Tionghoa Kristen VS Tradisi Pemakaman Tionghoa Kuno


Menyembahnya karena yang disembah hadir. Menyembah Shen 神 karena Shen hadir. Kongzi berkata, “Aku pantang mewakilkan orang lain untuk sembahyang agar aku tidak perlu menyembah.” Lunyu 3:12 Bayi

Apapun agamanya, orang Tionghoa mustahil menyuruh orang lain mewakilinya sembahyang agar diri sendiri tidak perlu menyembah. Orang Tionghoa Kristen tidak mungkin menyuruh penganut agama lain menyembah jenasah orang tuanya karena dia takut menyembahyanginya sendiri.

Orang Tionghoa Kristen dan penganut pemakaman Tionghoa kuno saling hujat dan keluarga pecah gara-gara tradisi pemakaman Tionghoa kuno? Mengenaskan. Kejadian demikian tidak boleh terjadi lagi.

Orang Kristen Takut Sembahyang

Saya sering melihat orang Tionghoa Kristen yang meskipun diejek dan dihina put hau tidak berbakti (不孝 bùxiào) namun kekeh jumekeh tidak mau menyembahyangi jenasah orang tuanya karena menurutnya tindakan demikian adalah penyembahan berhala dan bertentangan dengan ajaran Kristen.

Tahukah anda? Orang Tionghoa Kristen itu patut dikasihani. Kenapa demikian? Karena mereka mencintai ayah bundanya dan tidak membenci kakak adiknya. Namun mereka ketakutan. Mereka takut kepada Tuhan yang disembahnya. Mereka takut pembalasan Tuhannya kalau menyembahyangi ayah bundanya dengan tradisi Tionghoa kuno. K’cian dedh lu!

Kebanyakan orang Kristen malas setengah mati baca Alkitab. Itu sebabnya mereka nggak pernah memahami bahwa Alkitab ditulis oleh nabi-nabi yang berbeda jaman dalam kurun waktu 1000 tahun (1527- 420 SM) sehingga banyak ajarannya yang bukan hanya kadaluarsa namun saling bertentangan. Itu sebabnya yang diajarkan oleh Mengzi (372 – 289 SM), murid dari cucu Khonghucu itu benar adanya.

Untuk memahami sebuah puisi, tidak boleh hanya mengutip kata-katanya saja. Itu akan merusak makna kalimatnya. Tidak boleh hanya mengutip kalimat-kalimatnya saja. Itu akan merusak makna puisinya. Merenungkannya dengan hati jernih untuk memahami maknanya, itulah yang benar. Ini sebuah contoh bila hanya mengutip kata-katanya saja. Dalam puisi Yunhan tertulis, “Penduduk negeri Zhou, tak seorang pun yang tertinggal.” Hanya mengutip kata-katanya berarti mempercayai bahwa di negeri Zhou sudah tidak ada manusianya lagi sama sekali. Mengzi VA:4:2 – Wanzhang

Nabi Musa (1527 – 1407 SM) melarang bangsa Israel menyembah berhala karena TUHAN yang mereka sembah cemburu. Artinya, baik bangsa Israel maupun TUHAN yang mereka sembah mengakui keberadaan dewa-dewi alias makluk-makluk sakti mandraguna lainnya.

Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, Keluaran 20:5

Mereka membangkitkan cemburu-Ku dengan yang bukan Allah, mereka menimbulkan sakit hati-Ku dengan berhala mereka. Sebab itu Aku akan membangkitkan cemburu mereka dengan yang bukan umat, dan akan menyakiti hati mereka dengan bangsa yang bebal. Ulangan 32:21

Pada masa tuanya, raja Daud 1040–970 SM menyadari bahwa berhala alias dewa-dewi adalah HOAX. Berhala cuma ciptaan dukun-dukun untuk cari duit belaka. Bacalah tulisan raja Daud di bawah ini.

