Tradisi Pemakaman Tiongkok Kuno


Kuburan1Tradisi pemakaman dan perkabungan Tionghoa sudah berjalan 3.000 tahun sebelum masehi. Khonghucu (551-570) mendukungnya namun guru Mozi (570-391) menuduhnya kebodohan dan pemboroskan.

Sayangnya tradisi Tiongkok kuno itu sudah tidak diajarkan dengan lengkap dan benar lagi sehingga orang-orang Tionghoa generasi ini pun sudah tidak mengerti maknanya. Kalau pun masih mempraktekkannya kebanyakan bahkan sudah menjadi tahyul dan ladang para dukun hongshui mencari duit dengan membodohi masyarakat.

Bakan sudah banyak umat agama lain yang mengejek tradisi pemakaman dan kerkabungan Tionghoa penuh kebodohan untuk ngalap berkah alias mencari kekayaan dengan cara tahyul.

Kerabatku sekalian, kalau sanja anda mau bersabar untuk mempelajarinya, maka anda akan tahu bahwa ajaran tradisi pemakaman dan kerkabungan Tiongkok kuno itu punya makna yang agung dan bikin geleng-geleng kepala.

Agama Tiongkok kuno adalah agama akal budi. Diajarkan oleh raja-raja kuno untuk mengajarkan Li 禮 kesusilaan guna mengembangkan De 德 kebajikan. Bukan untuk menyembah makluk-makluk entah berentah guna mencari berkat.

Walaupun dianggap aneh dan tahyul sertah bodoh juga menyembah arwah namun sesungguhnya tradisi pemakaman dan kerkabungan Tionghoa sangat logis dan ilmiah serta bikin geleng-geleng kepala melihat keagungannya.

Tianzi 天子 raja dimasukan ke dalam peti mati setelah tujuh hari dan dimakamkan setelah tujuh bulan. Zhuhou 諸侯 rajamuda dimasukan ke dalam peti mati setelah lima hari dan dimakamkan setelah lima bulan. Dafu 大夫 pembesar dan shi 士 pejabat serta shuren 庶人 rakyat jelata dimasukan ke dalam peti mati setelah tiga hari dan dimakamkan setelah tiga bulan. Perkabungan tiga tahun berlaku dari Tianzi raja hingga rakyat jelata di seluruh kampung. Liji III:III:1 – Wangzhi

Ketika almarhum meninggal, rasa hormat dan sayang kepada almarhum sama sekali tidak berkurang apalagi hilang. Itu sebabnya, secara naluri, keinginan untuk menyatakan rasa hormat dan sayang kepada almarhum tetap ada bahkan bergelora mencapai puncaknya.

Bagaimana cara melampiaskan perasaan demikian tanpa melanggar kesusilaan (Li 禮) dan tidak menentang kebajikan (De 德) sang agung? Para raja agung Tiongkok kuno pun kemudian mengembangkan tradisi sembahyang orang mati yang meliputi:

1. Pemakaman
2. Perkabungan
3. Sembahyang orang mati

Kenapa tradisi pemakaman raja dan raja muda serta pejabat tinggi berbeda-beda? Karena teknologi dan kekayaan masing-masing berbeda. Yang kaya tidak boleh membabibuta namun yang miskin harus tahu diri.

Ketika almarhum meninggal anak cucunya sulit untuk berpisah darinya. Itu sebabnya raja Tiongkok kuno pun menetapkan pembatasan bahwa mayat raja boleh ditunda penguburannya maksima 7 hari di luar peti mati.

Walaupun menggunakan teknologi pengawetan jaman itu namun setelah 7 hari jenasah mulai berbau busuk dan mengerikan wujudnya. Keinginan untuk menjamah almarhum pun mulai hilang. Itu sebabnya jenasah segera dimasukan ke dalam peti.

