Belajar tanpa berpikir, sia-sia. Berpikir tanpa belajar, berbahaya.” Lunyu 2:15 – Weizheng

      • Hai Bencong, cuma haus pujian kalo ada yang gak sesuai pikirannya dicacimaki. Lebih baik ente yg ngeLOCO CONG…….. ……..

  3. semakin dibaca semakin dimengerti, generasi kita adalah generasi yang disuguhi dusta dari kecil hingga dewasa, sehingga sudah terbentuk karakter yg tidak bisa menerima dan menguji apa itu sebuah kebenaran. tulisan ini ditulis untuk menulis sebuah kebenaran namun sayang banyak yg masih picik sehingga menafsirkan tulisan itu adalah pro PKI.. miris dan tragis memang generasi yg harus menerima semua dusta ini..

    • Itu sebabnya kita perlu mengajarkannya berulang-ulang agar mereka yang tidak mau mengerti perlahan-lahan dibukakan mata hatinya dan akal budinya. Saya menentang 100% CARA perjuangan PKI yang RADIKAL. NAmun saya mendukung TUJUAN perjuangannya yaitu untuk KESEJARAHTERAAN rakyat yaitu dari rakyat untuk rakyat oleh rakyat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s