Berhala-berhala mereka adalah perak dan emas, buatan tangan manusia, mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, mempunyai hidung, tetapi tidak dapat mencium, mempunyai tangan, tetapi tidak dapat meraba-raba, mempunyai kaki, tetapi tidak dapat berjalan, dan tidak dapat memberi suara dengan kerongkongannya. Mazmur 115:4-7

Tetapi berhala yang memalukan itu menelan segala hasil jerih lelah nenek moyang kita dari masa muda kita; kambing domba mereka dan lembu-lembu mereka, anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan mereka. Yeremia 3:24

Sebab yang disegani bangsa-bangsa adalah kesia-siaan. Bukankah berhala itu pohon kayu yang ditebang orang dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tangan tukang kayu? Orang memperindahnya dengan emas dan perak; orang memperkuatnya dengan paku dan palu, supaya jangan goyang. Berhala itu sama seperti orang-orangan di kebun mentimun, tidak dapat berbicara; orang harus mengangkatnya, sebab tidak dapat melangkah. Janganlah takut kepadanya, sebab berhala itu tidak dapat berbuat jahat, dan berbuat baikpun tidak dapat.” Yeremia 10:3-5

Ajaran berhala adalah tepu-tepu semakin gamblang pada jaman nabi Yesaya (700-680 SM). Ajaran nabi Yeremia (585 – 580 SM) semakin gamblang. Pengetahuan bangsa Israel itulah yang menyebabkan mereka berhenti menyembah berhala dan muncul kesadaran bahwa penyembahan berhala itu sia-sia dan memboroskan keuangan masyarakat.

Kerabatku sekalian, tindakan orang-orang Kristen menuduh tradisi pemakaman Tionghoa kuno sebagai penyembahan berhala yang akan dihukum oleh TUHAN ibarat pepatah Hokkien, “lau gu kia to the” artinya kerbau tua berjalan mundur.

HOAX demikian sudah ketinggalan 2500 tahun. Daud dan Yesaya serta Yeremia sudah membongkar penipuan publik TUHAN yang diajarkan kepada bangsa Israel lewat Musa. Itu berarti sembahyang orang mati tradisi Tionghoa bukan penyembahan berhala. Itu hanya cara orang Tionghoa mengungkapkan dukacitanya.

Itu sebabnya, kerabatku sekalian, saya orang Tionghoa, suku Hokkien, agama Kristen, anggota jemaat GKI Siliwangi, di rumah duka, di hadapan jenasah almarhum, saya minta sebatang hio, lalu mengheningkan cipta artinya bersaat teduh mengenang perjalanan hidupku bersama almarhum selama ini, kemudian mengbormatinya tiga kali untuk terakhir kalinya lalu mengangguk kepada anak-anak almarhum guna menjamin bahwa tidak ada lagi budi dan dendam antaraku dan almarhum dan keluarganya setelah hari ini. Hai ya … āi zāi 哀哉.

Orang Tionghoa Dan Kesusilaan

Saya sering bertemu dengan orang Tionghoa yang menuntut adik kakaknya yang beragama Kristen untuk menyembahyangi jenasah orang tuanya atas nama tradisi Tionghoa dan hao bakti (xiao 孝) kepada orang tua agar hongshuinya membawa kemakmuran bagi anak cucu.

Izinkan saya bertanya, haruskah menyembahyanginya dengan cara demikian? Ada saikong ada caima. Ada biksu ada bante berbagai aliran. Kenapa anda hanya menetapkan yang satu namun tidak mengajak yang lainnya untuk sembahyang?

Anda menetapkan cara pemakaman karena tradisi? Tradisi yang mana? Anda mengerti makna tradisinya? Kisanak, ijinkan saya bertanya, anda sedang berkabung atau pamer tradisi?