Cengzi berkata, “Seorang teman dikuburkan. Setelah ditumbuhi rumput tidak ditangisi lagi.” Liji IIA:I:8 – Tangong shang

Setelah dimasukan ke dalam peti mati, jenasah raja boleh ditunda penguburannya maksimal 7 bulan. Setelah dikubur, kuburan raja boleh dikunjungi dan ditangisi. Namun setelah ditumbuhi rumput maka kuburan raja tidak boleh dikunjungi lagi.

Perkabungan tiga tahun berlaku dari Tianzi raja hingga rakyat jelata di seluruh kampung. Hanya anak sulung atau pewaris tahta yang boleh berkabung tiga tahun. Kenapa hanya boleh berkabung tiga tahun?

Perkabungan tiga tahun berakhir setelah dijalani selama dua puluh lima bulan. Walaupun rasa sedih dan duka belum hilang dan rasa kangen pun belum terlupakan. Sebaiknya pakaian kabung ditanggalkan. Mustahil mengantar orang mati tanpa akhir karena setiap pesta manusia pasti ada akhirnya, bukan? Liji XXXV:3 – Sannianwen

Kongzi berkata, “Seorang anak, sejak lahir hingga berumur tiga tahun baru dipisahkan dari ibunya. Seorang dewasa berkabung selama tiga tahun. Di bawah kolong langit itulah dasang 達喪 perkabungan besar. Liji XXXV:15 – Sannianwen

Menurut tradisi kuno orang Tiongkok kuno tidak membangun makam apalagi menghias pusara. Inilah yang diajarkan oleh Khongzi dan terjadi pada saat itu.

Kongzi baru selesai melakukan hezang 合葬 menguburkan kembali tulang-belulang orang tuanya di Fang. Dia lalu berkata, “Aku tahu kuburan orang kuno tidak ada fen 墳 makamnya. Hari ini, Qiu 丘 (nama kecil Kongzi) adalah manusia dong xi nan bei ren 東西南北人 – manusia timur barat selatan utara, pengembara. Selama ini aku tidak mendukungnya karena tidak mengerti ajarannya.” Setelah liang lahat ditutup, di atasnya pun dibangun pusara empat kaki tingginya. Kongzi lalu pulang duluan dan membiarkan murid-muridnya membereskan semuanya. Turunlah hujan lebat dan ketika murid-muridnya tiba, Kongzi bertanya, “Kenapa lama sekali baru pulang?” Mereka menjawab, “Kuburan di Fang longsor.” Kongzi tidak menanggapi walaupun tiga kali mereka memberinya penjelasan. Dengan berderai air mata Kongzi menangis sedih sambil berkata, “Sekarang aku mengerti, kenapa orang kuno tidak membangun dan menghias makam?” Liji IIA:I:6 – Tangong shang

Karena tidak membangun makam lalu bagaimana cara orang Tiongkok kuno menyembahyangi leluhurnya?

Seorang Junzi 君子 susilawan waktu hidup melayani dengan penuh hormat, ketika meninggal menyembahyanginya, yang dipikirkannya sepanjang hidupnya adalah agar tidak mencemarkan namanya. Sesungguhnya seorang susilawan berkabung seumur hidupnya bagi orang tuanya. Pada saat memperingati hari ulang tahun kematian jiri 忌日 mereka, ia tidak bekerja, bukan karena hari tersebut tidak membawa berkat, tetapi karena pada hari tersebut pikirannya dipenuhi kenangan akan orang tuanya dan tidak berani memaksakan diri untuk kepentingan pribadinya. Liji XXI:I:5- Jiyi

Orang Tiongkok kuno menyembahyangi nenek moyangnya dengan membuat papan arwah yaitu papan yang bertuliskan namanya.

