Pelajaran Dari Orang Pintar Untuk Bang Gojek


Setiap hari, begitu melihat orang lain kita langsung membencinya. Kita membencinya karena agamanya beda dengan agama kita. Sukunya beda dengan suku kita. Dia cina, kita pribumi. Dia kaya kita miskin.

Ketika saya mencongklang ke atas gojek, tetanggaku, perempuan yang 10 tahun lebih tua dariku berteriak, “Keren banget motornya?”  Saya menepuk bahu abang gojek dan berkata, “Tatangga saya memuji motor lu tuh.”

Saya lalu mengulangi ucapan tetanggaku kepada abang gojek itu. Namun dia diam saja. Saya berteriak kepada tetangaku dari balik helem, “Terima kasih pujiannya, ci.” Aku meneriakan salam kepadanya sementara motor dipacu mengantarku ke halte Busway.

Aku mau ke depan istana ikut “Kebaktian Bagimu Negeri” dengan GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia untuk menggugat Presiden Jokowi agar menegakkah hukum dan HAM serta toleransi beragama di Indonesia dan menggugah kesadaran hukum dan HAM serta toleransi beragama masyarakat Indonesia. Hari ini aku mengenakan baju lurik Jawa dan blangkon.

“Pak, tanya boleh?” tanya abang gojek kepadaku.

“Boleh. Tanya apa?”

“Bapak orang pintar ya?” tanyanya.

“Istri saya sering bilang saya lumayan pinter kok.”

“Bapak bisa aja,” dia ngakak.

“Apa maksud kamu dengan orang pintar?” tanyaku?

“Tadi waktu bapak tepuk pundak saya. Nih bapak pegang pundak saya, rasanya tentram.”

Giliran saya yang ngakak, “Ha ha ha ha …. abang gojek bisa aja.”

“Boleh tanya nggak, pak?” tanyanya.

“Boleh. Tanya apa tuh?”

“Ajarin dong pak?”

“Ajaran apa?” tanyaku bingung.

“Ajaran ilmu bikin orang merasa tentram pak” Jawabnya.

Saya ngakak, “Ha ha ha ha … abang gojek aja bisa aja.”

“Ajarin ilmunya dong pak.”

Satelah ngakak, saya pun terdiam. Berlagak menimbang, nimbang, “Ok.” Jawabku,  “Saya ajarin dech. Tapi sedikit aja ya? Kalau nanti kamu nggak ngerti yang saya ajarin, itu berarti kamu belum jodoh. Jangan ke rumah saya apalagi untuk belajar.”

“Iya pak. Terima kasih, pak,” jawabnya.

“Dengarkan baik-baik yang saya ajarkan ini, ya?”

“Iya pak!”

Setelah merangkai-rangkai pelajaran yang ingin kuajarkan kepadanya, aku pun mulai berkata-kata kepadanya kata demi kata, “Sesungguhnya semua orang yang kita temui di mana saja adalah sesama manusia kita.”

“Masalahnya adalah: Setiap hari, begitu melihat orang lain kita langsung membencinya.”

“Kita membencinya karena agamanya beda dengan agama kita. Sukunya beda dengan suku kita. Dia cina, kita pribumi. Dia kaya kita miskin. Dia pinter, kita nggak sekolah. Badannya bau, gua dong pakai obat kelek.”

Setelah berdiam diri membiarkan kereta api melintas dan suara riuhnya menghilang sementara motor kami menjauh, saya pun berkata lagi, “Karena setiap hari kita hanya membenci orang lain yang bahkan tidak kita kenal tanpa alasan maka diri kita pun penuh prasangka dan curiga.”

“Jangan-jangan abang gojek ini mau nyelakain gua? Jangan-jangan dengkul gua dia tabrakin ke mobil? Jangan gua nggak dibayar nich? Jangan-jangan? Jangan-jangan?”

“Karena tidak membenci abang gojek. Makanya saya tidak curiga. Karena kita sesama manusia. Makas sya tidak membenci siapa pun. Makanya saya tentram.”

“Kamu pasti mau bilang, kan? Saya tahu yang mau kamu katakan: Gua benci dia karena dia jahat sama gua. Jelas aja gua curiga, dulu gua ketipu.”

“Gini, bang gojek, silahkan saja benci dengan orang yang jahatin kamu. Nggak pa pa curiga sama orang yang dulu nipu lu. Tapi, kira-kira dong? Masak lu ujug-ujug benci dan curiga sama orang-orang yang, sumpah mati, lu kamu kenal aja kagak?”

“Masak lu ujug-ujug benci sama dia karena pikir dia cina?”

“Masak lu ujug-ujug curiga sama dia karena dulu lu ditipu sama orang Jawa?”

“Segitu dulu dech ilmu dari saya, bang gojek. Pikirin pelan-pelan ya? Sekarang giliran pesan sponsor dari saya nich. Boleh kan?”

“Bapak bisa aja. Kayak tipi aja kayak pesan sponsor? Makasih pak.”

“Ini pesan sponsornya. Kalau kamu sempat, ajak istri dan anak kamu jalan-jalan ke Bogor. Piknik ke Kebon Raya. Perginya naik kreta saja. Biar mudah dan murah. Dari rumah saya, naik gojek sampe stasiun lalu naik kreta trus pindah kereta lagi lanjut ke Bogor. Ongkosnya cuman tujuh ribu lima ratus doang.”

“Tujuh puluh lima ribu atau tujuh ribu lima ratus, pak?” tanyanya.

“Tujuh ribu lima ratus.”

“Ke Bogor cuman segitu? Murah banget pak?”

“Murah banget. Makanya ajak anak istri piknik naik kreta api ke kebon raya Bogor. Survey dulu sendiri. Kalau udah tahu caranya baru bawa anak istri. Bawa mertua dan orang tua sekalian. Murah ini. Stop. Stop di pertigaan.”

“Masih jauh lampu merahnya, pak.”

“Stop di pertigaan aja. Di pertigaan beluang kamu dapat penumpang lebih besar. Saya jalan kaki sedikit ke lampu merah lalu ke halte busway. Mau ke depan istana Jokowi.”

Dia membuka helmnya kemudian membantuku melepas helmku. Dia mengulurkan tangan mengajakku bersalaman. Saat bersalaman, begitu saja dia mencium tanganku. “Terima kasih ilmunya, pak,” katanya hormat.

Tentu saja saya tersipu-sipu lalu clingak-clinguk sebelum membenamkan blangkon ke atas kepalaku. Jangan-jangan dia pikir gua bapaknya? “Baru gua bayar gopay dua rebu aja, langsung tangan gua diciumnya? Bikin tengsin aja. Ha ha ha ha ha ….” Karena di sorga yang terbesar adalah anak-anak.

Advertisements

5 thoughts on “Pelajaran Dari Orang Pintar Untuk Bang Gojek

  1. Si hai hai org pinter? “Org pinter” kali ya, haha… itu efek penampilan Anda yg unik itu yg sllu bwa seruling+blankon nya atau apa ya?

    Anda memang cocok jd suhu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s