Cengzi berkata, “Adanya diriku ini karena ayah bunda mewariskan tubuhnya padaku. Karena tubuh ini warisan ayah bunda, tidak berani tidak menghormatinya. Mewarisi rumah namun tidak mengurusnya, itu melanggar bakti. Mengabdi namun tidak setia itu melanggar Xiao 孝 bakti. Memimpin namun tidak menghormati bawahan itu melanggar bakti. Berteman namun tidak tulus itu melanggar bakti. Ikut perang namun tidak bersikap berani itu melanggar bakti. Tidak memenuhi kewajiban kelima perkara tersebut adalah aib bagi keluarga. Tidak berani tidak menjunjungnya tinggi. Menyajikan makanan enak dan harum itu hanya merawat, bukan berbakti. Yang dimaksudkan dengan berbakti oleh seorang junzi 君子 susilawan adalah ketika seluruh negeri memujimu dengan tulus, “Sungguh beruntung memiliki anak sepertimu,” itulah yang disebut berbakti. Ajaran agama yang menjadi akar kehidupan masyarakat adalah bakti. Yang disebut merawat itu mudah dilakukan karena yang sulit adalah menghormatinya. Banyak orang yang mampu menghormatinya, namun bersikap sabar padanya itu sulit. Banyak orang dapat bersikap sabar kepadanya, namun bersikap sabar padanya hingga akhir itulah yang sulit. Setelah ayah bunda meninggal namun tidak mencemarkan nama baik keluarga, itulah yang disebut berbakti sampai akhir. Ren 仁 peri kemanusiaan adalah peri kemanusiaan untuk menjalankan semuanya. li 禮 kesusilaan adalah panduan untuk menjalankan semuanya. Yi 義 kebenaran adalah standar untuk menjalankan semuanya. Xin 信 ketulusan adalah nurani dalam menjalankan semuanya. Qiang 強 kekuatan adalah ketahanan untuk menjalankan semuanya. Le 樂 kebahagiaan akan menyertai orang yang taat sepanjang hidupnya. Xing 刑 hukuman akan mengikuti orang yang menentang atau tidak menjalankannya. Liji XXI:II:11- Jiyi

Kisanak, yang utama adalah jangan melanggar kebajikan de 德. Hendaklah Ren 仁 berperi kemanusiaan. Yang utama adalah berbakti Xiao 孝 kepada orang tua walaupun almarhum sudah meninggal. Silahkan mengungkapkan perasaan dukacitamu dengan cara apa pun asal jangan melanggar li 禮 kesusilaan.

Mau pakai tambur, “Ceng ceng … tung ceng tung ceng …” atau pakai organ? Mau menyanyikan paritta atau melafalkan tahlilan? Aku tidak akan menyelalinya, karena, kalau pun hanya mampu berkata, “hai ya … ai zai 哀哉” bahkan hanya mengeluh, “wu hu 嗚呼 ah,” dengan penuh kesedihan, itu sudah berbakti dan berdukacita dalam li 禮 kesusilaan namanya.

Advertisements

8 thoughts on “Tionghoa Kristen VS Tradisi Pemakaman Tionghoa Kuno

  1. Jadi intinya gmn pak hai? Kedua kubu yg bersikukuh dan sling hujat atas dsar kykinan msing2 pdhal tdk mngrti substansi adalah perbuatan sia2, atau bgmna? Sy kurang bs mnyimpulkannya, 😂😂

  2. Ada yang beranggapan kalau sudah berbakti selama orang tuanya masih hidup, maka kalau sudah meninggal ya tidak perlu lagi pegang hio untuk sembahyang. Mohon bimbingan baiknya bagaimana. Terima kasih.

    • Lilin itu pertama kali diciptakan oleh Dinasti Qin, 300 tahun sebelum Masehi. Sebelum itu mereka pakai obor. Hio itu juga ciptaan baru. Dulu orang Tionghoa hanya membakar kayu. Kuburan itu juga hal baru. Itu baru muncul si jaman Khonghucu. Sebelum itu,orang tionghoa tidak memelihara guburan.

      Penduduk tibet tidak punya kuburan. Mayat-mayat Dicincang untuk dimakan burung.

      Jadi, pakai hio dan lilin hanya CARA yang penting adalah Kesusilaan dan kebajikan serta BAKTI kepada orang tua.

      Saya punya dua orang adik perempuan yang sudah meninggal. Saya ikut menguburkan mereka ke kuburan. Namun setelah itu tidak pernah mendatangi kuburannya lagi. Kenapa demikian? Karena saya percaya ktika mati, semua orang tubuhnya membusuk jadi tanah. Rohnya kembali kepada Yang Mahaesa.

      Maksudnya adalah silahkan saja melakukan ritual apa saja. Yang penting adalah jangan melanggar kesusilaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s