Fushu 服術 berkabung itu ada enam. Pertama, qinqin 親親 ikatan keluargaan. Kedua, zunzun 尊尊 rasa hormat. Ketiga ming 名 nama besar. Keempat churu 出入 keluar masuk. Kelima zhangyou 長幼 anak cucu. Keenam congfu 從服 turut berdukacita. Liji XIV:9 – Dazhuan

Orang Tiongkok kuno tidak berkabung asal berkabung seenak jidatnya saja. Mereka berkabung dengan alasan yang tepat dan wajar. Berkabung demi pencitraan akan dihina. Model dan warna baju menunjukkan jauh dekatnya ikatan kekeluargaan. Ikut dan tidak ikut sembahyang menunjukkan silsilah. Cara menghormat kepada almarhum menunjukkan reputasinya. Menantu dan besan ada jenis sajian sembahyangnya sendiri. Sanak keluarga jauh nampak dari namanya posisinya dalam meja sembahyang. Orang-orang sekampung dan yang turut berduka cita punya aturannya sendiri, misalnya, tidak boleh memberi sajian sembahyang namun boleh memberi kain yang berisi ucapan berduka cita dan pujian dengan tulisan Tionghoa.

Tiandi 天地 Yang Mahatinggi dan Yang Maharendah berpadu maka sulung dari berlaksa ada pun jadi. Laki-laki dan perempuan bersetubuh sesuai Li 禮 kesusilaan maka berlaksa generasi pun dimulai. Liji IX:III:7 – Jiao tesheng

Itulah alasan kenapa orang Tiongkok kuno menyembah Yang Mahatinggi dan Yang Maharendah sebagai nenek moyang. Maksimal setelah generasi ke lima raja tidak boleh menyembahyangi leluhurnya lagi karena tidak ada ikatan kekeluargaan lagi dengan mereka dan mereka tidak saling mengenalnya lagi.

Kakek dan nenek saya lahir di Tiongkok lalu merantau ke Medan. Kedelapan anaknya lahir di Medan dan tidak mengenal kakek neneknya di Tiongkok. Karena bukan ahli waris itu sebabnya kakek dan nenek saya tidak pernah melakukan sembahyang untuk kedua orang tuanya.

Ketika kakek dan nenek saya meninggal, hanya anak sulungnya yaitu paman tertua saja yang melakukan sembahyang. Ayah dan ibu juga saya dan adik-adik saya boleh ikut sembahyang ketika paman saya sembahyang di rumahnya.

Setelah paman dan istrinya meninggal, ahli warisnya, yaitu saudara sepupuh saya yang melanjutkan sembahyang karena anak sulungnya pergi merantau.

Apa yang akan terjadi bila generasi saya dan saudara-saudara sepupuh saya meninggal? Tidak ada yang menyembahyangi kakek dan nenek saya lagi karena generasi setelah kami tidak mengenalnya lagi itu sebabnya tidak melakukan sembahyang ulang tahun kematian mereka lagi.

Generasi setelah kami hanya melakukan sembahyang pada hari cengbeng nyadran. Bila makam-makam tidak dikenal itu mau dimusnahkan, silahkan saja.

Itu sebabnya orang-orang Tionghoa selalu diajari agar jangan sembarangan dan sok tahu menyembahyangi leluhur orang lain. Itu sebabnya saya tidak pernah menyembahyangi leluhur tanpa ikatan. Itulah yang dimaksudkan oleh Khongzi dengan”

Kongzi berkata, “Jangan menyembah gui 鬼 arwah orang mati, itu namanya menjilat. Mengetahui kebenaran namun tidak mengamalkannya disebut pengecut. Lunyu 2:24 – Weizheng

Advertisements

4 thoughts on “Tradisi Pemakaman Tiongkok Kuno

  1. Oya, acara perkabungan yg dilakukan oleh kluarga itu berupa tangisan2 ratapan gitu ya pak hai? Misalnya, bila jenazah dan peti msih di rumah, 7 hari, slma 7 hari itu diisi ratapan dan kmudian slna 7 bln kmudian diratapi lg? Saya mungkin kelewatan mata saat membacanya, atau saya slah persepsi? Mhon pncerahannya lg. Trmksh

    • Apa yang dilakukan ketika berkabung? Ada yang disebut MERATAP. Apa yang disebut MERATAP adalah melampiaskan kesedihan ditinggal almarhum.Namun bila tidak dikendalikan maka bisa menimbulkan perbuatan-perbuatan tidak bersusila. Sejak dulu bahkan saat ini saya menemukan banyak yang mengajarkan bahwa MERATAP itu harus dilakukan agar Almarhum sedih sehingga tidak tega meninggalkan anak cucunya. Karena tidak tega meninggalkan anak cucunya maka dia akan RAJIN memberkati anak cucunya.

      Ajaran demikian itu salah. Ajaran yang benar adalah. Meratap itu adalah ungkapan kesdihan. Kesedihan itu harus ada batasnya dan tidak boleh melanggar kesusilaan.

      Ayat di bawah ini mencatat kisah perdebatan kedua murid Khonghucu tentang meratap. Memang tidak mudah untuk memahaminya. Namun kalau memahaminya pelan-pelan maka nampak sekali bahwa itu adalah pelajaran psikologi yang luar biasa. Kalau memahami ayat tersebut maka akan mudah memahmi apa yang terjadi di gereja alam roh ketika orang-orang menangis dan jatuh.

      Youzi 有子 sedang berdiri bersama Ziyou 子游 ketika melihat seorang anak kecil sedang melampiaskan emosinya. Youzi lalu berkata kepada Ziyou, “Aku tidak dapat memahami orang-orang dewasa yang menyatakan kesedihannya karena kematian dengan menangis sambil menghentak-hentakan kakinya. Sejak lama aku ingin menghapuskan kebiasaan itu. Menurutku, dalam berkabung, cukup asal menyatakan kesedihan yang mendalam.” Ziyou berkata, “Li 禮 kesusilaan dimaksudkan untuk meredam emosi, juga dimaksudkan untuk membangkitkan emosi. Suku Rong 戎 dan Di 狄 memiliki tradisi untuk membiarkan emosi meluap bebas tanpa kendali. Hal itu tidak sesuai dengan Lidao 禮道 jalan kesusilaan. Seseorang yang sedang merasa bahagia akan merasa gembira. Karena gembira, ia terpacu untuk menyanyi, ketika menyanyi dia terdorong untuk menari, ketika menari ia akan membiarkan emosinya meluap, setelah emosinya menguap dia akan merasa sedih, untuk mengungkapkan kesedihannya ia akan berkeluh-kesah, ketika berkeluh-kesah dia akan terdorong untuk meluapkan kesedihannya dengan memukul-mukul dada, ketika memukul-mukul dadanya dia terdorong untuk menghentak-hentakkan kakinya. Yang mengendalikan semua itu adalah kesusilaan. Ketika menghadapi jasad orang mati, muncul perasaan takut dan tidak berdaya yang dapat membuat orang putus asa. Kebiasaan untuk menutup jenasah dengan kain, memasang tabir dan menghias peti mati dimaksudkan agar orang tidak merasa takut. Ketika seseorang meninggal, disajikan dendeng kering seolah akan melakukan perjalanan jauh. Ketika dikubur, kepadanya disajikan bermacam-macam sajian. Setelah dikuburkan, kepadanya disajikan berbagai makanan. Orang yang mati itu tidak ikut makan semua makanan yang disajikan baginya, namun kebiasaan ini dilakukan dari generasi ke generasi tanpa perbantahan. Semua itu dimaksudkan agar orang tidak merasa putus asa ketika menghadapi kematian. Itulah makna dibalik tata cara penguburan dan perkabungan. Menurutku, kecamanmu karena engkau salah dalam memahami tradisi.” Liji IIB:II:8 – Tangong xia

        • Saya tidak tahu persisnya. Saat ini ada yang melakukannya 3 kali sehari selama belum dikubur. Namun menurut perkiraan saya, upacara perkabungan itu dilakukan satu hari satu kali sampai penguburan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s